BAB 14. Pindah ke Hatimu
Meisha terkejut mendengar permintaan Rhey. Wajahnya mendadak tegang, menelan saliva berkali-kali dan matanya melebar sempurna. Rhey terkekeh, menggelengkan kepala.
"Aku cuma bercanda, Mei."
Meisha langsung bernapas lega, kedua pundaknya menurun. Ia menatap lelaki yang sudah hilang di hadapan. Rhey duduk santai di sofa depan televisi. Sambil menunggu waktu Isya, Rhey melihat berita tanah air. Meisha tersadar dari lamunan. Ia berjalan pelan menghampiri Rhey.
"Kak Rhey?" panggil Meisha lembut.
"Apa?"
"Mau dibikinin kopi atau dibikinin teh manis?" Meisha mencari pertanyaan agar lelaki itu bersikap biasa-biasa lagi padanya. Rhey tersenyum tipis lalu menjawab, "Teh hangat tanpa gula." Jawaban Rhey membuat kening Meisha mengkerut.
"Kenapa tanpa gula? Nanti enggak manis?" tanya Meisha duduk di samping suaminya. Ia rasa sekarang Rhey sudah bersikap biasa lagi. Meisha takut sekali kalau lelaki itu tersinggung dan tidak mau bicara padanya.
"Manisnya kan udah ada di kamu, Mei."
Kedua mata Meisha kembali melebar, bibirnya mengerucut, memukul pelan bahu suaminya.
"Gombal!"
"Enggak gombal. Aku serius. Cuma aku lihatin aja udah manis, apalagi kalau aku sentuh."
Kedua pipi Meisha merona merah. Jantungnya seketika berdetak lebih cepat, aliran darahnya memanas. Malam ini, Rhey sepertinya ingin memancing Meisha agar bersedia melakukan hubungan suami istri. Tetapi, Rhey tahu, kalau Meisha belum siap.
"O-oh ya udah, aku mau bikinin teh tanpa gula dulu," kata Meisha tanpa ingin menatap wajah tampan suaminya. Rhey hanya mengulum senyum. Baginya sangat sulit sekali menahan hasrat. Berdua dengan wanita cantik dan dicintainya dalam satu kamar merupakan godaan yang amat besar. Rhey tidak tahu, sampai kapan ia sanggup menahan hasratnya?
Tidak berselang lama, Meisha datang kembali membawa nampan berisi dua cangkir teh di atasnya. Meisha meletakkan satu cangkir teh tanpa gula di depan Rhey, satu lagi untuk dirinya. Rhey langsung menyesap teh buatan Meisha setelah meniup uap perlahan, lalu meletakkan di tempat semula.
"Mei, aku mau tanya beberapa hal. Boleh enggak?" Rhey memecah keheningan antara keduanya. Ia menoleh pada wanita yang tangannya tengah mengangkat cangkir.
"Boleh. Mau tanya apa?" Rhey mengambil remote, mematikan televisi, dan mengubah posisi duduk lebih menghadap istrinya. Meisha merasa kalau pertanyaan Rhey pasti sangat penting.
"Apa kamu akan bekerja, Mei?"
"Kerja? Maksudnya?" Meisha belum mengerti maksud Rhey. Lelaki itu menghela napas berat lalu menatap istrinya penuh cinta.
"Kamu kan lulusan S2, masa ijazah kamu mau dianggurin aja? Enggak mau gitu, kamu kerja di luar rumah?" Sebenarnya pertanyaan ini hanya pancingan Rhey saja. Lelaki itu hanya ingin tahu, sejauh mana pemikiran Meisha.
"Sebelumnya aku ngajar di SMA Islam Swasta. Tapi, sejak kita dijodohin dan mau menikah, aku udah resign. Ya aku pikir, mau fokus mengurus rumah tangga, mengurus suami, dan nantinya pengen fokus mengurus anak-anak." Jawaban Meisha langsung membuat Rhey tersenyum bahagia. Jawaban yang selama ini ia mimpikan akhirnya terwujud. Dan wanita yang menjawab itu adalah Meisha Yara, yang tak lain teman masa kecil Rhey sendiri.
"Enggak sayang?"
"Enggak sayang apanya?"
"Ijazah dan gelarmu?" tandas Rhey menyimak lebih serius jawaban yang akan disampaikan Meisha. Kali ini, Meisha tak langsung menjawab. Ia tampak berpikir sejenak.
"Sayang gak sayang. Tapi, aku mengambil keputusan kayak gitu karena tau kapasitas dan kemampuanku. Kalau aku udah nikah sambil kerja di luar rumah, kayaknya bakal merepotkan. Ujung-ujungnya, rumah tangga gak fokus, kerjaan juga gak fokus. Bukan juga aku gak mau mengamalkan ilmuku. Menurutku, ilmuku pasti akan bermanfaat untuk anak-anak kita kelak atau paling tidak, bermanfaat untuk diriku sendiri."
Lagi, jawaban yang sangat dinantikan Rhey selama pencariannya mencari calon istri dulu. Sekarang, istrinya sendiri yang menjawab. Sudah pasti, hati Rhey semakin bahagia dan semakin bersemangat membuat Meisha jatuh cinta padanya.
"Oh begitu ya?" Rhey mengangkat cangkir teh lagi, menyesapnya perlahan.
"Selanjutnya, aku mau tanya soal tempat tinggal ini. Apa kamu nyaman tinggal di rumah ini? Atau kamu justru tidak nyaman karena lokasinya yang jauh dari keramaian. Bahkan ke Mall aja harus memakan waktu satu jam."
Meisha menggelengkan kepala. Ia tersenyum manis lalu menjawab, "Aku sangat nyaman tinggal di rumah ini. Soalnya dari dulu kan kamu udah tau kalau aku kurang suka di tempat yang rame. Ditempat yang menurutku sangat bising. Jadi, di sini aku nyaman," jawab Meisha memandang lurus ke depan seraya tersenyum manis. Tanpa gadis itu sadari, diam-diam Rhey sangat menganggumi kecantikan dan kebaikan hati Meisha walau sebelumnya ia sempat kecewa.
"Jadi kamu nyaman ya tinggal di rumah ini?"
Meisha menoleh, membalas tatapan suaminya.
"Kenapa kamu nanya masalah ini? Apa kamu menyimpan rahasia lain?"
Kening Rhey mengkerut, kedua matanya memicing.
"Rahasia lain? Maksudmu rahasia apa?" Rhey tak mengerti, kenapa tiba-tiba Meisha bertanya tentang rahasia.
Meisha menghela napas berat, ia memalingkan wajah ke depan, tak mau menatap Rhey.
"Mei? Maksudmu rahasia lain apa?" Rhey jadi semakin penasaran. Bisa-bisanya Meisha bertanya tentang rahasia. Apa menurut Meisha, Rhey menyembunyikan sesuatu darinya?
"Ya misalnya, rahasia mantan pacarmu yang udah tau rumah ini."
"Mantan pacar? Maksudnya gimana? Sumpah dah, aku gak ngerti."
"Maksudnya tuh, kamu nanyain aku betah di rumah ini atau gak, nyaman di rumah ini atau gak, karena mau ngajak aku pindah dari rumah ini karena mantan pacarmu udah tau rumah ini dan karena kamu takut mantan pacarmu tiba-tiba datang ke rumah ini karena sebenarnya kamu belum kasih tau mantan pacarmu kalau kamu udah punya istri yaitu aku, Meisha Yara. Benar, 'kan?"
Rhey sempat tergelak mendengar jawaban Meisha. Jawaban yang menurutnya berirama dan lucu. Rhey menggelengkan kepala, mengubah posisi duduk, memandang lurus ke depan. Rhey sengaja tak langsung menjawab dugaan istrinya. Ia ingin tahu, sejauh mana Meisha menaruh curiga padanya.
"Dih, malah senyam-senyum gak jelas. Berarti benar kan? Kalau kamu mau ngajakin aku pindah dari rumah ini? Aku gak masalah kok diajak pindah kemanapun. Yang penting, tetap bersama kamu. Males juga sih, kalau tiba-tiba mantan pacar kamu ke sini, terus dia ngomel-ngomel gak jelas."
Rhey terkekeh, ia tak dapat menahan tawanya padahal sedari tadi ia berusaha agar tetap tenang, cukup tersenyum. Tapi, mendengar Meisha terus saja berbicara, Rhey tak dapat menahan gelak tawanya.
"Nyebelin, ditanya bukannya jawab malah ketawa. Senang amat mantan pacarnya aku sebut-sebut," ujar Meisha cemberut. Rhey tak menanggapi, gelak tawa Rhey semakin pecah. Ia merasa kalau Meisha tanpa disadari sudah cemburu padanya. Walau itu hanya dugaan Rhey saja.
"Kak Rhey!" panggilan Meisha membuat gelak tawa Rhey terhenti.
"Kenapa, Sayang? Mau bicara apa, Sayang? Mau tanya apa, Sayang?" Rhey sudah tak sungkan-sungkan menyebut Meisha dengan panggilan sayang.
"Dih, sayang-sayang. Sayang apaan?"
"Sayang kamulah."
"Bohong. Aku mau tanya, emang kita mau pindah kemana lagi? Ke hutan? Ke gunung? Ke luar kota? ke luar negeri? Apa mau pindah kemana? Jawab, Kak ... jangan ketawa aja."
"Pindah ke hatimu. Aku pindah ke hatimu, kamu pindah ke hatiku."
"Gombal!"
"Serius, Mei."
"Gak tau, ah!" Mei beranjak pergi, merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Kok malah pindah ke tempat tidur? Pindah ke hatiku, Mei!" Rhey berjalan cepat, naik ke atas ranjang, memeluk tubuh Meisha yang membelakanginya.
"Dih, kamu mau ngapain?"
"Mau icip-icip!"