Perkataan Rhey membuat Meisha tertegun. Wanita yang telah dinikahi Rhey sangat terharu. Entah kenapa, rasa nyaman mulai Meisha rasakan berada di dekat suaminya apalagi tatapan mata Rhey penuh cinta dan kasih sayang. Meisha menelan saliva, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Terima kasih." Hanya kata itu yang diucapkan Meisha. Ia hendak beranjak, namun Rhey mencekal pergelangan tangannya.
"Mei?" panggil Rhey lembut.
"Ya?"
"Habis salat Isya, mau gak anter aku nonton?" tanya Rhey berharap Meisha mau mengabulkan keinginannya.
"Nonton? Memangnya ada film apa?"
Meisha kembali duduk di kursi semula. Menatap Rhey lekat.
"Enggak tau. Aku lagi pengen keluar malam aja. Kita udah lama banget kan, enggak pernah keluar malam bareng? Terakhir waktu kamu pindah rumah. Udah berapa tahun ya?" Rhey tampak berpikir, namun Meisha tertawa renyah, menggelengkan kepala.
"Yang jelas, udah lama banget. Ya udah, nanti aku mau temenin kamu nonton." Senyum Rhey mengembang sempurna. Merentangkan kedua tangan, berharap Meisha menghambur dalam pelukan. Dengan senyum mengembang pula, Meisha memeluk tubuh suaminya. Hangat dan nyaman.
***
"Masakanmu enak banget, Mei? Kalau tau kamu jago masak, waktu kita masih tetanggaan, udah aku nikahin kamu," celetuk Rhey, berguyon pada istrinya.
"Dih, ngaco! Waktu aku pindah masih kelas dua SMA, Kak. Ya kali kamu mau nikahin gadis yang masih sekolah," timpal Meisha, terdengar kesal. Kalau tidak tertutup cadar, ingin sekali Rhey melihat ekspresi wajah Meisha.
Rhey terkekeh, mengunyah makanan.
"Enggak apa-apa kalau gadis SMA-nya mau aku nikahin saat itu."
"Ogah."
Rhey tertawa lepas. Membayangkan Meisha yang ngambek atau merajuk jika Rhey tak mengabulkan keinginannya. Kenapa Rhey bisa melupakan Meisha? Padahal dulu mereka sangat dekat. Melebihi seorang sahabat. Kedekatan mereka pun tak dihalangi oleh kedua orang tua.
Usai salat Isya berjamaah, Meisha dan Rhey sudah bersiap-siap berangkat ke bioskop.
"Kalau aku genggam tanganmu, boleh gak?" tanya Rhey saat mereka hendak keluar kamar. Meisha menoleh, menatap Rhey yang mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa harus minta izin terus? Kamu kan suamiku, aku istrimu. Lakukan saja yang ingin kamu lakukan."
Jawaban Meisha membuat Rhey kembali tersenyum. Rhey pun langsung menggenggam telapak tangan istrinya. "Jadi, kalau aku mau melakukan apapun, gak perlu izin dulu nih?" Lagi, Rhey bertanya menggoda.
Meisha menggelengkan kepala. Lalu, menjawab, "Enggak."
"Enggak apa?"
"Enggak usah izin dulu."
Rhey menghentikan langkah kaki, begitu pula Meisha. Gadis itu agak mendongak, menatap seorang pria yang tubuhnya jelas lebih tingggi.
"Mei, lihat ke depan!" titah Rhey, tangannya menunjuk ke depan.
"Ada apa?"
Tanpa disangka, Rhey langsung mencium pipi kiri Meisha yang tertutup cadar saat gadis itu menghadap lurus ke depan. Sontak saja, Meisha terkejut. Wajahnya memanas karena terkejut, menelan saliva, kedua matanya membulat sempurna. Ia menatap suaminya sampai tak berkedip. Bukan tidak boleh tapi kenapa ciuman itu membuat aliran darah Meisha berdesir.
"Boleh 'kan?" Pertanyaan Rhey menyentak lamunan Meisha. Ia memalingkan wajah, merunduk dan menganggukkan kepala.
Rhey bahagia, menarik napas lega. Setidaknya sekarang Meisha tidak menolak jika Rhey melakukan keinginannya.
Seperti biasa, Rhey membukakan pintu mobil untuk istrinya. Di balik cadar, Meisha mengulum senyum dan berucap, "Terima kasih."
"Sama-sama, Sayang."
Meisha menggelengkan kepala. Rhey sekarang sudah mulai berani mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya.
"Mei, nanti habis nonton, aku pengen makan siomay di tempat langganan kita dulu," ujar Rhey, tengah perjalanan. Meisha menoleh, menatap wajah suaminya dari samping.
"Emangnya masih ada?"
"Masih. Tapi, aku juga udah lama enggak ke sana cuma biasa lewatin. Terakhir aku ke sana waktu masih kuliah. Habis itu udah enggak lagi. Makanya, sekarang pengen ke sana. Emang kamu gak pernah ke sana?"
Meisha menggelengkan kepala.
"Enggak pernah. Cuma sama kamu, aku ke sana."
"Berarti aku spesial, ya?"
"Geer!"
Rhey tertawa lepas. Hatinya sungguh bahagia karena berada di sisi wanita yang membuatnya nyaman.
"Kenapa aku baru sadar ya, kalau aku merasa nyaman dekat Meisha? Kenapa enggak dari dulu aku mencarinya? Menemuinya? Kalau dari dulu kami bertemu, mungkin mamah enggak perlu repot-repot mengenalkanku dengan para wanita itu," batin Rhey menggerutu. Namun, ia pun sadar, mungkin memang baru sekarang waktu yang tepat mereka bertemu. Sekarang Rhey hanya bisa bersyukur karena mendapatkan wanita yang sesuai kriterianya. Ya meskipun Rhey belum bisa membuat Meisha jatuh cinta padanya.
Sampai di depan bioskop, mereka melihat jadwal film yang tertera.
"Ck, kenapa film horor? Film dramanya udah kelewat," gumam Rhey melihat jadwal film.
Meisha menoleh dan bertanya, "Kenapa emangnya kalau film horor? Kamu masih takut setan?"
Pertanyaan Meisha membuat Rhey menggelengkan kepala.
"Enggak dong. Enak aja! Masa udah dewasa gini masih takut sama mereka?" kata Rhey menutupi rasa gengsinya. Di balik cadar, Meisha mengulum sennyum. Ia tahu Rhey sangat penakut kalau berhubungan dengan hal-hal mistis. Pasalnya, dulu Rhey pernah mengalami pengalaman horor ketika kelas tiga SMA sewaktu Rhey ikut mendaki gunung. Sejak saat itu pula, Rhey jadi penakut.
"Ya udah, kalau gitu kita nonton yang itu aja. Masa harus gak jadi?"
"Jadilah. Masa gak jadi. Udah ganteng begini, masa gak jadi cuma gara-gara film horor."
Meisha terkekeh, tapi Rhey tak mendengar karena ia langsung membeli tiket dan cemilan. Beruntung, Meisha mengenakan cadar hingga Rhey tidak dapat melihat Meisha tersenyum, menertawakan siikapnya.
Di dalam bioskop, Rhey mengajak Meisha ke tempat bangku paling pojok, deretan kursi tengah. Tadinya Meisha ingin duduk di deretan kursi depan, tapi Rhey menolak.
"Kalau duduk di depan, nanti dilihatin orang. Aku juga enggak enak kalau mau pegangan tanganmu," kata Rhey setelah Meisha protes, ingin duduk di deretan kursi paling depan.
"Masa? Aku pikir karena kamu enggak mau lihat hantunya terlalu dekat," ejek Meisha sambil menahan tawa.
"Enggaklah."
Rhey mengenggam telapak tangan Meisha saat film sudah dimulai. Rhey mulai gusar melihat hantu-hantu di film itu mulai bermunculan. Kadang menutup kedua mata, menggenggam telapak tangan Meisha cukup erat. Kening Rhey basah oleh keringat dingin. Meisha tahu kalau Rhey sebenarnya sedang ketakutan tapi ia gengsi. Makanya Rhey berkali-kali menarik napas, menutup kedua mata, mengalihkan pandangan atau pura-pura melihat handhphone.
"Kak Rhey?" bisik Meisha mendekatkan wajahnya pada Rhey.
"Kenapa, Mei? Kamu pengen ke toilet? Ayok, aku antar!" Rhey langsung menerka padahal bukan itu maksud Meisha memanggilnya.
"Aku atau kamu yang pengen ke toilet?" bisik Meisha lagi. Rhey memutar bola matanya. Meisha pasti sudah curiga kalau dirinya ketakutan.
"Aku juga pengen ke toilet, tapi filmnya masih lama," timpal Rhey ingin segera berakhir film horor yang mereka tonton.
"Ya udah kita keluar sekarang dari pada nanti kamu enggak tahan, terus pipis di sini. Bisa malu aku," tandas Meisha bergurau. Rhey menoleh, menatap wajah istrinya yang tertutup cadar dari samping. Lalu, mendaratkan kecupan cukup lama.
"Astaghfirullah, Kak. Nanti dilihat orang, malu tau." Kali ini Meisha agak keberatan dengan perilaku Rhey.
"Kenapa mesti malu? kita kan suami istri. Lagian kamu itu menggemaskan, Mei. Bisa aja bikin aku senang."
"Huh gombal. Ya udah ayok keluar!"
Mereka keluar bisokop jauh sebelum film kelar. Meisha merasa kasihan pada suaminya jika memaksakan nonton sampai selesai.
"Alhamdulillah, lega banget," gumam Rhey, Meisha menoleh.
"Makanya kalau takut nonton film horor bilang aja. Enggak usah malu apalagi gengsi. Untung aja kamu punya istri yang pengertian," celetuk Meisha memalingkan wajah. Tanpa Meisha duga, Rhey tiba-tiba memeluk tubuh Meisha dari belakang dan mencium pipi yang tertutup cadar berulang kali. "Makasih, Sayang, makasih. Muach, muach, muach."
"Kak Rhey lepasin ih, malu tau!"