3. Gagalnya Rencana Nona Muda

1671 Kata
“Saya meminta walimu untuk datang bukan pegawai rumahmu, Aira Samara Putri!” jawaban yang keluar dari bibir Aira langsung membuat wajah sang kepala sekolah melotot marah. "Bapak mau Wali saya yang datang?" Aira menaikkan sudut alisnya sembari melirik sinis sosok Aliana yang kini duduk disampingnya itu. 'Sialan! Jangan bilang apa yang Jessica ucapkan tadi benar terjadi!' “Kalau bapak ingin orang tua saya yang datang itu tidak mungkin. Mama saya ada di Singapura sejak kemarin. Kalau Papa... Anda tahu Papa? Anda tahu sendiri papa saya adalah orang yang sangat sibuk, bahkan lihat. Sekretaris yang biasanya datang ke sekolah saja sekarang tidak datang." “Aira!” “Atau Bapak ingin bertemu dengan mbok saya? Itu lebih tidak mungkin lagi Pak, dia sudah tua tidak mengerti apa- apa. Dia akan bingung dan bertanya ini itu yang akan membuat kepala anda semakin pusing." “Dimana sopan santunmu, Aira?” wajah sang kepala sekolah semakin memerah menahan marah, "Kamu sebagai seorang yang berpendidikan, apakah pantas kata-kata seperti itu keluar dari balik mulutmu?!" "Saya bicara dengan jujur. Letak salahnya dimana?" “Maaf Pak, jika saya lancang, kalau boleh tahu apa yang dilakukan oleh Nona Aira kali ini?” Wanita muda itu mengintrupsi dengan suaranya yang pelan dan takut- takut. “Bullying.” ucap sang kepala sekolah dengan nada tegas, “Anda tahu perbuatan seperti itu sangatlah tidak baik dan kami pihak sekolah akan mengambil Tindakan tegas dengan apa yang dilakukan oleh anak ini karena hal ini bukan pertama kali dia melakukannya." “Jadi, saya akan dikeluarkan dari sekolah?" Manic itu sedikit berbinar dengan sudut bibir terangkat tanpa ada satupun yang menyadarinya. 'Ingat Aira, semakin kau membuat masalah, Papa dan Mamamu pasti akan semakin memperhatikanmu nantinya.' “ Ya kamu akan kami Drop Out dari sekolah ini dan keputusan pihak kami sudah bulat! Kami tidak bisa mempertahankan siswa pembuli dan tidak punya sopan santun sepertimu, Aira." "Apakah si miskin itu juga akan dikeluarkan?" "Brak!" Gebrakan itu terdengar sangat keras, membuat Aliana terlonjak takut sedangkan Aira, gadis itu hanya menguap acuh, "Kmu benar-benar idak punya tata krama, Aira!” “Maaf Pak.” suara wanita Aliana kembali terdengar setelah sebelumnya menarik nafas panjang, “Bisakah kita berbicara empat mata mengenai masalah ini?” Mendengar kata yang keluar dari balik bibir babysitter adiknya itu membuat Aira langsung mengalihkan pandangannya dan menatapnya dengan wajah mengancam. "Baiklah."angguk sang kepala sekolah dan meminta gadis itu keluar dari ruangan, meninggalkan sang babysitter bersama sang kepala sekolah untuk bicara secara pribadi. “Apa yang ingin anda katakan, Nona?" “Mengenai Nona Aira, apakah anda tidak ada keputusan lain selain mengeluarkannya, seperti skorsing misalnya?" Aliana berani berkata demikian karena sebelum berangkat tadi, Bibi sudah berpesan padanya bahwa bagaimanapun keadaannya usahakan yang terbaik untuk sang nona karena mereka paham apa yang dilakukan sang nona itu demi mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Sebelumnya Aliana hendak menolak permintaan itu namun saat melihat manic tua bibi yang berkaca-kaca membuat Aliana luluh dan menyanggupinya meskipun dengan berat hati. “Keputusan kami sudah bulat, sudah cukup kami tutup mata dengan apa yang dia lakukan selama ini, Nona. Jika kami terus mempertahankan murid seperti Aira, reputasi sekolah kami akan semakin buruk karena kami tidak melindungi korban tapi malah berpihak pada tersangka bullying." “Tapi menurut saya anda tidak perlu sampai seperti itu.” wanita itu menundukkan wajahnya dengan jemari saling memilin. Aliana tahu apa yang dia lakukan itu sangatlah salah dan sama sekali bukan urusannya tapi Aliana ingin sedikit berbuat baik untuk anak bandel itu, “Saya yakin Nona Aira tidak melakukan bullying tanpa alasan. Saya yakin Nona Aira melakukan hal itu hanya untuk mencari perhatiannya kedua orang tuanya. Bapak lihat sendirikan ekspresi Nona Aira saat saya pertama kali masuk ke dalam ruangan ini? Dia kecewa karena yang dia mau lihat salah satu dari kedua orang tuanya yang hadir bukan saya." Memang seperti itulah faktanya, bagi sebagian besar orang kaya, harta dan kekuasaan memang lebih penting daripada apapun, termasuk anak mereka. "Maaf, kalau saya boleh tahu, Apakah wali siswi yang bertengkar dengan Nona Aira juga dipanggil?" "Tentu saja." jawab sang kepala sekolah, “Mungki sebentar lagi beliau akan datang.” Sedangkan diluar ruangan sang kepala sekolah, Aira bersandar di dinding dengan jemari memainkan ponsel pintar miliknya, mengintip beberapa akun sambil sesekali memberikan komentar-komentar jahat pada setiap postingan yang ada disana. “Heh!” dengan cepat jemari gadis itu langsung meraih jemari Sari yang lewat didepannya, “Kenapa buru- buru sekali?“ ejek Aira dengan tersenyum manisnya yang memuakkan setelah menyadari sosok wanita akhir 30 tahun yang berdiri dibelakang Sari. “Ada apa?” wanita paruh baya itu mentap kedua remaja itu bingung. “Tidak ada apa-apa, Bu.” jawab Sari dengan senyum lembutnya. “Sari mau bicara dengan teman Sari. Sebentar saja!” ucap Sari dan langsung meminta Aira menjauh dari pendengarn ibunya. “Apa maumu?!” “Aku hanya ingin bicara sebentar padamu karena kupikir ini adalah pertemuan terakhir kita.” “Sejak kapan kamu bertingkah manis seperti ini, Aira?!” “Hei, aku jahat salah aku berbuat baik dan manis juga salah.” wajah Aira merengut kesal seolah dibuat-buat, “Oh ya, Apakah kamu tahu tujuan kepala sekolah memanggil walimu? Bagaimana kalau kuberitahu dari awal supaya kamu tidak syok nanti.” Wajah Aira mendekat dan berbisik lirih di cuping telinga Sari, “Nasibmu akan sama sepertiku, Sari. DI-DROP OUT!” “Apakah sudah basa-basimu?” wajah Sari yang sedari tadi datar langsung melepaskan cengkraman Aira dengan kasar, “Kami sudah ditunggu oleh Pak Burhan sedari tadi.” Sari lantas meninggalkan Aira namun belum beberapa langkah Sari langsung menolehkan kepalanya untuk kembali menatap Aira, “Satu hal yang perlu kamu tahu. Aira. Nasibku tidak akan berakhir sepertimu.” sudut bibir Sari naik sebelah, meninggalkan Aira yang mengumpat kesal mengutuk teman sekelasnya itu. Pintu ruangan sang kepala sekolah dibuka dari luar dan sosok yang sedari tadi Aliana tunggu kini sudah berada ditengah- tengah mereka. “Selamat siang, Pak.” sosok wanita berumur akhir 30 tahunan itu menjabat tangan kepala sekolah dan Aliana dengan sopan. Dan mereka langsung membicarakan intim masalah yang sedang mereka hadapi kini. “Jadi siswi yang bernama Aira akan di keluarkan dari sekolah dan Nona ini, yang mewakili orang tua dari Aira keberatan dengan keputusan terebut dan meminta perundingan dengan korban dan wali korban yaitu saya dan putri saya?” “Iya anda benar sekali.” sahut sang kepala sekolah pada wali Sari. “Bukankah keputusan sekolah sudah benar. Lalu apa yang mau dipertahankan lagi dari siswi seperti dia? Apalagi yang dirudung adalah putri saya?! Bagaimana saya diam saja!” “Ma, tenang.” Sari yang duduk disebelah sang ibu menggenggam telapak tangan keriput itu, menahan sang mama untuk menyemburkan larva panas dari mulutnya. “Nyonya.” suara Aira mulai terdengar, “Saya yakin Nona Aira tidak melakukan bullying setiap hari. Saya yakin, Nona Aira melakukan bulying hanya kepada putri anda karena dia tahu putri anda bukan gadis yang lemah, putri anda berani melawan Nona Air sama kerasnya, bukankah begitu?” Aliana mengalihkan pandangannya pada Sari dan Sari langsung menganggukkan kepalanya, tidak membantah hal itu sama sekali. “Saya yakin Nona Aira melakukan hal itu hanya untuk mencari perhatian dari kedua orang tuanya namun rasa kecewa itu semakin besar saat melihat yang datang ke sekolah bukanlah Mama dan papanya melainkan saya.” “Tapi apa yang perbuatannya sama sekali tidak bisa dibenarkan.” ucap ibu Sari dengan mimik yang cukup serius dan nada menggebu. “Iya saya tahu.” Aliana menganggukkan kepala, “Oleh karena itu saya ingin meminta bantuan kepada Sari. Apakah Sari bersedia membantu Aira?” “Maksudnya dengan cara membiarkan putri saya terus dibully oleh anak majikan anda itu? Ibu mana yang terima anaknya diperlakukan seperti itu oleh teman sekelasnya?” “Maaf Nyonya, Bisakah anda sedikit tenang.” suara tegas itu membuat Ibu dari Sari langsung diam, “Asal Ibu tahu, selain Aira, Sari juga terancam mendapatkan sanksi karena terlibat kasus pertengkaran seperti ini. Ibu tentu bisa berpikir kalau beasiswa Sari juga akan dicabut.” “Bagaimana bisa begitu, Pak Burhan?!” manic kelam ibu Sari melotot tidak terima sedangkan Sari, gadis yang sedari tadi terduduk disamping sang ibu langsung terdiam mematung. “ Berikan kesempatan bagi Nona Aira selama dua minggu atau paling lama satu bulan saja. Jika lebih dari waktu tersebut dan nona Aira tidak berubah pihak sekolah berhak mengeluaran Nona Aira dari sekolah.” Aliana lantas menatap Sari, “Kamu pasti tahu carany, bukan? Jangan mengubris Nona Aira sedikitpun. Jika dia berulah… diam saja atau jangan lawan lagi. Dengan itu Nona Aira akan frustsi dan lelah dengan sendirinya.” “Lalu bagaimana dengan beasiswa putri saya? Kalau tenggat waktu yang diberikan gagal apa beasiswa putri saya tidak akan dicabut?!” Mendengar itu Aliana hanya bisa menggigit bibirnya dalam, dia lupa dia tidak punya kekuasaan atau jaminan apapun jika sampai hal itu gagal. “Saya bersedia membantu.” suara itu keluar dari bibir Sari, “Dengan satu syarat, berhasil atau tidaknya rencana ini Pak Burhan harus menjamin beasiswa tetap saya dapatkan.” Sari menarik nafas dalam, “Karena dengan mengacuhkan Aira itu berarti saya tidak membuat pelanggaran apapun, bukan?” Dan akhirnya setelah hampir 20 menit, ruang kepala sekolah terbuka, menampakkan ketiga orang keluar dari ruangan itu. “Heh!” Aira yang sedari tadi berdiri didepan pintu sampai bosan langsung menarik lengan Aliana, “Jadi bagaimana? Kami berdua dikeluarkan dari sekolah.” ucap Aira terang-terangan tanpa peduli dengan Sari dan ibunya yang berada tidak jauh darinya. “Tidak akan ada yang dikeluarkan.” Aliana tersenyum lembut dan Aira yang mendengar itu langsung mengeram marah, “Apa yang kau katakan pada pria tua itu sampai aku tidak jadi dikeluarkan?!” “Rahasia.” senyum Aliana sembari melepaskan cenkraman jemari Aira dan langsung pergi dari hadapan gadis itu begitu saja. “Heh!” teriak Aira keras, merasa diacuhkan oleh orang rendahan seperti babysiterr adiknya itu, “Untung kita masih diwilayah sekolah jika tidak mungkin kau sudah kuberi pelajaran supaya tidak lancang ikut campur urusanku.” “Argh!” teriak Aira kesal penuh dendam, “Awas saja! Aku tidak akan membuat hidupmu tenang, BABU SIALAN!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN