RINDU

1094 Kata
Perlahan penglihatan Ayu mulai menghitam dan perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya. “Mah … Mamah … Mamah kenapa? Mah?” panggil Helena sambil ia terus menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang terbujur kaku di hadapannya. Helena merasa begitu ketakutan dengan apa yang sedang terjadi kepada Ibunya. “Mamah .., maafkan Helena,  maafkan Lena Mah! Mamah, bangun … Lena mohon bangun Mah, Lena mohon Mamah … bangun…” isak Helena sambil ia terus menggoyang- goyangkan tubuh Ayu dengan keras dan Helena juga berharap kalau Ayu bisa sadar kembali. Karena kegaduhan yang berasal dari teriakan helena membuat  Leon ayah Helena, Elizabeth, Joko, dan Eljo berlari menuju balcon. Betapa terkejutnya Leon melihat kondisi istrinya yang terbujur dengan tak berdaya di lantai. “Helena ada apa ini? ada apa dengan Mamah kamu?” tanya Leon sembari ia langsung memeriksa kondisi Ayu. “Ayo cepat kita bawa Ayu ke rumah sakit,” ucap Elizabeth sambil ia meminta Eljo untuk membopong Ayu ke mobil mereka dan segera membawanya ke rumah sakit. “Tidak! Tidak perlu,” ucap Eljo dengan linangan air mata yang membasahi pipinya. “Papah! Kenapa Mamah tidak boleh dibawa ke rumah sakit? Ayo to Pah,  bawa Mamah ke rumah sakit. Kasihan Mamah pah,” tanya Helena kepada Leon, yang tiba-tiba saja melarang dirinya untuk membawa Ayu ke rumah sakit. “Iya om, apa yang dikatakan Helena itu benar. Lebih baik kita segera membawa tante Ayu ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat,” timpal Eljo “Semuanya sudah berakhir … semuanya sudah berakhir …” ucap Leon sambil ia terus meremas rambutnya dengan begitu kuat. “Apa maksud Papah?” tanya Helena yang melihat kesedihan yang terpancar begitu jelas dari kedua bola mata Leon. “Mamah kamu nduk … Mamah kamu sudah tiada,” ucap Leon dengan begitu lirih. “Gak … gak mungkin Pah! Mamah gak mungkin ninggalin kita dengan begitu saja, aku yakin Mamah hanya pingsan saja, jadi aku mohon pah ayo kita segera membawa Mamah ke rumah sakit,” ucap Sekar dengan deraian air mata yang membasahi pipinya. Karena mendengar Helena terus memohon kepadanya untuk membawa Ayu ke rumah sakit, membuat Leon menjadi naik pitam. “Ini semua salahmu! Ini semua salahmu!,” teriak Leon  tepat dihadapan Helena. “Tidak! Tidak … ini bukan kesalahan Helena Pah! Ini bukan kesalahan Helena. Dan Helena yakin bahwa Mamah baik-baik saja,” “Ini semua gara-gara kamu anak pembawa sial! Anak tidak tahu di untung! Kamu telah membunuh Ibumu, wanita yang sangat berjasa dalam hidupmu. Kamu membunuhnya! Kamu pembunuh Helena!” teriak Leon sebari ia mencekik Helena dengan begitu kuat dan berharap Helena menyusul Ibunya. Melihat hal itu membuat Elizabeth sekeluarga hanya bisa menatap sinis Helena dan mereka terlihat juga ingin menghabisi Helena karena telah mencemarkan nama baik keluarga sehingga membuat Ibunya tiada. “Mati kau! Mati kau dasar anak sialan,” umpat Leon sambil ia terus mencekik Helena sampai tubuh Helena terasa begitu lemas karena kekurangan oksigen. “Ma-afkan Helena Pah … maafkan Helena,” ucap Helena dengan suara terbata-bata. Karena cekikkan yang diberikan oleh Leon kepada Helena membuat Helena kehilangan kesadarannya dan tiba-tiba saja … Hosh … hosh … hosh .. nafas Helena terasa begitu tersenggal- senggal. “Mamah? Mamah,” kata pertama yang Helena ucapkan ketika ia mulai tersadar dari tidurnya. Tidur yang membuatnya harus mengalami hal yang begitu mengerikan dalam kehidupannya. Mimpi yang ingin ia kubur dengan begitu dalam, sehingga tidak aka nada orang yang bisa menemukan mimpi buruknya. Tubuh Helena terasa begitu lemas karena mimpi buruk yang ia alami, jantungnya berdetak begitu kencang, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, air matanya tidak bisa ia bendung lagi. semuanya pecah begitu saja,yang tersisa hanyalah rasa ketakutan yang luar biasa besar akan kehilangan sosok seorang ibu yang sangat ia cintai dan sayangi. Helena langsung bangkit dari bathup tempat ia ketiduran saat sedang asyik berendam. Ia langsung mengenakan handuk dan ia segera mencari ponsel miliknya. Dengan kondisi tubuh yang terasa begitu lemas tidak mematahkan semangat Helena untuk segera menelepon Ibunya dan memastikan bahwa kondisi Ibunya baik-baik saja. Helena juga berharap bahwa mimpinya hanya mimpi belaka yang tidak akan pernah terwujud. “Hallo?” jawab Ayu “Hallo, Mamah!” “Iya sayangku, ada apa?” “Gak ada apa-apa Mah, Helena cuma kangen aja sama Mamah, dan Papah. Udah lama Helena tidak bertemu dengan kalian,” ungkap Helena dengan suara yang terdengar sedikit parau. “Kamu kenapa nak? Kok sepertinya suara kamu terdengar berbeda,” “Aku gak kenapa-kenapa kok Mah, aku cuma sedikit flu saja,” ucap Helena sambil ia menyeka air matanya “Beneran kamu tidak apa-apa?” “Iya Mah … saat ini Helena baik-baik saja kok Mah. Papah gimana kabarnya? Papah, Mamah sehat semua kan?” “Mamah sama Papah baik-baik saja nak, kamu di sana gimana Nak?” “Syukurlah kalau Mamah dan Papah baik-baik saja. Helena akan selalu baik-baik saja kalau Mamah dan Papah juga baik-baik saja,” ucap Helena kepada Ayu. “Syukurlah kalau gitu nak, owh iya gimana skripsimu nak?” “Ya … begini Mah, susah-susah gampang,” “Ya udah gak papa nak, namanya juga jalan mau jadi orang sukses kan memang tidak mudah. Yang penting kamu tetap semangat ya nak. Mamah yakin kamu pasti bisa.” “Iya Mah, Helena pasti selalu semangat. Minta doanya ya Mah biar Helena segera lulus,” pinta Helena sambil ia berusaha menahan tangisnya. “Iya pasti Nak, pasti Mamah selalu mendoakan Helena. Ya udah kalau begitu, Mamah matiin dulu ya teleponnya.” “Ah .. iya Mah.” Helena merasa begitu lega setelah ia menelepon Ibunya, hatinya yang gundah memikirkan kondisi kedua orang tuanya akhirnya sirna juga setelah ia mengetahui kondisi ibunya baik-baik saja.  “Mamah … Papah … Helena kangen banget sama Mamah, dan Papah … Helena pengen banget pulang dan bertemu dengan kalian, tetapi Helena terlalu penakut untuk menghadapi kalian. Helena takut akan penolakan yang Mamah dan Papah berikan kepada Helena,” ucap Helena sambil ia memeluk bingkai foto keluarganya yang di ambil sewaktu mereka sekeluarga berlibur di Bali. “Helena ingin … sekali memeluk Mamah dan Papah, lalu Helena akan  mengatakan kepada Mamah dan Papah kalau Helena sayang sekali sama kalian berdua. Tetapi semua kata-kata itu seperti tertahan di relung hatiku yang paling dalam … aku ingin pulang Mah, Pah. Aku ingin bercengkrama lagi dengan Mamah dan Papah. Helena ingin ketemu sama Mamah dan Papah” isak Helena yang merasa begitu merindukan kedua orang tuanya. Saat ini Helena merasa begitu membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya dan Helena juga berharap kalau kedua orang tuanya akan menerima kehamilan dirinya, toh bayi yang kini sedang ia kandung adalah cucu pertama untuk keluarga Panduwinata.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN