Ada Pelacak

1034 Kata
"Kamu dari mana saja?" tanya Ixora setelah melirik pada reaksi Ryan yang tersenyum simpul, Ixora merona merasa tidak enak hati dengan ucapan Josevina. Mengabaikan pertanyaan dari Ixora, Josevina berkata,"Syukurlah kalian sudah berkenalan. Benar bukan dugaanku jika ada alat pelacak di mobilmu." "Kau temukan di mana?" tambah Josevina dan kali ini pertanyaan ditujukan pada Ryan. "Di bawah mobil." "Tuh ... kan, pasti papamu yang melakukannya." "Aku rasa bukan," balas Ryan. "Maksudmu apa?" tanya Josevina keheranan kepada sepupunya tersebut. "Aku yakin ini berasal dari Oxachip Corporation." "Benarkah?" tanya Ixora kini, hingga kerutan diantara matanya terlihat jelas. Tatapan tidak percaya ia layangkan pada alat pelacak yang berada di tangan Ryan. Ixora tidak se-kuper yang orang-orang tahu. Ia tahu milik siapa perusahaan tersebut. "Tak perlu khawatir," ujar Ryan seraya menepuk bahu Ixora dengan lembut, "yang penting sudah bisa aku non aktifkan. Mereka tidak akan bisa melacaknya lagi. Ketiganya lantas berjalan masuk kembali ke dalam rumah lalu bertemu dengan Eltina yang sedang membawakan tas milik Ixora ke lantai dasar. "Lebih baik kalian pergi sekarang." "Ada apa, Bi?" tanya Ixora yang merasakan ada sesuatu dari raut wajah Eltina yang tampak tegang. "Pamanmu baru saja telepon jika Jason dan anak buahnya menuju ke sini." "Apa?! Bagaimana mungkin. Lagi pula ada mobilku di sini?" "Jangan khawatir soal mobil. Aku bisa beralasan jika mobilmu sudah aku beli. Ingat kamu sudah menandatangani surat jual beli kemarin walau sesungguhnya hanya sebagai formalitas saja." Wajah panik Ixora segera berganti kelegaan. "Jadi bagaimana sekarang?" tanyanya dengan pikiran kosong, karena walaupun lega masih ada kekhawatiran jika sahabatnya itu akan bisa menemukan dirinya, sementara Ixora belum siap untuk memberikan alasan. "Sudahlah cepat pergi. Bukankah kamu dari kemarin sudah menggebu ingin meninggalkan tempat ini?" "Ayo," ajak Ryan yang meraih tas milik Ixora dan tas miliknya sendiri lalu mencium kedua pipi Eltina dan Josevina sebelum berlalu terlebih dahulu. Ixora masih terpaku di tempat dan setelah melihat punggung Ryan yang berlalu ia pun bertanya, "Bagaimana dengan koperku?" "Sudah ada di mobil Ryan. Ini bawalah untuk bekal kalian diperjalanan," kata Eltina seraya mengulurkan bekal. "Ryan tadi sudah sarapan terlebih dahulu walau sedikit waktu pamanmu meminta tolong mengecek adakah alat pelacak di mobilmu." Hal itu menegaskan kenapa Ixora tadi tidak melihat keberadaan pria tampan itu bersama sarapan dengan mereka. "Ya, Ryan menemukannya." Josevina yang membalas perkataan sang mama dan kemudian mengulurkan benda yang diberikan Ryan tadi kepadanya. "Mama akan simpan dan berikan pada Papamu nanti." "Cepat pergilah ...." Ixora berkata, "Terima kasih. Sungguh kalian baik sekali." Ixora berlalu dengan berlari kecil setelah berpelukan seperti teletabis dengan Eltina dan Josevina. Berat sungguh meninggalkan keluarga keduanya ini. "Siap?" tanya Ryan setelah Ixora memakai sabuk pengamannya. Gadis cantik berambut pirang itu pun mengangguk. Ryan hanya melirik sekilas. Sungguh beruntung, perjalan kali ini ditemani wanita muda dengan tubuh seperti Barbie, hanya saja terlihat sekali jika gadis dia sebelahnya ini menyukai alam bebas. Terbukti dari warna kulitnya yang hampir sepertinya yang sering b******u dengan sinar matahari dan bermandikan debu jalanan. Sementara itu, tiga puluh menit sebelumnya. Jason yang teringat dengan alat pelacak yang dipasang pada mobil Ixora segera memaki saat sinyalnya kemudian hilang. "Sial! Sudah kuduga jika gadis nakal itu bersembunyi di sana! Hah! Seharusnya semalam aku sudah ke sana." Jason kemudian menghubungi anak buahnya yang berada di showroom milik keluarga Tarilo. "Kalian masih di sana?" tanyanya. Salah satu anak buahnya yang duduk di bangku penumpang berkata, "Masih, kami baru saja masuk ke dalam showroom tapi mobil Nona Montegro tidak ada. Eh ... maksud saya, Nona Ixora." "Langsung saja kalian ke rumah mereka. Alat pelacak mendeteksi terakhir kali mobil itu ada di sana. Jika kalian menemukannya, sekalian tahan Ixora di sana. Tapi ingat, jangan sampai menimbulkan keributan atau membuat dia kabur. Aku akan menyusul." "Baik Tuan. * "Mana Jason? Apa dia di ruang gym?" tanya Mary begitu melihat salah satu pelayan menuruni tangga lantai 2–dari kamar Jason lebih tepatnya dengan membawa nampan kosong. Pelayan itu berhenti berjalan dan menunduk hormat. "Maaf Nyonya, Tuan Jason masih di kamarnya." Mata Mary menyipit menatap baki di tangan. "Kau bawa apa tadi?" Membalas ucapan dingin sang nyonya, pelayan itu kembali menunduk, "Maaf Nyonya, Tuan Jason meminta untuk sarapan di balkon kamarnya." "Apa dia terlihat sakit?" Pelayan wanita, cantik berambut pirang itu pun menggeleng. "Tidak Nyonya. Beliau hanya tidak ingin diganggu katanya." "Omong kosong anak itu. Alasannya saja supaya tidak berangkat kerja." Dada Mary kembang kempis masih diliputi kejengkelan karena ulah sang putra yang sejak semalam pun masih meributkan keberadaan sang sahabat alih-alih terpusat pada wanita cantik pilihannya. Sudah bisa ditebak, kalau pagi ini setelah pembicaraannya tadi pun. Jason akan tetap berusaha mencari Ixora. Menyebalkan! "Kau tak menemaniku sarapan, sudah semakin siang ini Mary, aku harus segera ke kantor," ujar Benicio yang sudah menunggu istrinya sejak tadi di ruang makan. "Aku akan menemanimu. Tapi Jason, anak itu bahkan merajuk tidak mau pergi kerja dengan mengurung diri di kamar." "Biar saja. Dia pasti sedih sahabat baiknya tidak datang disalah satu hari pentingnya." "Kau terlalu membela anak itu." "Lalu aku harus bagaimana, kau sendiri dengar apa yang dikatakan oleh Husto semalam. Dia saja tega membiarkan anaknya pergi." "Ixora memang gadis yang liar dan kasar. Dia memang cocok berada di perkebunan daripada bersanding dengan anakku. Baguslah dia di sana. Bahkan Leah saja tidak keberatan." "Itu karena Leah pilih kasih dan terlalu memanjakan Clara." "Jangan bilang begitu." Mata Mary membulat tak percaya dengan perkataan suaminya yang bahkan menyudutkan salah satu karyawan terbaiknya sendiri." Benicio mengedikkan bahunya, acuh. "Itulah kenyataannya, kalau memang mereka tidak memanjakan Clara. Sudah pasti gadis itu akan diminta untuk membantu di perusahaan mereka yang kolaps daripada bekerja bersamaku." "Itu tidak bisa terjadi. Kau sendiri menginginkan salah satu properti milik keluarga Montenegro dan itu hanya bisa dimiliki jika Jason menikah dengan Clara sementara perusahaannya bisa kau akuisisi, suamiku," ujar Mary menggebu-gebu dan meremas pergelangan tangan Benicio. "Kau sangat tahu, aku bisa mendapatkan properti dan perusahaan mereka tanpa adanya perjodohan ini, bukan?" Benicio menatap datar pada sang istri yang masih berseri-seri dan kini berbalik cemberut. "Dan membiarkan Jason semakin lengket dengan anak bodoh tidak punya masa depan itu." "Aku tidak tahu, bagaimana bisa kau membenci Ixora seperti itu. Aku rasa pertemananmu dengan Leah terlalu mempengaruhi kepribadianmu yang sedikit berbeda sekarang. Lebih baik kau berhenti membenci gadis malang itu sebelum banyak hati yang terluka." "Maksudmu Jason?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN