Alarm dari nakas berdering. Membuat mata Reres dibuka dengan paksa. Ia harus bangun. Meski di rumah sudah ada pembantu, ia tetap punya kewajiban. Memasak adalah bagiannya sedangkan mencuci, setrika, menyapu dan mengepel adalah bagian pembantu. Ah, cuci piring termasuk pekerjaan Mbok dan Ina. Karena mengasuh dua bocah adalah bagiannya.
Reres mengusap punggung Saga yang katanya sakit. Ia tertawa geli. Ada-ada saja tingkah suaminya itu. Salah sendiri terlalu semangat dan kesal bersamaan. Jadi, rasakan sendiri akibatnya.
Reres tersenyum bahagia. Ia tak peduli orang berkata apa tentangnya yang terpenting Saga tak pernah protes. Malah pria itu semakin senang membelikannya camilan ketika pulang kerja. Katanya, buat penyemangat yang sudah kerja keras hari ini.
Reres akan bangun tapi pinggangnya ditahan oleh Saga yang semakin erat memeluknya. "Ayo bangun, Bee. Sudah pagi."
"Hmm." Meskipun menyahut tetapi Saga sama sekali tak bergerak masih saja memejamkan matanya sambil memeluk boleh miliknya.
"Bee bangun ih."
Masih hanya menyahut seadanya dan tak ada pergerakan dari suaminya itu membuat Reres merasa kesal.
Reres tersenyum dengan ide brilian-nya. Mendekatkan wajah pada Saga yang ia sadari bahwa suaminya itu pura-pura memejamkan mata. Reres perlahan menciumi pipi, bibir, kening dan hidung suaminya. Semua Reres absen dengan semangat. Semua bagian tanpa terlewatkan sedikitpun.
"Love, jangan mulai, deh. Aku masih marah sama kamu," ujar Saga lalu menyembunyikan wajahnya di ketiak sang istri. Padahal kalau pagi begini hasratnya mudah sekali naik. Bisa-bisa langsung memaafkan kalau begini.
Tapi Reres masih saja terus mencium suaminya itu agar ia lekas bangun. "Iya, marah aja. Aku terima." Reres Berucap sambil tertawa kecil. "Lagian, kenapa gitu banget sih kemarin malam? Toh tiap hari kita juga ngelakuin?" tanya Reres pada Saga yang memang baru lallu ini mereka bermain hingga punggungnya sakit.
"Itu karena kamu. Udah dibelain jawabnya gitu," kesal Saga. Ia sudah membela Reres mati-matian dan jawaban Reres diluar dugaan. Meskipun ngambek dia tetap minta jatah memang dasar Saga.
Sekarang wanita itu sengaja kembali berbaring. Ia paham dengan maksud Saga. Menatap langit kamar. Ia bergumam sedikit keras yang supaya didengar oleh suaminya.
"Daripada aku dengar kritikan orang lain tentang aku, lebih baik aku dengar kata cinta dari kamu." Reres berkata lagi ingin menggoda Saga.
Reres mengusap pipi suaminya yang di lengannya. "Bee, selama kamu di sisi aku, nerima aku apa adanya, nerima dan menutupi kekuranganku, sayang sama aku selalu ... Aku enggak butuh apa pun lagi. Aku enggak peduli tentang siapa pun lagi. Aku cuma butuh kamu dan anak-anak di sampingku."
Saga memeluk dan menciumi wajah sang istri. Pria itu terharu akan kebaikan hati istrinya. Akan semua kesabaran dan kelembutan hatinya. Akan keluasan dan kelapangan jiwanya. Dan Saga bersyukur dirinyalah pria beruntung yang dipilih Reres untuk menjadi teman hidup. Tak ada satupun penyesalan dalam hati Saga karena telah memilih wanita di sampingnya ini menjadi seorang istri
"Nggak usah nangis. Kayak Kay, aja," seloroh Reres bercanda.
Saga mengubah posisi yang tadinya menyamping menjadi terlentang. "Aku nggak tahu mau ngomong gimana lagi. Tapi aku janji untuk selalu di sampingmu. Kamu juga harus janji untuk selalu di sisi aku."
"Siap, Bos."
Keduanya berpelukan. Melepas rasa sakit, kerinduan dan kesedihan yang sempat merayap mengisi hubungan keduanya.
"Love, main airnya bareng, ya?" pinta Saga dengan wajah memohon.
"Punggungnya sudah sembuh?" tanya Reres. Seingatnya tadi malam Saga mengeluh kalau punggungnya sakit. Sumpah demi apa pun jangan bertanya sakit kenapa karena hanya suami istri yang tahu kenapa.
"Kalau sama kamu pasti sembuh." Saga menggoda
"Iyyuuhh, gombal di pagi hari."
"Nanti aku keramasin kamu, deh," tawar Saga. Masih berusaha mengajak istrinya itu untuk mandi bersama. Kalau bisa plus-plus ya rezeki Saga.
"Aku bisa keramas sendiri, Bee."
Reres bangun mengambil bajunya yang tercecer di lantai. Meletakkan di keranjang kotor lalu masuk kamar mandi. Reres terdiam kala tidak mendapatkan Saga bergerak. "Jadi nggak, sih. Main airnya?"
Dengan gerakan secepat kilat Saga bangkit dan ikut masuk ke dalamnya. Bukankah memang itu yang harus dilakukan suami istri? Bercerita, mandi bersama, pillow talk, membagi tugas, mengasuh anak-anak. Selain mempererat hubungan, mereka jadi bisa merasakan kegiatan itu bersama. Tahu capeknya, repotnya dan lelahnya.
Saga senang memandikan sang istri apalagi dengar lenguhan akibat kelakuan tangannya di sekitar tubuh Reres. Suka berada di bawa shower bersama sang istri kemudian tangannya menjadi ikat rambut untuk snag istri keduanya berpeluh yang dengan cepat dihapus oleh siraman air.
"Bee," lenguh Reres tak tahan lagi.
Keduanya bermain di bawah siraman air. Suka sekali berada dalam permainan seperti ini.
Setengah jam kemudian keduanya keluar. Reres tidak sempat memakai lotion karena harus menyiapkan baju Saga ke kantor. Belum lagi menyiapkan kebutuhan anak-anak yang pasti rutinitas pagi bikin nagih.
"Nay, bangun, Cantik. Kita ke sekolah." Reres mengusap lembut pipi Nay. Meski alarm berbunyi, bocah kecil itu harus tetap dibangunkan. Nay menggeliat membuat Reres tersenyum. "Mami siapin air hangat buat mandi."
Bocah itu masih mengerjapkan matanya. Mencoba berdamai dengan rasa kantuk yang masih memeluk. "Mami ke sini, kamu sudah harus di kamar mandi. Mami bangunin Adek dulu."
Meski berat, Nay anggukan kepala lalu melangkah ke kamar mandi. Benar saja air hangat sudah siap. Ia mandi lalu berganti baju.
"Mi," panggil Nay. Membuat kedua orang tuanya menoleh.
"Apa, Sayang?" Saga mengusap suatu hitam Nay yang terlihat tebal.
"Nay manggil Mami, bukan Yayah," Kesal Nay. Niatnya memanggil Reres tapi karena Maminya sibuk dengan Kay, jadi Saga yang menjawab. Dan Saga menjawabnya karena penasaran.
"Mami sibuk, Nak." Saga coba beri pengertian pasa putrinya itu.
"Apa, Nay?" kini sang mami yang menoleh.
"Mi, teman Nay kemarin bawa bekal enak banget. Nay mau dibuatin gitu," ujar Nay polos.
"Dibuatin apa?" Selama ini, bekal Nay kalau bukan nasi goreng, ya sosis, mie, buah atau roti sandwich.
"Kata teman Nay namanya tempe kriuk. Enak banget, Mi. Nay mau."
Saga dan Reres mengerjapkan mata. Mencoba mengolah maksud perkataan Nay. Mereka bahkan sempat kaget. Pasalnya Nay jarang makan tempe dan tahu. Meski itu banyak mengandung protein nabati, tali Reres memang jarang mengolah itu.
"Tapi, Nay. Nay udah lama mami enggak masak tempe ya?"
"Makanya, Nay makan punya teman Nay dan rasanya enak. Kayak pas Mami bikin ayam krispi."
Sekarang Reres paham. Tempe yang dimaksud Nay adalah tempe yang diiris tipis lalu dilaburi tepung seperti pembuatan ikan dan ayam krispi. Mungkin karena mengirisnya sangat tipis sehingga hasilnya kriuk sampai siang.
"Jadi, Nay besok mau bawa bekal begitu juga?" Nay mengangguk mantap. "Tapi sama sayur, ya?"
Mau berpikir sejenak hingga akhirnya mengangguk asal bisa makan tempe kriuk. "Okeh, Mi."
"Gimana kalau nanti malam kita makan di luar? Kan, lama sekali tuh nggak makan di luar," usul Saga.
Bukan mereka tidak suka, tidak mau atau berhemat sehingga jarang makan di luar. Melainkan malas. Malas karena anak-anak pasti heboh bermain sampai makannya lama dan juga ribet. Menunya juga susah untuk anak seumur Kay. Mbak Ina sendiri malu kalau diajak keluar bersama. Padahal, mereka butuh bantuan Ina saat makan bersama diluar seperti itu.
"Love, coba nanti kamu bilang Mbak Ina."
"Oke, Bee."
Reres setuju saja makan di luar, karena ia juga bosan di rumah terus. Tapi memilih tempat makan yang ada play groundnya juga susah. Tidak semua memberi fasilitas itu. Dan satu lagi, kursi makan adek juga jarang.
"Pilih yang ada play groundnya, Bee. Buat anak-anak nyaman."
"Kirain bisa seperti ini saja, terus kita jalan ke mana gitu. Atau kamu mau belanja?" Maksud Saga adalah makan bersama seperti saat ini. Ia mengajari Nay dan Reres menyuapi Kay.
"Bee."
"Oke, Love."