Bab 9. Kehormatan

1073 Kata
Rhey sangat kesal mendengar ucapan Fahri. Lelaki yang katanya dicintai Meisha, ternyata justru menghina dan merendahkannya. Rhey tahu, Fahri pasti kecewa, tapi apakah harus menuduh Meisha sangat rendah? "Dia pasti diam karena merasa apa yang aku ucapkan, memang benar adanya," desis Fahri tersenyum mengejek. Lelaki itu sungguh egois. Meski tak dapat dipungkiri hatinya sangat sakit dan kecewa, seharusnya tidak memandanh rendah Meisha. "Kalau ngomong dijaga dikit gak bisa? Kamu udah kenal lama Meisha, kenapa bisa-bisanya menilai dia sangat rendah? Harusnya kamu bisa jaga perasaan dia. Minta penjelasan baik-baik bukannya menuduh orang." Rhey tetap tidak habis pikir pada Fahri. Lelaki itu sungguh tidak bisa menjaga perasaan Meisha. "Justru dia yang udah gak bisa jaga perasaan aku. Kau tau kan, kalau kami sudah lama menjalin hubungan? Wajar saja kalau aku beranggapan demikian? Dia yang gak bisa setia!" "Bukan dia yang gak bisa setia! Tapi kamu yang gak bisa kasih kepastian!" "Sudah, sudah ...." Seketika perseteruan keduanya terhenti. Mereka menoleh pada Meisha. "Semua memang salahku. Aku enggak memberitahumu tentang perjodohan kami. Aku juga salah pada Kak Rhey. Sebelum menikah aku enggak bilang kalau ada lelaki lain yang aku cintai. Sekarang kamu udah tau, kalau aku dan dia sudah sah menjadi suami istri. Aku memilihnya karena ia suamiku. Aku akan berusaha melupakan cintaku padamu. Aku juga akan belajar mencintainya. Terima kasih." Penjabaran yang disampaikan Meisha membuat kedua lelaki itu tercenung. Fahri tentu saja tidak terima. Meisha membalikkan badan, berjalan cepat menuju mobil milik Rhey. "Meisha!" Rhey dan Fahri memanggil Meisha berbarengan. Namun, gadis itu tak peduli. Memilih masuk ke dalam mobil, menutup pintu, tak menghiraukan panggilan Fahri yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. "Fahri, kayaknya Meisha sudah sangat sakit hati padamu. Penilaianmu terhadapnya sangat keterlaluan. Jahat," ujar Rhey santai. Fahri menghentikan ketukaan pada kaca jendela moobil. Pandangannya beralih pada Rhey. "Aku yang sakit hati bukan dia! Semua ini gara-gara kamu. Kalau kamu enggak ada niat menikahi dia, hubunganku dan Meisha pasti baik-baik saja." Sangat geram, Fahri menimpali ucapan Rhey. Anak tunggal Daniel Nicholas itu terbahak-bahak. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Menyandarkan tubuh pada mobil mewah miliknya. "Baik-baik saja? Kamu yakin kalau Meisha baik-baik saja menungu ketidakpastianmmu? Hei, kamu mesti tau, usia dia udah 27 tahun. Orang tua mana yang tidak khawatir jika anak gadisnya tak kunjung menikah? Walau sebagian orang tua tidak mempedulikannya. Jangan salahkan Meisha lagi. Meisha sudah mengambil keputusan, jadi kau harus bisa menerima," kata Rhey menekan d**a Fahri yang terdiam di tempat. Fahri kehabisan kata-kata. Sebagai lelaki dewasa, sangat wajar jika Fahri merasa harga dirinya terinjak-injak. Rhey masuk ke dalam kendaraanya tanpa menunggu tanggapan dari Fahri. Rhey melajukan kendaraan meninggalkan lelaki yang diselimuti amarah. "Sialan! b******k! Aku benar-benar gak nyangka Meisha mengkhianatiku. Aku enggak akan membiarkan Meisha dan suaminya bahagia. Enggak akan," tekad Fahri mengepalkan kedua tangan sangat kuat. Ia tidak terima melihat Meisha sudah menikah. Tidak terima. Rhey menoleh, melihat sekilas gadis bercadar duduk di sampingnya. Meisha berrkali-kali meenyeka air mata. Rhey tahu, hati wanita itu pasti sangat hancur. Lelaki yang dicintainya selama ini, justru merendahkan dirinya dengan sedemikian rupa. Rhey tak berani bertanya atau bicara. Ia membiarkan Meisha dalam kesedihan. Rhey hanya berharap dan berdoa, semoga suatu saat nanti, Meisha bisa melupakan Fahri dan bisa mencintainya. Sampai di halaman rumah, Meisha langsung keluar tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobil. Meisha berjalan cepat menuju kamar. Cadar yang ia kenakan, dibuka begitu saja. Meisha duduk di tepi ranjang. Menghela napas panjang, berusaha agar tidak menangis. Rhey membuka pintu kamar, melihat istrinya yang tengah menutup wajah dengan kedua tangan. Rhey melangkah, duduk di sisi Meisha. "Boleh aku memelukmu?" tanya Rhey sopan. Sebenarnya Rhey tak perlu bertaya demikian. Meisha telah halal ia sentuh. Sudah sah menjadi istrinya di mata agama dan negara. Meisha menganggukkan kepala. Rhey tersenyum, mendekap tubuh Meisha agar menumpahkan isak tangis di dalam dekapannya. Entah kenapa, melihat Meisha bersedih, Rhey pun ikut bersedih. "Aku gak tau harus bicara apa, Mei. Yang pasti aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Menurutku, Fahri udah keterlaluan. Dia menilaimu demikian seperti baru mengenalmu kemarin sore. Harusnya Fahri memberimu kesempatan menjelaskan sebelum menilaimu rendah. Tapi ya udahlah, enggak perlu kamu tangisi dia. Tadi kamu udah mengambil keputusan, Mei. Aku sangat menghargai keputusanmu dan aku juga akan membantumu supaya bisa mencintaiku." Meisha menarik tubuh, ia menyeka air mata yang membasahi wajah. Rhey memandang Meisha penuh cinta. Wajah yang cantiik itu kini memerah. Hati Meisha pasti sangat terluka. Tetapi, Rhey tak bisa berbuat banyak. "Kak Rhey?" panggil Meisha, suaranya terdengar bergetar. "Kenapa?' Meisha menatap lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. "Aku, aku minta maaf karena pernah menyakitimu dengan kejujuran yang seharusnya tak perlu aku katakan. Harusnya aku, aku tak perlu mengatakannya. Maafkkan aku minta maaf." Rhey tak tega, ia kembali merengkuh tubuh Meisha. "Enggak apa-apa. Aku udah maafin kamu. Aku udah ridhoin apapun yang udah kamu lakukan. Sekarang jangan bersedih lagi. Lupakan yang diucapkan Fahri. Dia begitu, mungkin karena terlalu terkejut dan sakit hati. Tapi, bukan berarti aku membenarkan penilaiannnya padamu. Menurutku, misalnya dia emosi juga, harusnya bisa mengontrol kata-kata. Enggak seenaknya menghakimi seseorang. Terlebih, orang yang dia rendahkan itu, orang yang dikenalnya sudah sangat lama. Jadi, menurutku Fahri tetap salah. Mei, dia yang salah, bukan kamu." Meisha mengeratkan pelukan. Rhey menarik napas panjang, berusaha menetralisir debaran jantungnya. "Terima kasih udah membelaku." Rhey mengangguk, melepaskan pelukan. Dengan lembut, ia menyeka lelehan air mata yang membasahi wajah Meisha. Gadis itu tak boleh menangisi lelaki itu lagi. Sekarang sudah ketahuan, seperti apa watak lelaki yang selama ini ia cintai. Mungkin benar, Fahri sedang emosi, tapi tidak semestinya ia mengatakaan hal buruk tentang Meisha apalagi tuduhan itu tidak benar. Meisha jadi membayangkan jika mereka berjodoh. Dalam rumah tangga pasti ada masalah. Baik kecil dan besar. Kalau Fahri seperti ini, jika marah akan merendahkannya, Meisha tak akan sanggup menerima. Meisha dididik dalam keluarga yang tak suka menghina. Bahkan ketika Fahri datang ke rumah bersama teman-temannya, kedua orang tua Meisha sangat baik menyambut. Tidak suka membeda-bedakan latar belakang keluarga seseorang. Mungkin jika Fahri ketika itu mau melamar Meisha meski keadaan ekonomi yang belum stabil, kedua orang tua Meisha tidak akan mempermasalahkan. Bagi kedua orang tua Meisha, yang penting lelaki itu memiliki sikap yang baik, cinta pada Meisha dan bertanggung jawab. "Sama-sama. Sudah menjadi kewajibanku sebagai suami membelamu. Terlepas, kamu cinta atau gak tapi yang jelas, kamu adalah istriku. Kehormatanmu adalah kehormatanku." Meisha terenyuh mendengar kalimat yang diucapkan suaminya. Dalam hati Meisha sangat bersyukur karena memiliki suami seperti Rhey. "Hei, kenapa lihatin aku kayak gitu? Apa kamu baru sadar kalau aku tampan?" "Hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN