“Aku sudah merekrut beberapa ahli perkebunan, dua orang tepatnya. Sementara yang satu merupakan cucu dari pemilik perkebunan pisang di Meksiko sana.” Horben menoleh ke temannya saat tak mendapatkan tanggapan.
"Hai … kau dengar apa yang aku katakan, Dony?!" tegur Horben yang duduk berhadapan dengan Dony Motoya di sudut meja bar, Cow Bar & Café.
Sementara Dony tampak melamun menatap sesuatu. Horben lantas mengikuti arah pandangan pria yang seumuran dengannya itu, 45 tahun.
Setelah tahu ke mana arah tatapan sahabatnya itu, ia pun berdecak kesal. "Ingat umur, Bung! Gadis itu lebih cocok menjadi anakmu."
"Mungkin bagimu. Toh, kau juga punya anak seumuran dia sedangkan aku masih sendiri. Tidak masalah aku jadi sugar daddynya." Dony diusia yang menginjak 55 tahun masih merasa sangat kuat dan enerjik.
Horben menatap Ixora lekat-lekat dan kemudian berkata, "Aku rasa dia jenis gadis yang berbeda dari seleramu selama ini." Horben sambil mengira-ngira, seperti pernah melihat atau kenal dengan gadis bergaun kuning itu yang tampak mencolok berbaur dengan aura café yang sangat pekat dengan kemaskulinitas.
"Selera orang bisa berubah dan tidak ada salahnya mencoba." Dony kini membalik tubuh dengan punggung bersandar pada tepi meja bar dan mengarahkan pandangan ke arah Ixora yang sedang menikmati makanannya tanpa terganggu dengan tatapan lapar para pemilik hormon testoteron di sekitarnya.
“Aku akan berkenalan dengannya.” Dony sangat tertarik dengan gadis polos pendatang baru atau mungkin turis di kota ini.
Horben bangkit dan menghalangi langkah Dony yang sudah lebih dulu akan menghampiri meja Ixora. Horben menggeleng dan mendorong d**a Dony untuk kembali duduk di tempatnya.
"Dia bukan untukmu." Horben menggeleng seraya mencengkram bahu Dony setelah menyadari siapa gadis berparas cantik dan mungil itu.
"Dari mana kau tahu. Dia gadis baru di kota kita?"
Horben menatap Dony dengan raut wajah serius. "Gadis seperti dia belum tentu akan dengan mudah jatuh ke pelukan laki-laki asing."
Dony menatap Horben keheranan walau pada akhirnya ia kembali duduk di tempatnya semula. "Ada apa denganmu? Apa kau juga tertarik dengan gadis itu?"
"Seperti yang kau bilang tadi. Bahwa aku memiliki anak seusia dengannya. Anggap saja aku tahu siapa dia." Horben Alvest, pria tampan berambut merah dengan sedikit warna perak keputihan, masih menyorot serius.
“Aku tidak suka jika kau penuh teka-teki,” gerutu Dony yang kemudian berkata, "Kalau begitu kenalkan kami, jika memang kau mengenalnya."
Horben menatap tajam sahabatnya itu. "Dony ... jaga sikapmu dan berlakulah sesuai dengan umurmu. Kau tampak seperti predator kelaparan, apa Trixy sudah membuatmu bosan dengan d**a besarnya?"
Dony menghela napas panjang dan akhirnya mengalah ia tahu tatapan tajam dan protektif Horben. Itu tandanya pria itu sudah tahu tujuan gadis itu berada di sini. Apalagi sampai menyebut teman kencan tetap Dony.
Sementara itu tidak hanya Dony dan Horben yang memperhatikan Ixora. Joy Reint juga memperhatikan Ixora sejak menyapa gadis itu sampai selesai melayani. Joy memang baru bertemu secara tatap muka dengan Ixora hari ini, tetapi ia sudah banyak mendengar tentang Ixora sejak dua tahun yang lalu.
“Sangat menarik. Apalagi gadis ini datang sendiri,” gumamnya.
Ixora merasa perutnya sangat penuh dan memutuskan menghabiskan waktu lebih lama di sana seraya menikmati pertunjukan dansa koboi dan pertunjukan musik.
Andai ada Kakek Jasiel di sini, aku bisa berdansa malam ini.
Ixora sangat mencintai kakek dan neneknya mungkin melebihi orang tuanya yang jelas sampai saat ini saja tidak menghubunginya, bahkan mengirim pesan juga tidak seperti yang ia pikirkan sejak tadi. Beberapa kali Ixora melirik surelnya dan sama sekali tidak mendapatkan pesan baru di sana.
*
“Ma, aku tidak bisa tidur,” keluh Clara yang kini berbalut kimono satin berenda warna pink soft berbaur dengan Husto serta Leah di ruang Tengah.
“Ada apa, Sayang?” tanya Leah yang memberikan ruang di antara dirinya dan suami.
“Jujur. Aku jengkel dengan Jason,” kata Clara yang kemudian menggigit bibir. “Pekerjaan di kantor juga semakin berat apalagi sepertinya ada beberapa karyawan yang mulai mengajakku bersaing. Aku tidak suka bersaing dengan orang yang tidak aku kenal,” tukasnya manja dengan bibir menyembik.
“Ada apa dengan Jason?” tanya Husto.
“Dia seharian ini tidak terlihat di kantor dan memilih mencari Xora.”
“Dari mana kamu tahu?” tanya Leah.
“Sejak kejadian semalam dan aku tadi siang singgah untuk makan dengan Bibi Mary, dia tidak ada di rumah. Bibi Mary bilang dia pergi mencari Xora.”
“Apa Jason tidak percaya dengan alasan yang papa katakan?” tanya Husto seraya menegakkan tubuh. Ia mulai gusar jika sampai baik Jason dan Benicio menaruh curiga kepadanya.
“Aku merasa jengah dengan Jason, masa dia mengatakan sesuatu tentang alat pelacak untuk Xora. Seharusnya Jason sudah tidak peduli dengan Xora apalagi selama ini pesan ke nomor Xora selalu aku hapus dan Xora sudah aku suruh mengganti nomor baru.”
“Apa maksudnya dengan alat pelacak?” tanya Leah dengan raut wajah resah.
“Tentu saja Jason bisa. Bukankah mereka punya perusahaan alat pelacak. Chip-chip apa gitu?” timpal Husto yang juga ikut gusar.
Dada Clara kini bertalu menyadari hal itu. “Apa jangan-jangan ponsel Xora diberi alat pelacak?”
“Papa benar-benar tidak habis pikir jika itu sampai terjadi. Bagaimana dengan nasib kita?”
“Aku rasa itu tidak akan terjadi,” sahut Leah. Ia menatakan itu semua sejujurnya untuk menghibur dirinya sendiri yang merasakan kegusaran yang sama. Tentu saja mereka akan merasa malu jika sampai keluarga Rodrigues menyadari jika Husto Montegro memanfaatkan jalinan hubungan pernikahan Clara dan Jason nantinya.
“Apa maksudmu tidak akan terjadi?” tanya Husto.
“Iya, apa maksud Mama. Tentu sangat berbahaya kalau sampai Ixora tahu,” timpal Clara.
“Kalian ini.” Leah menghela napas jengkel. “Kalau memang Jason memasang alat pelacak pada Xora apa mungkin Jason harus mencari seharian?”
“Ya, benar. Mama benar.” Clara menyadari hal itu dan kini tak lagi sepanik tadi.
*
“Kau tidak akan menyangka siapa yang aku temui di tempat kerja tadi,” ujar Joy pada wanita berambut cokelat di depannya sedang memakai cat kuku.
“Memangnya siapa? Apa kau mendapatkan teman kencan terbaru?” ujar wanita cantik itu.
Joy menghela napas panjang. “Andai semudah itu.”
“Lalu siapa?”
“Rivalmu.”
“Rivalku yang mna? Kau tahu aku banyak memiliki musuh bahkan mereka sangat berusahan bersaing denganku di tempat kerja. Kau tahu sendiri targetku mendekati Tuan Horben. Ah … pria tampan itu.”
“Dia ada juga tadi datang.”
“Kenapa kau tidak bilang!” pekik wanita yang memiliki wajah mirip dengan Joy Reint.
“Dia bersama dengan Dony Montoya, apa kau tidak malu jika sampai Tuan Alvest tahu kau pernah tidur dengan sahabatnya?”
“Aku tidak malu, buat apa? Hampir semua wanita menarik di kota ini pernah berkencan dengan Dony Montoya.”
“Aku tidak,” kata Joy cepat.
“Karena sudah aku lebih dulu bersamanya. Jadi, katakan siapa rival baruku?”
“Seseorang bernama Ixora, nama yang tidak biasa bukan? Aku rasa tidak banyak orang memiliki nama itu. Artinya saja aku tidak tahu. Tapi aku sedikit tidak yakin jika itu orang yang sama. Nama belakangnya berbeda dengan orang yang pernah kau ceritakan kepadaku.”
“Kau memang bodoh, makanya hanya bisa terdapar menjadi pramusaji di bar milik Bibi Jasmin alih-alih bekerja kantoran sepertiku. Ixora di sini? Masa sih? Setahuku dia ada di Guatemala. Ya, dia di sana setelah wisuda kami dulu.”
Joy mengedikkan bahu acuh seraya menanggalkan pakaiannya. “Entahlah. Aku mau mandi dulu. Hari ini sangat ramai.” Joy melangkah menuju kamar mandi dan berhenti di ambang pintu seraya menatap pada adik perempuannya. “Ngomong-ngomong, kau akan bertemu dengannya besok di kantor.”
“Dia bekerja di tempat yang sama denganku? Bagian apa?”
Tentu saja pertanyaan itu tak terjawab sebab Joy sudah menghilang ke dalam kamar mandi.