Sebuah kotak dengan cover berwarna putih itu, diletakkan Bella di atas meja nakas nya. Dia sama sekali belum membuka pagi tadi, karena terlalu sibuk dan buru-buru, alhasil dia sama sekali tak memiliki waktu yang banyak untuk membuka dan melihat isinya.
Kini Bella telah pulang, tepat sebelum matahari terbenam. Tubuhnya bercucuran keringat karena tadi berlari di jalanan, dipikir sekalian olahraga. Dia benar-benar merasa sangat lelah sekali. Wanita itu terbangun, dia menatap sejenak kotak di sana.
Mengambil barang tersebut, dia menatapnya dengan cukup lama. Tangannya terangkat, membuka kotak itu, melihat isi yang ada di dalam nya. Satu alis dia menukik naik setelah melihat beberapa lembar foto yang ada di sana.
Satu-persatu Bella mengambil foto yang ada di sana. Dia pun menatapnya dengan sangat lama foto-foto itu. Foto yang menunjukkan aktivitasnya saat diluar, seperti ketika dia yang bekerja, berjalan di trotoar atau saat menikmati es krim.
Semuanya ada di sana, membuat Bella sedikit bingung. Apakah hidupnya ini sedang diikuti oleh seseorang? Seseorang yang gila. Wanita itu tertawa pelan, tak merasa takut sedikitpun. Dia pun beranjak, membawa kotak itu ke tempat sampah.
"Aku akan mencari siapa orang yang mengikuti nanti," ujarnya dengan pelan. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya itu, dia pun berbalik, berjalan dengan cukup cepat menuju ke pintu, keluar dari kamarnya.
Kakinya itu melangkah dengan sangat cepat menyusuri jalanan yang ramai. Dia berjalan lebih santai, sembari bersiul pelan, menengok kanan-kiri, bersikap seolah-olah tengah melihat barisan toko yang ada di sana.
Kini, insting nya baru bisa merasakan ada sosok yang mengikuti dirinya. Wanita itu tersenyum di dalam diam nya. Berusaha untuk bersikap tak peduli, dia tetap melangkah terus sampai berhenti di sebuah tempat yang menjual spaghetti.
"Aku memesan satu porsi makanannya," ujar Bella pada penjual di sana, sehingga penjual itu pun langsung bergerak untuk menyiapkan makanan yang dipesan oleh Bella tadi.
"Dengan saus pedas atau manis?"
"Pedas, jangan berikan keju pada makanannya," jawab Bella langsung. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a, bersikap biasa saja, meski punggungnya kini terasa panas. Dia sempat mengubah posisinya dan menengok sejenak ke tempat yang diperkirakan nya ada sosok penguntit di sana.
"Saya melihat sosok yang memakai baju hitam di sana sedari tadi," ujar penjual itu tanpa sekalipun menatap Bella, dia tampak masih asik menyiapkan makanan yang telah dipesan oleh Bella tadi.
"Kau menyadarinya? Aku pun juga. Akhir-akhir ini, aku mendapatkan teror dan juga diikuti oleh seseorang."
Penjual itu memberikan sebuah cup yang berisikan pesanan dari Bella tadi "Sebaiknya Anda melapor."
"Saya tak memiliki banyak bukti dan ... uang." Wanita itu tersenyum kecil, dia mulai menikmati makanan yang kini ada di tangannya dengan pelan.
"Bagaimana jika dia membahayakan mu?"
"Bukan masalah. Tak ada hal yang ku kejar dan ku pertahankan di dunia ini," balasnya dengan penuh makna. "Aku pergi dulu, terimakasih." Bla memberikan beberapa lembar uang pada penjual tersebut, lalu setelahnya, dia pun langsung pergi dari sana dengan langkahnya yang terbilang sangat santai.
Memasuki sebuah gang yang sepi, tak ada satupun orang yang bisa dilihatnya di tempat tersebut. Suasana pun terasa mencekam, apalagi langit mulai menggelap. Seharusnya Bella merasa takut, tapi dia sama sekali tak merasakan itu.
Dengan keheningan ini, dia bisa mendengar bunyi derap langkah kaki yang menemaninya.
"Mengapa kau terus mengikutiku?" tanya Bella. Dia memberhentikan langkahnya saat itu juga,sehingga bunyi yang tadi menemaninya itu hilang dalam waktu sekejap.
Wanita itu menolehkan kepalanya ke arah belakang sana. Kosong, tak ada siapapun. Ternyata, penguntit itu masih betah bersembunyi, meski Bella sudah mengetahui keberadaannya.
"Keluarlah dan katakan pada ku, kau siapa dan apa tujuanmu." Bella kali ini benar-benar berbicara dengan angin hampa saja, karena memang tak ada sedikitpun jawaban yang didapatkan olehnya setelah itu.
Lantas wanita itu berdecak kesal karena sama sekali tak mendapatkan respon, membuatnya marah. "Aku merasa terganggu dengan keberadaan mu." Kakinya mulai melangkah dengan pelan, dia mulai melihat-lihat beberapa kotak atau bekas kayu yang ada di sana, bisa menjadi tempat persembunyian penguntit itu.
Namun, secara seketika, pandangannya hanya terkunci pada tumpukan kayu yang pastinya menjadi tempat bersembunyi penguntit tersebut. Pelan-pelan, dia melangkah menuju ke tempat tersebut. "Katakan, apa tujuan--- Akhh, tikus!"
Wanita itu berteriak pelan, dia bahkan sampai mundur beberapa langkah saat melihat tikus yang sangat besar dengan bunyi cicitan nya.
"Oh s**t!" umpatnya. Tikus itu mengejar dirinya, membuat Bella langsung berlari dengan sangat kencang dari sana,dia saat takut sekali digigit oleh hewan menjijikan itu.
Hewan yang sudah seharusnya dihindari.
Tanpa disadarinya, Alex yang kini telah berhasil lolos, langsung menghembuskan napasnya dengan lega. Untung dia bersembunyi cukup jauh dari tempat wanita itu berada sebelumnya, dia bersembunyi di sebuah kotak sampah yang berukuran besar, sehingga tak ketahuan. Meski begitu, tadi dia harus menahan bau menyengat dari kotak sampah tersebut yang sangat mengganggu dirinya ini.
"Untung saja tidak ketahuan." Tangannya terangkat, langsung mengelap keringat yang telah bercucuran di wajahnya itu.
Dia sangat tak menyangka sekali, kalau sosok yang diikutinya itu memiliki keberanian cukup besar. Oleh karena itu, dia harus bisa berhati-hati, karena jika tidak, maka kemungkinan besar dirinya akan tertangkap lagi, seperti sebelum nya.
Dan tentu saja dia sangat tak ingin ketahuan aksinya.
Bunyi dering ponsel terdengar, mengisi keheningan pada tempat itu. Tangannya langsung merogoh kantong celana nya, mengambil benda pipih yang sedari tadi berbunyi.
Dia pun melihat nama seseorang yang telah menghubunginya itu. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia menjawab panggilan tersebut dengan cepatnya.
"Selamat malam, Tuan."
'Bagaimana? Gadisku sudah di kamarnya bukan?'
Alex menjilat bibirnya sebentar. "Setelah pulang kerja, dia memang kembali ke kamarnya. Namun, tak berselang lama kemudian, dia keluar dari sana dan membeli makanan. Gelagat nya kini sudah menunjukkan bahwa dia mulai mengetahui keberadaan saya. Sepertinya itu disebabkan karena kotak yang pagi tadi dikirim," balas Alex dengan cepat.
Hanya terdengar suara kekehan pelan dari seberang telepon sana, semakin membuat Alex tak mengerti dengan reaksi yang tuannya itu tunjukkan.
'Bagus, dia memang gadis yang pintar. Tetap ikuti dia dan jangan sampai ketahuan.'
Setelah itu, panggilan telepon langsung terputus. Alex berdecak pelan, dia menyimpan benda pipihnya itu lagi ke dalam kantong celana.
"Tuan memang sudah sangat tergila-gila pada wanita itu," gumam nya dengan suara yang sangat pelan, napanya berhembus panjang kala dia mulai merasakan perasaan tak enak. "Semoga saja, suatu saat nanti Tuan tak akan menyakiti gadis itu.