Safeguard. Menjagamu adalah cita-citaku sejak kita bertemu.
Pelita tak berhenti menatap Pangeran. Inilah yang disebut rasa takjub mendekati rasa cinta. Cowok itu datang dengan setelan kaos hitam dan celana jeans. Ia menggunakan Converse warna putih dengan kaos kaki di dalamnya. Ia merasa seakan beruntung bertemu dengan Eran. Seketika Peta ingat pada hari kemarin. Saat ia telat dan tergopoh-gopoh naik tangga karena lift kampus rusak.
"Lo teman sekelas gue kan?"tanyanya sambil ikut berjalan.
"Hah?"
"Iya, gue ingat. Lo Pelita. Bener gak?"
"Iya mas, bener."
"Ngapain panggil mas woy. Emang gue setua Mas Joko?"ucapnya terkekeh.
"Eh, nama lo siapa btw? Gue gak ingat."
"Pangeran Simanjuntak! Panggil Eran aja biar singkat."ucapnya sambil memberikan tangannya hendak berjabat. Ternyata dia cowok batak, tapi mukanya seperti anak Jaksel. Terlebih dia ganteng dan macho. Beda banget sama Channy, muka batak tapi logat bisa Jaksel. Tergantung situasi dan kondisi. Dia bisa jadi bunglon dalam bentuk manusia.
"Kalau telat gak usah buru-buru, Ta. Dosen kita kebanyakan baik-baik kok."
"Baik apanya. Mas Yuyus dosen Dasar Pemrograman, bawel banget tau."
"Emang iya?" tanyanya. Ternyata dia tak mengambil mata kuliah itu tahun ini. Mungkin saja ia akan ambil tahun depan.
"Iya banget. Lo kenal gak?"
"Kenal sih. Gue tahu wajahnya, tapi gue gak tahu dia sebawel itu."
Begitulah awal perkenalan Peta dengan Eran.
Dosa gak sih jatuh cinta, disaat lo punya pacar? Persetan dengan Bendot. I want to be a fuckgirl!! Yihaaaaaaa
"Lo kenapa senyum-senyum?"tanya Channy heran. Ia kemudian melihat ke arah yang dari tadi Peta lihat.
"Eh, gak ada. Gue lagi berpikir keras."
"Berpikir keras macam apa sih? Lo lagi liatin Pangeran?"ucapnya dengan suara keras. Suaranya Channy tuh kayak dua buah toa yang dibunyikan bersamaan.
Kali ini, detik itu, Peta kesal dengan Channy. Haruskah ia membongkar aib cewek itu? Sangat mudah untuk tahu tentang Channy. Fakta tentang Channy yang bisa menghancurkannya seketika. Semua manusia memang punya aib. Tapi orang tertentu punya nasib sial hingga aibnya malah terbongkar di dunia ini. Nasib buruk seperti gen orang tua yang menurun ke anaknya. Dan harus sabar menerimanya. Namanya juga nasib.
Nama : Chanella Gultom
Pekerjaan : Asdos Bahasa Pemrograman Diploma IPB
Aib : Plagiat Professional, Selingkuh dari pacarnya yang bernama Suhendi (pacaran sekitar 4 tahun). Dan sampai sekarang masih pacaran.
Untuk urusan selingkuh, Peta sangat kagum dengan sosok Channy. Ia pantas dijadikan panutan. Andaikan Peta bisa mendapatkan hati Eran. Namun untuk urusan plagiat, ini tak bisa ditolerir. Ini sangat memalukan. Bahkan karya plagiatnya mungkin masih terpajang di perpustakaan Diploma IPB.
"Engga loh Cha, jangan ngadi-ngadi lo."
"Lo jangan berharap sama Eran. Dia punya Pinta."
"Pinta?"
"Iya, itu tuh cewek yang lagi ngobrol sama dia. Cewek itu sekantor sama Eran."
Peta memperhatikan keduanya. Terlihat jelas mereka saling menyukai. Nenek yang pikun aja kalau ditanya pasti tahu. Ini cuma majas hiperbola ya. Majas yang tepat karena memang terlihat jelas.
"Terus kenapa mereka gak pacarana, Cha?"
"Karena gengsi!"
"Hah?"
"Itu menurut gue Ta, lo tanya sendiri kalau kepo to the max!"
"Ihhhh ogah!"
Pinta Sitorus, cewek yang sesuku dengan Eran itu pasti berpeluang mendapatkannya. Andaikan Peta lahir lagi, ia ingin lahir satu suku dengan Pangeran. Mereka berdua bekerja di Bukalawang, perusaan startup E-commerce saingannya Tokokeren dan kawan-kawan. Tetap saja, bagi Peta, PT Voyavoya lebih keren dibanding Bukalawang.
Tak berapa lama datanglah tiga cowok bersamaan ke kelas. Mereka bertiga itu sangat dekat dengan gengnya Channy. Peta adalah penyusup di geng itu. Peta bisa kemana saja dan pada siapa saja. Rama datang dengan setelan kemeja dan tas ransel hitam. Arri si kacamata datang dengan kaos oblong dan celana hitam. Alfa dengan tampang culunnya dalam jaket tebal warna hitam. Beberapa orang di kelas ekstensi ini ada juga yang sudah menikah.
"Cha, lo udah kelar tugas?"tanya Arri, si pemalas. Dia gak bodoh, hanya saja dia suka memelihara kemalasan.
"Udah. Lo pasti mau minta contek?"tanya Channy. Arri mengangguk mantap.
"Nih, lo bayar dengan traktir mie ayam."
"Bener Cha. Ayolah mas!"rengek Shava manja.
"Dengerin tuh. Sekali-kali lo traktir dong. Duit lo kan banyak Ri."ucap Rama.
"Iya-iya. Entar abis ini kelar."
"YEAYYYY!Beneran lo ya?"
"Untung tadi gue belum makan."
Begitulah reaksi mereka. Mereka seperti ikan yang berada dalam aquarium yang sama. Sehati, sepikir, sejiwa. Keren bukan?
"Ta, entar lo ikut ya. Biar ditraktir Arri."ajak Channy.
"Iya, Ta. Lo ngapain langsung balik sih?"sahut Shava.
"Engga usah. Gue udah makan tadi."
"Ikutlah yok."rengek Channy seperti anak kecil. Mau tidak mau, Peta terpaksa ikut. Sebenarnya ia tak terlalu ingin bergaul dekat dengan perkumpulan itu. Ia takut rahasianya terbongkar. Takut dirinya tak sengaja mengungkap jadi dirinya. Andai ada alarm pengawasan maka tidak jadi masalah. Tapi dunia ini bukanlah sistem yang bisa di setting sesuai keinginan hati.
Mie Ayam FIB namanya, berlokasi di gedung FIB yang tidak jauh dari Fasilkom. Tempat makan ini buka dari jam 6 sore sampai habis. Begitulah mie ayamya terkenal karena kelezatan rasanya dan harganya yang murah meriah. Sesuai untuk kantong melarat yang kerap identik dengan mahasiswa. Padahal banyak mahasiswa yang disupport dengan harta melimpah milik orang tua.
Saat Peta mencicipinya, wajahnya berbinar. Timbul candu yang membuatnya ingin lagi menikmati mie ayam tersebut. Rasanya enak karena bertabur micin yang sulit dilupakan. Seenak itu loh. Mereka duduk di depan gedung kosong sambil menceritakan tentang banyak hal.
"Masih kesel deh sama Mas Yuyus."ungkap Ammi.
"Kenapa sih, Mi?"tanya Rama.
"Kesal opo toh Mi? Dia keren gitu kenapa harus dikeselin sih?"seru Channy.
"Bener Cha, emang Ammi aja yang sensitif."ucap Shava lagi.
"Eh, gue punya temen ya. Lo juga gak suka dia kan, Ta?"tanya Ammi pada Peta.
Peta berpikir dalam diam. Ada baiknya menutupi kenyataan itu. Mungkin suatu saat akan ada gunanya.
"Hmmm, gue biasa aja sekarang Mi. Secara, dia pinter banget ngajarnya."
"Ish,,, apaan sih, Ta? Kok lo jadi berubah?"
"Setuju, Ta. Akhirnya Peta ikut geng kita, YFC!"seru Channy gembira.
"YFC?"tanya Rama, Arri dan Alfa.
"Yuyus Fans Club!!"
Seketika mereka bertiga mau muntah mendengar perkumpulan fans club itu. Peta harus bertingkah biasa. Tak boleh ada kecurigaan dari setiap sikap yang ia ambil. Dia si pemilik Channel harus berpura-pura jadi orang biasa. Orang yang tidak tahu apa-apa. Manusia kan udah sering hidup dalam panggung sandiwara. Gampang saja berlakon bak orang baik. Di dalam kenyataan, ada benalu yang siap memangsa.