Pelanggan Pertama

1015 Kata
"Maaf jika aku benar-benar terlambat." Napas Bella terengah-engah. Terlihat sekali bagaimana lelahnya dia saat ini, terbukti dengan keringat yang telah bercucuran di wajah cantiknya itu. Tubuhnya sedikit menunduk di hadapan Pak Thomas dengan seorang wanita yang sama sekali tak dikenal olehnya. "Tak masalah, lagian juga ini adalah panggilan yang mendadak." Bella menganggukkan kepalanya dengan pelan. Panggilan ini benar-benar sangat mendadak sekali bagi dirinya yang tadi tertidur. "Ayo duduk dulu Bella." Pak Thomas menawarkan Bella untuk duduk di kursi yang biasa ditempati oleh pelanggan untuk menikmati makanan cepat saji di toko ini. Mereka berempat berkumpul di dalam satu meja yang sama. "Jadi di sini, tujuan saya memanggilmu untuk mengubah jadwal mu yang tadinya malam menjadi pagi, karena yang mengisi jam malam, akan diberikan pada pegawai baru lagi, dia adalah Camilla." Pandangan Bella teralihkan ke arah wanita yang duduk di samping bos nya. Wanita itu berusaha untuk tersenyum pada wajahnya yang kaku. Beberapa saat Bella hanya terdiam, dia memperhatikan penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Tubuhnya begitu tegap, tatapannya yang tajam dan saat Bella menetapkan fokusnya ke arah tangan wanita itu, terlihat sedikit otot yang menyembul di baju bagian lengannya. "Ini kabar yang mengejutkan. Namun, saya sangat senang jika jadwal diubah saat pagi hari," balas Bella langsung dari dalam hatinya. Mengingat lagi kejadian semalam yang cukup mengerikan bagi dirinya, tentu membuat Bella merasa takut jika keluar malam dan bertemu dengan orang mabuk lagi. "Baiklah, kau dan Jack akan bekerja dari pagi sampai sore, lalu nanti dilanjutkan oleh Camilla." Perkumpulan itu selesai, Bella langsung menuju ke meja kasir. Untung sekali tadi dia menyempatkan waktu untuk memakai baju seragam nya, sehingga kini dia tak perlu berbalik untuk ganti baju. "Mengapa jadwal nya tiba-tiba saja diganti? Bukankah kemarin aku dengar kalau bos hanya membutuhkan satu pegawai saja?" tanya Bella, dia menghampiri Jack yang kini tampak tengah menyusun ulang beberapa produk s**u ke dalam kulkas. "Aku tak tahu, mungkin saja ... kita memang benar-benar butuh banyak pegawai. Tiga saja tak cukup bagiku," jawab Jack tanpa sekalipun menatap Bella, dia terus melanjutkan aktivitasnya itu. "Yah, kau benar. Harusnya tak ada yang perlu aku bingungkan lagi," balas Bella. "Lebih baik kau di kasir, siapa tahu ada pelanggan datang." Mengikuti apa yang baru saja dikatakan oleh Jack, Bella kembali menuju ke meja kasir. Wanita itu hanya berdiri diam, karena komputer telah siap begitu juga dengan alat scan harga. Tak berselang lama setelahnya, seorang datang ke toko itu, membuat tubuh Bella yang tadinya sedikit membungkuk, kini langsung menegak kembali. "Kau lagi," sambut Bella dengan cerianya, pada Darren yang kembali datang dan selalu menjadi pelanggan pertamanya. "Apa yang kau butuhkan?" "Rokok," jawabnya singkat. Tanpa perlu bertanya brand nya, Bella sudah mengambil sebuah rokok yang kemarin dipesan oleh pria itu. "Yang ini bukan?" tanya dia. Darren menganggukkan kepalanya, dia pun mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya, lalu memberikan langsung kepada Bella. "Baiklah, biar aku urus." Bella mengambil kartu itu, dia sempat meminta Darren untuk mengucapkan kata sandinya. "150598." Kedua alis Bella terangkat. Tidak, pria itu bukannya menyembunyikan sandi nya, kini justru secara blak-blakan memberitahunya langsung. Apakah Darren sama sekali tak takut jika dirinya ini diam-diam mencuri kartu ini lalu menguras habis hartanya. Memang sangat aneh sekali. "Maaf, tapi---" "Lakukanlah!" perintahnya dengan intimidasi yang kuat. Bella pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia mulai melakukan transaksi dan benar saja, sandi itu tak salah. Usai dari pembayaran, dia memberikan lagi kartu itu, bersamaan dengan sebuah rokok. "Kau sudah sarapan?" tanya Bella, dia melihat gelengan yang sangat pelan dari Darren,membuatnya langsung tersenyum kecil. Dia keluar dari meja kasir tersebut, menarik tangan Darren untuk menuju ke rak makanan. "Karena kau telah menjadi pelanggan pertama ku selama dua kali, aku akan mentraktirkan mu makanan." Wanita itu menatap dengan sangat lama rak makanan yang kini ada di depannya. "Kau mau apa?" "Apa saja." Lantas Bella berdecak pelan mendengarnya, memang Darren bukanlah pria yang bisa dirinya perkirakan. Wanita itu meraih sebuah roti sandwich dengan isian strawberry. Lalu dia berbalik, membuka kulkas dan mengambil sebotol s**u. "Aku akan membayarnya sebentar." Buru-buru Bella menuju meja kasir, dia membayarnya dengan uang pribadinya sendiri, lalu kembali menuju ke tempat Darren berada, pria itu kini telah duduk di kursi untuk pelanggan menikmati makanan cepat saji dalam mini market itu. Dia menarik satu bangku yang ada di samping pria itu, lalu menaruh makanan dan minuman ke atas meja. "Kau bisa makan sekarang, habiskan oke!" Pria itu sama sekali tak menjawab, dia mengambil roti sandwich dan mulai memakannnya. Entah mengapa, melihat Darren yang asik dengan makanan itu, membuat hati Bella merasa terpuaskan. "Kau juga sudah sarapan?" tanya Darren balik, membuat lamunan Bella langsung buyar. "Aku? Nanti saja. Aku harus kembali kerja." Bella beranjak, dia ingin pergi dari sana, tiba-tiba saja tarikan yang cukup kuat didapatkannya dari Darren, membuat posisinya kini menjadi duduk lagi di atas kursinya. "Ayo makan bersamaku," ajak Darren. Bella menggelengkan kepalanya. "Jika bos ku melihatnya, dia bisa marah." "Tak akan!" Beberapa saat Bella hanya terdiam. Wanita itu merasa sangat bingung sekali harus menerima tawaran dari Darren atau tidak. Dia sempat melirik ke arah belakang sana, memastikan bahwa tak ada siapa-siapa. Yah, bahkan Jack saja sama sekali tak terlihat. Entah di mana mereka. Tiba-tiba saja, sepotong sandwich memasuki mulut Bella, membuat sang empu yang tadinya asik melamun, langsung membelalakan matanya setelah menerima perlakuan tersebut. Dia menoleh ke arah Darren yang tersenyum kecil, ingat sangat kecil sekali, begitu juga dengan tatapannya lebih lembut. Astaga, ini adalah kali pertama dia bisa melihat tatapan Darren seperti itu. Rasanya sangat candu sekali. "Aku akan makan sesuap, kau sesuap." Untung roti itu memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga cukup untuk mereka berdua makan sarapan di sana. Bella hanya menerima setiap suapan yang Darren berikan, tak menolak sedikitpun, karena dia begitu tahu bagaimana Darren jika dirinya menolak. Usai dengan satu potong roti, kini minuman s**u pun dibagi menjadi dua. "Kau sudah kenyang?" Tidak, bukan Bella yang bertanya, melainkan Darren. "Udah, kok," jawabnya langsung. Darren menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia mengangkat tangannya, melihat jam yang ada di sana. "Sepertinya aku harus pergi sekarang." "Ya, semoga kita bertemu lagi." Lantas pria itu memandangnya dengan sangat lama, tatapan yang penuh arti itu tak bisa dimengerti oleh Bella. "Pastinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN