“Pah, kok perasaan Mama akhir-akhir ini gak enak ya Pah,” ucap Ayu pada Leon yang asyik membaca Koran.
“Gak enak gimana Mah?” tanya Leon sambil ia berhenti membaca Koran miliknya.
“Ya, Mama ngerasa kaya ada sesuatu yang terjadi dengan Helena Pah, Mama kaya punya firasat gak enak, tapi Mama gak tau firasat apa itu,” ucap Ayu dengan raut wajah yang terlihat begitu gusar dan gelisah.
Sebagai seorang ibu, Ayu bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengan putrinya dan Ayu yakin kalau putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. sudah beberapa hari ini perasaan Ayu begitu gelisah dan ingin rasanya untuk pergi menemui Helena dan menanyai kabar putri itu.
“Mah … Helena gak apa-apa, mungkin ini cuma perasaan Mama saja,”
“Tapi Pah, apa papah gak ngerasa aneh dengan sikap Helena akhir-akhir ini?” tanya Ayu pada Leon.
“Maksudnya Mama apa? Selama ini Papa gak ngerasain apa-apa kok malah Papa ngerasa happy-happy aja,” jawab Leon yang merasa perasaan gundah yang sedang di alami oleh istrinya itu hanyalah perasaan biasa.
“Pah, selama ini Helena gak pernah lho Pah gak pulang ke Karanganyar. Papah tahu kan kalau Helena akan pulang ke Karanganyar setidaknya satu bulan sekali, tapi ini udah lebih dari empat bulan Helena gak pulang lho Pah, apa papah gak ngerasa hal aneh?” jelas Ayu pada Leon yang mulai memahami perasaan istrinya itu.
“Mah, mungkin Helena sedang sibuk dengan perkulihannya, Mama kan tahu sendiri kalau Helena itu udah semester akhir jadi mungkin saat ini Helena sedang sibuk-sibuknya ngurusi skripsian. Mamah kaya gak tau anak sendiri, Helena itu paling tidak bisa menyembunyikan rahasia dari Mama kan,” jelas Leon mencoba untuk menangkan istrinya.
“Tapi Pah, Mama yakin banget kalau saat ini Helena sedang menyembunyikan sebuah rahasia. Mama jadi takut pah, kalau terjadi sesuatu dengan Helena. Mama takut pah,” keluh Ayu sambil ia menghela nafas yang begitu panjang.
“Ya udah, kalau gitu Mama coba deh telpon Helena,” pinta Leon pada Ayu.
“Papa benar, ya udah kalau gitu Mama coba telpon Helena dulu ya Pah,” ucap Ayu sambil ia mulai mengambil ponsel miliknya.
.
.
“Len, ponsel kamu bunyi itu,” ucap Eljo sambil ia menunjuk ponsel Helena yang sedari tadi bordering.
“Jo, ini Mama aku yang nelpon,” ucap Helena lirih.
“Ya udah kalau gitu, kenapa gak kamu angkat?” tanya Elljo yang melihat Helena hanya mendiamkan panggilan suara dari ibunya.
“Aku takut Jo, aku takut. Aku takut kalau aku tidak akan bisa membendung air mataku, aku takut kalau Mama aku tahu tentang kondisiku yang seperti ini, aku takut Jo … aku juga belum siap melihat Mama dan Papaku akan tersakiti karena kehamilanku ini Jo,” isak Helena di dekapan eljo.
Hati Helena kembali hancur ketika ia teringat dengan harapan-harapan yang diberikan oleh kedua orang tuanya kepada dirinya. Harapan yang mungkin tidak akan pernah bisa ia wujudkan. Ia merasa begitu gagal menjadi seorang anak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati kedua orang tuanya.
Mungkin kata maaf untuk perbuatan yang telah ia lukukan tidak akan membuat hati kedua orang tuanya akan utuh kembali. Akan banyak luka yang akan ia berikan kepada kedua orang tuanya, luka yang tidak akan mungkin bisa sembuh. Luka yang akan menimbulkan bekas yang begitu dalam, luka yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh kedua orang tuanya.
“Len, angkat dulu. Sapa tau ada hal penting yang ingin di sampaikan sama Mama kamu,” pinta Eljo pada Helena untuk mengangkat panggilan suara dari Ayu ibunya.
“Aku takut Jo, aku takut.”
“Ada aku disini, ayo angkat dulu panggilan suara dari Mama kamu. Kamu juga sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, kamu pasti tahu bagaimana rasanya menjadi mama kamu yang merasa begitu merindukanmu,” jelas Eljo sambil ia meminta kepada Helena untuk berani menghadapi kedua orang tuanya.
Jujur Eljo juga tahu kalau hal ini sangat berat di lakukan oleh Helena, tetapi ia juga tidak ingin membuat Helena merasa tersakiti karena harus menghindar dan menjauh dari kedua orang tuanya. Sepandai-pandainya kita menutupi bangkai maka akan tercium juga baunya.
Dengan tangan yang gemetar, Helena mencoba untuk mengangkat panggilan suara dari orang tuanya.
“Hallo …” jawab Helena dengan lirih.
“Hallo, Helena sayang … kok lama yang angkat telepon dari Mama?” tanya Ayu dengan sigap ketika Helena mengangkat panggilan suaranya.
“Maaf Ma, tadi ponselnya aku cas jadi gak tau kalau ada panggilan masuk,” jelas Helena berbohong.
“Oalah, Mama kira kamu kenapa-kenapa jadi gak angkat telepon dari Mama. Tapi kamu baik-baik saja kan Nak? Kamu sehat-sehat aja kan Nak?” tanya Ayu pada Helena.
“Aku baik-baik aja kok Ma, kalau Mama sama Papa gimana kabarnya? Sehat kan Mah,” tanya Helena balik sambil ia berusaha untuk tidak menangis, sedang Eljo yang melihat Helena akan segera menangis mencoba untuk menenangkannya
“Mama sama Papa sehat kok Nak. Owh iya kamu kok gak pulang-pulang ii kenapa Nak? Kamu gak apa-apa kan? Kamu gak punya masalah kan?” tanya Ayu yang cemas dengan kondisi putrinya.
“Aku baik-baik aja kok Ma, aku Cuma ngerasa capek aja Ma,” ucap Helena dengan lirih.
“Lhoh kamu capek kenapa? kamu ada masalah?”
“Aku gak ada masalah kok Mah, aku cuma ngerasa capek aja kenapa skripsiku kok gak selesai-selesai. Aku minta maaf ya Mah,” ucap Helena
“Sayang … kamu nangis ya? kamu gak perlu meminta maaf sama Mamah dan Papah. Mama tau kok kalau saat ini kamu sedang berjuang untuk mendapatkan gelar sarjanamu. Sayang … jangan sedih ya nak, disini ada Mama dan Papa. Kami akan selalu mendukungmu dan kami yakin kalau kamu pasti bisa meraih gelarmu,” ucap Ayu yang berharap anaknya kembali bersemangat lagi.
Ayu merasa sebagai seorang ibu, ia merasa hatinya begitu sakit ketika melihat putrinya bersedih seperti ini. jujur di lubuk hatinya yang paling dalam, Ayu juga tidak tega melihat Helena bersedih seperti ini. ingin rasanya untuk memeluk Helena dan mengatakan kepadanya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Namun, apa daya jarak memisahkan mereka.
“Mamah … Aku ngerasa kalau aku ini sudah gagal menjadi seorang anak. Aku takut mah, aku takut,”
“Helena … anak Mamah … ayo semangat! Kamu pasti bisa Nak, kamu pasti bisa. Mamah yakin kalau anak Mamah itu bisa dan pasti bisa. Kalau kamu memang mengalami kesulitan dalam menghadapi dosen pembimbing kamu, maka kamu harus mendoakannya setiap kali kamu berdoa agar dilunakkannya hati dosen pembimbing kamu,” ucap Ayu mencoba untuk memberikan semangat pada Helena.