SUASANA HATI

1096 Kata
“Eljo Bodoh! Bodoh … Bodoh … sekarang apa yang akan kamu lakukan saat kamu bertemu dengan Helena? Kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu … Argghhh …” sesal Eljo yang telah mengungkapkan isi hatinya kepada Helena. Ia tidak menyangka ia akan dengan gampangnya menyatakan perasaannya kepada Helena. Ia merasa begitu menyesali perbuatannya, dan  ia juga merasa akan membuat hubungannya dengan Helena merenggang. “Apa yang harus aku lakukan nanti kalau ketemu sama Helena? Eljo bodoh! Ngapain juga kamu ngungkapin perasaanmu ke Helena?,” kutuk Eljo pada dirinya sendiri sembari ia memukul-mukul kepalanya. Saat Eljo sedang mengutuki dirinya kerena kebodohan yang telah ia lakukan, tiba-tiba saja ada pesan masuk ke ponsel miliknya. Setelah Eljo selesai membaca pesan tersebut, Eljo langsung menelepon orang yang telah mengiriminya pesan. “Hallo, bagaimana perkembangannya?” tanya Eljo pada orang misterius itu. “Bapak tenang saja, semuanya sudah saya bereskan,” ucap pria misterius tersebut kepada Eljo. “Oke kalau gitu, saya akan mentransfer sesuai dengan apa telah kita sepakati,” ucap Eljo sambil ia menutup panggilan suaranya. . . “Len, kamu kenapa?” tanya Eljo saat ia melihat Helena duduk termenung di depan balcon. “Hai,” ucap Helena sambil ia menghela nafas yang begitu dalam dan ia mulai melanjutkan perkataannya. “Aku hanya melihat pemandangan kota Solo,” jelas Helena sambil ia tersenyum getir kepada Eljo. “Kamu kangen Yoga?” “Enggak lah Jo, aku sudah mulai mengubur kenanganku bersama Yoga. Aku rasa hubunganku dengan Yoga memang harus berakhir seperti ini dan seharusnya aku sadar kalau aku dan Yoga tidak akan pernah bisa bersama walaupun ada penghubung dalam hubungan kami,” jelas Helena pada Eljo. “Lalu kenapa kamu sedih seperti itu? Ada apa?” “Aku hanya merindukan kedua orang tua aku Jo, aku sangat merindukan mereka terutama Mamah aku. Aku sangat merindukannya, aku ingin bertemu dengan Mamah aku. Aku juga ingin mencurahkan semua isi hatiku kepada Mamah aku. Tapi kamu tahu sendiri kan, bagaimana kondisiku saat ini. aku merindukan kedua orang tua aku Eljo …” isak Helena dengan sesengukan. Eljo yang melihat Helena menangis tersedu-sedu, membuat dirinya merasa begitu kasihan kepada Helena, tetapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Helena, karena perut Helena sekarang sudah terlihat begitu besar sehingga hal ini sudah tidak bisa di tutupi lagi. “Len, aku tahu bagaimana sedihnya perasaanmu saat ini, tapi ingat kata-kata dokter kalau kamu tidak boleh stress, tidak boleh memiliki banyak pikiran yang akhirnya akan membuat kondisi kamu dan anak yang sedang kamu kandung terancam,” ucap Eljo sambil ia menepuk-nepuk punggung Helena dengan begitu lembut. “Iya aku tahu Jo, aku tahu … tapi aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku ini. aku benar-benar merindukan orang tua aku. Aku rindu mereka Eljo,” isak Helena dalam dekapan Eljo. “Menangislah, menangislah sepuasmu. Tetapi ingat kamu harus berjanji kepadaku setelah menangis kamu harus happy lagi. aku tidak mau kamu terpuruk seperti ini.” “Bagaimana aku tidak terpuruk dengan kehidupanku Jo, aku menghancurkan masa depanku sendiri, dan yang lebih parahnya lagi aku menghancurkan mimpi kedua orang tuaku. Jo, orang tua mana yang bisa menerima aib seperti ini?” “Len, boleh aku mengatakan sesuatu kepadamu?” Helena hanya menganggukan kepalanya sembari ia menyeka air mata yang sedari tadi terus mengalir dan membasahi pipinya. “Aku tahu kalau saat ini kamu berada di kondisi yang benar-benar terpuruk, tapi aku bisa menjamin seratus persen, bahkan bisa seribu persen kalau kedua orang tua kamu akan menerima kamu dengan tulus, ya … walaupun awal-awalnya mereka pasti akan marah sama kamu, tapi percayalah kepadaku kalau kedua orang tua kamu akan menerima kamu dan cucu mereka dengan begitu tulus,” jelas Eljo kepada Helena dan berharap Helena akan menerima keadaanya. “Tapi Jo, aku takut … aku takut kalau aku di tolak sama Mamah dan Papah. Aku tidak bisa menerima penolakan dari kedua orang tuaku,” “Len, percayalah denganku kalau kedua orang tuamu akan menerima kamu dengan begitu tulus, karena hubungan darah itu lebih kental dari hubungan apapun yang ada di dunia ini.” Mendengar penjelasan dari Eljo membuat hati Helena semakin hancur, karena ia tahu bagaimana kondisi keluarganya. Ia sangat yakin kalau kehadirannya dengan anak yang sedang ia kandung akan mendapatkan penolakan dari kedua orang tuanya. Karena kedua orang tuanya sangat kental dengan adat istiadat Jawa, yang menganggap kehamilan di luar ikatan suci pernikahan adalah hubungan yang penuh dengan dosa. Hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi, hubungan yang seharusnya bisa membuat bahagia karena kehadiran cinta di dalamnya tetapi kini hubungan itu hanya akan meninggalkan luka yang begitu dalam. “Jo, aku masuk ke kamar aku dulu ya. kepalaku tiba-tiba terasa begitu sakit,” jelas Helena sembari ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa begitu sakit. “Ya udah kalau gitu, aku bantuin ya,” ucap Eljo sambil ia mencoba untuk membantu Helena beristirahat di dalam kamarnya. “Gak usah Jo, aku bisa sendiri kok,” tolak Helena dengan lembut. Karena Ia tidak ingin hubungannya dengan Eljo akan semakin terlalu jauh. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Eljo. Ia tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya itu, dan ia juga tidak ingin membuat sahabatnya itu mempunyai pikiran kalau ia juga menyukainya. “Maafkan aku Jo. aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. aku tidak ingin hubungan kita akan hancur karena kesalahanku,” gumam Helena dalam hati. Sedangkan Eljo hanya bisa memandangi Helena dengan nanar. Ia merasa kalau akhir-akhir ini Helena mulai menjauhi dirinya dan ia tahu apa penyebabnya. “Len, aku mencintaimu dan aku ingin melindungimu. Tapi kalau memang caraku salah, tolong maafkan aku, tolong kembalikan hubungan kita seperti dulu lagi. aku tidak sangup menghadapi sikapmu yang begitu dingin kepadaku,” gumam Eljo dalam hati sambil ia terus melihat ke arah Helena. Sedangkan Helena langsung menutup pintu kamarnya dan ia mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur yang begitu lembut dan nyaman. “Sayang … apa yang harus Mamah lakukan? Mamah tidak mungkin tinggal disini selamanya, karena om Eljo bukanlah Papah kamu, tetapi om Eljo adalah sahabat Mamah yang seharusnya tidak bertangung jawab dengan apa yang sedang terjadi kepada kita. Mamah juga tidak bisa membuat om Eljo terus-terusan berharap kepada kita, karena kita tidak pantas untuk om Eljo karena Mamah yakin kalau om Eljo akan mendapatkan seorang wanita yang begitu sempurna,” ucap Helena kepada janin yang sedang ia kandung. Helena merasa begitu bingung dengan permasalahan yang silih berganti dalam hidupnya. Ingin rasanya untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya, tetapi ia juga merasa begitu takut dengan penolakan yang akan diberikan oleh kedua orang tuanya kepada dirinya. Sedangkan kalau terus-terusan tinggal bersama Eljo hanya akan membuat Helena merasa tidak enak hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN