Bab 8. Bicaralah!

1108 Kata
Rhey sudah tidak sabar ingin bertemu dengan lelaki yang dicintai Meisha. Sepanjang perjalanan ke Pondok Baca, tidak ada yang bicara antara Meisha dan Rhey. Mereka diam seribu basa, entah apa yang ada di dalam pikiran keduanya. Sampai di halaman Pondok Baca, terlihat beberapa anak-anak yang duduk melingkar dekat gazebo. Terdapat dua kelompok anak yang dipandu oleh masing-masing dua orang. Kelompok satu anak-anak yang didampingi dua orang pemuda, kelompok satunya didampingi dua wanita yang mengenakan gamis tapi tidak bercadar seperti Meisha. Pasangan pengantin baru itu tidak langsung keluar mobil. Mereka diam, meskipun mesin mobil sudah dimatikan. Rhey memerhatikan dua pemuda yang tengah bercerita di depan sekumpulan anak-anak. Dia menerka, siapa diantara dua laki-laki itu yang dicintai Meisha? "Kak Rhey?" panggil Meisha pada Rhey yang pandangannya keluar jendela. "Hm?" Rhey menoleh, melihat wajah yang tertutup cadar. "Mau turun gak?" "Mau dong. Jangan lupa, kamu harus kenalin aku sama cowok itu. Oh ya, Mei, dia siapa namanya?" "Fahri." "Oh, Fahri. Wah, beruntung kamu enggak berjodoh sama dia," celetuk Rhey tersenyum miring. Meisha yang hendak turun, mengurungkan niat. Ia menoleh, memicingkan kedua mata. "Maksudmu?" "Kamu enggak jadi dipoligami." "Hah?" Rhey tertawa terbahak-bahak. "Becanda, Mei. Tegang amat. Maksudku Fahri yang ada di film fenomenal itu. Udahlah, jangan dibahas. Ayok turun!" Rhey membuka pintu mobil. Ia mengitari depan mobil, membukakan pintu mobil untuk Meisha. Gadis itu terkejut, ia merunduk dan mengucapkan terima kasih. Rhey dan Meisha berjalan beriringan. Namun, tiba-tiba Rhey mendekatkan diri pada Meisha dan berbisik, "Mei?" "Iya?" "Aku boleh pegang tanganmu?" bisik Rhey tepat di depan telinga Meisha. Gadis itu menoleh, cadarnya tersentuh hidung Rhey yang mancung. Rhey tersenyum manis. Meisha menganggukkan kepala. Senyum Rhey semakin mengembang. Ia langsung menggenggam telapak tangan wanita yang telah sah menjadi istrinya. Jantung Meisha berdegup lebih kencang ketika melihat sorot mata lelaki yang pernah dirindukannya menatap lekat. Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung, dan celana jeans hitam, berjalan menghampiri keduanya. Alasan Rhey menggenggam telapak tangan Meisha karena ingin tahu siapa dua lelaki itu yang mencintai Meisha. Jika Rhey menggenggam telapak tangan Meisha, maka lelaki tersebut pasti akan terkejut. Sudah dapat dipastikan, lelaki yang dicintai Meisha adalah dia, seorang pria yang berdiri tegap di depan mereka. "Ukhti, itu ...." Suara Fahri menggantung, terdengar bergetar. Pandangannya tertuju pada genggaman telapak tangan Meisha dan Rhey. "Kamu yang namanya Fahri?" Rhey langsung angkat bicara. Hatinya sudah tidak sabar ingin memberitahu perihal pernikahannya, perihal Rhey adalah suami sah Meisha. Pandangan Fahri beralih pada Rhey, lelaki yang menurutnya telah berani menggenggam telapak tangan wanita yang dicintai. Ketiga pemuda yang berada tak jauh dari mereka bersama anak-anak, memerhatikan Fahri, Meisha dan Rhey. "Iya. Saya Fahri. Anda siapa? Dan kenapa ... Anda menggenggam tangannya?" Rhey melepaskan genggaman tangan Meisha. Tangannya justru berpindah ke pundak wanita bercadar itu. "Aku suaminya. Dia istriku." Tubuh Fahri mundur selangkah, terkejut, keningnya sampai mengkerut. Kepala Fahri menggeleng berulang kali. Tatapannya berubah menjadi tajam. Memandang Rhey dan Meisha bergantian. "Benar, Mei?" Fahri ingin mendengar langsung dari Meisha tentang ucapan Rhey padanya. Jika yang dikatakan Rhey benar, sungguh Fahri tak menyangka, semudah itu Meisha berpaling. Rhey menoleh, menunggu jawaban istrinya. Apakah benar, Meisha ingin memberitahu Fahri secara langsung tentang pernikahan mereka? Apa benar, Meisha ingin melupakan Fahri dan belajar mencintainya? "Benar." Satu kata yang meluncur dari mulut Meisha membuat dua pria itu mengalami perasaan yang bertolak belakang. Fahri mengalami perasaan yang hancur dan kecewa. Sedangkan Rhey, perasaannya sangat bahagia dan lega. Rhey semakin erat merangkul pundak Meisha, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah pemenangnya. "Jangan tegang begitu, kawan. Kita belum kenalan. Kenalkan, aku Rhey Xander Nicholas. Suami Meisha Yara." Penuh percaya diri, Rhey mengulurkan tangan kanan ke hadapan Fahri. Satu detik hingga satu menit, Fahri tak menyambut uluran tangan Rhey. Rhey menarik telapak tangan, memasukkan ke dalam saku celana. "Aku tau, kamu pasti sakit hati mendengar aku dan Meisha sudah menikah," ujar Rhey memecah keheningan. "Aku gak nyangka, ternyata dua bulan enggak komunikasi, kamu manfaatkan untuk berselingkuh." Meisha dan Rhey terkejut mendengar tuduhan Fahri. "Eh, maksudmu Meisha selingkuh?" Rhey bertanya memastikan. Tidak mungkin kalau Fahri yang sudah mengenal lama Meisha menuduh gadis bercadar itu selingkuh. Fahri menoleh, menatap nyalang Rhey. Tersenyum mengejek. "Iya, siapa lagi? Selama ini aku minta dia buat nunggu. Nunggu sampai aku ... aku benar-benar siap menikahinya." Giliran Rhey yang mencebik. Ia menghela napas berat. Sementara Meisha tanpa diketahui oleh kedua pria itu, meneteskan air mata. Hatinya sangat sakit. Mungkin benar tuduhan Fahri kalau dirinya telah berselingkuh. "Hei, Bung! Cewek yang usianya mendekati angkat 30, perlu kepastian. Anda menyuruh Meisha menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian yang jelas. Nih, aku kasih tau, Meisha gak selingkuh. Aku dan dia dijodohkan. Meisha memang belum cinta sama aku. Dia malah terang-terangan masih mencintaimu. Tapi, Meisha gak bisa menolak perjodohan ini karena dia anak yang berbakti, anak yang soleha. Kalau Anda datang baik-baik melamar Meisha pada keluarganya, mungkin sekarang Meisha sudah sah menjadi istri Anda. Tapi kenyataan, Anda tidak punya nyali melakukan itu? Benar 'kan?" Panjang lebar Rhey menjelaskan semuanya. Meisha masih bungkam. Ia tak kuasa berbicara. Biar bagaimana pun, Rhey tidak suka kalau gadis yang dicintainya dianggap berselingkuh. "Kalau kamu udah tau Meisha punya kekasih, kenapa kamu tetap menikahinya?" "Awalnya aku gak tau! Kalau tau, nauzubillah aku nikahin gadis yang hatinya cinta sama cowok lain." "Kalau begitu, ceraikan dia!" sentak Fahri, menatap penuh emosi pada Rhey. Wajah Fahri memerah, terlihat sangat emosi. Rhey menghela napas panjang, melihat anak-anak Pondok Baca masuk ke dalam sebuah surau. "Eh, ngomongnya gak perlu nyolot. Nih, aku kasih tau, ketika dia mengaku mencintai laki-laki lain, aku udah mau menceraikan dan melepaskan dia untukmu. Tapi, Meisha anak yang baik. Dia tidak mau membuat keluarga besarnya malu karena baru menikah sudah bercerai. Dia menolak aku ceraikan." Fahri tersenyum mengejek, tertawa terbahak-bahak. Meisha terkejut melihat sikap Fahri yang tidak seperti biasa. Rhey menghela napas berat, menoleh pada Meisha yang tampak terkejut. "Meisha, aku benar-benar gak nyangka ternyata kamu enggak sebaik yang aku pikir. Aku pikir kamu setia, aku pikir kamu mau menunggu dan mengerti keadaanku. Ternyata ... kamu w**************n yang gampang menerima cowok lain apalagi sampai mau dinikahinya. Buka cadarmu, Meisha! Apa cadarmu itu hanya untuk menutup kebusukan hati dan sifatmu?" Air mata Meisha mengalir semakin deras. Rhey sangat terkejut mendengar penilaian Fahri terhadap Meisha. Rhey yakin Meisha pasti sakit hati. "Wah, mulutmu semakin keterlaluan Punya mulut jangan kayak emak-emak yang suka ghibah! Kita ini cowok. Jangan baperan! Pake akal sehat kalau ngomong. Egois boleh, b******n jangan! Kamu itu egois, menyuruh Meisha menunggu tanpa kepastian. Kamu juga b******n, udah nuduh orang, fitnah orang dengan keji. Mei, jangan diam. Bicaralah! Kamu punya kesempatan buat ngejelasin semuanya dan punya kesempatan membela diri. Bicara, Mei! Jangan biarkan lelaki yang kamu cintai itu menilaimu sangat buruk dan rendah. Bicara, Mei!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN