Bab 12. Aku Minta Maaf

1197 Kata
Rhey dan Meisha telah berada di dalam mobil. Tujuan mereka sekarang mau makan siomay sekaligus bernostalgia, mengingat masa-masa mereka dulu. Sampai di kedai Siomay, ternyata benar kata Rhey. Kedai itu masih ada bahkan semakin ramai. Tempatnya pun menjadi luas. Sekarang tidak hanya ada siomay, tetapi ada menu lainnya. Seperti batagor, seblak dan baso aci. "Benar kan kataku, kalau kedai ini masih ada?" tanya Rhey, mematikan mesin mobil. "Iya. Tapi, sekarang rame banget," kata Meisha mengitari sekeliling. "Kamu enggak suka di sini? Kamu kurang nyaman kalau ada di tempan ramai?" "Bukan. Aku suka. Ya udah ayok turun." Rhey meraih pergelangan tangan Meisha membuat gadis itu urung membuka pintu mobil. "Kalau kamu enggak nyaman di sini karena terlalu rame, kita bisa cari tempat lain." Rhey menatap lekat wajah istrinya. Meisha menoleh ke kedai tersebut, lalu menganggukkan kepala. "Tapi kan kamu pengen makan Siomay." "Enggak apa-apa. Kenyamanmu lebih penting dari pada perutku," jawab Rhey menyalakan mesin mobil, lalu meninggalkan tempat tersebut tanpa turun lebih dulu. "Jadi kamu maunya kemana, Mei?" Meisha terdiam, dia juga bingung mau kemana. "Mei?" "Hm ... kita ke taman kota aja gimana?" Meisha memberi saran, memandang wajah suaminya lekat. "Boleh. Kita ke sana. Di sana juga nanti banyak makanan." "Makanan mulu sih? Emang perutmu belum kenyang?" "Belum. Seharian ini kan aku puasa, Mei." "Dih, kayak anak kecil. Pas udah buka puasa, semua jenis makaj mau dibeli." Rhey tergelak tertawa mendengar sindiran Meisha. Baginya, sindiran Meisha sangat lucu. "Ketawa lagi." "Aku ketawa karena bahagia. Bahagia bisa bareng kamu lagi, Mei." "Gombal." "Serius. Nih kalau dadaku dibelah, bakal muncul bunga-bunga. Karena saat ini hatiku sedang berbunga-bunga." "Astaghfirullahalazhim, Kak." Meisha memalingkan muka ke luar jendela. Bibirnya mengulas senyum. Tanpa Meisha sadari, ia sudah melupkan kejadian tadi siang. Ucapan Fahri yang membuatnya sangat sakit hati dan merasa sangat rendah. Meisha tercenung, mengingat kembali kebersamaannya dengan Fahri dulu. Sejak Meisha lulus kuliah S2, hubungan Meisha dan lelaki itu sudah tidak terlalu intens. Mereka hanya berkomunikasi lewat pesan singkat. Itu pun jarang dilakukan. Jika Meisha menelepon Fahri duluan, lelaki itu selalu berdalih sedang sibuk melayani para pengunjung cafe. Tiap kali mereka ngobrol, Fahri selalu menghindar pembahasan tentang menikah. Ia lebih sering bercerita tentang rencana dan keinginannya lima atau sepuluh tahun ke depan. Meisha menyunggingkan senyum sinis. Jika itu terjadi, Meisha harus menunggu 5 sampai 10 tahun lagi, dia tidak akan mau. Kalau akhirnya berjodoh, kalau tidak? Sisi lain, Meisha sangat bersyukur karena dinikahi Rhey. Lelaki yang dulu selalu dianggap pahlawan olehnya. "Kenapa lihatin aku kayak gitu, Mei? Kamu baru sadar kalau aku ganteng?" Meisha salah tingkah, ia lantas memalingkan muka ke arah lain. "Geer amat?" celetuk Meisha tanpa menatap lelaki yang duduk di belakang kemudi. "Ya gak apa-apa kalau sekali-kali kamu memuji suami. Dapat pahala lho, Mei," ujar Rhey. Meisha merunduk sebentar sambil menimpali ucapan suaminya. "Dari dulu juga kamu emang ganteng," desis Meisha pelan. Rhey mengerutkan kening karena tidak terlalu mendengar jelas ucapan istrinya. "Kamu ngomong apa tadi?" tanya Rhey penasaran. Ia mendengar tapi tidak terlalu jelas. Meisha menoleh, menggelengkan kepala. "Bukan hal yang penting," jawab Meisha meyakinkan Rhey agar tidak disuruh mengulang ucapannya. "Oh, kirain kamu ngomong apaan." Mereka telah tiba di taman kota. Suasana di sini tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan malam Minggu. "Mei, itu ada jagung bakar. Mau gak?" "Boleh." Rhey membuka pintu mobil lebih dulu, setengah berlari mengitari depan mobil dan membukakan pintu bagian Meisha. "Terima kasih." Hanya itu yang diucapkan Meisha meski hati Rhey mengingkan ada kata lain di ujungnya. Rhey harus bersabar. Ia juga harus yakin kalau suatu saat nanti, Meisha pasti bisa jatuh cinta padanya. Pasti bisa. Rhey dan Meisha membeli dua jagung bakar, lantas mereka berjalan ke arah bangku panjang. Keduanya duduk di bawah lampu taman. Rhey merentangkaan sebelah tangan di atas kepala sandaraan kursi. Ingiin Rhey, merengkuh pundak Meisha, tapi ia belum berani. Khawatir Meisha marah padanya. "Dulu, kita cuma dua kali ya ke sini?" Rhey bertanya memecah keheningan. Meisha mengganggukkan kepala. "Iya. Itu pun susah banget dapat izinnya." "Iya bener. Dulu, aku sampai menjamin nyawaku kalau terjadi hal buruk yang menimpamu." Meisha tergelak, lalu terdengar kekehan kecil. Rhey ingin sekali melihat wajah cantik istrinya ketika sedang tertawa. Seperti di rumah. Hanya saja, hal itu jarang dilakukan Meisha. "Bener banget. Alhamdulillah, kamu selalu menjagaku dengan baik. Sampai akhirnya mamah papah izinkan kita ke sini lagi. Berarti benar ya, cuma dua kali? Setelah itu kita berpisah. Kamu seolah benar-benar melupakanku. Enggak pernah menemuiku lagi. Enggak pernah mau tau tentang aku lagi. Kayaknya tuh, berpisah denganku merupakan suatu kebahagiaan dan kebebasan hidupmu. Bisa terlepas dari makhluk cengeng sepertiku." Ucapan Meisha membuat Rhey memandangnya sangat lekat. Ia baru sadar kalau dulu sejak Meisha pindah rumah, ia tak pernah menemui Meisha lagi atau sekadar menghubungi? "Apa mungkin, waktu dulu Meisha sempat menunggu aku datang?" tanya Rhey dalam hati. Pandangan Meisha lurus ke depan. Ia masih ingat, ketika berharap kedatangan Rhey ke rumah barunya. Akan tetapi, selama bertahun-tahun lamanya, sampai Meisha menjalin hubungan dengan Fahri, Rhey tak pernah datang lagi. Memang diantara keduanya tidak terjadi suatu hubungan khusus. Hanya berteman saja. Tetapi, hari-hari yang dilewati selalu bersama. Wajar saja, dulu Meisha sempat merasa kehilangan Rhey. Namun, saat itu Meisha sadar, mungkin Rhey sudah melupakannya sampai Meisha lelah menunggu. "Dulu, kamu berharap aku datang, Mei?" tanya Rhey mulai mengerti maksud perkataan gadis bercadar itu. Meisha menoleh, lalu menganggukkan kepala. "Tapi, cuma satu bulanan saja aku berharap kamu datang. Misalnya sekadar memastikan keadaanku atau meneleponku. Semua itu gak ada. Dulu, aku akui. Aku sangat kehilanganmu. Aku gak ada teman di sekolah baru. Berharap banget kamu datang, terus ngajak aku main lagi. Kata mamah, kamu sibuk. Sedang kuliah di luar negeri. Perlahan tapi pasti, aku bisa menjalani hari-hariku tanpa kamu. Ya sampai akhirnya, aku benar-benar gak berharap kamu datang menemuiku dan aku juga mulai melupakanmu. Seperti kamu melupakanku." Mendengar kejujuran Meisha, Rhey merasa bersalah. Masa itu, Rhey memang hanya menganggap Meisha hanya teman saja. Bukan orang yang penting dalam hidupnya meskipun keseharian mereka selalu dihabiskan bersama. Rhey sama sekali tidak merasa kehilangan Meisha. Dia pernah mengingat Meisha, hanya beberapa kali. Setelah itu, Rhey disibukkan oleh pendidikan dan oleh kekasih hati. Kekasih hati yang sangat tega mengkhianati cintanya. "Maaf, Mei. Aku ... aku saat itu ...." "Ya aku ngerti. Waktu itu kita hanya berteman. Tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku memaklumi kalau kamu melupakanku." Meisha menyela. Ia tak mau menangis lagi. Itu hanya masa lalu. Yang penting sekarang mereka sudah menjadi suami istri. Rhey semakin bersalah. Ia menggenggam telapak tangan Meisha, mencium punggung tangan istrinya cukup lama, lalu meletakkan di depan d**a. "Mei, aku minta maaf. Jujur saja, memang dulu aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa bahkan mungkin hanya seorang adik saja." Rhey menjeda kalimat. Bayangan kehidupan tanpa Meisha diakui Rhey berubah drastis. Ia merasa sudah bebas karena tidak diikuti Meisha terus. "Tetapi sekarang, aku baru sadar. Sebenarnya dari dulu aku sudah menyukaimu, Mei. Aku emang salah, tidak pernah menemuimu lagi sejak kamu pindah rumah bahkan ketika mamah mengajakku datang ke acara ulang tahunmu, aku menolak datang karena ada janji dengan seseorang. Mei, aku minta maaf. Aku minta maaf pernah mengabaikan dan melupakanmu. Aku benar-benar minta maaf. Mei, mulai saat ini sampai aku mati, aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan tetap menemanimu. Meisha, apa kamu mau memaafkan semua kesalahanku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN