Bab 10. Jangan Menangis!

1100 Kata
Usai salat Asar, Meisha memasak untuk persiapan suaminya buka puasa. Ia juga membuat kolak singkong sebagai menu buka puasa utama. Awalnya Meisha ingin membelikan kurma tetapi ia tak menemukan. "Bi, tolong masukkan kolaknya ke dalam mangkuk, ya?" titah Meisha yang tampak sibuk di dapur. "Baik, Neng." Kejadian tadi siang di Pondok Baca sudah mulai ia lupakan dengan menyibukkan diri di dapur bersama salah satu asisten rumah tangganya. Rhey yang mencium aroma masakan, menghampiri dapur. Melihat istrinya yang tengah berkutat menata lauk pauk. "Kamu bisa masak?" tanya Rhey tampak tak percaya melihat Meisha sangat cekatan memindahkan sayur mayur ke dalam mangkuk. Meisha menganggukkan kepala. "Cuma bisa, enggak pandai," jawab Meisha tanpa menatap Rhey yang berjalan mendekati. Meisha agak canggung, ia mulai menjauh, berpura-pura mencuci tangan di wastafel. Sedangkan asisten rumah tangga mereka mengerti, Bi Sarnih meninggalkan pasangan suami istri itu. "Tadinya aku pikir kamu gak bisa masak, Mei. Kamu kan S2, takutnya alergi pegang panci, cuci piring." Meisha terkekeh, di balik cadar, bibirnya menyunggingkan senyuman manis. Sayang, Rhey tak dapat melihat. Rhey duduk di kursi meja makan, menatap satu persatu lauk pauk yang tersaji di atas meja. Tanpa disadari, ia menelan air liur. "Hei, jangan dilihatin terus! Nanti ngiler," tegur Meisha mengibaskan sebelah tangan ke depan wajah suaminya. Rhey tergelak, tertawa lepas. Merasa lucu, mendengar Meisha menegurnya. "Emangnya kamu pikir aku anak kecil?" "Ya habisnya, sampai menelan air liur gitu." "Masa sih? Perasaan enggak." Meisha menggelengkan kepala, lalu meninggalkan Rhey yang duduk seorang diri. "Mei, mau kemana?" tanya Rhey setengah berteriak, ia berlari menghampiri istrinya yang tengah menaiki anak tangga. "Mau kemana?" "Aku mau mandi." Rhey mengangguk, tetap mengikuti Meisha yang masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Meisha melepaskan cadar. Rhey terpaku melihat wajah tanpa cacat itu. Meisha tak menyadari kalau Rhey tengah menatapnya. "Mei?" panggil Rhey ketika Meisha hendak membuka pintu toilet. "Ya? Ada apa?" tanya Meisha membalikkan badan. Rhey tersenyum lalu menjawab, "Kamu cantik." Seketika, Meisha salah tingkah. Wajah putihnya bersemu merah. Ia kemudian, membalikkan badan, membuka pintu toilet dan masuk ke dalam. Rhey garuk kepala yang tak gatal, kemudian ia duduk di meja kerja sudut kamar, membuka laptop. Sambil menunggu Meisha selesai mandi, Rhey membuka galeri foto semasa sekolah dulu. Rhey terkejut, melihat foto dirinya bersama Meisha sewaktu mereka masih sekolah. Ketika itu, Rhey sudah duduk di bangku SMA, sedangkan Meisha masih di bangku SMP. Keduanya foto bersama saat hendak berangkat sekolah. Ternyata foto kebersamaan Rhey dan Meisha tidak hanya ada satu, ada beberapa bahkan cukup banyak. Ada juga foto Meisha yang masih SD. Gadis kecil yang selalu menggamit lengan Rhey ketika datang ke suatu pesta. Dulu, Rhey suka merasa risih dan terganggu saat Meisha mulai bermanja atau mengajak pulang padahal acaranya belum selesai. Rhey benar-benar tidak menyangka kalau foto-foto mereka masih ada di dalam laptop. Rhey baru ingat kenapa foto-foto masa kecil mereka bisa ada di laptopnya? Itu karena Rhey ingin memindahkan dokumen-dokumen penting dari komputer lama ke laptop. Mungkin saja file galeri foto milik Rhey ikut tersimpan. Tidak hanya ada foto mereka berdua, banyak sekali foto kenangan Rhey semasa sekolah dan kuliah. Bahkan foto mantan kekasih Rhey -Gita Pratiwi- masih ada di galeri itu. Tanpa berpikir panjang, Rhey langsung menghapus foto kebersamaan dirinya dengan sang mantan. Cukup lama, Rhey memandangi foto masa kecilnya bersama Meisha. Rambut Meisha dulu sangat indah. Hitam, tebal dan lurus. Tidak bergelombang. Tiba-tiba saja Rhey berpikir, bagaimana dengan rambut Meisha yang sekarang? Apakah masih sama seperti dulu? Bertepatan itu, Meisha keluar dari toilet. Ia sudah mengganti pakaian. Meisha mengerutkan dahi melihat suaminya senyam-senyum sendiri di depan laptop. Rasanya tidak mungkin kalau Rhey senyam-senyum melihat pekerjaannya. "Kak Rhey?" Panggilan Meisha membuat Rhey mendongak. "Iya, Mei? Kenapa? Kamu butuh bantuan apa?" Rhey mengajukan beberapa pertanyaan. Meisha menggelengkan kepala, ia justru menghampiri suaminya. "Enggak kenapa-napa. Aku cuma heran aja lihat kamu senyam-senyum sendiri di depan laptop. Apa kamu lagi nonton film lucu? Atau lagi lihat video lucu?" Meisha jadi penasaran. Beberapa pertanyaan Meisha ditanggapi senyuman dan kekehan kecil seorang Rhey Xander. "Enggak. Aku enggak nonton film lucu atau lihat video lucu. Aku cuma lagi lihat-lihat fotomu waktu masih kecil." Seketika, kedua bola mata Meisha membulat sempurna. Gadis itu terlihat sangat terkejut. "Fotoku waktu masih kecil?" tandas Meisha sambil mendekati Rhey dan berdiri di samping lelaki yang menyodorkan layar laptop di hadapannya. Kedua mata Meisha membeliak tak percaya, sebelah tangannya menutup mulut karena terkejut. "Ini kamu 'kan? Masih inget gak, kenapa kamu nangis di foto itu?" tanya Rhey, bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman. Di dalam foto tersebut, terlihat Meisha yang tengah menangis dalam pelukan Rhey. Meisha menoleh pada suaminya, lalu pandangannya beralih pada layar laptop. "Foto itu kok masih ada?" "Kalau gak ada, gak akan bisa kamu lihat," jawab Rhey enteng. Meisha menarik kursi yang tak jauh dari dirinya, ia duduk di samping Rhey. Meisha tampak sedang mengingat-ingat. "Inget gak?" tanya Rhey lagi. Meisha menggelengkan kepala. "Enggak. Aku enggak ingat. Kamu masih ingat?" jawab Meisha, menatap lekat wajah lelaki yang duduk di sampingnya. "Masih. Aku masih ingat." Meisha tertarik mendengar jawaban suaminya. Ia pun mengubah posisi duduk, lebih menghadap Rhey. "Kenapa aku menangis? Kenapa aku menangis sampai kamu memelukku kayak gitu?" Rhey tertawa, ia menggelengkan kepala berulang kali, lalu menunjukkan foto mereka yang lainnya. "Gara-gara ada Anjing tetangga yang lepas dari rantainya. Kamu ketakutan karena beranggapan Anjing itu akan mengejarmu. Nah terus, aku datang. Tiba-tiba aja kamu peluk aku padahal di situ ada mamah papah kamu. Tapi, ya kamu maunya dipeluk sama abang ganteng." Spontan, Meisha memukul bahu Rhey. Lelaki itu pura-pura meringis kesakitan. "Bohong. Pasti gak gitu ceritanya." Bibir Meisha mengerucut, sangat menggemaskan. Meisha memalingkan pandangannya ke layar laptop lagi. Melihat-lihat foto masa kecilnya bersama Rhey. "Kalau masa kecilku yang ini, aku gak terlalu ingat. Tapi, kalau yang ini, aku udah SMP dan SMA, aku masih ingat. Nah, aku inget foto ini nih." Jari telunjuk Meisha mengarah pada foto mereka berdua yang duduk di halte bus. Rhey yang sedari tadi menatap wajah Meisha salah tingkah saat pandangan Meisha beralih padanya. "Yang mana? Foto yang mana?" Rhey mengalihkan pandangannya pada foto yang ditunjuk Meisha. "Oh yang ini aku juga inget banget. Waktu itu kita lagi gak dijemput. Untuk pertama kalinya, kamu ngajakin aku naik bus. Awalnya aku nolak kan? Nah terus kamu maksa aku supaya mau. Akhirnya aku mau juga walaupun waktu duduk di bus, orang yang duduk di sebelahku bau ketek. Tapi, demi kamu, aku mau." "Iyalah pasti mau soalnya dulu kan kamu gak mau lihat aku nangis." "Bukan cuma dulu aku gak mau lihat kamu nangis, sekarang dan selamanya aku gak mau lihat kamu nangis, Mei. Makanya jangan nangis lagi, ya? Sekarang dan selamanya aku cuma mau lihat kamu bahagia, tersenyum dan tertawa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN