bc

Aku Ingin Bercerai

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
contract marriage
one-night stand
family
HE
escape while being pregnant
love after marriage
age gap
fated
forced
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
shifter
kickass heroine
boss
stepfather
single mother
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
lies
secrets
love at the first sight
affair
friends with benefits
polygamy
addiction
assistant
wild
like
intro-logo
Uraian

Asha menerima keputusan menjadi istri bagi Crisiant, sekalipun itu hanya pernikahan bisnis. Ada cinta yang terjalin untuk suaminya.

Tapi, tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Asha untuk terus melanjutkan cintanya. Crisiant yang sangat cuek dan tidak ingin menjalin hubungan baik lambat laun kesabaran Asha berakhir memuakkan.

Asha memutuskan untuk meminta cerai, namun saat hati mulai menyerah justru Crisiant malah menunjukkan ketertarikan dan menolak menceraikan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Gugatan Cerai
"Aku hamil." Pandangan Asha terangkat, Winda menunjukkan ekspresi angkuh, seolah Asha baru saja kalah telak. Bibirnya mengulas senyum sinis. Asisten yang seharusnya bekerja di perusahaan dengan baik, justru merangkap status sebagai selingkuhan suaminya. "Kenapa kamu tertawa?" Winda kelihatan tidak terima. Telunjuk menutul kertas salinan USG di atas meja. "Tidak perlu diperjelas, Crisiant adalah ayah anak ini!" Bukannya merasa marah, Asha justru bertepuk tangan. Reaksi yang sama sekali tidak diduga oleh Winda. "Bagus sekali. Aku jadi punya alasan untuk bercerai." Mendengar Asha menyebut cerai, sudut bibir Winda terangkat untuk menertawai. "Nampaknya, kamu sudah muak tidak dipedulikan oleh Crisiant," sindir Winda. Tarikan napas Asha terdengar ringan, seolah berita ini tidak lagi mengejutkannya. "Aih, lelaki b*****h dengan wanita jalang memang sangatlah cocok." "Kamu bilang apa barusan!" Jemari Winda menujuk sengit. Bukannya mengulang, Asha justru meraih secangkir latte lantas menyeruputnya dengan sudut bibir tersenyum. ** Senja baru saja nampak di muka bumi. Angin sore telah berhenti menyapa wajah Asha di ruang tamu, setelah pembantu menutup pintu utama. "Pak Crisiant sedang dalam perjalanan pulang, apakah Ibu ingin menyambut di depan rumah?" Sekilas Asha memandang langit yang menakjubkan. Lantas, kembali sibuk pada kegiatannya mengikir kuku. Pembantu berusia 50 tahunan ini nampak heran dengan hilangnya sikap antusias majikan. "Bu," sebut pembantu bernama Dini. "Sudah hampir Magrib, aku tidak mau bertemu kuntilanak saat menunggunya." Pembantu nampak heran. "Bukankah hantu juga pemilih? Ibu sudah sedewasa ini untuk ditemui." "Kalau begitu, tubuhku bakal membeku terkena angin malam," Asha lanjut memberikan alasan. Dini mengulas senyum. "Ibu tinggal di kota Jakarta." Pergerakan Asha langsung terhenti. Ia mengangkat pandangan dengan ekspresi malas. "Bukankah dia keluar negeri saja tidak bilang? Untuk alasan apa aku harus menyambutnya?" "Ibu Asha," sebut Dini dengan nada memohon. "Dia punya kaki, biarkan dia masuk ke rumah sendiri." Jawaban Asha yang sangat cuek, sungguh membuat Dini terheran. Tidak biasanya Asha bersikap begini. Rasa antusias dan penuh kasih diperlihatkan untuk Crisiant. Sekali pun suami kerap mengurus bisnis di luar negeri tanpa memberi kabar. Tapi, kepergian Crisiant kali ini sepertinya membawa perubahan besar pada Asha. Kali pertama, Asha benar-benar tidak menyambut kepulangan suami. Crisiant sendiri terlihat memasuki rumah bersama sekretaris di belakang yang masih memberikan berkas kerjaan. "Ibu Asha di rumah?" gumam sekretaris Crisiant bernama Seto. Sontak pandangan Crisiant tertuju pada Asha yang baru menyelesaikan kuku barunya. Tubuh Crisiant tidak lagi membeku, memilih meninggalkan ruang tamu dan menuju lantai atas. Asha melepas kegiatannya memandangi kuku palsu. Adegan mengecewakan itu bukan hal baru lagi. Telah banyak kepahitan yang Asha telan selama 3 tahun pernikahan. Kesabaran berbuah kemuakan, itulah yang menimpa Asha. "Pak, Anda tidak mengajak Ibu bicara?" Seto mempertanyakan. Bahkan, menyelesaikan anak tangga terakhir pun. Crisiant masih saja sibuk membolak-balik halaman dokumen. "Untuk apa aku mengajaknya bicara?" Seto menarik napas. "Bukankah ibu Asha merajuk sampai enggan mengajak bicara?" Biasanya Asha yang selalu memulai pembicaraan, Crisiant mengakui itu. Diamnya istri kemungkinan sedang merajuk. "Nanti juga bicara sendiri," ujar Crisiant tak acuh. ** Jemari yang membolak-balik halaman, mendadak terhenti ketika mendengar pintu terbuka. Dahi Crisiant sempat mengerut, biasanya Asha memiliki tatakrama yang bagus. "Kenapa kamu tidak mengetuk dahulu?" Asha memasuki ruang kerja suaminya dengan langkah santai. "Rumah sendiri juga, untuk apa sok ramah." Crisiant tersenyum sinis. Asha sebegitu marahnya sampai melupakan sopan santun. "Ada urusan apa?" Langkah kaki Asha semakin merapatkan jarak di antara mereka. Hingga posisi saling berhadapan, barulah Asha menggeser kertas di atas meja. "Surat gugatan cerai," ujar Asha berhasil membuat Crisiant menatapnya. Melihat ekspresi suami yang bingung, Asha memilih melangkah sebentar dan menghuni sofa panjang di sana. Tak lupa, Asha menyilangkan kakinya dan berlagak santai, seolah pengajuan itu seperti lamaran kerja biasa. Crisiant menyeringai. "Ingin cari perhatian tinggal bilang saja, tidak perlu pakai cara seperti ini." Meski mulut menyindir, tangan Crisiant meraih surat gugatan dan mata mulai memeriksa. "Siapa juga yang cari perhatian? Bapak sudah cukup sibuk mengurus pekerjaan, aku tidak ingin menambah beban." Embel-embel 'Bapak' itu membuat Crisiant tak senang. Usia mereka berdua hanya terpaut 3 tahun saja. Tapi, Asha beranggapan dia seperti lelaki paruh baya. "Lalu kenapa ingin cerai? Aku butuh alasan yang logis." "Tidak ada anak di antara kita," sahut Asha cepat. Crisiant mengambil pena dan dipandang serius oleh Asha, sangat berharap suaminya segera memberi coretan berupa tandatangan di atasnya. Menyadari Asha yang begitu peduli, Crisiant malah sengaja menutup surat tersebut dan menyimpannya di antara tumpukkan dokumen. "Eh." Tentu saja reaksi Asha begitu cepat. "Kamu jadikan anak sebagai alasan, jangan bilang kamu ngode minta anak padaku?" tebak Crisiant. Asha tersenyum miris. "Percaya diri sekali Anda, Pak." Kembali Asha bangun dari duduknya, menghampiri suami demi mencari surat gugatan yang disembunyikan. Namun, Crisiant tidak memberikan semudah itu. Dia meletakkan tangan di atas tumpukan dokumen. "Aku akan memeriksanya dahulu, setelah selesai baru aku berikan." Asha menarik napas. "Yang aku butuhkan bukan review dari Bapak, hanya secuil tanda tangan saja." "Secuil yang kamu sebutkan pun, sangat berpengaruh pada masa depan," sahut Crisiant cepat. Crisiant berdehem, lantas menarik surat gugatan dan disimpan ke dalam laci meja. Jika ingin mengambilnya, maka Asha harus memperpendek jarak lagi dengan Crisiant. "Sebenarnya mau Bapak apa, sih?" Asha kelihatan kesal. "Menikahi wanita cuma dijadikan pajangan rumah, aku tidak bisa meneruskan peran ini, Pak!" Ah, akhirnya Crisiant tahu. Alasan Asha yang mendadak seperti orang lain, lalu berharap bisa diceraikan. Rupanya, Asha hanya ingin perhatian dari Crisiant. "Asha," sebut Crisiant sembari menertawai. "Keinginan kamu itu, tidak akan terwujud, jadi jangan berharap!" Pemikiran Asha merujuk pada gugatan cerai yang bakal tidak disetujui oleh Crisiant. Sementara Crisiant sendiri memikirkan tak bakal memberikan perhatian pada istri sendiri. Kekesalan yang tercipta membuat Asha memutuskan untuk kembali dahulu, baru berebut surat gugatan dengan Crisiant. "Tutup pintu--" Belum juga Crisiant selesai menyuruh, dentuman keras pada pintu membuat dia berdecak kesal. Asha yang menuntut perhatian ternyata mulai sulit diatasi. "Sikap macam apa itu!" keluh Crisiant disertai dengkusan. Crisiant membuka laci dan ingin memeriksa surat gugatan. Berapa persen harta yang diinginkan oleh Asha. Rasa penasaran itu justru membuat Crisiant menemukan rahasia baru. Dahi mengerut saat mengambil kertas yang terjatuh ke lantai. Melihat hasil salinan USG tanpa nama ini. Pemikiran Crisiant langsung berkeliaran, tubuh mendadak berdiri dan memandang pintu yang barusan membawa Asha pergi. "Dia hamil?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook