"Sudah aku bilang, seharusnya kau tak perlu membuang waktumu untuk menjemput ku di sini." Bella berdecak pelan melihat wajah sumringah Jack di pagi hari ini, tepat di depan bangunan tempat tinggalnya. Pria itu duduk di motor moge nya dan langsung terbangun saat melihat kedatangan Bella di sana.
Dia mengambil satu helm tanpa kaca yang sudah dipersiapkan olehnya sedari tadi. "Ayo berangkat." Dipasangkan helm tersebut kekepala Bella langsung, mengundang tawa pelan dari wanita yang ada di depannya ini.
Menaiki motor tersebut, Bella memeluk tubuh Jack.
"Sudah siap?" tanya pria itu.
"Yahh!"
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Jack langsung mengendarai motor tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi, membalap mobil-mobil besar dk depannya semakin membuat Bella tertawa. Wanita itu seperti kesenangan dan menganggap apa yang dilakukan oleh Jack itu sebagai sebuah hiburan tersendiri bagi dirinya.
Karena jam waktu kerja mereka dimulai tiga puluh menit lagi, alhasil Jack memakai jalan lain yang bisa memperpanjang perjalanan mereka. Anggap saja ini sebagai sebuah hiburan di pagi hari merdeka.
"Lihatlah pantainya sangat indah sekali!" Bella menatap pada hamparan pantai yang ada di pinggiran jalan sana, cukup jauh memang, tapi dia bisa menikmati pemandangan indah itu membuatnya tenang. Kepalanya bersandar pada punggung lebar Jack, menghirup aroma wangi pria itu yang sangat harum bagi dirinya.
"Kapan-kapan kita akan ke sana," ujar Jack dengan sedikit berteriak, agar Bella bisa mendengar apa yang baru saja dikatakannya tadi dengan jelas.
"Tentu saja." Bella membalas dengan teriakan juga.
Usai melewati pantai tersebut, sekitar jarak 3 km setelahnya, mereka baru bisa sampai di minimarket. Bella melepaskan pelukannya dari pinggang pria itu, dia pun turun melepaskan jaket dan juga helm milik Jack.
"Aku sangat berterimakasih sekali padamu yang sudah mengajak aku jalan-jalan," ungkap Bella langsung kepada Jack yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala oleh pria itu.
"Aku senang melihatmu bahagia pagi ini." Tangan Jack terangkat, menyentuh pipi Bella yang terasa sangat dingin itu. Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat.
"Ekhem."
Bella terlebih dahulu menengok ke asal suara. Wanita itu mengangkat kedua alisnya, merasa sangat terkejut dengan keberadaan Darren di sana dan dia sedikit bingung kala merasakan suasana yang menegangkan dalam waktu sekejap saja.
"Hey, Darren." Melewati Jack, Bella langsung menuju ke tempat Darren berada, berdiri diam di hadapan pria yang menatapnya dengan sangat dingin.
Darren terlihat sedang sangat marah, tentu membuat Bella kebingungan. Dirasa kalau dia sama sekali tak membuat kesalahan sedikitpun.
"Kau ingin memesan rokok?" tanya wanita itu, mengisi keheningan di sana.
"Ya," jawabnya sedikit ketus.
"Oke ... aku akan menyiapkan sebentar." Buru-buru Bella pergi meninggalkan tempat tersebut, dia harus menyiapkan lagi komputer, alat scan harga dan, membuka toko yang masih tutup itu.
Kunci untuk membuka toko itu ada di dalam kantong celana nya, dia pun langsung merogoh dan mengambil barang tersebut. Buru-buru dia membuka pintu itu dan masuk ke dalam sana. Sempat wanita itu menengok ke arah jam, masih pukul 7 kurang, artinya memang dirinya dengan Jack tadi tak terlambat, hanya saja Darren yang datangnya kecepatan.
Wanita itu melirik ke arah Darren berada, dia tampak tengah menatap ke arah Jack yang tersenyum pongah.
Hmm, interaksi mereka terlihat sedikit aneh.
Namun, Bella sama sekali tak memperdulikan hal tersebut. Dia tetap melanjutkan aktivitasnya itu, sampai komputer benar-benar telah siap, dia pun memanggil Darren.
"Aku memesan roti sandwich dengan s**u kemarin juga." Setelahnya, Darren langsung pergi dari sana, menuju ke rak yang menjual makanan, lu mengambil roti yang kemarin dipesan oleh Bella dengan sekotak s**u.
Semua pesanannya itu ditaruh ke atas meja kasir, dia menunggu hanya selama beberapa saat saja, sampai Bella menyelesaikan transaksinya.
"Jumlahnya 15 poundsterling."
Darren mengeluarkan kartu berwarna hitam lalu memberikan langsung kepada Bella.
"Kata sandinya---"
"Seperti kemarin."
"Ah, baiklah." Bella membolak-balik kartu itu, kartu bank jenis prioritas yang pastinya memiliki jumlah uang sangat banyak di dalam nya. Apalah Darren sekaya itu, sampai-sampai memberikan kartu dan kata sandinya dengan mudah pada orang asing seperti dirinya?
"Ini kartunya."
"Kau bisa menyimpan nya."
Sontak mata Bella langsung membelalak saat itu juga, sama sekali tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Darren tadi pada dirinya.
"Maksudmu? Sungguh, aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang baru saja kau katakan."
"Simpan kartunya karena setiap hari, aku akan belanja di sini."
Pria itu berbalik, menuju ke meja konsumen lalu menghabiskan sarapannya di sana, sembari terus memperhatikan Bella yang masih terdiam, tampak masih memikirkan ucapan Darren tadi.
"Bahkan sampai pria itu tua, saldo di rekening ini pasti tetap tersisa jika dia hanya membeli rokok setiap pagi," gumam nya dengan pelan.
Sungguh, ini adalah kali pertama Bella bertemu dengan seseorang yang menurutnya sangat aneh sekali. Takut jika ini adalah jebakan, tentu Bella tak akan menerima kartu yang berisi banyak yang di dalam nya.
Bisa saja bukan pria itu tengah merencanakan sesuatu yang jahat pada dirinya? Oleh karena itu, kini dia harus berhati-hati.
Bella menghampiri Darren, mengambil tempat duduk yang berada tepat di samping pria itu.
"Maaf, aku sama sekali tak bisa menerima pemberianmu ini. Kau tahu, aku adalah orang asing dan aku sama sekali tak berhak untuk menerima ini." Bella menaruh kartu itu di atas meja, memberikan langsung pada Darren yang langsung terdiam setelah mendengar ucapannya.
Ah, apakah pria itu marah? Sungguh, Bella sama sekali tak tahu harus berbuat seperti apa saat ini.
"Kau sudah makan?" Pria itu bertanya lain.
"Aku tak memiliki kebiasaan sarapan."
"Makan bersamaku," ungkapnya sedikit memaksa Bella, padahal sudah jelas tadi wanita itu tak ingin makan.
"Tidak, perutku akan sakit."
"Justru lambung mu tak akan baik-baik aja jika tak diisi saat pagi hari." Darren menaruh roti sandwich yang ada di tangannya itu tepat ke bibir Bella, berhasil membuat wanita itu terdiam untuk beberapa saat.
Secara perlahan, Bella membuka mulutnya, menerima makanan itu dan mengunyah nya dengan sangat pelan.
"Good girl," pujinya.
Mereka kembali menghabiskan makanan itu seperti kemarin. Setelah selesai, Darren membuang sampahnya ke kotak sampah terdekat, dia pun beranjak dan pergi dari sana.
"Aku akan menyusulmu sore nanti," itulah kalimat yang diucapkan olehnya, sebelum pergi dari sana, menyisakan Bella yang masih terdiam dengan posisi duduknya.
Wanita itu hendak berdiri, tapi tiba-tiba dia terdiam Lala melihat ATM hitam itu masih ada di atas meja.
"Hey, ATM mu ketinggalan!" panggil Bella, tapi Darren ternyata benar-benar sudah tak terlihat lagi. "Hah, dia terlihat sengaja melakukannya!"