Bab 8
Dugaan bahwa orang suruhan Jason akan muncul di showroom milik Jose Tarilo yang tak lain adalah ayah dari Josevina, sudah bisa diatasi oleh Eltina dan Jose sendiri. Itu membuktikan kepergian Ixora bersama dengan Ryan tidak terdeteksi oleh mereka. sampai pada akhirnya Jason bertemu ketiga orang suruhannya itu di sebuah café sederhana dekat dengan perbatasan. Pertemuan itu terjadi setelah Jason menghabiskan setengah hari untuk mencari Ixora ke stasiun kereta sesuai dengan informasi dari ayah sahabatnya itu yang tentu saja tak sepenuhnya ia percayai, bahkan Jason ragu dan memang terbukti karena informasi yang didapatkan telah membuktikan bahwa nama gadis cantik itu tidak ada dalam daftar penumpang menuju Guatemala. Begitu juga dengan terminal bus dan beberapa perhentian yang menuju Guatemala. Meski ia sudah mengantongi informasi, mobil gadis itu terdeteksi terakhir kali di rumah Jose Tarilo.
Tak ingin memancing keributan—untuk saat ini. Jason memutuskan memilih untuk menyuruh anak buahnya mencari Ixora ke Guatemala. Sementara dirinya akan memikirkan langkah selanjutnya. Jelas ia tak akan bisa tenang diacuhkan seperti ini, gadis itu berhutang banyak penjelasan kepadanya. Ixora tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya mengacuhkan panggilan dan pesannya. Bahkan setiap dirinya datang ke rumah gadis itu, tak sekalipun ia bertemu dengannya.
“Di mana dia sebenarnya?” gumam Jason menghela kejengkelan yang masih bercokol bahkan hingga mobilnya sudah terparkir di halaman rumah. Waktu sudah menjelang sore hari, sebentar lagi papanya, Benicio pasti akan sampai di rumah.
“Dari mana saja kamu?!” Hardik Mary begitu pintu mobil Jason tertutup.
Jason mengerutkan kening, tak menyadari jika sedari tadi sang mama ada di sana. Ia pun melihat ke sekeliling dan tak mendapati siapapun bersama dengan mamanya di halaman samping rumah yang menuju car port ini.
“Mama sedang apa di sini?”
“Jangan mengalihkan pertanyaan, dari mana saja kamu?” Tanya Mary ketus, raut penuh amarah yang Jason temui seperti tadi pagi masih tercetak jelas.
Mary tetap menanyakan hal itu walau sudah tahu jika Jason pasti mencari Ixora. Inilah yang sangat tidak disukai oleh Mary, putranya sangat tergantung dengan gadis picik itu sementara jelas sang kakak lebih menarik dan sedap dipandang. Paling tidak jika dipamerkan di depan teman sosialitanya penampilan Clara jelas terlihat berkelas daripada Ixora yang sering berdandan ala kadarnya, seperti koboi kelas rendah. Mary juga sangat yakin bahwa gadis itu pasti tidak pernah menggunakan gaun mahal dan berkelas.
“Mama tentu tahu aku dari mana.”
“Mama sudah bilang, tolong hentikan. Jaga perasaan tunanganmu, Clara sapai berkali-kali menanyakan dirimu.”
“Kemarin hanyalah pertemuan sederhana, Ma. Aku belum benar-benar bertunangan dengan Clara. Lagi pula kenapa dia menghubungi Mama daripada bertanya kepadaku langsung? Itu jelas membuktikan bahwa dia hanya ingin mengusik, Mama.”
“Mengusik bagaimana? Jangan mengada-ada kamu, wajar dia bertanya pada mama. Berhenti mencari Ixora, Jason. Dia bukan anak kecil dan perhatikan Clara. Dia lebih cocok mendampingimu.”
Dada Jason semakin penuh rasanya, berdenyut sakit tetapi saat ini jika terus membantah sang mama. Keadaan tidak akan menjadi baik. Jason akan berusaha mengulur waktu jangan sampai pesta pertunangan diadakan.
*
Ryan mengajak Ixora untuk beristirahat sejenak mengisi perut di sebuah restoran setelah sebelumnya mereka membersihkan diri di rest area tak jauh dari pom bensin.
Ixora merasa nyaman bersama dengan Ryan. Terbukti sejak tadi pria itu selalu ramah dan tak berusaha mendekatkan diri dengannya. Semua mengalir apa adanya.
Bersama dengan Ryan, Ixora tak perlu meminta ini dan itu. Pria itu seolah tahu kapan dirinya ingin beristirahat karena punggungnya sudah terasa panas duduk dalam mobil hampir 4 jam perjalanan dari San Antonio tadi.
Begitu juga saat kini ia sangat membutuhkan air segar guna membersihkan diri dan perut yang keroncongan. Sekaligus melanjutkan pembicaraan mereka tadi.
Sepanjang jalan Ixora sudah memutuskan akan lebih baik jika dirinya menyewa rumah atau pondok daripada menghabiskan hari di hotel. Mengingat jelas tidak dalam waktu dekat ia kembali ke Mexico. Ixora pun tak yakin jika orangtuanya akan mencari karena sampai detik ini pun, jangankan sang papa—mamanya saja seolah lupa dengan keberadaannya. Mungkin mereka sedang merayakan kedekatan Clara dan Jason yang akan segera bertunangan dan menikah.
“Oh ya, Ryan. Benar ‘kan, jika harga rumah yang disewakan itu tidak mahal. Aku tidak begitu tahu harga pasaran saat ini.”
"Kamu tidak perlu khawatir, harganya sangat terjangkau, dekat dengan danau. Hanya saja jika malam akan sangat hening. Karena memang dekat dengan alam, suara jangkrik dan mungkin lolongan anjing hutan akan menemani malammu, kamu tidak takut bukan?” balas Ryan begitu mereka selesai memesan makan malam pada pelayan.
"Tidak masalah, aku senang dengan kesunyian dan aku bukan penakut.”
“Ya, jelas sekali itu... aku bisa melihatnya,” balas Ryan seraya terkekeh ramah.
“Maksudnya terlihat apa?” tanya Ixora yang sejujurnya pun tidak yakin dengan dirinya seperti yang telah ia katakan sendiri. Pemberani—Ixora ragu, buktinya ia memilih kabur daripada menghadapi kenyataan Jason bertunangan dengan kakaknya.
“Bahwa kamu seorang pemberani. Kita adalah dua orang asing yang baru saling kenal tapi kamu sudah begitu percaya untuk melakukan perjalanan nyaris setengah hari denganku.”
Ixora mengedikkan bahunya, menatap kedua mata pria berambut pirang tampan duduk di seberangnya. “Aku percaya kamu adalah orang baik karena kamu sepupu dari sahabatku.”
"Baiklah kalau begitu setelah kamu bertemu dengan Tuan Horben hubungi aku,” balas Ryan bersamaan dengan pesanan mereka datang.
Ixora benar. Hotel tempatnya menginap tidak jauh dari kantor administrasi milik La Eterno Ranch. Ryan menatap gadis itu lekat-lekat. Ia tidak yakin apakah gadis di sebelahnya ini tahu dengan siapa ia berurusan. Menghindari anaknya, eh ... berurusan dengan ayahnya tapi itu jelas bukan urusan Ryan walau sebetulnya ia pun tertarik dengan kepribadian Ixora.
"Terima kasih Ryan. Kamu sungguh baik. Istirahatlah dulu, mungkin besok aku akan menghubungimu."
"Tentu kamu bisa ke bar sekaligus restoran di ujung blok sana. Itu milik Bibi Jasmin kamu bilang saja temanku dan mereka akan memberikan harga spesial."
"Terima kasih sekali lagi, kamu tahu sekali aku sedang berhemat."
"Jika tidak, kamu pasti tidak akan meninggalkan mobilmu kepada Paman Jose."
"Sebetulnya masalah uang dan menghapus jejak. Aku benar-benar lelah berurusan dengan kakakku. Sungguh aku sangat beruntung bertemu denganmu."
"Sama-sama. Aku akan menghubungi pemilik paviliun dulu agar bisa mengatur jadwal pertemuan."
Ryan tidak hanya menurunkan dirinya di jalan depan hotel. Pria itu bahkan memastikan Ixora mendapatkan kamar yang sudah dipesannya serta mengantarnya sampai ke lantai di mana kamar gadis itu berada.
Ixora tersentuh dengan semua perhatian dari Ryan. Pria itu bahkan membantu membawakan semua barang Ixora ke dalam kamarnya dan memastikan bahwa gadis itu nyaman sebelum ditinggalkan.
“Sekali lagi terima kasih, Ryan. Kamu seperti kakak laki-laki yang tidak pernah aku miliki,” kekeh Ixora, “kamu tidak harus membantuku sampai sejauh ini. Apalagi dari Mexico sampai di sini kamu sama sekali tidak mau aku gantikan mengemudi.”
“Jika hal ini terjadi pada orang lain. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Santai saja,” balas Ryan gemas dan sangat ingin mengacak rambut Ixora seperti adik kecil karena menganggapnya seperti kakak gadis itu. “Aku pergi dulu, jangan lupa kunci pintumu dan jangan bukakan pada siapapun yang tidak kamu kenal.”
“Baik,” balas Ixora seraya mengangguk takzim.
Siang tadi sangat terik hingga ia membersihkan diri sebelum makan dan ternyata perjalanan itu memang menguras energinya, padahal jelas seperti yang ia bilang. Dirinya hanya diam di dalam mobil dan membiarkan Ryan membawa mereka ke tempat baru ini.
Ixora merebahkan tubuhnya di ranjang dan kemudian meraih ponselnya. Ada beberapa surel dari La Eterno. Mereka memintanya datang esok hari. Itu tandanya hari ini ia tidak memiliki kegiatan lain.
Setelah istirahat dan tidur selama tiga jam. Ia pun membersihkan diri lagi dan memutuskan untuk jalan-jalan di Holy Spring sekaligus membeli beberapa cemilan.