Ixora bangun bahkan saat matahari masih mengintip malu di ufuk timur. Ia pun membuka jendela hotel itu lebar-lebar dan kemudian berlari mencari jubah tidur saat tersadar ia hanya memakai pakaian dalam.
“Sial! Semoga orang yang berlalu lalang di jalan tidak sempat mendongak dan melihat tubuhku,” gerutunya pada diri sendiri.
Yah, bagaimana tidak. Jika dari lantai tiga hotel ini langsung berhadapan dengan jalanan yang seolah tidak pernah tidur. Betul, Holy Spring adalah kota kecil tapi seluruh penduduknya sangat sibuk. Mobil patroli para penegak hukum sering kali melintas hampir satu jam sekali dan sering kali para pengacau mabuk dan biang onar yang menjadi penghuni tetap kursi belakang mobil mereka.
Ryan tidak bisa datang kemarin sore dan dirinya hanya mengirimkan foto beberapa paviliun dan kabin.
Sementara Ixora berjanji jika urusannya telah beres di kantor seperti yang sudah ia katakan sebelumnya. Ixora akan segera menghubungi Ryan untuk meninjau beberapa pilihan.
Apakah Ixora menyesal? Tidak, rasanya pun percuma jika tetap tinggal. Toh, di rumah itu dirinya bagaikan orang asing. Orang tuanya saja memperlakukannya tak lebih seperti anak pelayan. Sekarang Ixora memilih menutup telinganya dengan pemberitaan tentang keluarganya. Ada Clara sang penyelamat keluarga jika jadi menikah dengan Jason sedangkan dirinya seperti yang sudah-sudah harus mengalah.
“Penyesalan terbesarku adalah mencintaimu,” gumamnya tanpa sadar sampai suara seorang pria yang tidak ia kenal menyapa dari belakang saat ia berjalan kaki menuju kantor yang digadang sebagai jembatan menuju masa depannya.
“Pria itu pasti sangat rugi jika tidak sempat berkenalan denganmu,” ujar pria tampan, berambut pirang dengan mata biru terang.
Sedikit ada kemiripan dengan Ryan tapi berbeda. Pria di depan Ixora saat ini lebih kekar dan seperti pria-pria koboi yang terdapat pada sampul majalah dewasa. Bukan milik Ixora sebetulnya, ia hanya meminjam dari Josevina.
“Dan nama Anda siapa? Maaf jika gumaman saya sangat keras terdengar,” kata Ixora yang sama sekali tidak merasa tersinggung dengan aksi ikut campur pria asing tampan rupawan itu.
“Perkenalkan saya, Tom Dario dan Anda?”
“Saya, Ixora Ebira.” Ixora sengaja meninggalkan nama belakang.
Ia ingin dikenal sebagai diri sendiri bukan karena reputasi orang tuanya. Entahlah ia belum memutuskan karena malu orang tuanya diambang kebangkrutan atau akibat pilih kasih dari mereka. Namun untuk saat ini Ixora memilih untuk meninggalkan sejenak.
“Nama yang unik? Saya tidak pernah tahu ada nama Ebira sebelumnya.”
Karena itu nama tengahku.
Jelas hal itu hanya mampu diucapkan oleh Ixora dalam hatinya saja.
“Jadi Anda baru di kota ini?”
“Iya. Saya mau ke kantor La Eterno.”
“Ah ... ternyata kamu ahli botani terbaru mereka?”
“Anda tahu?” Ixora bertanya balik, karena keheranan.
Siapa lagi kira-kira yang tahu dirinya akan bekerja di La Eterno, apakah seluruh penduduk kota?
“Anggap saja saya sempat bercakap-cakap dengan pemiliknya. Kita berpisah di sini ya,” ujar Tom begitu sampai di depan sebuah toko buku dan barang antik.
“Ini milik Anda?” tanya Ixora yang takjub dengan barang-barang pajangan yang terlihat dari luar.
“Sebagian. Saya bekerjasama dengan Bibi saya. Jika berkenan dan memiliki waktu silakan singgah.”
“Tentu, saya sangat suka membaca.”
“Bagus, kalau begitu. Senang berkenalan denganmu, Ixora.”
Setelah saling berjabat tangan. Ixora melanjutkan perjalanan menuju kantor tujuannya.
Ternyata tak perlu menunggu lama untuk interview karena nyatanya begitu sampai dan berbicara dengan resepsionis ia tak perlu melakukan interview. Ia diperbolehkan langsung menuju ranch esok hari karena saat ini Tuan Alvest sedang di Houston.
Kejutan lagi untuk Ixora karena bos barunya memiliki nama belakang yang sama dengan pria yang sedang ia hindari. Ixora sempat mendengar jika ayah kandung Jason tinggal di Amerika tapi negara ini bukannya sangat luas. Tidak mungkin mereka tinggal di satu kota yang sama bukan? Kemungkinannya sangat kecil, sudah pasti nama belakang ini pun banyak yang memakainya.
“Jangan lupa kembalilah besok, pakailah kaos atau kemeja dan celana jeans. Jika kamu punya sepatu koboi lebih baik. Kamu pasti sangat seksi,” ujar gadis cerita di depannya yang sudah memperkenalkan diri bernama Starly.
“Terima kasih sarannya, Starly. Saya akan kembali besok.”
“Oh iya, tunggu sebentar aku baru ingat sesuatu,” gadis itu lalu berlari kecil menuju belakang mejanya dan kembali kepada Ixora seraya menyerahkan kunci mobil.
“Mobil pikup di depan sana itu menjadi tanggung jawabmu sekarang. Nyonya Solares tadi yang menyuruh.” Wajah Starly terlihat masam penuh rasa sungkan sebelum menambahkan, “maaf ya, jika terdengar tidak profesional. Nyonya Solares harus menemani Tuan Alvest.
“Tidak apa-apa, tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? Saya orang baru. Bagaimana jika saya adalah maling dan membawa pergi truk indah itu?”
Starly melotot menatap Ixora dengan pandangan tidak percaya. Apa yang indah dari sebuah pikup ditangan seorang gadis. Tidak ada femininnya, jelas bagi Starly yang girly tidak akan pernah masuk dalam daftarnya untuk mengemudikan mobil jenis itu yang merupakan mobil sejuta umat di Negara bagian Texas ini.
“Pokoknya, itu untukmu. Silakan coba dulu dan buat dirimu nyaman. Jika aku pribadi sih ... tidak akan pernah nyaman. Kamu lihat Camero berwarna pink di sebelahnya itu?”
Setelah memastikan jika Ixora menatap ke arah yang ia tunjuk lalu Starly kembali menambahkan dengan penuh kebanggaan, “Itu kesayanganku.”
“Wow ... bagus sekali cocok denganmu,” jawab Ixora sambil lalu, dan memberikan jempolnya.
“Tapi jika kamu tidak merasa nyaman dengan mobil itu, mungkin kamu bisa meminta ganti nanti pada Nyonya Solares jika sudah bertemu?”
“Saya rasa tidak perlu. Saya sudah terbiasa dengan mobil jenis ini.”
“Serius?”
“Yup.”
Ixora segera pergi dari sana dan menuju alamat yang diberikan oleh Ryan.
“Andai aku bisa mengantarmu,” ujar pria itu disambungan telepon.
“Tidak perlu seperti itu. Aku sudah cukup merepotkanmu. Aku harus bisa sendiri bukan? Apalagi aku tidak sendiri melihat tempat itu, ada pemiliknya di sana.”
“Ya tentu saja. Mereka sudah menunggumu.”
Sekitar 30 menit perjalanan sampailah Ixora di sebuah kabin yang terletak tidak jauh dari tepi danau dengan banyak pohon Pinus dan Oak di sana. Pemandangannya sangat indah.
“Akhirnya kamu tiba. Terlalu bersemangat hingga lebih awal ke sini?” saya seorang wanita berkebangsaan Indonesia, tebak Ixora.
Ixora hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian ia mengulurkan tangan dan berkenalan dengan pasangan Cempaka dan Abimanyu Dario. Pasangan yang unik dan jelas bukan berasal dari Amerika kecuali sang suami yang sepertinya memiliki darah campuran. Ixora tidak terlalu peduli hal itu, yang terpenting mereka baik dan ramah. Setelah melihat sekitar tiga unit kabin. Pada akhirnya ia memilih tempat yang pertama dirinya masukin. Tidak seluas kedua kabin lainnya dan lebih dekat ke danau dan jalan raya.
“Semoga kamu betah di sini. Jika perlu sesuatu kamu bisa hubungi saya di nomor ini,” ujar Cempaka sambil memberikan sebuah kartu nama.
Tak perlu membuang waktu seharian itu Ixora kembali belanja segala yang ia butuhkan hingga hampir memenuhi pikup dobel kabinnya dan segera check-out dari hotel. Kabin yang ia tempati cukup lengkap dan yang terpenting terasa aman dan nyaman. Tempat yang tenang, walau dekat dengan jalan raya tidak terlalu terdengar suara kendaraan yang lewat, jarak antar kabin juga cukup untuk menjaga privasi masing-masing yang pasti ia tidak ingin terusik saat ‘me time’.