Memulai Hidup Baru

1146 Kata
“Hah … sampai ke sini juga mereka.” Jose Tarilo lantas kembali membetulkan gorden putih tipis menutup jendela kantornya kembali. Orang-orang suruhan dari Jason sudah sapai ke showroomnya. Padahal Jose berharap mereka akan pergi setelah tadi mengendap-endap di sekitar rumahnya. Jose segera merogoh ponsel di saku celana dan menerima panggilan dari Eltina. “Ya Sayang?” “Aku sudah menyuruh mereka pergi sekarang. Pelacak sudah ditemukan dan sudah di non aktifkan dari mobil.” “Apa sudah dilepas?” “Sudah dan ada padaku sekarang. Aku merasa orang-orang suruhan Jason tidak akan tinggal diam. Mereka tadi memencet bell tapi aku biarkan.” “Ya kau benar. Mereka ada di depan sekarang. Sudah dulu ya.” Saat yang bersamaan pintu ruang kerja Jose Tarilo diketuk dari arah luar. Pria itu segera mengantongi kembali ponselnya dan membukakan pintu. Salah satu karyawan wanitanya berdiri di ambang pintu bersama dengan tiga orang pria bertatoo dan berwajah muram. “Tuan, mereka menanyakan tentang Nona Montegro.” “Dia tidak ada di sini,” jawab Jose singkat. “Sinyal terakhir menunjukkan bahwa keberadaannya di kediaman Anda, Tuan Tarilo,” balas salah satu pria berbadan besar dengan alis kiri terbelah di tengahnya, jelas buatan bukan karena bekas luka. “Mari-mari silakan masuk.” Jose mempersilakan tiga tamu kekarnya untuk duduk di sofa. “Jadi kalian mencari mobil milik Ixora?” tanya Jose santai seolah menjamu kenalan lama dan duduk bersama mereka di sana. Sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh keberadaan mereka bertiga. “Iya,” jawab pria yang sama, sepertinya memang pria itu adalah juru bicara dari ketiganya. “Apa kalian tahu memasang pelacak di mobil orang tanpa persetujuan itu sangat dilarang? Jelas melanggar hukum.” “Itu bukan urusan kami, Tuan.” Jose mengangguk-angguk. “Ya memang bukan tanggung jawab kalian. Semua karena Jason Alvest, bukan? Kalian orang-orang suruhannya.” “Itu juga bukan urusan Anda, Tuan. Kami hanya ingin tahu, bagaimana bisa mobil Nona Ixora Montegro bisa berada di rumah Anda dan di mana Nona Ixora beroda?” Jose merentangkan kedua tangannya. “Seperti kalian lihat. Aku memiliki showroom mobil, tentu saja aku jual-beli mobil dan kenapa mobil milik Xora bisa berada di rumahku? Jelas karena aku suka.” “Bagaimana bisa Anda menemukan pelacak itu?” Jose terkekeh menatap mereka tak lebih dari bocah konyol. “Itu bukan urusanmu. Yang pasti Xora sudah menjualnya kepadaku dan dia pergi.” “Nona Ixora pergi ke mana?” Mereka masih tak bergeming. “Mana aku tahu. Apa kalian mau melihat dokumen jual-beli kalau tidak yakin dengan ucapanku.” “Boleh Tuan,” putus mereka setelah saling melempar pandang. Pria yang lebih pendek mendekat dan mengeluarkan ponsel untuk memotret dokumen jual-beli itu. “Maaf ya, Tuan. Bukannya saya lancang dan dokumen ini memang rahasia. Tapi kesejahteraan kami juga tergantung dari laporan untuk Tuan Alvest,” ujarnya sekaligus meminta izin. “Tidak masalah, Xora juga sudah menduga.” Satu jam kemudian, ketiga pria itu menemui Jason yang sudah menunggu mereka di sebuah bar pinggiran. Jason sendiri menghabiskan setengah hari ini untuk mencari Ixora di terminal bus dan beberapa perhentian menuju Guatemala. Meski semalam Husto sudah mengatakan bahwa sahabat tersayang pergi menggunakan kereta. Namun dengan koneksi yang Jason miliki nyatanya tidak ditemukan nama Ixora dalam daftar penumpang. Sekarang satu-satunya yang harus didapatkan adalah informasi dari ketiga orang itu. “Kenapa kalian meminta bertemu, padahal telepon saja bisa?” sergah Jason pada mereka yang kini duduk di depan dan kiri-kanannya. “Lebih enak jika ketemu, Tuan,” ujar si Alis Codet. “Apa yang kalian dapatkan?” tanya Jason tidak sabaran. “Nona Ixora benar-benar sudah menjual mobilnya kepada Tuan Tarilo.” Pria itu pun menunjukkan foto hasil dokumentasinya. “Lalu ke mana perginya, Ixora?” “Tuan Tarilo bilang beliau juga tidak tahu, Tuan. Jadi kami juga tidak bisa memaksa karena ada bukti valid tersebut.” “Ke mana perginya dia ya?” Jason jengkel sampai mengacak-acak rambut cepaknya. Meminta nomor telepon dari Clara juga tak berhasil. Meminta pada kedua calon mertuanya juga tidak mungkin. Setengah hari juga dirinya memilih untuk pergi disertai dengan omelan mamanya yang sangat tidak setuju dengan Jason yang memilih mencari Ixora daripada pergi bekerja dan bertemu Clara. Jason tak habis pikir dengan Ixora yang mendiamkan dirinya dan tanpa pamit menghilang begitu saja. Jason masih teringat dengan jelas bahwa keberadaan Clara yang berkenalan dengannya juga atas andil Ixora dan begitu ada kedekatan antara dirinya dan Clara lalu sahabatnya itu menjauh. Gerak-gerik Ixora sungguh mencurigakan seolah memang sudah diatur sedemikian rupa untuk menjauh. “Mungkin Nona Ixora memang sengaja pergi untuk memulai hidup baru, Tuan,” ujar Ruis pria bercodet itu dengan hati-hati. Mengingat pola kepergian Ixora. Pun dirinya sangat yakin jika Jose Tarilo sebetulnya tahu di mana Ixora berada. Tentu saja Jason sangat terusik, ia tidak bisa terima ditinggalkan begitu saja. “Cari tahu di mana dia. Kalian pergi ke Guatemala.” * Sebetulnya jarak tempuh dari Kota Meksiko ke Holy Spring, Texas hanya sekitar kurang lebih delapan belas jam seperti jarak dari Kota Meksiko ke Guatemala jika menggunakan mobil. Hanya saja mereka, Ixora dan Ryan memilih untuk singgah di beberapa tempat terlebih dulu seperti Rock Spring persinggahan terakhir mereka. Ixora yang sangat menyukai tanaman tentu sangat bahagia dengan singgah ke kebun Begonia dan mawar terbesar di kota itu sebelum akhirnya mereka menuju Holy Spring. Ixora baru tahu, jika Ryan menanam bunga mawar untuk komoditi pembuatan parfum dan kosmetik. Terlebih salah satu saudara perempuannya adalah ahli kosmetik yang menggunakan bahan dasar dari perkebunan milik mereka. Ada juga Aloe Vera yang dikembangkan untuk berbagai macam produk yang bisa digunakan dari ujung kepala sampai telapak kaki. "Kamu bisa tinggal dulu di ranch kami, jika mau?" usul Ryan begitu mereka melewati perbatasan negara. Ixora dengan cepat menggeleng. "Tidak usah. Aku sudah memesan tempat di sebuah hotel di kota. Nanti setelah dari La Eterno aku baru akan mencari apartemen atau flat," balas Ixora lalu cepat-cepat menambahkan, "tapi terima kasih atas tawarannya. Aku harus bisa lebih mandiri dan berani." Ixora merasa tidak enak hati dengan tawaran dari Ryan meski sangat tergiur. Namun ada ganjalan juga karena dirinya merupakan orang baru di kota ini dan belum tahu seluk beluk serta masih perlu beradaptasi. "Jika kamu mau. Ada sebuah rumah, seperti paviliun sebetulnya. Bisa disewa, pemiliknya salah satu saudara kami." “Em … akan aku pikirkan dulu. Aku masih baru di kota ini. Mungkin nanti jika sudah mendapatkan kepastian dari Tuan Horben.” “Tentu saja tidak masalah, tapi jika memang kau tertarik aku bisa memberikan nomor kontak saudaraku.” Ryan tahu, sejatinya bahwa Ixora tertarik. Lagipula tidak mungkin gadis cantik itu tinggal di hotel. Apalagi dengan ditemukan alat pelacak di mobil itu. Ryan sangat yakin bahwa siapapun yang memasangnya akan segera mencari Ixora. "Bagaimana dengan harganya?" tanya Ixora pada akhirnya seraya menerima kartu nama pemberian Ryan. Semua harus dipikirkan matang-matang, karena dirinya tidak tahu bagaimana hidupnya kedepannya di sini. Memulai hidup baru sendiri memang tidaklah mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN