Bab 13. Auratmu Yang Lain

1212 Kata
"Iya, Kak. Aku sudah lama maafin kamu. Aku juga minta maaf karena aku juga telah menyakiti hatimu dengan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaan cinta pada lelaki lain," ungkap Meisha menyesal. Andai waktu bisa diputar, ingin rasanya Meisha tidak mengulangi malam itu. Dia tidak ingin mengatakan kejujurannya tentang perasaan dan tak ingin bertemu dengan Fahri. Biarlah, waktu yang akan membuatnya lupa dan menghapus perasaan yang ada. Sekarang Meisha ingin belajar mencintai lelaki yang telah halal baginya. Sebelah tangan Rhey terulur, menyentuh pipi Meisha. Gadis itu merunduk malu. Kemudian, Rhey memberikan kecupan di kening Meisha. "Di mataku, kamu sangat sempurna, Mei. Hanya satu ketidaksempuranaan dirimu, belum bisa jatuh cinta padaku." Rhey berkata dengan senyum yang tersungging manis pada wajah tampannya. Meisha merasa bersalah lagi. Kata maaf terdengar lirih dari bibir mungilnya. Rhey berdiri, mengajak istrinya ikut berdiri, lalu mereka berpelukan. Cukup lama mereka melakukan itu. Rhey membiarkan rasa nyaman menyelimuti mereka. Awalnya Meisha tak membalas pelukan Rhey, tapi menit berikutnya kedua tangan Meisha melingkar. Memeluk tubuh Rhey semakin erat. Ia telah merasakan kehangatan dan rasa nyaman yang dulu pernah dirasakannya. Rasa nyaman yang pernah hilang karena perpisahan itu. Rhey memejamkan kedua mata. Meresapi balasan pelukan seorang Meisha Yara. Azan Magrib sayup-sayup terdengar. Sepasang suami istri itu melepaskan pelukan. Meisha merunduk, ia mengajak Rhey pulang ke rumah. *** Esok harinya, Rhey kembali berpuasa. "Kamu puasa lagi?" "Iya." "Kenapa?" "Agar aku bisa menahannya. Mei, kamu bisa gak tinggalin aku sendirian. Aku gak bisa nyelesaikan pekerjaan kalau ada kamu di sini. Yang ada pandanganku hanya menatapmu." Meisha menggelengkan kepala, lalu pamit keluar ruang kerja Rhey. Hampir seharian Rhey berada di dalam ruang kerja. Ia keluar hanya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sedangkan Meisha, menghabiskan harinya membaca buku di dalam kamar. Tanpa terasa, sore pun tiba. Meisha menyiapkan masakan dan makanan untuk suaminya berbuka puasa. Ketika waktu azan tinggal beberapa menit lagi, Meisha menghampiri Rhey yang masih di dalam ruang kerja. Dua puluh menit lalu, Rhey sempat keluar ruang kerja hanya untuk membersihkan badan. Setelahnya masuk ruang kerja lagi. "Kak, sebentar lagi buka puasa," ucap Meisha berdiri di samping suaminya. Rhey menoleh, menatap wajah cantik Meisha yang kali ini tidak ditutupi cadar. "Iya, Sayang. Aku boleh menyentuh wajahmu?" "Hah?" Mulut Meisha menganga terkejut akan permintaan Rhey. Lelaki itu terkekeh, berdiri lalu mengusap kepala Meisha lembut. Tidak berselang lama, sayup-sayup azan Magrib terdengar dari alarm ruang kerja Rhey. Lelaki itu memang memasang alarm suara Azan di waktu salat lima waktu. "A-aku mau ambilkan air dulu untukmu membatalkan puasa," ujar Meisha merunduk, suaranya terdengar bergetar. "Oke." Meisha bergegas keluar kamar, mengambil segelas air dan semangkuk kolak untuk sang suami. Rhey menarik napas lega. Bibirnya tersenyum bahagia karena tadi Meisha membalas pelukannya. Rhey kembali duduk di depan laptop, melihat foto-foto kebersamaan mereka saat dulu. Tidak berselang lama, Meisha datang membawa nampan berisi air putih dan semangkuk kolak. Wanita itu meletakkan nampan di samping laptop suaminya. "Minumnya," kata Meisha menyodorkan segelas air putih ke depan Rhey. Lelaki itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih lalu meneguk air putih hingga menyisakan setengah gelas. "Mau makan kolak sekarang?" tanya Meisha lembut. Rhey menumpu kedua tangan ke atas meja. Menatap lekat wajah sang istri penuh cinta. Cinta yang ia rasakan sejak Meisha membuka cadar. "Kok malah lihatin?" "Emang kolaknya manis?" tanya Rhey, mengabaikan pertanyaan istrinya. Ia justru balik bertanya sembari melihat kolak di tangan Meisha dan melihat wajah Meisha, bergantian. "Insya Allah manis." "Coba sini." Rhey mengambil alih mangkuk kolak dari tangan Meisha. Ia pun menyuap satu sendok kolak buatan istrinya. Rhey pura-pura berpikir. "Rasanya biasa aja. Enggak terlalu manis. Kamu coba aja." Rhey menyodorkan semangkuk kolak ke depan Meisha, menyuruh gadis itu mencicipi. Meisha pun menyendok kolak menggunakan sendok yang sama lalu mencicipi. "Manis kok. Kemanisan malah," kata Meisha menyecap kolak buatannya. Rhey menarik mangkuk lagi, menyendok kolak lagi lalu mencicipi. "Nah kalau sekarang manis banget. Mungkin karena sendoknya nyentuh bibir kamu makanya jadi manis. Kamu sih, Mei. Manisnya kelewatan." "Astaghfirullahalazhim, dih ngerjain," timpal Meisha menggelengkan kepala, mengalihkan pandnagan ke arah lain.Rhey terkekeh, melanjutkan makan kolaknya. "Mei, duduk sini!" titah Rhey pada istrinya yang hendak mengambil wudhu. "Aku mau wudhu," jawab Meisha. "Nanti dulu, temani aku makan kolak dulu. Nanti kita salat berjamaah. Mau 'kan?" Meisha tak bisa mengelak lagi. Ia pun menghampiri Rhey, duduk di kursi sebelah suaminya. "Aku mau nyuapin kamu." "Enggak usah. Itu kan kolak buatmu lagian aku enggak puasa." "Ya gak apa-apa. Buka mulutmu!" Meisha menghela napas berat, mengikuti kemauan suaminya. Mereka pun saling suap-menyuapi. Pemandangan indah. Keduanya merangkai senyum. Rhey merasakan kebahagiaan karena telah memiliki istri yang menurutnya sempurna. Sedangkan Meisha, telah menemukan cinta pertamanya yang dulu pernah terpisah. Dalam hari, ia selalu berharap agar cinta itu kembali bersemi dalam hati. Usai menghabiskan kolak, mereka berwudhu dan melakukan salat Magrib berjamaah. Dalam doa, Meisha mulai menyebutkan nama Rhey. Ia berdoa agar lelaki itu tetap mencintainya, dapat membuatnya jatuh cinta lagi dan tidak akan terpisahkan. Meisha ke depan Rhey, mengulurkan sebelah tangan. Rhey tersenyum menyambut uluran tangan sang istri. Tanpa rasa canggung lagi, Meisha mencium pungung tangan Rhey. Lelaki itu pun mencium kening sang istri cukup lama. "Semoga kamu menjadi istri yang soleha dunia dan akhirat. Menjadi bidadariku di dunia dan di akhirat," gumam Rhey melafalkan doa. Hati Meisha terenyuh, ia tersenyum tipis. Lalu, tanpa Rhey duga, Meisha memeluk tubuhnya hingga lelaki itu hampir saja terjengkang. Rhey terkejut dengan sikap Meisha yang tiba-tiba. Meisha menangis, mengingat kembali pembelaan Rhey ketika Fahri begitu rendah menilainya. Fahri, lelaki yang selama ini ia anggap lelaki yang baik dan hanif, ternyata begitu mudah menghakimi seseorang. Rhey membalas pelukan Meisha. Hatinya kembali bahagia dan merasa sangat nyaman. "Mei, kamu menangis?" tanya Rhey melepaskan pelukan, menangkupkan kedua tangan pada pipi istrinya. Meisha merunduk, menyeka lelehan air mata yang membasahi pipi. "A-aku enggak nangis." Meisha mengelak, menyembunyikan kedua matanya yang sembab. "Syukurlah, jangan nangis lagi. Ingat kataku, jangan menangis. Harus tersenyum, harus bahagia, hanya tertawa yang boleh menghiasi wajah cantikmu, Mei." Tanpa diduga, Rhey mengecup bibir tipis kemerahan Meisha. Gadis itu tersentak. Rhey menarik diri. Hanya sebentar melakukannya. "Aku mau ganti pakaian dulu," kata Rhey menghindari hasrat yang mulai bergelora dalam jiwa. Ia lelaki normal. Sangat wajar jika menginginkan hal itu. Meisha mengangguk, merapikan mukena. Untuk pertama kalinya, Meisha membuka jilbab. Rhey terpesona dan terpana melihat Meisha tanpa penutup kepala. Dia benar-benar bagai bidadari. Warna hitam pada rambutnya yang panjang sebatas pinggang dan tebal, membuat kontras wajahnya yang putih bersih. Meisha sangat cantik, sungguh sangat cantik. "Masya Allah, Meisha ...." kata Rhey ketika Meisha menghampiri yang tengah berdiri hendak membuka kancing baju salat yang dikenakan. "Kamu berhak melihat auratku, Kak." Meisha berkata sangat mendayu. Hati Rhey berdesir. Menelan saliva berulang kali. Tidak menduga kalau malam ini Meisha mau membuka jilbab dan menunjukkan rambut indah di depan matanya. "Be-benarkah?" tanya Rhey terbata-bata. Meisha benar-benar membuat hati Rhey terpikat. Gadis itu tersenyum sangat manis. Seolah ingin menggoda suaminya. "Pakaianmu ganti saja. Ini kan sudah malam. Masa mau tidur pakai pakaian salat?" tanya Meisha mengambilkan pakaian tidur untuk suaminya. Rhey masih mematung. Ia masih terpesona pada kecantikan Meisha. Gadis itu benar-benar cantik dan memikat hati Rhey. Lelaki yang telah lama menutup hati dari para wanita. Lelaki yang selama ini selalu menginginkan memiliki istri yang sempurna. Kini kesempurnaan yang menurut Rey sendiri, sudah didapatkan dan ada dalam diri seorang Meisha Yara. "Apakah malam ini ... aku boleh melihat auratmu yang lain, Mei?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN