BROKEN HOME

1470 Kata
“Kamu itu butuh uang berapa?” tanya Hwahwa mama Yoga pada Helena yang saat itu sedang menonton acara pada televise di kosanya. Sontak hal itu membuat Helena langsung menengok ke arah suara itu datang, dan betapa terkejutnya Helena ketika ia melihat kehadiran Hwahwa ibu Yoga yang selama ini sangat menentang hubungannya dengan Yoga. “Maksudnya tante Hwahwa itu apa? Kenapa tante berkata seperti itu?” tanya Helena yang saat itu masih bingung dengan maksud perkataan Hwahwa pada dirinya. “Saya tahu kok, kalau kamu mendekati anak saya itu karena anak saya mempunyai banyak uang bukan? Saya tahu wanita kaya kamu itu hanya ingin menguras habis uang anak saya,” teriak Hwahwa yang membuat teman-teman sekosan dengan Helena keluar dari kamar semua. Melihat hal itu membuat Helena merasa begitu malu, ia malu kalau permasalahannya dengan Hwahwa ibunda Yoga harus di ketahui oleh teman-temannya. Ingin  rasanya untuk pergi meninggalkan Hwahwa dengan segudang perkataan yang begitu menyakiti perasaannya. “Tante … saya tidak pernah mempunyai pikiran sekeji itu tante. Dan saya menjalani hubungan dengan Yoga itu benar-benar tulus dari dalam hati saya tante,” ucap Helena  dengan suara yang terdengar begitu serak karena menahan tangis. “Halah … saya itu tahu kamu butuh uang bukan untuk membayar uang kuliahmu, kamu juga butuh uang bukan untuk proyek pembuatan filmu dan kamu juga butuh uang bukan untuk membiayai gaya hidupmu biar sama dengan teman-temanmu,” tuduh Hwahwa pada Helena. “Tante cukup ya tante. Cukup! Saya tegaskan sekali lagi pada tante kalau saya itu tidak pernah memacari Yoga anak tante karena uangnya. Untuk uang saya sendiri juga tidak kekurangan tante, walaupun saya berasal dari keluarga yang sederhana tetapi saya itu tidak pernah kekurangan uang dalam hidup saya tante, jadi saya mohon sama tante tolong jaga omongan tante,” ucap Helena dengan nada suara yang mulai meninggi. “Owh gini ya tingkah lakumu! Dasar wanita tidak tahu malu! Apa kamu tidak pernah di ajarkan sama orang tuamu bagaimana caranya memperlakukan orang tua dengan baik? Apa keluargamu juga tidak punya adab seperti kamu?” maki Hwahwa dengan intonasi suara yang semakin tinggi. “Tante saya mohon cukup! Saya mohon tante pergi dari kost-kost saya. Saya tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga tante. Silahkan tante pergi dari sini!,” ucap Helena dengan begitu tegas dan hal itu membuat Hwahwa menjadi naik pitam. “Berani-beraninya ya kamu kurang ajar sama saya. Apa kamu tidak tahu siapa saya ini haahh!” ucap Hwahwa sambil ia mengangkat tangannya yang ingin menampar Helena. “Mama!” teriak Yoga yang saat itu berada di kost Helena karena ia mendapat kabar dari teman kostnya Helena kalau saat itu Helena sedang di caci maki oleh Hwahwa. “Yoga! Kamu ngapain kesini?” tanya Hwahwa dengan muka terlihat begitu memerah karena merasa begitu marah. “Harusnya Yoga yang tanya kaya gitu ke mama. Kenapa mama kesini? Kenapa mama membuat keributan di kostannya Helena? Kenapa Mama bertingkah seperti ini? apa tidak cukup Mama menghacurkan kehidupan Papa, dan Kakak? Apa perlu Yoga juga sehancur itu untuk membuat mama berhenti menggangu kehidupan Helena dan aku?” tanya Yoga dengan suara yang terdengar begitu berat karena menahan amarah yang begitu besar pada Hwahwa. “Apa? Jadi maksud kamu itu Mama yang udah menghancurkan kehidupan Papa dan Kakakmu? Kamu tahu gak dengan apa yang telah Papa kamu lakukan ke Mama hahhh! Kamu tahu tidak betapa bejatnya Papa kamu sama Mama! Apa kamu pernah memikirkan perasaan Mama hahhh!” maki Hwahwa pada Yoga dengan jari telunjuknya yang mengarah ke muka Yoga. “Stop Ma! Yoga sudah dewasa, Yoga tahu mana yang benar dan mana yang salah! Yoga tahu kalau selama ini yang b***t itu Mama bukan Papa!,” maki Yoga balik sambil ia menurunkan tangan mamanya. Melihat hal itu membuat Helena tak kuasa menahan air matanya, ia merasa begitu malu, kecewa, marah, dan sedih karena harus menghadapi permasalahan yang begitu pelik seperti ini. “Yoga …” panggil Helena dengan begitu lirih. Tetapi hal itu tidak di gubris sama Yoga karena saat itu amarah Yoga sudah memuncak. “Dasar anak kurang ajar!” maki Hwahwa sambil ia langsung menampar pipi Yoga dengan begitu keras Plaakkk … suara tamparan yang diterima oleh Yoga. Mendapatkan tamparan itu membuat Yoga tersenyum sinis sama mamanya. “Cuma segitu tamparan Mama ke aku? Cuma segitu ma? Sumpah ya ma, tamparan mama itu tidak ada rasanya sama sekali, tapi perbuatan mama lah yang membuat Yoga sakit! Keluarga kita hancur itu juga gara-gara mama!” maki Yoga pada Hwahwa sambil ia mengajak Helena untuk pergi meninggalkan Mamanya. “Yoga, enggak,” tolak Helena dengan suara yang ketakutan. Ia merasa begitu sedih dengan apa yang telah ia lihat, ia tidak menyangka kalau Yoga begitu rapuh dan terluka seperti itu dan ia juga tidak menyangka kalau Hwahwa akan sekejam itu pada Yoga. “Lena, ayo kita pergi dari sini. Kamu sudah lihat bukan betapa gilanya mamaku. Kalau kita terus berada disini maka kita akan tersakiti dengan semua tingkah laku Mamaku yang gila,” ucap Yoga sambil ia menggenggam tangan Helena dengan begitu erat. “Yoga! Bisa-bisanya ya kamu bilang seperti itu sama mama kamu sendiri! mamamu lho ini Ga, orang yang sudah melahirkanmu. Bagaimana bisa kamu memperlakukan mama kamu seperti ini?” pekik Hwahwa pada Yoga. “Mama lah yang membuat Yoga seperti ini. jika Mama tidak gila maka Mama tidak akan seperti ini. jika Mama bisa menjadi ibu yang normal seperti ibu-ibu pada umumnya maka Mama tidak akan memiliki keluarga yang begitu hancur seperti ini,” kecam Yoga sambil ia terus berjalan meninggalkan Hwahwa. Sedangkan Helena yang tak kuasa hanya bisa mengekor pada Yoga sambil ia menangis tersedu-sedu. “Yoga tunggu. Yoga!” teriak Hwahwa pada Yoga yang langsung masuk kedalam mobil dan langsung menancap gas yang begitu dalam sehingga melaju dengan begitu cepat. Sepanjang perjalanan Yoga hanya bisa meneteskan air matanya dalam diam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi pada Helena. Ia merasa begitu malu sekaligus merasa begitu bersalah kepada Helena karena dirinya lah yang membuat kehidupan Helena menjadi seperti ini. Kehidupan Helena yang dulu begitu berwarna sebelum ia bertemu dengan Yoga, kini kehidupannya berbanding seratus delapan puluh derajad. Kehidupannya berubah dengan begitu drastic ketika hubungannya ketahuan oleh Hwahwa yang ternyata selalu memata-matai Yoga. “Yoga …” panggil Helena dengan lirih sambil ia memegang tangan Yoga dengan begitu lembut. “Maafkan aku Len … maafkan aku. Aku minta maaf karena aku, kamu menjadi menderita seperti ini. aku minta maaf Len, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak pernah menyatakan perasaanku kepadamu dan seharusnya kita tidak pernah bertemu. agar kehidupanmu menjadi lebih berwarna. Aku minta maaf Len, aku minta maaf,” ucap Yoga sambil ia menangis tersedu-sedu. “Yoga … ini semua bukanlah kesalahanmu. Aku mohon tenanglah, aku mohon jangan pernah kamu berkata seperti itu, aku mohon Ga … aku mohon …” ucap Helena dengan begitu tulus. Baru kali ini Helena melihat Yoga terlihat begitu sedih seperti itu, karena selama ini ia selalu melihat Yoga yang begitu ceria, periang bahkan Yoga yang selalu membuat orang-orang disekitarnya tertawa dengan begitu bahagia. Tetapi kini Yoga terlihat begitu frustasi dan sedih karena permasalahan keluarganya yang begitu pelik dan baru kali ini Helena mengetahui kondisi keluarganya Yoga yang hancur. “Lena … apakah sekarang kamu merasa begitu jijik denganku? Apakah kamu malu memiliki pacar seperti aku yang berasal dari keluarga yang broken home?” tanya Yoga pada Helena. “Tidak Yoga. Aku tidak pernah merasa malu memiliki pacar seperti kamu.” “Kamu yakin mau menerima aku dengan kondisi keluargaku yang begitu hancur seperti itu? Papa aku memilih pergi meninggalkan kami, dan Kakak aku memilih mengakhir kehidupannya karena ia merasa begitu tertekan dengan sikap mama aku yang begitu over protektif,” jelas Yoga yang langsung membuat Helena kaget. Ia tidak menyangka kalau selama ini kakak yang selalu Yoga bangga-banggakan telah pergi meninggalkannya. “Maksud kamu apa Ga? Bukan kah kakak kamu masih ada bukan?” tanya Helena untuk memastikan. “Kakak aku sudah meninggal baru-baru ini Len, dia memilih untuk bunuh diri karena ia sudah tidak sangup lagi menghadapi tingkah mamaku,” ucap Yoga sambil ia teringat dengan mendiang kakaknya yang selama ini selalu mencintai Yoga dengan begitu tulus bahkan rasa cinta yang diberikan oleh kakanya Yoga melebihi rasa cinta yang diberikan oleh kedua orang tuanya pada Yoga. “Yoga … kalau kamu membutuhkan sandaran, aku mohon datanglah padaku, aku janji aku akan selalu berada di sisimu dan aku juga janji kalau aku akan membuatmu kembali tersenyum lagi. ijinkan aku untuk menghapus air mata dan kesedihanmu menjadi kebahagian yang tiada tara indahnya,” uacap Helena yang sukses membuat hati Yoga tersentuh. Ia tidak menyangka kalau Helena akan menerima latar belakang keluarganya yang begitu kacau. “Terima kasih Len … terima kasih. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang mau menerima aku sekaligus dengan keluargaku yang begitu suram. Terima kasih Helena, terima kasih,” ucap Yoga dengan rasa syukur yang begitu besar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN