Dia Tahu?

1281 Kata
“Aku hanya setengah hari bekerja hari ini, apa kamu mau aku pesankan makanan? Aku bisa menemanimu dan mungkin membantu berbelanja kebutuhan di kabin?” Ixora tersenyum simpul mendapatkan telepon dari Starly. Ia sangat bersyukur sudah mendapatkan teman baru yang perhatian. Dirinya tadi memang sudah membalas pesan gadis itu saat menanyakan di mana dirinya tinggal. “Kamu pasti merasa kesepian. Ayolah aku temani ya? Aku tidak ada kegiatan sisa hari ini.” Ixora menatap dalam kabin yang sudah sangat lengkap. Ranjang empuk, kulkas, kompor, lemari besar, peralatan makan dan masak yang baru. Pemilik kabin sungguh sangat murah hati. Apalagi mereka mengatakan bahwa itu semua adalah hadiah untuk penghuni baru. Padahal jelas perlengkapan dan peralatan itu semua tidak murah. Bahkan ada robot pembersih lantai. Astaga, nikmat mana yang kau dustakan. “Aku hanya lapar,” aku Ixora. “Aku akan belanjakan untukmu sekalian. Aku juga sedang singgah di Cow Bar. Apa kamu ingin memesan sesuatu?” Ixora teringat menu lezat di sana dan segera tidak membuang waktu dan memesannya. “Baiklah kalau begitu, aku juga akan belanja untuk memenuhi kulkasmu. Apa kau perlu deterjen untuk laundry dan segala macam?” “Tidak perlu. Tadi sebelum check out aku sudah memenuhi pikup dengan belanjaan. Aku hanya sedang malas memasak saja.” “Ah … waktu yang tepat. Aku akan belanja untuk makan malammu sekalian deh.” “Terima kasih, Starly.” “Sama-sama.” Nancy duduk di meja pojok favoritnya saat melihat mobil milik Starly terparkir. Nancy sangat penasaran dengan Ixora yang dimaksud oleh Joy sang kakak. Sementara sejak tadi pagi tak ada orang bernama Ixora diantara pegawai baru yang direkrut. Nancy bangkit dan menghadang Starly yang hendak ke Kasir. “Buru-buru sekali. Tidak biasanya kau belanja bungkus?” Starly menatap gadis bergaun biru dengan blazer putih berkancing warna emas di depannya yang terkenal angkuh dan menganggap semua wanita cantik dan trendy adalah saingannya. “Bukan urusanmu sebetulnya. Tapi terima kasih atas perhatiannya.” Nancy tahu mendapatkan sindiran dan tidak pedulikan hal itu ia masih diam di depan Starly. “Siapa Ixora?” Starly mengedikkan bahu, acuh. “Bukan urusanmu.” Stary lalu menghalau Nancy dengan tangannya karena ia hendak membayar di kasir, “Minggir, aku buru-buru.” Nancy terkekeh meremehkan. “Mau buru-buru ke mana? Kau bahkan tidak punya teman kencan.” “Bukan urusanmu. Heran sekali aku, sejak tadi kamu sangat perhatian?! Lebih baik kamu urus diri sendiri saja,” herdik Starly yang mulai risih dengan Nancy. “Kau!” Nancy sudah menaikkan tangan tapi segera ditangkap oleh Tom Dario yang entah datang dari mana. “Jangan membuat keributan di sini, Nancy. Kau tidak akan suka jika sampai rumahmu didatangi Bibi Jasmin.” “Dia menyebalkan,” kata Nancy membela diri dengan wajah memerah menahan malu karena beberapa pengunjung melihat ke arah mereka. Starly menoleh ke belakang. “Jangan playing victim, kamu yang menyebalkan. Menghadang orang sok ingin tahu urusan orang saja.” “Siapa Ixora?!” tanya Nancy yang masih gigih bertahan di sana sampai Starly selesai membayar dan mendapatkan pesanannya. “Dia temanku, dan beruntung dia tidak akan bertemu dengan manusia rese sepertimu.” Nancy memicingkan mata menatap merendahkan pada gadis di depannya. “Sejak kapan kau punya teman?” “Sejak hari ini dan selamanya. Berhentilah menggangguku, oke?!” Starly sedikit merasa lega karena Tom Dario masih ada di sana dan ia bisa pergi dengan tenang. Starly merasa heran dengan Nancy yang tiba-tiba bertanya tentang Ixora seolah gadis itu tahu tentang pegawai baru yang ramah terhadapnya itu. Starly tidak akan membiarkan Nancy mengganggu Ixora yang cantik dengan kesederhanaannya. Ixora mengumpulkan ranting dan sisa potongan kayu dalam ruang penyimpanan yang terpisah dan menumpuknya di sebelah anak tangga begitu mobil milik Starly terlihat dan kini terparkir di sebelah truk. “Aku tidak datang terlambat ‘kan?” tanya Starly yang terengah berjalan dengan stiletto di jalanan berkerikil menuju kabin dan membawa tas cute serta belanjaannya yang kini segera dengan sigap diambil alih oleh Ixora. “Memangnya kita mau ngapain?” “Nggak ada?” Starly menggeleng seraya mengibaskan rambut indahnya. “Wow, aku tidak menyangka tempat ini indah sekali, tapi untuk seorang gadis tinggal di sini. Apa kamu benar-benar tidak takut?” “Tidak,” jawab Ixora seraya memimpin langkah dan membuka pintu. “Aku aman di sini.” “Entahlah Xora. Boleh ‘kan aku memanggilmu begitu? Biar lebih akrab,” kata Starly yang diangguki Ixora, “Aku bukan bermaksud menakutimu tapi tinggal di tepi hutan begini, serem.” “Tidak akan terjadi apa-apa, aku pernah tinggal di tempat yang buruk. Jadi ini lebih dari sempurna.” “Benar. Tempat ini indah,” ujar Starly yang kemudian membantu menyalin makanan. “Oh ya. Tadi aku bertemu Nancy Reint. Apa kamu kenal dengannya? Dia tadi bertanya tentangmu.” Ixora menghentikan kegiatannya menuang es dala teko kaca begitu mendengar nama Nancy. “Nancy Reint ada di sin?” “Iya. Dia di sini. Penduduk asli sini, sebetulnya.” “Oh,” jawab Ixora singkat. “Hanya Oh?” tanya Starly yang sejujurnya penasaran dengan cerita kedua wanita ini. “Well, aku dulu mengenalnya di kampus dan setelah kami lulus kami sama sekali tidak pernah saling berkomunikasi terlebih jurusan kami juga berbeda.” “Emm, mungkin kalian akan bertemu jika di kantor karena dia anak buah Nyonya Solares, berada dibawah devisinya langsung.” “Oh … aku rasa dia tidak akan sering bertemu denganku nantinya. Terlebih diantara kami tidak ada kepentingan apapun.” “Hemm … aku tidak tahu dia seperti apa dulu di kampus, tapi … di kantor dia sangat arogan. Semua wanita menarik dianggap pesaing olehnya. Aku tidak suka dengannya, dan beberapa orang juga. Hanya karena pekerjaannya cekatan, makanya dia masih bertahan di sana.” Ixora mengedikkan bahu, karena memang tidak begitu kenal dengan pribadi Nancy selain pernah membantu wanita itu untuk dekat dengan Jason. Starly menatap Ixora keheranan. “Jadi, kamu benar-benar tidak kenal dengannya?” “Aku tidak terlalu kenal secara pribadi sebetulnya. Aku dulu pernah membantunya untuk dekat dengan sahabatku,” ujar Ixora yang sebetulnya merasa jengah membeberkan hal ini karena mau tak mau menimbulkan rasa sedih mengingat Jason. “Sahabatmu laki-laki?” Ixora mengangguk dan melanjutkan kegiatannya. “Wow, hebat sekali wanita dan laki-laki bisa saling bersaahabat tanpa ada perasaan lebih. Kalau aku, jelas tidak akan mungkin.” Ixora hanya menunduk dan tersenyum kecut. * Jason baru saja selesai rapat saat ujung jas kerjanya ditarik oleh Clara. “Ada apa?” “Kenapa kamu menghindariku? Kita akan bertunangan Jason!” hardik Clara dengan suara tertahan agar tidak didengar oleh orang lain. “Aku bisa membatalkan,” ujar Jason santai. Clara menghentakkan kaki berstiletto biru tua di atas lantai yang terlapisi karpet tipis. “Kamu tidak bisa melakukan hal ini padauk. Bagaimana dengan nama baik keluargaku?” “Memangnya saat kamu mendekatiku dulu, kamu juga memikirkan perasaan keluargamu?” tanya Jason dengan menekankan kata terakhir. “Apa maksudmu? Kita dekat secara alami.” “Kamu yakin? Tidak ada maksud lain?” “Tentu saja tidak!” balas Clara cepat dengan wajah terlihat sangat tersinggung. “Apa maksudmu?” “Sebaiknya waktu akan cepat membuktikan. Aku tetap akan membatalkan.” “Kamu tidak bisa melakukan hal ini, Jason. Kamu sudah melukai hatiku,” ujar Clara dengan mata berkaca-kaca. “Oh ya, lalu kenapa ponsel lama Xora bisa ada bersamamu?” “Apa maksudmu?!” tanya Clara tidak terima, Jantung gadis itu seperti jatuh ke perut tak menyangka jika Jason akan menanyakan hal itu. Jason tersenyum miring menatap jengah. “Urus saja pekerjaanmu dan jangan mengacau. Sekarang masih jam kerja.” Jason lantas pergi tanpa menunggu balasan dari Clara. Ada gumpalan sekepalan tangan seolah menyumbat di tenggorokan Clara begitu ditinggalkan dan tak dinggap oleh Jason. Bagaimana bisa dia tahu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN