1. Deklarasi Perselingkuhan
“Aku ingin menikah lagi,” seru Naren dengan sangat lancar dan ringan membuat raut wajah Leoni yang tadinya begitu bahagia kini berubah seketika.
Pelukan antusias ketika menyambut kedatangan Naren kini menggantung di udara, dia yang begitu antusias merayakan keberhasilan suaminya yang dilantik menjadi CEO, 8 jam yang lalu malah dikejutkan dengan pernyataan ingin menikah lagi.
Dari lantai dasar rumah terdengar suara tawa yang menggema dari orang-orang yang menghadiri pesta, Keluarga Andrea mengadakan pesta besar dengan begitu arogan, karena begitu percaya diri mereka akan segera kembali ke kalangan atas.
Leoni menatap mata Naren, melihat tidak ada keraguan atau rasa bersalah. Sambil memasang wajah kikuh, Leoni bertanya dengan suara parau nan kering, “I-ini prank ‘kan, Mas?” tanyanya sambil memasang senyuman yang sulit untuk diartikan, dia berharap jika itu hanya sebuah candaan yang diberikan suaminya. “Mas, lagi bercanda, ya,” celetuk Leoni.
Sambil mendegus pelan, Naren kembali mempertegas ucapannya. “Aku tidak sedang bercanda, aku ingin menikah lagi!”
Bak diterpa badai yang tiba-tiba Leoni merosot di sofa. Dress berwarna gading dengan kerutan rumit bagian d**a membalut tubuhnya dengan sempurna, menjadi tidak punya arti lagi. Dia telah meluangkan banyak waktu untuk pesta tersebut, bahkan mengambil cuti dari rumah sakit.
“Selina Santoso, sekretarisku, dia anak dari Presdir Santoso yang mendukungku,” jelas Naren seakan tidak memberikan jeda istrinya untuk mencerna apa yang tengah terjadi. “Sekarang dia ada di aula bersama dengan keluarga besar,” tambahnya.
“K-kau berani membawanya pulang?”
“T-tenang saja, Sayang. Dia tidak akan mengantikanmu sebagai nyonya rumah. Kau tetap akan menjadi Nyonya Andrea, istri pertamau tapi status kalian sama.”
Bagaimana bisa Naren mengatakan hal itu, tanpa memperdulikan bagaimana perasaannya. Leoni menatap tajam ke arah Naren, dia tidak percaya suaminya begitu tega padanya. Dia pikir rumah tangga mereka yang hampir tidak pernah ada pertengkaran itu adalah pernikahan sempurna, hingga dia tidak sadar jika hal itu pun adalah sebuah kegagalan. Dia tidak tahu kapan Naren mengkhianatinya, hal itu membuatnya hanya bisa menahan diri tetapi rahangnya yang mengeras serta tangannya dikepal bukti jika dirinya berusaha untuk menenangkan diri.
“Karena itu, Sayang, aku ingin mengadakan pesta megah karena dia anak dari Presdir Sansoto.” Naren begitu percaya diri mengatakan hal itu, seakan pernikahannya kedua akan benar-benar disetujui oleh Leoni.
Rahang Leoni semakin mengeras, “Sejak kapan?” Leoni bertanya dengan pelan sambil menahan diri.
“Apa yang sejak kapan?” tanya Naren seakan pura-pura tidak tahu apa yang ditanyakan Leoni padanya.
“Sejak kapan kau mengkhianatiku?” Leoni menaikan nada bicaranya satu oktav, tetapi pembawaannya cukup tenang. Namun jelas jika dia tengah marah karena tidak lagi memanggil Naren dengan sebutan ‘Mas’ tetapi ‘kau’. Rasa hormatnya telah berubah, karena pengkhianatan itu.
“S-sayang. Aku janji tidak akan pilih kasih. Selina itu putri tunggal Presdir Santoso, pemegang saham mayoritas, jika bukan karena Selina dia tidak akan berpihak padaku,” bujuk Naren dengan suara rendahnya. “Kau tetap istri pertamaku, tidak akan ada yang menyangkal itu, Sayang. Status kalian setara di mata hukum dan keluarga. Sayang ... please.” Naren benar-benar memohon.
“Naren Andrea, it’s not about that. Sekarang kau bicara mengenai ‘tidak akan pilih kasih?’ bagaimana kau yakin dengan itu sedangkan janji yang kau buat di atas hukum dan Tuhan saja kau langgar.”
Leoni tertawa pelan, pria dihadapannya begitu percaya diri mengatakan kata setara di hadapannya. “Bagaimana bisa aku percaya para seorang pengkhianat,” sindir Leoni sambil tertawa sumbang.
“Aku harus realistis Leoni. Aku harus kembali mengembalikan kejayaan keluarga Andrea. Tolong mengerti apa yang aku lakukan!” Naren berkacak pinggang, seakan tidak ada yang boleh mengoyahkan keinginannya untuk menikah lagi.
Rasa sesak di d**a Leoni semakin menusuk, ingin meluap atau menguar keluar. Kesabaran yang telah dia tahan bertahun-tahun, perlahan hancur saat dia dituntut untuk menerima sesuatu yang tidak dia inginkan. Sambil tertawa kecil, Leoni mulai berkata, “Realistis, ya. Setelah semua yang kulakukan untuk keluarga ini, kau malah mengatakan hal kejam seperti itu?” Mata Leoni menajam, membuat Naren menghindari tatapan itu. “Terus bagaimana dengan kulakukan selama ini, huh?” Leoni menantang. “Aku tanya, siapa yang selama ini membiayai pengobatan jantung ayahmu saat rekening perusahaan serta keluargamu dibekukan pihak bank. Siapa yang membantu memulihkan stroke nenek selama ini? Itu aku, Naren. Aku, bukan Selina. Aku bahkan memakai seluruh gajiku dan tabungan pribadiku, untuk keluargamu, bahkan keluargaku membantu menutupi defisit biaya oprasional perusahaanmu.”
Leoni mencecar Naren dengan fakta, suaranya bahkan bergetar ketika mengatakan itu. “Setelah semua yang kulakukan, kau membalasku dengan pengkhianatan, Mas?”
Namun, fakta yang baru saja dilontarkan Leoni benar-benar membuat harga diri Naren terluka. Sayangnya, alih-alih merasa bersalah atas pengorbanan istrinya, Naren malah semakin arogan demi menyembunyikan begitu pengecutnya dia.
“Itu sudah jadi tugasmu sebagai istri untuk membantu keluarga suamimu. Itu kewajiban. Kenapa kau malah mengungkit itu semua, huh? Apa kau tidak bisa menganggap jika itu adalah bakti istri pada suami?” sarkasnya. “Kenapa kau jadi perhitungan seperti ini, sih? Kau benar-benar berbeda dengan Selina yang baik hati dia bahkan mencintaiku apa adanya.”
Plak!
Bunyi tamparan yang mendarat di pipi Naren terdengar begitu nyaring dan renyah. “Jadi, kau pikir aku tidak mencintaimu apa adanya selama ini, Mas?” berang Leoni. “Berani sekali, menyamaratakan aku dengan wanita itu. Aku tidak sama dengan wanita itu, aku tidak pernah menggoda dan merebut suami orang.”
Seperti namanya—Leoni, dia memiliki pembawaan yang tegas serta tidak mudah diremehkan, ataupun ditindas. Walaupun wajahnya terlihat lemah lembut, tetapi tidak dengan sifat serta karakternya. Dia tidak menerima penindasan atau pengkhianatan.
Naren mencengkram kedua bahu Leoni, keduanya saling bertatapan. Jelas, emosi telah menguasai mereka berdua, “Jika aku mencari pelampiasan di luar itu karena salahmu. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, saat aku butuh teman bicara kau tidak pernah bisa diajak bicara, tapi Selina ... dia berbeda, dia tahu apa yang kubutuhkan. Dia selalu tahu cara menyenangkan hati pria serta memberiku perhatian yang tidak kau berikan,” cecar Naren.
“Jadi kau tidur dengannya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
“Bukankah itu sudah jelas? Kau tidak melayaniku dengan benar, setiap pulang dari rumah sakit kau selalu bau antiseptik serta tidur, saat aku bangun pagi hari kau pun sudah tidak ada. Aku ini pria dewasa, aku butuh pelampiasan.”
Leoni mengepal tangannya dengan erat, “Jadi itu alasan recehmu,” ucap Leoni dengan senyum pudar. “Kau mencari wanita yang memujamu sepanjang waktu hanya karena aku menghabiskan waktuku di rumah sakit, tapi bukan berarti kau harus tidur dengan wanita lain. Bahkan ingin menikahinya. Kau harusnya bicara padaku, agar bisa menemukan solusinya. Bukan malah berselingkuh, Mas.” Suara Leoni yang begitu tajam membuat Naren terpaku.
“Padahal aku berjuang memastikan keluargamu tidak tidur di jalanan selama ini. Agar kondisi nenek baik-baik saja, serta ibu dan adikmu bisa tidur dengan enak. Kau bahkan tidak penasaran, kenapa saat kau bangun aku tidak ada di sampingmu. Kau tidak panasaran itu semua, tapi percuma juga menjelaskannya,” ucap Leoni sambil tertawa sumbang. Anehnya, disaat yang bersamaan dia merasa bebas, seakan rantai berat yang membelenggunya perlahan mulai meregang.
Pria itu menyadari jika amarah serta nada tingginya tidak dapat meruntuhkan kekeraskepalaan istrinya itu, itu berarti dia harus mengubah taktik agar dia diizinkan menikahi Selina. Dia mengambil napas panjang sambil memejamkan mata berusaha untuk mengontrol emosinya sebelum berkata, “Sayang ... kumohon, bisakah kau mengerti yang kulakukan?” pinta Naren sambil tersenyum, dia bahkan melembutkan nada bicaranya dia mencoba meraih tangan istrinya tetapi segera ditampik. “Aku harus menikahinya, agar mendapatkan dukungan penuh.”
Naren benar-benar mencari segala cara yang dia bisa agar membuat Leoni menyetujuinya. “Dia tidak akan menganggu posisimu sebagai istri pertama, dia tidak akan menyentuh apa yang jadi hakmu. Dan, aku juga sudah mengatakan jika posisimu tidak akan tergantikan. Aku janji!”
Tiba-tiba Naren terpikirkan sesuatu. “Ah ... bagaimana jika kita mengurangi jadwalmu dan kita melakukan program hamil agar bisa mendapatkan anak, dengan begitu tidak akan ada yang mengusikmu sebagai Istri pertamaku.”
Namun, justru itulah yang membuat rasa mual menjalar, “Kau benar-benar menjijikan, Mas,” desis Leoni. “Hanya karena ingin mempertahan posisi CEO yang kau banggakan itu, kau rela mengkhianatiku dan memberikan janji yang jelas tidak akan kau tepati. Anak? Sekarang kau bicara anak? Aku malah tidak ingin memiliki anak denganmu setelah mengetahui apa sudah kau lakukan dengan wanita itu.” Leoni benar-benar mengguliti habis-habis harga diri dari suaminya itu, bahkan wajah Naren kini begitu merah padam, ditambah dengan rasa malu dan amarah yang ingin meledak.
“Kau benar-benar tidak bisa diajak bicara baik-baik. Sangat keras kepala, ini membuatmu sangat berbeda dengan Selina yang sangat mengerti apa yang kuinginkan.” Naren pergi dengan perasaan penuh kekesalan, terlihat jelas ketika dia keluar sambil membanting pintu.
Leoni memejamkan mata, sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, dia berusaha mencari ketenangan setelah keadaan ruangan yang tadinya begitu menyesakkan.
“Bukankah tidak sopan mengintip pertengkaran rumah tangga orang lain?” Leoni tiba-tiba berseru sambil menatap ke arah luar jendela. Ternyata sejak tadi ada seseorang yang menguping pertengkaran mereka.
Sambil tertawa hambar yang berat terdengar, seorang pria dengan tinggi 187 cm keluar dari persembunyiannya. Balutan setelan jas mahal melekat di tubuh kokohnya memancarkan aura dominan, tetapi pesonanya tidak bisa dipungkiri. Ada senyuman tipis terlihat di wajahnya.
“Ah, ketahuan, ya,” lirihnya sambil melangkah mendekati Leoni yang mematung penuh kewaspadaan, dia melangkah pelan mengikis jarak di antara mereka berdua yang berada di ruangan itu. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Leoni membuat wanita itu terpojok di sofa. “Aku ingin menawarimu sesuatu, Nona Danendra, bercerailah dan menikah denganku.”