Tidak Percaya Diri

1085 Kata
Hati Ixora menghangat, perhatian seorang ayah dengan penuh bisa ia rasakan dari seorang Jose Tarilo. Seorang asing yang tidak memiliki kontribusi apapun dengan keberadaan dirinya di dunia fana ini. "Kamu tahu, aku senang kamu memanggilku dengan sebutan paman. Kamu sangat berarti untuk keluarga ini jangan ragukan itu, bukan hanya karena kami berhutang nyawa. Lebih dari itu, kami. Aku dan Bibi Tinamu itu, sudah menganggapmu seperti saudara kembar musang kami," kata Jose sembari melirik Josevina diakhir ucapannya. "Terima kasih Paman. Tapi aku akan pergi, harus. Seberapapun banyak usaha sudah aku lakukan. Papa tetap tidak pernah memandangku. Aku tidak pernah cukup baik untuk menjadi anaknya. Kadang aku berpikir jika dia tidak pernah mengharapkan kehadiranku ...." "Pemikiran dari mana itu?" potong Jose. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan saat ini. Kamu sudah cukup mandiri untuk tidak bergantung dengan mereka. Lihat saja buktinya mereka bangkrut dan kamu masih berdiri di sini dengan penuh kepercayaan diri," tambah Jose. "Aku tidak sepercaya diri itu." "Ayolah, jangan dipikirkan. Kamu bisa melalui semua ini." Eltina yang menyela. "Papa, katakan padanya apa yang sudah kita sepakati?" pinta Josevina tanpa melepaskan pandangan dari Ixora. Jose menghela napas panjang sebelum berkata, "Sebelumnya Paman minta maaf, bukan tidak bermaksud untuk tidak menghargai keinginanmu tapi kami akan menyimpan mobilmu di sini. Jika suatu hari kamu kembali setidaknya kamu masih memiliki sesuatu yang benar-benar milikmu." "Paman ... aku hanya akan ke Amerika bukan ke ujung dunia. Tentu saja aku akan kembali. Tidak lama mungkin dua atau tiga tahun lagi aku kembali." "Firasatku mengatakan kamu tidak akan kembali," ujar Josevina. "Ayolah ...." "Kamu sudah memiliki tujuan di Amerika?" "Ada sebuah perusahaan perkebunan di sana yang memerlukan keahlianku. Kamu tahu, keahlianku lebih dari hanya menanam pisang," terang Ixora. "Di mana itu?" "Well ... tepatnya itu ada di sebuah kota kecil tak jauh dari San Antonio." "Nama kotanya apa? Ayolah Xora, haruslah aku mengeja pertanyaan?" kata Josevina dengan tidak sabar. "Yup ... jika kamu tidak mengatakan kepada kami. Sarapan tidak akan dimulai," tambah Eltina dengan anggukan mantab. "Holy Spring." "Sepertinya aku pernah mendengar kota itu?" "Tentu saja pernah, aku pernah ke sana saat Kakek membawaku menemui temannya Tuan Fransesco Dario. Aku pernah ceritakan padamu bukan?" "Sekarang kamu akan ke sana?" "Tentu, jika kamu masih memaksa aku akan mengatakan di mana nantinya aku bekerja." "Di mana cepat katakan sebelum masakan Mama menjadi dingin." Eltina menjadi ikut tidak sabar. "La Eterno Ranch. Jadi bagaimana, bisakah kita mulai sarapan sekarang?" "La Eterno?" tanya Jose. Ixora menoleh ke arah Jose saat menerima piring yang telah terisi makanan pagi yang menyehatkan. "Iya, Paman tahu?" "Sedikitnya. Perusahaan besar setahu Paman. Calen adalah salah satu sopir truk sayur milik perusahaan La Eterno." "Siapa itu Calen?" "Sepupuku. Kamu mungkin bisa bertemu dengannya nanti. Semoga saja." "Nama keluarga kalian sama?" "Yup. Calen Tarilo." "Aku rasa kakekmu juga pasti kenal dengan Horben." "Ah ... jadi itu nama pemiliknya?" "Kamu tidak tahu nama pemiliknya?" Ixora mengedikkan bahunya acuh, "Tidak. Aku berurusan langsung dengan orang bagian HRD, bernama Zanita Solares." "Kamu seharusnya mencari tahu tentang siapa yang akan menjadi bosmu. Kamu cukup kuper dan cuek. Aku jadi khawatir, haruskah aku ikut denganmu?" "Tidak perlu aku bisa pergi sendiri." "Kamu yakin? Padahal aku sangat ingin bertemu dengan para koboi tampan," rajuk Josevina. Akibat ucapannya itu, mendapatkan desahan jengah dari tiga orang lainnya yang berada di meja makan itu dan kemudian topik bergulir ke topik yang lain. "Aku menyimpan mobilmu di rumah jangan khawatir. Musangku pasti sudah mengatakan apa yang sudah berhasil dari usahanya menguping?" "Papa, kamu tahu jika aku mendengar dan perlu dicatat aku tidak sengaja mendengar semuanya jadi bukan sengaja untuk menguping." "Papa sangat mengenalmu seperti layaknya bulu hidung Papa sendiri." "Eweuw ... apakah tidak ada perbandingan lain yang lebih baik selain bulu hidung ?!" protes Josevina yang kemudian melemparkan serbet ke arah sang papa. "Hahaha ... baiklah bagaimana jika bulu ketiak." "Astaga Papa!" Derai tawa menggema menanggapi wajah cemberut Josevina. "Paman benar. Maafkan aku Carita, yang memang berniat menjualmu. Untung saja para Santo mengirimkan pesan melalui Paman Jose untuk tidak menjualmu. Aku harus pergi, Sayang. Maaf sekali tidak bisa membawamu serta. Tapi aku akan kembali, itu pasti," kata Ixora tepat di depan mobil SUV produk Jeep berwarna merah tua yang ia beri nama Carita tersebut, seraya mengelus permukaan kap mobil sebelum kemudian kakinya terantuk sesuatu hingga dirinya hampir saja tersungkur bersamaan dengan erangan seseorang yang berasal dari bawah mobil. Beruntung Ixora biasa menguasai diri dengan menggapai tiang besi yang berada dekat dengan tubuhnya. Ixora berbalik badan dan melihat siapa yang membuat dirinya tersungkur. Dari bawah mobil muncullah seorang pria tampan dengan rambutnya berwarna pirang terang dengan kulit kuning madu dipadukan warna mata hazel-nya yang lembut dan tajam. "Maaf," kata Ixora dengan gugup dengan wajah yang merona karena sempat terpesona dengan ketampanan pria itu. 'Bagaimana mungkin ada makhluk se-seksi ini di sini? Rasanya kemarin tidak ada dia di showroom?' "Tidak apa-apa, saya juga tidak memperhitungkan jika akan ada orang yang ke garasi. Saya pikir Anda sudah pergi." "Em ... kenalkan saya Ixora Ebira," kata Ixora seraya mengulurkan tangan. Ia sengaja tidak menyebutkan nama belakangnya karena jujur tidak merasa percaya diri. Ixora tidak mau jika rekam jejaknya di luar sampai pada telinga papanya. Ia ingin berusaha sendiri. Pria berambut pirang itu mengangguk dengan senyum yang Ixora pikir pasti bisa melelehkan ice cream gelato buatannya. "Saya tahu siapa Anda, dan saya baru saja melepaskan alat pelacak yang terpasang telat di bawah sana." Pria tampan itu menunjukkan kotak persegi seperti detonator kecil berwarna hitam dari saku celananya. Ixora kembali terkejut dibuatnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka akan menemukan itu. Ternyata dugaan Josevina benar. "Siapa nama Anda?" tanya Ixora demi mengalihkan dari rasa terkejutnya sekaligus rasa kecewa yang timbul orang tuanya terutama papanya pasti tidak pernah percaya padanya sehingga sengaja menaruh pelacak demi bisa selalu mengontrolnya. "Maafkan saya yang tidak sopan. Saya Ryan Abeuk," ujar pria tampan itu seraya mengulurkan tangannya yang kekar. "Senang berkenalan denganmu. Kamu akan pergi kapan?" Lega, begitulah yang dirasakan oleh Ixora. Ryan Abeuk sesuai dengan namanya sudah bisa diduga jika pria ini pasti keponakan dari Eltina Tarilo yang memiliki nama gadis Eltina Abeuk. "Siang ini." "Naik apa?" "Naik bus." "Bagaimana jika bersamaku? Aku membawa mobil kemari." "Benarkah?" Ixora merasa senang setidaknya ia memiliki teman bicara di perjalanan. "Tentu jika kamu mau. Tapi mungkin akan memakan waktu seharian walau sejujurnya jarak ke Holy Spring dan jarak dari sini ke Guatemala hampir sama. Saya harus singgah di beberapa tempat dulu untuk keperluan ranch." Ixora mengangguk dengan mantab. "Tidak masalah asal tidak mengganggu." "Tentu tidak, jangan khawatir." "Ternyata kalian pacaran di sini!" goda Josevina yang baru saja tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN