Part |05|

1019 Kata
Exploit. Tahu gak, cinta itu salah satu contoh eksploitasi. Pemanfaatan rasa yang berlebihan tanpa pertimbangan. Grup w******p yang diberi nama EksUI2019 itu tampak ramai di siang bolong ini. Semua orang sibuk membahas kuis dadakan yang diumumkan oleh Mas Yuyus di SKALA. Peta yakin sekali, dosen yang satu itu sedang tertawa dibelakang layar. Dia memang paling doyan bikin heboh mahasiswanya. Kuis dadakan itu jelas sekali membuat siapun khawatir, kecuali Pelita Inera Lestari. Peta juga tertawa melihat kehebohan itu.  Bunyi dering handphonenya berhasil membuat jiwa psikopatnya buyar. Telepon dari Benny. "Hallo Ben?"       "Kamu gak kerja, kenapa sih Ta?"       "Gue lagi males Ben. Lagian lagi gak ada kerjaan di kantor. Aku udah izin kok sama Pak Fonso. Lo lagi kuliah kan?"       "Iya. Makanya aku bete. Harusnya kamu izinnya besok aja. Biar kita bisa ketemuan."       Ogah! Malah itu yang gue hindari!       "Maaf Ben, gue lupa. Lo baik-baik kuliahnya. Kita bisa ketemu entar malam minggu."       "Iya, Ta. Sudah ya, dosenku udah dateng"       "Bye Ben!"       Saat telepon itu berakhir, Peta merasa lega. Akhirnya ia bisa tiduran lagi sambil menunggu paketan yang sudah ia tunggu-tunggu selama dua minggu. Tak berapa lama ia dapat notifikasi dan paket yang ia tunggu sampai. Nintendo Switch. Sudah sejak lama ia ingin main Animal Crossing. Jiwa gamersnya memuncak meskipun mungkin dia akan bosan nantinya.       Ia menghabiskan waktu dengan main game dan menunggu terbenamnya matahari. Ia langsung bergegas untuk kuliah. Kali ini tak ada alasan untuk telat masuk kelas.        "Peta!!"       "Hey Dul, tumben lo cepet. Lo biasanya telat banget."       "Heh, jangan ikut-ikutan manggil gue Dul dong. Panggil Uli aja."       "Nama lo itu Dully. Baiknya memang dipanggil Dul."       "Ihhh jahat!"       "Hahaha, bercanda."       "Lo udah belajar belum? Kita kan bakal kuis dadakan kayak tahu bulet."       Ok. Reaksi yang harus ditunjukkan sudah dipersiapkan. Untuk menjadi pribadi yang sederhana dan rendah hati, segala skill dan intelligent sebaiknya jangan diperlihatkan. Bertingkah saja seperti orang pada umumnya. Menjadi berbeda lebih banyak ruginya dalam kehidupan sosial. Lain hal jika memang sedang dilakukan uji kompetensi.       "Iya, gue udah belajar Dul. Gue belajar keras banget sampai gak kerja."dusta Peta mengiyakan ucapan Dully. Daripada berdebat tiada henti, lebih baik mengikuti alur lawan bicara.       "Gils, serius? Lawak banget sih lo, buat kuis aja sampai gak kerja?"       Masuk perangkap!       "Maklum. Gue itu tipikal orang yang percaya bahwa pintar itu berawal dari rajin."       "Lo keren sih, Ta."ucap Dully memuji.       Pandangan orang lain adalah hal yang penting dalam hidup. Persona sebaiknya diciptakan sedari awal agar tidak ada salah interpretasi di masa depan. Manusia kan suka dengan manipulasi yang manis. Itu lebih memuaskan daripada kenyataan yang pahit.       Mas Yuyus tiba di kelas dan terlambat selama 15 menit. Ia hanya cengengesan sambil membuat alasan yang tidak dapat dipercaya.  Level yang tidak setara membuat mahasiswa tidak bisa berkutik. Mau complain juga bisa bikin perdebatan baru. EksUI2019           Ammi        : Kerjaan telat, tapi giliran mahasiswa yang telat gak boleh!           Joko     : Maklum aja lah.           Channy      : Iya, mungkin emang doi lagi capek.           Alfa         : Sikat Cha, buru!!           Shava        : Eh Eh, doi milik gue           Pelita        : Gue boleh ikut milikin dia gak? :D          Channy      : @Shava @Pelita Doi milik kita bersama ya (emot love)       Dalam hatinya, Peta ingin muntah. Baru kali ini ia berdusta tapi rasanya begitu menyakitkan. Mungkin karena orang di depan sana terlalu menyebalkan. Sosok yang ingin dihajar dengan sebuah tamparan keras. Well, cuma imajinasi liar.       Kuis langsung dilaksanakan. Soal tak lepas dari Bahasa pemgrograman Java. Bagi Peta, soalnya lumayan menantang. Kualitas soal yang dibuat Mas Yuyus emang bukan kaleng-kaleng. Ia berhasil menyelesaikan semuanya setelah berpikir cukup keras. Ia rasa, beberapa orang di kelas ini mungkin akan berhasil tapi pasti tidak banyak. Baru kali ini, tak ada yang selesai dengan cepat. Sebenarnya Peta sudah selesai mengerjakan sebelum waktu benar-benar habis. Ia hanya sedang menciptakan persona yang ia ingin tunjukkan di depan teman-temannya.       "Bagaimana soalnya? Gampang kan?"seru Mas Yuyus dengan senyumannya yang menukik tajam. Kepala Channy dan Shava yang sudah panas ternyata tak meleleh dengan senyuman itu. Soal tadi berhasil membuat mereka pusing tujuh keliling.       "Susah banget mas."       "Kenapa soalnya sesusah itu mas? Perasaan ini cuma kuis."       "Sampai panas otak!"       Begitulah keluh kesah para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuis itu. Semuanya langsung lesu, lemah dan lunglai. Butuh asupan biar tenaga pulih kembali.       "Itulah gambaran UTS nanti. Kalian harus bersiap dari sekarang. Tenang saja, nilai kuis kan gak seberapa. Kalian bisa usahain di UTS nanti."ucap Mas Yuyus begitu mudah. Bicara emang gampang tapi tidak dengan prakteknya.       "Boro-boro, entar di UTS malah lebih zonk!"ledek Pinta bercanda.       "Sudah ya. Kita lanjut belajar bab berikutnya. Hasil kuis saya umumkan minggu depan."       Pelajaran dimulai. Dikarenakan kualitas soal Mas Yuyus diatas rata-rata, Peta mulai serius mengikuti pembelajaran. Ia juga tidak sabar menantikan akhir dari pelajaran ini. Ia berencana akan mengirimkan informasi besar di Telegram. Semua yang tahu tentang informasi itu pasti akan kaget. Tapi informasi itu rasanya masih kurang untuk mempermalukan Mas Yuyus. Apalagi anggota grup tidak banyak. Cuma empat orang. Rasanya sangat perlu jika member channel itu ditambahkan. Tiba-tiba muncul ide jahat di otak Peta. Ia akan menambah anggota channel itu dengan mahasiswa dari kelas Reguler. Kelas reguler itu kelas untuk mereka yang langsung kuliah mengambil gelar sarjana setelah lulus SMA. Jadi, usianya masih tergolong muda. Tidak seperti kelas ekstensi yang didominasi kaum tua.       "Gimana kuis lo tadi?"bisik Channy.       "Entahlah Cha. Gue udah berusaha."       "Sok merendah lo. Entar nilai lo yang paling gede."       "Amin!"       "Eh Ta, lihat deh Mas Yuyus hari ini. Cakep banget deh."       "Cakep apanya sih? Lo jangan kegatelan dong Cha."       "Bukan gatel. Lihat tuh rambut kriwilnya. Aduhay!"       "Kayak Ari Kriting ya?"       Channy langsung tertawa kecil. Peta jadi ikut tertawa melihat Channy yang kelelahan menahan tawa. Hingga dua bola mata memperhatikan mereka berdua. Mereka dipergoki oleh Mas Yuyus yang merasa terganggu.       "Kenapa? Ada yang sedang kalian bicarakan?"       Hening. Diam. Merasa terusik.       "Kalau ada yang mau dibicarakan, bisa maju ke depan ya."       Masih hening. Masih diam.        "Baiklah. Saya lanjutkan pelajaran tadi."       Sepanjang pelajaran tak ada mulut yang berani berucap. Channy kelihatan sangat menyesal. Itu bisa terlihat dari wajahnya yang murung sejak ditegur oleh Mas Yuyus. Wajah Peta tampak biasa-biasa saja. Tak ada reaksi yang berlebihan. Ia berusaha menghibur Channy, padahal sebenarnya jiwanya perlu diamankan. Tak ada alasan untuk tidak mempermalukan Mas Yuyus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN