"Aku tidak percaya dia berpikiran seperti itu padaku. Padahal selama ini aku selalu menjaganya. Kamu tahu berapa banyak laki-laki yang ingin mendekatinya dulu. Tentu saja mereka enggan karena ada aku. Itu baik, karena mereka adalah sekumpulan pria b******k yang hanya akan memperdaya adikmu yang baik itu. Lucu dan lugu, setidaknya begitulah yang aku tahu selama ini. Kamu tentu tidak mau aku memasang pelacak pada adikmu, bukan?"
Clara mendengus, tak percaya dengan apa yang Jason katakan. Memasang alat pelacak? Konyol sekaligus menghadirkan kekhawatiran tersendiri bahwa Jason menjadi posesif terhadap Ixora dan tentu hal itu membuat Clara tidak tenang. "Kamu pikir adikku hewan peliharaan hingga memerlukan alat pelacak?!" protes Clara, tapi nada suara Jason yang sarat kekecewaan membuat Clara bersorak dalam hati.
Menyingkirkan Ixora ternyata lebih mudah dari yang ia pikirkan. Suasana hati Clara sangat baik sampai mereka pergi dari kediaman Rodrigues.
Berbeda dengan Jason yang kini menatap langit-langit kamar pembicaraan dengan Clara semalam itu berhasil membuat perasaannya tidak menentu sampai pagi ini.
Jason bangkit dan duduk bersandar kepala ranjang seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Amarah tertahan akibat informasi kepergian Ixora sampai saat ini lah penyebabnya. Ingin percaya 100% dengan perkataan Clara tetapi rasanya jauh didalam lubuk hatinya ada sesuatu yang tidak tepat. Sahabatnya tidak mungkin melakukan hal itu padanya. Apa mungkin Jason selama ini telah salah menilai kepribadian wanita mungil nan cantik itu? Wanita yang ia anggap terlalu kuper karena sepanjang yang ia kenal hanya hitungan jari teman yang berinteraksi dengannya baik di lingkungan pendidikan maupun sosial.
Jason teringat seseorang yang selalu dekat dengan Ixora semasa mereka kuliah selain dirinya. Jason lantas menyibak selimutnya dengan semangat dan mengayunkan kakinya untuk bersiap menemui orang tersebut tapi niatnya urung karena pada saat yang bersamaan sang nyonya rumah sudah membuka pintu kamarnya dan berdiri kaku di sana.
"Mama tahu apa yang sudah kamu minta kepada Clara semalam. Apa kamu tidak punya hati dan berusaha menjaga perasaan calon tunanganmu sedikit saja? Ixora terus yang kamu bicarakan, jangan-jangan perbincangan kita semalam tidak ada satupun yang mengendap dalam otak kecilmu. Apa kamu pikir pantas membicarakan wanita lain sementara calon istrimu berada di sisimu?"
"Jangan memulai pertengkaran sepagi ini, Ma. Mama juga tahu Xora bukan wanita lain, dia sahabatku."
"Persetan dengan persahabatan kalian!" Mary lantas berbalik dan menutup pintu hingga berdebum keras.
Jason memijat pangkal hidungnya dan segera membersihkan diri. Benar, ia membatalkan untuk mencari Josevina. Namun, ia menghubungi orang yang ia kenal untuk mencari tahu.
"Apa kamu tahu di mobilmu terpasang pelacak?"
"Tidak. Untuk apa pula Papa melakukan hal itu?"
"Mungkin mencegahmu agar tidak menjualnya?"
"Tidak mungkin. Aku membeli mobil itu dengan uangku sendiri. Papa tidak akan repot-repot menghabiskan uangnya hanya untuk memasang pelacak di mobilku. Kau tahu, mereka sudah bangkrut."
"Kenapa kamu tampak sangat santai menanggapi kebangkrutan keluargamu?" tanya Josevina keheranan.
"Memangnya aku harus bagaimana lagi. Selama ini aku harus belajar dengan sangat keras karena harus mendapatkan beasiswa jika tetap ingin sekolah di tempat yang bonafit. Mereka bilang tidak ingin menghamburkan uang untuk anak yang bodoh. Kamu juga tahu selama bersekolah waktuku lebih banyak habis di asrama sekolah, rumah kakek dan rumah kalian sebelum pindah ke sini."
"Yah, aku tahu kami kembali merintis dari nol dan semua berkatmu."
"Kalau begitu bantu aku untuk pergi dari sini."
"Kamu ingin aku segera membalas budi bukan?"
"Bukan begitu sebenarnya, tapi jika kamu menganggap demikian juga tidak apa-apa. Aku hanya harus segera pergi, itu saja," jawab Ixora dengan santai seraya mengedipkan bahu.
"Para gadisku yang cantik segera sarapan dan jangan mengobrol. Papa sudah menunggu kalian di bawah," tegur Eltina dari ambang pintu kamar yang terbuka penuh.
"Ya Mama," balas keduanya serempak.
"Kenapa kamu tadi tiba-tiba bertanya tentang pelacak?" tanya Ixora seraya menghentikan laju Josevina yang kini sudah sampai ambang pintu hendak menyusul Eltina.
Josevina memutar bola matanya malas sebelum menjawab, "Aku tadi sedikit mendengar saat papa berbicara dengan tetangga dekat showroom, jika ada beberapa orang mencurigakan beberapa kali menaiki mobil lewat depan showroom seolah mencari sesuatu."
Ixora menyipitkan matanya menatap curiga pada Josevina. "Kamu menguping Tuan Jose? Bagaimana kamu bisa melakukan itu, dasar anak nakal!" herdik Ixora seraya menepuk bahu Josevina yang lantas mengasuh.
"Jangan lagi panggil papa dengan sebutan Tuan. Panggil dia paman atau papa seperti yang aku lakukan. Kamu tidak tahu jika beliau selalu menggerutu padaku menceritakan bagaimana kalau selalu memanggilnya dengan sebutan itu. Kamu sudah seperti putrinya juga, mungkin papa merasa seperti memiliki anak kembar. Hihihi."
Ixora kembali menepuk bahu Josevina. "Ayo mode serius. Kira-kira apa yang mereka lakukan di sana? Apa yang mereka cari, beritahu aku pendapatmu?"
"Yang pasti, tidak mungkin mereka sedang belajar mengendarai mobil bukan? Bisa jadi mereka anggota mafia dan ingin mencarimu karena bos mereka mendambakanmu sebagai pendamping."
Ixora kini yang memutar bola matanya dengan menunjukkan raut wajah bosan. "Berhentilah membaca cerita romantis dan carilah pasangan."
"Hah! Dan lihat siapa yang berkata, berkacalah jika kita berdua ini adalah gadis jomlo mengenaskan, tanpa cinta!"
"Tiba-tiba aku lapar mendengar ratapanmu."
"Hai Paman ...," sapa Ixora pada Jose begitu kakinya menginjak lantai ruang makan yang menyatu dengan dapur.
Bagaimanapun ia akan merasa sangat bersalah jika sampai terjadi sesuatu dengan keluarga sahabatnya ini, satu-satunya orang terdekat setelah Jason yang ia pikir sangat ia kenal tetapi ternyata semuanya meleset. Firasat Ixora mengatakan orang dalam mobil yang mondar-mandir di hari sepagi ini tentu saja bukan suatu kebetulan. Namun jika membayangkan jika papanya yang mengirim orang untuk mencari tahu sungguh tidak mungkin karena seperti yang sudah-sudah pusat perhatian seorang Husto Montegro sepenuhnya pada seorang Clara Devia Montegro. Sementara Ixora Ebiraa Montegro tak lebih hanya seperti anak yang tidak diharapkan kehadirannya.
"Kau tahu, Papa selalu berharap memiliki anak laki-laki. Putriku sudah cukup dengan keberadaan Clara. Kami sengaja tidak melakukan USG agar menjadi kejutan menyenangkan saat anak yang dinanti kami berjenis kelamin laki-laki tapi harapan hanya tinggal harapan kau lahir dan jelas kejutannya tak lagi begitu menyenangkan." Perkataan Husto lugas di hari yang sedang turun hujan, seolah langit bisa menggambarkan mendungnya hati Ixora sebab perkataan papanya. Kemudian pria itu menambahkan, "Apa yang harus aku lakukan dengan memiliki dua putri? Nama keluargaku juga tidak akan penerusnya. Baik kau dan juga Clara akan meninggalkan kami."
Ixora sebagai anak yang dilahirkan dengan minim perhatian dan kasih sayang, tumbuh menjadi seorang anak yang tertutup dan membatasi diri bergaul dengan banyak orang karena tatapan penuh rasa kasihan mereka jelas membuat dirinya tidak nyaman.
"Jika kamu ingin menganggap dirimu berguna bagi keluarga ini. Buktikan jika prestasimu bisa mengungguli Clara. Siapa tahu dengan demikian aku akan berubah pikiran dan memberikanmu posisi menguntungkan di perusahaan."
Semua perkataan Husto didengarkan oleh Ixora saat gadis itu berusia sepuluh tahun, kala itu. Menyakitkan sungguh dibandingkan seperti itu, padahal jelas keduanya berasal dari rahim dan benih yang sama. Namun tiga belas tahun berlalu dan tak sekalipun usahanya bisa meraih perhatian yang sudah dijanjikan oleh Husto Montegro.
"Hai ... ada apa?" tanya Eltina seraya meremas kedua bahu Ixora yang tegang saat melamun itu.
"Ada apa? Kamu bahkan tidak mendengar apa yang dikatakan Papa?" Kali ini pertanyaan datang dari Josevina yang duduk berhadapan dengannya.
Ixora melirik pada Jose yang duduk di ujung meja dengan raut wajah bersalah.
"Kamu tidak perlu pergi sekarang. Kamu bisa tinggal lebih lama di sini," ujar Jose dengan raut wajah prihatin dan penuh perhatian.