MORNING SICKNESS

1191 Kata
Eljo mulai memegang tangan Helena, “Len, menikahlah denganku. Aku ingin menjadikanmu sebagai wanitaku dan aku ingin menjadikan anak kamu sebagai anaku juga dan membuatnya sebagai penerang jalan untuk kita,” ucap Eljo dengan begitu tulus. “Hah? Maksud kamu gimana Jo?” tanya Helena dengan raut wajah kebingungan. “Len, aku mencintaimu dan aku ingin menjagamu sampai nafas terakhirku. Aku sudah menicntaimu sejak pertama kali kita bertemu.” “Tapi Jo … kamu tahu kan bagaimana kondisiku sekarang? aku seorang ibu Jo. bagaimana dengan orang tua kamu dan ini bukan anak kamu Eljo jadi ini bukan lah tanggung jawabmu untuk menjaga aku dan anak aku,” ucap Helena yang menyadari statusnya yang ia rasa tidak akan pernah cocok bersanding dengan Helena. “Lalu kenapa dengan statusmu? Menurutku itu tidak masalah,” jelas Eljo. “Tapi Jo … status kita berdua itu berbeda sangat jauh. Kamu masih single, kamu punya segalanya sedangkan aku. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang  kebetulan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Jo cinta boleh tapi jangan sampai cinta itu membuatmu buta dan mengesampingkan semuanya.” “Aku tidak keberatan dengan hal itu Len.” “Jo, aku mohon tolong kamu pikirkan kembali. Aku tidak ingin kamu menyesal dengan keputusan yang kamu ambil saat ini.” “Len, berapa kali lagi aku harus mengatakan kepadamu bahwa aku serius mencintaimu dan aku ingin menjagamu, aku ingin kita berdua saling menghabiskan waktu kita bersama-sama.” “Eljo … sebelumnya aku minta maaf. Aku menghargai perasaanmu kepadaku, tetapi saat ini aku sedang tidak memikirkan hal itu dan saat ini perasaanku masih untuk Yoga. Aku tidak ingin kamu akan tersakiti karena keegoisanku.” “Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar bisa menerimaku. Tolong ijinkan aku untuk menjagamu sebagai seorang suami yang menjaga istrinya, dan tolong ijinkan aku untuk menjaga putri kecil kita dengan sepenuh hatiku.” “Eljo …” “Aku mohon Len, menikahlah denganku.” “Berikan aku waktu Jo.” “Oke, aku akan memberimu waktu tiga hari untuk memikirkannya,” jawab Eljo sembari ia mulai bangkit dari berlututnya. “Ya Jo, nanti akan aku jawab.” Akhirnya Helena meminta waktu kepada Eljo untuk memikirkan lamaran yang di tujukan Eljo kepada Helena. Helena merasa bingung dengan keputusan apa yang akan ia ambil. Disisi lain ia memang membutuhkan sosok yang bisa menemaninya, tetapi ia juga tidak ingin melukai perasaan Eljo, karena ia sadar betul kalau saat ini perasaannya masih untuk Yoga. Eljo begitu baik kepada Helena, ia bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari sorot mata Eljo yang ia pancarkan hanya kepada Helena. Eljo juga merupakan sosok pria yang sangat di idam-idamkan oleh semua wanita. Auranya benar-benar terpancar begitu mempesona. “Len kamu istirahat dulu ya. aku mau masak dulu nanti kalau sudah siap aku panggil kamu terus kamu minum obat yang diberikan oleh dokter,” perintah Eljo kepada Helena. . . “Eljo, aku bantuan ya yang masak,” pinta Helena ketika ia melihat Eljo sedang asyik dengan spatulannya di dalam dapur miliknya. “Gak usah Len, mending kamu istirahat aja. Inget kata dokter kamu itu gak boleh capek-cepek.” “Yaelah Jo, aku kan cuma bantuin kamu masak, jadi aku  gak mungkin capek lah. ” “Ya udah kalau gitu gak papa kalau kamu ingin bantuin aku masak, tapi ada satu syarat.” “Syarat? Syarat apaan?” tanya Helena dengan mengeryitkan dahinya. “Kamu … Cuma boleh duduk disini dan liatin aku yang masak, itu udah sangat membantuku Oke,” jawab Eljo sambil ia mendorong tubuh Helena dari belakang dengan sangat hati-hati. “Yah, itu mah bukan bantuin namanya.” Eljo hanya tertawa dan ia langsung meninggalkan Helena duduk sendirian di meja makan. Eljo tidak ingin Helena sampai kecapekan lagi dan akhirnya akan membuat Helena jatuh sakit kembali. Selama memasak, sesekali Eljo selalu memperhatikan Helana. Dan hal itu membuat Helena merasa canggung. Tetapi tidak ada yang bisa Helena lakukan kecuali hanya tersenyum ketika Eljo melihatnya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Ketika Eljo sedang mengoreng ikan, tiba-tiba saja Helena merasa sangat mual dan ia pun berlari kecil menuju toilet. Eljo yang melihat Helena berlari ke arah toilet akhirnya membuat Eljo menghentikan aktifitasnya dalam memasak. Eljo segera bergegas menghampiri Helena yang saat itu sedang muntah-muntah. “Len, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Eljo sambil ia mulai memukul-mukul punggung Helena dengan begitu lembut. Huek … Huek … suara muntahan Helena begitu menggema di seluruh penjuru ruangan tersebut. Sesekali Helena akan membersihkan mulutnya dan ketika Helena ingin beranjak dari posisinya, ia akan merasa mual dan akhirnya akan membuatnya kembali memuntahkan seluruh isi perutnya. Eljo yang melihat Helena sedang mual-mual membuat hatinya merasa begitu sedih. Ia mulai teringat dengan ibunya. Mungkin ibunya dulu juga mengalami masa-masa yang sulit seperti Helena. “Len apa perlu aku panggilkan dokter untuk kesini?” tanya Eljo ketika melihat Helena yang tidak ada habisnya dalam mengeluarkan seluruh isi dalam lambungnya. “Tidak usah Jo. Hal ini wajar terjadi pada seorang ibu hamil,” jelas Helena kepada Eljo sambil ia memegangi kepalanya yang saat itu juga ikutan menjadi pusing. “Kalau begitu aku buatkan teh manis panas ya Len.” “Gak usah Jo. Aku baru tidak ingin minum teh.” “Kalau begitu air putih hangat bagaimana? Ini kan kamu muntah segitu banyaknya jadi kamu harus minum air putih yang banyak biar tubuhmu terhidrasi dengan baik.” “Ya Jo. Tapi sebelum itu,  tolong bantu aku untuk ke kamar ya Jo,” pinta Helena kepada Eljo. “Pelan-pelan ya Len. pelan-pelan,” ucap Eljo sembari ia mulai menuntun Helena ke kamar miliknya. Perlahan Eljo mulai membaringkan Helena di atas istana kapuk yang begitu nyaman untuknya. “Aku ambilkan air putih dulu ya Len,” ucap Eljo. Eljo langsung bergegas menuju dapur dan ia langsung membawakan segelas air putih hangat untuk Helena. “Len, diminum dulu ya airnya,” pinta Eljo sambil ia mulai menyodorkan gelas berisikan air putih kepada Helena. Helena meminumnya dengan perlahan. “Bagaimana, sudah merasa enakan belum?” tanya Eljo kepada Helena yang saat itu sudah selesai meminum air putihnya. “Lumayan sudah merasa mendingan Jo,” jawab Helena dengan singkat. “Sini, sini aku bantuin Len,” kata Eljo sambil ia langsung membantu Helena untuk berbaring. “Bagaimana, sudah nyaman belum?” “Belum begitu Jo. bantalnya terasa tipis banget,” keluh Helena yang merasa bantalnya tipis “Mau pakai bantal dua lapis?” tanya Eljo. “Iya Jo, tolong ya ambilkan aku bantal 1 lagi.” “Oke siap Len.” Eljo langsung pergi ke kamar tamu dan ia langsung membawa semua bantal yang ada di kamar tamu tersebut.   “Bagaimana sekarang? sudah nyaman?” tanya Eljo. “Sudah Jo, terima kasih ya JO,” Ucap Helena. “Ya udah, sekarang kamu istirahat ya. nanti kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa memanggilku.” “Ya Jo,” jawab Helena dengan singkat sembari ia menganggukan kepalanya. Eljo menarik nafas dengan begitu dalam dan ia mulai merenung, ia memikirkan cara bagaimana ia bisa mengurangi rasa sakit yang di rasakan oleh Helena selama ia hamil. Eljo benar-benar tidak bisa melihat Helena kesakitan seperti ini. ingin rasanya untuk mengambil semua rasa sakit yang sedang di rasakan oleh Helena.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN