Selamat Datang di Holy Spring

1413 Kata
Tidur selama tiga jam seperti orang setengah pingsan membuat suasana hati Ixora sedikit membaik. Lalu menyegarkan diri dengan mencuci muka serta memoles wajah hanya dengan lipstick dan sedikit pelembab. Ia segera keluar dari hotel, menikmati suasana malam kota kecil yang masih sangat sibuk. Banyak orang-orang duduk santai menikmati senja yang berganti malam dan penuh dengan lampu-lampu indah menerangi sampai taman kota yang masih ramai para muda-mudi menikmati suasana hangat. Ixora menengadah menatap langit yang masih dihiasi semburat jingga, indah dan menawan sekaligus hening. Ixora senang dengan suasana yang tenang seperti ini. Dikelilingi orang-orang baru yang tidak dikenalnya. Tak akan ada orang yang membandingkan dirinya dengan sang kakak, seksi dan jelita. Lebih terlihat dewasa daripada dirinya yang kecil mungil. Ixora menyeberang tepat di sudut persimpangan mendekati sebuah food truck yang menjual hot dog. Entah mengapa, kini perutnya kembali keroncongan, padahal selama ini ia selalu makan tepat waktu dan tak pernah mengemil berat saat malam menjelang. “Sudah saatnya menghentikan kegiatan diet itu,” gumamnya pada diri sendiri setelah melirik papa pantulan dirinya di etalase toko gaun pernikahan. Ixora tentu saja ingin terlihat lebih berisi dan bahagia. Ya, bahagia. Saat ini dengan kesendirian ia baru menyadari jika selama ini sudah terlalu menahan diri, seolah tak bisa menjadi diri sendiri dan lebih takut mengambil keputusan yang akan menyulut emosi kedua orangtuanya. “Anda baru di sini?” tanya pemuda berpakaian serba hitam yang berdiri di depan food truck. Setelah diperhatikan dengan sesama ternyata, food truck tersebut tidak menjual hot dog saja tetapi juga semacam sandwich dengan irisan daging steak. Harum bakaran daging membuat cacing di dalam perut menari riang. “Iya,” jawab Ixora dengan senyum sekilas. “Apakah Anda bekerja atau hanya berlibur?” tanya pemuda itu dengan ketertarikan yang tak ia tutupi. Pemuda itu menduga jika wanita cantik di depannya saat ini seumuran dengannya dan penasaran kenapa gadis ini berjalan sendirian di malam hangat sementara bukan musim liburan. Wajah lugu dan cantik dengan bola mata sehangat madu sama dengan warna rambutnya yang bersinar seperti emas saat tertimpa lampu jalanan ini akan menjadi sasaran empuk para p****************g—yang tidak sedikit tentu saja. “Saya bekerja,” jawab Ixora yang merasa tidak terganggu sama sekali dengan kaingintahuan pemuda lumayan tampan bermata hazel ini. “Wow … kerja di mana?” “La Eterno Ranch,” jawab Ixora dengan keyakinan penuh dan sedikit kebanggakan karena sejak keluar dari hotel tadi dirinya mendapati banyak spanduk tentang tempat tersebut. “Hebat.” “Ah … biasa saja.” Pemuda itu menggeleng. “Tidak biasa, Nona. Tidak semua orang bisa bekerja di sana. Bahkan hanya pekerja terbaik yang bisa menjadi buruh di sana meski penduduk asli kota ini.” “Oh ya, kenapa begitu?” Ixora mulai tertarik mengetahui tempat kerjanya. Mengingat dirinya juga diterima bekerja padahal dirinya sangat yakin di Amerika tidak akan kekurangan ahli pertanian seperti dirinya. Pasti pemilihan sangat ketat mengingat ada beberapa test yang harus ia selesaikan sebelumnya. “Ngomong-ngomong namaku, Cole Helfman. Siapa namamu? Aku berharap bisa menjadi temanmu yang pertama,” ujar Pemuda itu yang kini duduk di hadapan Ixora. Ixora menggigit sandwich lezat itu sebelum menjawab, “Sayang sekali kamu bukan teman pertamaku. Sudah ada yang berteman denganku orang dari sini. Namaku Ixora Ebira.” “Nama yang tidak biasa untuk Gadis Hispanik sepertimu. Wah … aku sudah keduluan, kalau boleh tahu siapa nama teman pertamamu?” Ixora mengangguk. “Terima kasih. Nama itu diberikan oleh kakekku yang sangat menyukai tanaman dari benua Asia. Nama teman pertamaku, Ryan Abeuk kalau-kalau kamu kenal.” “Paman Ryan, ternyata teman pertamamu. Jadi namamu berasal dari nama tanaman?” “Nama bunga lebih tepatnya dan kamu masih bersaudara dengan Ryan?” Cole mengedikkan bahu. “Ya begitulah. Ayahku dan dia masih bersaudara sepupu. Kalau dipikir-pikir setengah penduduk Holy Spring ini memiliki hubungan kekerabatan.” Ixora terkekeh geli. Ia merasa senang karena benaknya merasa tenang dan tidak was-was mengobrol banyak hal dengan Cole. “Tapi kamu terlihat masih sangat muda untuk bekerja di La Eterno?” “Aku sudah 23 tahun. Aku rasa memang terlalu muda untuk bekerja di kantornya ya?” ujar Ixora yang tadi sempat bertemu dan melihat beberapa karyawan yang keluar dari gedung kantor La Eterno. “Sial. Ternyata kamu lebih tua tiga tahun dariku. Aku pikir kita seumuran. Oh ya, jika kamu ingin menghabiskan malam dengan indah karena bosan tinggal di hotel. Ya ‘kan, kamu tinggal di hotel tebakanku? Kamu bisa pergi ke Bar milik Bibi Jasmin,” terang Cole seraya menunjuk sebuah bar yang terlihat ramai dan terdengar alunan musik riang dari sana. Ixora tidak merasa tersinggung dan kini derai tawanya lebih lebar dari sebelumnya seraya mengangguk-angguk tapi hanya sebentar sebelum ia kembali fokus dengan makanannya yang sudah mulai dingin. Benaknya menunjukkan kenyataan bahwa tawa lebar itu sudah sangat lama ia lupakan. Tepatnya ia lupa kapan bisa tertawa tanpa beban seperti ini lagi. “Ya sudah nikmati makananmu sebelum dingin, aku tinggal dulu. Selamat datang di Holy Spring.” Cole lalu meletakkan sebuah kartu nama. Ixora mengangguk dan menatap Cole yang kembali sibuk mendapatkan pelanggan. Ixora pun tak menyangka jika dalam satu hari ia sudah mendapatkan dua teman baru yang ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan. Ixora tidak sempat membaca kartu nama itu dan memilih langsung memasukkan pada saku jaketnya. Setelah menghabiskan makanannya. Ixora memutuskan untuk ke sebuah toko grosir dan membeli cemilan dan berbagai keperluan yang tak sempat ia kemasi kemarin. Ixora memutuskan untuk menikmati sisa hari ini sebelum besok akan berkutat dengan padatnya jadwal baru yang menanti. Setidaknya ia ingin bisa benar-benar move on kali ini. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan ia memutuskan untuk singgah di Cow Bar & Cafe milik Bibi Jasmin, setelah ia menaruh barang belanjaan kembali ke hotel. Tempat tersebut sangat luas dan banyak sekali koboi. Ia pun menjadi pusat perhatian karena hanya dirinya yang memakai gaun berwarna kuning pucat dan sandal. Rasanya seperti masuk ke sarang penyamun dengan hormon testosteron menguar di udara. Bau steak yang sangat harum dan jagung rebus langsung membelai indra penciumannya. "Hai gadis cantik. Selamat datang di Cow Bar dan Holy Spring, silahkan duduk di mana pun kau mau," sapa gadis muda dengan kemeja biru muda bertuliskan nama Joy. "Hai, terima kasih." Ixora mengikuti ke mana gadis itu membawanya dan kemudian duduk di kursi paling ujung dengan meja minimalis dengan dua kursi yang saling berhadapan. Ixora senang karena tempatnya duduk bersebelahan dengan kolam bunga lotus dan terdengar suara kodok serta kecipak air. Ia tidak tahu jenis ikan apa yang berada di sana karena penerangan yang minim dan hari sudah gelap. Dalam hati ia akan mencari tahu esok. "Kau baru di kota ini bukan?" "Yah, bagaimana kamu tahu?" "Aku sangat hapal dengan seluruh penghuni kota dan tahu mana pendatang dan penduduk asli. Makan malam yang terlambat aku tebak," ucap Joy dengan bangga. Seketika Ixora merasa senang karena disambut dengan baik. Sekali lagi ia merasa beruntung bertemu dengan orang baik. “Tidak juga. Aku tadi sempat makan sandwich dengan steak lezat.” "Di food truck milik Cole, kutebak. Benar bukan? Ngomong-ngomong kau bekerja di mana?" Ixora kembali mengangguk. "Oh ... rencana aku bekerja di La Eterno." "Wow, di bidang apa? Karena setahuku mereka banyak punya bidang seperti peternakan, perkebunan dan furniture." "Aku di perkebunan. Keahlianku memang bercocok tanam." "Yah, mereka memiliki supermarket sendiri untuk sayuran dan buah organik. Kau tahu tidak?" "Tidak. Di mana itu?" "Comida Fresca mart itu milik mereka. Itu supermarket dengan logo tomat dan sawi." "Ah iya, aku tadi sempat melewatinya." "Mereka juga memiliki pabrik untuk produksi makanan ringan dari buah apel." "Wow ... terima kasih atas informasinya. Sangat berguna sekali untukku. Setidaknya aku memiliki lebih banyak gambaran tentang tempatku nanti bekerja. Setidaknya hal ini tidak aku temukan di internet." "Yah … mungkin karena masih baru. Kebetulan juga mereka belum meresmikan pembukaan. Masih tahap soft opening. Jadi kamu mau pesan apa? Kami juga punya masakan Meksiko jika kau mau." "Baiklah aku mau coba Quesabirria tacos dan puding. Minumnya aku mau limau saja." "Pilihan tepat. Pilihannya pedas sekali atau sedang?" "Sedang saja. Aku baru sampai, tidak ingin lambungku terkejut nantinya." "Hahaha ... ya, aku mengerti. Mohon tunggu sebentar dan hati-hati aku rasa kau akan menjadi perbincangan para pria di sini. Kau tahu, dirimu sangat cantik seperti Barbie." Ixora terkikik geli. "Para koboi tidak tahu jika Barbie yang ini lebih senang berurusan dengan cacing tanah daripada pemilik tanah." "Semoga hatimu kuat melawan pesona mereka," kata Joy seraya menepuk bahu Ixora dengan penuh simpati. Ixora hanya mengulum senyum dan mengangguk pada beberapa pasang mata pria yang masih terang-terangan menatapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN