Bab 12

1706 Kata
Agasta baru saja tiba di Jakarta. Ia langsung menuju rumah sakit. Seperti Irfan beritahu kini keadaan Ranum sudah sadarkan diri. Laki-laki itu sekarang sudah berada tepat depan ruangan Ranum. Tapi saat dia membuka pintu ia melihat Ranum yang tengah bicara dengan Gusti. Ada perasaan sangat marah berdecak di hati Agasta, ia merasa harusnya dia yang menemani Ranum bukan Gusti. Untuk apa juga Gusti ada disini? Apa peringatannya tidak cukup? "Ternyata udah ada yang temani kamu?" tanyanya seraya melangkah mendekat kearah Ranum. Tatapan Agasta sangat tajam, tapi pembawaannya tetap berusaha tenang, tak ingin menunjukkan rasa cemburunya. Mata Ranum terbelalak kaget, hampir saja ia jantungan melihat Agasta yang mendadak ada di depan matanya. "Kamu kok disini?" Agasta menyungging senyum miring. "Apa harus ditanya lagi ngapain aku disini?" Ranum mengerjapkan matanya sejenak. Dasar Ranum!! Bego banget sih lo. Ngapain juga lo tanya gitu? "Nggak gitu, maksud aku bukannya kamu lagi di Jerman." Sindir Ranum dengan wajah seakan menunggu penjelasan dari Agasta. "Udah nggak usah bahas! Sekarang gimana keadaan kamu?" Ranum masih tak percaya Agasta perduli juga dengan dirinya. Tentu saja Agasta perduli dengan Ranum. Mana mungkin dia membiarkan Ranum sakit tanpa perhatian dirinya. Secuek apapun Agasta, dia tak bisa membiarkan Ranum kesakitan meski hanya secuil. "Gusti, sekarang udah ada cowok aku. Lebih baik kamu pergi dari sini." Ucap Ranum pada Gusti. Gusti menatap kedua pasangan ini acuh tak acuh. "Tapi orang tua kamu belum datang?" Ujar Gusti seolah menantang Agasta. Ternyata gertakkan Agasta tidak membuat Gusti menjauhi Ranum, bahkan terang-terang menantangnya. "Yaelah lo udah kayak satpam Ranum aja. Eh.. Gusti lo itu cuma mantan Ranum, gak usah sok perduli. Sekarang udah ada Agasta, Ranum gak butuh lo." Cerca Lala enteng. Ranum menelan liurnya kasar sambil menelisik wajah Agasta. Pasalnya ia belum jujur tentang Gusti pada Agasta. Sedangkan Lala dengan santai nyebutin Gusti mantannya, depan Agasta pula. "Lala benar. Gas, mendingan lo aja deh yang kasih tau orang ini." Kata Alya tersenyum sinis sambil menatap Gusti. Karena dia sudah tau bagaimana Agasta. "Ih.. Apaan sih? Gue gak mau ada keributan disini." Geram Ranum. "Kamu mau pergi atau aku panggil security. Ingat ya hubungan kita udah selesai, dan apapun yang kamu omongin ke aku, itu gak penting." Gusti bangkit dari duduknya, karena mendengar kemarahan Ranum. Laki-laki itu langsung beranjak, walaupun dia masih ingin menjaga Ranum. "Ehm.. La, temani gue ke kantin yuk. Gue lapar nih." Ranum tersenyum, karena Alya begitu peka dengan kemauannya tanpa harus ia minta. Sementara Cici sudah Ranum pinta untuk pulang mengambil beberapa keperluan Ranum di rumah. Sekarang hanya tinggal mereka berdua. "Gas." "Num." Kedua canggung sendiri. Agasta duduk dekat Ranum, ia masih sangat khawatir keadaan Ranum. Apalagi melihat kepala Ranum yang ditutupi perban. "Kepala kamu nggak papa?" Ranum tersenyum senang. Ia rela harus sakit terus menerus asalkan Agasta bisa peduli dengannya. "Ditanyain kok malah senyum?" Ranum malah menyengir. "Hemm.. Senang aja ada kamu disini. Aku nggak papa kok." Agasta menarik hidung Ranum kesal. Masih bisa bercanda disaat keadaannya sakit seperti sekarang. "Ranum, kamu bisa gak sih serius. Kamu tau gak lihat luka kamu sampai gini. Kalau orang tua kamu tahu pasti aku dimarahin karena gak bisa jaga kamu." Untuk pertama kali Agasta mengomeli wanita itu. "Terus gimana ceritanya kamu bisa kecelakaan? Kamu itu kebiasaan ceroboh, ini salah satu alasan aku gak suka kamu nyetir sendiri. Pokoknya mulai sekarang gak usah nyetir lagi, dan kalau aku gak jemput kamu lebih baik naik taxi." Ranum menikmati ocehan Agasta yang panjang. Seakan-akan Agasta tengah memberikan gombalan padanya. "Malah ketawa gak jelas lagi. Ranum.. Aku lagi ngomong sama kamu bukan ngelawak." Lanjutnya lagi. "Iya.. Maaf sayangnya aku. Senang deh kamu ngomel gini, jarang banget dengarin kamu ngomel." Agasta terkekeh singkat. "Kamu tuh ya masih sakit gini. Masih aja bisa bercanda." Ranum tak menyangka Agasta benar-benar perduli dengan dirinya. Lebih lagi pria itu rela kembali ke Jakarta untuknya. "Hemm.. Kamu belum jelasin sama aku ngapain ke Jerman?" Agasta terdiam sesaat, ia harus memikirkan jawaban yang masuk akal untuk menjelaskan pada Ranum. "Sayang, kok malah diam?" Ranum bersuara lagi mendapati Agasta yang hanya diam. "Orang tua aku minta ke Jerman, ada urusan sedikit." Jelas singkat Agasta yang lansung Ranum percaya tanpa ada celah keraguan sedikit pun. "Terus urusannya udah selesai?" Agasta mengangguk sambil merapihkan rambut Ranum yang kusut, itu juga karena Ranum yang minta. "Kamu tahu aku kecelakaan darimana?" "Dari Irfan." Ranum memanyun. Dirinya kesal Agasta bisa menghubungi Irfan, tapi tidak dengan dia. "Oh." Komentar Ranum membuat Agasta mengernyit. "Kenapa lagi? Ngambek lagi?" Ranum merebut sisir dari Agasta dengan kasar. Agasta sudah memprediksi setiap tindakan Ranum. Tapi dengan tenangnya Agasta malah membaring tubuh agar beristirahat. "Agas!" sergah Ranum. "Kamu itu lagi sakit harus banyak istirahat. Tidur sekarang." Pinta Agasta. Ranum mengerucut bibirnya kesal, dia bosan harus tiduran lagi. "Aku baru sadar tadi, dan dari kemarin aku udah tiduran terus. Kamu tau gak aku kecelakaan karena mau telpon kamu. Gara-gara kamu sih pergi mendadak." Agasta menggeleng tak percaya. Ya.. Ini memang salahnya, dia harusnya mengatakan pada Ranum sebelum pergi agar wanita itu tak khawatir. Maklum.. Ranum itu selalu bertindak berlebihan. "Kamu lain kali kalau bertindak jangan gegabah, lagi nyetir pula. Untung ada Kak Cici kalau gak gimana?" Ranum mungkin tidak tau bagaimana cemasnyacemasnya Agasta yang ketika di Jerman memikirkan keadaan wanita itu setengah mati. "Iya.. Maaf kamu bawel juga ya sekarang." "Kamu yang nularin." Ranum tertawa geli. "Jangan ketawa gak ada yang lucu." Lanjut Agasta protes. "Kamu yang lucu. Hemm.. Oh ya, Gas masa sih Gusti bilang kamu itu gak sebaik yang aku pikir. Terus dia bilang kalau Rangga pasti gak akan suka sama kamu." Agasta mengepalkan kedua tangannya kesal, tapi ia tetap menerbitkan senyum kecil pada Ranum. "Gak perlu kamu dengarin. Dia gak kenal aku sebaik kamu." Ranum langsung menerapkan senyum lebar pada Agasta. Kalimat Agasta mampu menyanjung hati Ranum. "Kamu lagi belajar romantis ya. Minta ajari Irfan kan." Goda Ranum enteng. "Enggak. Daripada kamu mericau terus. Sekarang mendingan kamu istirahat, tidur. Udah minum obat belum?" Ranum mengangguk, ia tak bisa lagi menolak permintaan Agasta. Dia pun rebahan di ranjang sambil memejamkan matanya. Pikiran Agasta tentang yang Ranum katakan beberapa waktu yang lalu. Entah mengapa ada ketakutan di hatinya kehilangan Ranum. Ia masih penasaran dengan sosok saudara kembar Ranum bernama Rangga. Apa dia Rangga yang sama? Agasta sadar antara masa lalu dan masa depan dia saling berdampingan, namun tak mungkin disatukan lagi. Masa lalu sebagai pelajaran untuk ia menata masa depannya. Dan berharap Ranum bukan salah satu bersangkutan dengan orang di masa lalu dirinya. *** Setelah memastikan Ranum sudah tertidur pulas, dan Cici juga sudah kembali. Agasta menitipkan Ranum sejenak, ia keluar dari kamar Ranum ingin mencari Gusti, berharap mantan Ranum itu masih berada di area rumah sakit. Ada hal yang perlu ia tanyakan. Mungkin ini keberuntungan Agasta karena orang yang ia cari masih di parkiran. Tanpa berlama lagi Agasta menghampiri Gusti dengan raut muka marahnya. "Untuk apa lo bilang hal yang gak perlu Ranum tahu?" Gusti kaget ada seseorang menyentuh pundaknya dengan kuat. Ia berbalik mendapati Agasta dibelakangnya. "Agasta.." Tampak suara Gusti sedikit takut. "Ya.. Ini gue." Agasta menatap Gusti dengan bengis. "Bukannya gue udah peringati lo jangan katakan apapun dengan Ranum. Lo tau apa tentang gue, hah?" Gusti masih terbayang bagaimana Agasta menghajarnya babi buta hanya karena dia bicara dengan Ranum. Karena itu juga ia cari tau tentang Agasta, dan kebetulan sepupunya satu sekolah dengan Agasta saat di Bandung. Entah bagaimana Agasta bisa mendarat ke Jakarta. "Gas, gue bisa jelasin." Gusti mencoba bersanggah karena dia tahu Agasta bukan tandingan yang bisa dianggap remeh. "Jelasin apa?" tanya Agasta dengan nada tampak santai namun tatapan seperti ingin membunuh Gusti detik itu juga. "Jangan berkelit, sekarang katakan yang lo tau." "Tentang Athala dan Rangga." Sontak Agasta tertegun. Agasta tak menyangka Gusti dapat mengetahui hal ini. Setelah kelas 3 dia sengaja pindah bersamaan dengan Athala ke Bandung, ia menjaga Athala yang masih di Bandung ketika itu. Saat lulus dia mendapat nilai terbaik sesuai keinginannya, meski harus kembali ke Jakarta dan membiarkan Athala melahirkan di Jerman. Beruntung fakultasnya tidak ada satu orang mengenalnya. Beberapa teman sekolahnya dulu juga tidak ada yang berani buka mulut, pasalnya tahu bagaimana Agasta. "Tahu darimana lo." Agasta naik pitam, ia mencengkram Gusti dengan kasar. "Gue cari tahu sendiri. Dan asal tahu Rangga musuh lo itu, saudara Ranum." Mata Agasta membesar tak percaya. Spontan ia melepaskan cengkramannya. "Lo takut dengan Rangga. Gimana kalau Rangga tau orang yang dia benci beberapa tahun belakang ini, itu pacar adik kesayangannya?" Gusti kali ini merasa puas dengan reaksi Agasta tak berkutik. "Brensek!!" Agasta mendaratkan pukulan paling keras pada wajah Gusti. "Kalau lo gak tau ceritanya jangan berani ngancam gue." Gusti terdampar akibat pukulan keras Agasta. "Lo--" "Gas, lo apaan sih? Ini rumah sakit ngapain bikin rusuh disini?" untung Irfan datang tepat waktu. Kalau tidak mungkin Gusti akan mendapatkan pukulan Agasta dari yang kemarin. "Dan lo kalau gak mau bonyok pergi dari sini." Lanjut Irfan pada Gusti. "Anjing, ngapain lo sini?" Agasta mengeluarkan kalimat kasarnya. "Bangkai lo panggil gue anjing. Eh.. Bego, lo gak liat lagi dimana? Gak mikir lo?" Agasta sudah terpancing emosi, ia tak bisa menahan amarahnya lagi. "Gas, gue kenal lo bukan baru kemarin. Marah lo ini bisa berakibat fatal, lo ingatkan terakhir kali kayak gini, lo mau kejadian yang sama terulang." Agasta menghempaskan napas panjang. "Lo benar." Akhirnya Agasta mencoba mengontrol emosinya. "Kenapa lo bisa marah sama tu orang?" tanya Irfan sambil melihat kearah Gusti sudah menuju mobilnya. "Gak papa. Lo gak usah taulah." Irfan mendelik curiga. Ia yakin ada suatu yang pasti sangat Agasta tidak suka hingga semarah tadi. "Berkaitan dengan Ranum." Agasta hanya mendengus tanpa menjawab satu patah kata apapun. "Yaelah, gue ngomong sama lo." Agasta tak menggubris Irfan, ia malah pergi menyelonong kembali masuk area rumah sakit. Agasta berjalan lorong rumah sakit, otaknya sekarang tidak tentu arah. Bagaimana tidak kenyataan yang tak pernah ia ketahui jika Ranum adik Rangga? Kenapa harus Ranum? Ya.. Agasta selama ini memang tau jika saudara Ranum bernama Rangga. Saat itu ia pikir nama Rangga tidak hanya satu, sama sekali tidak berpikir orang yang sama. Dia benar-benar frustasi mengetahui hal ini. Agasta sangat mencintai Ranum, dan belum siap kehilangan Ranum. Meski suatu hari akan terjadi, tapi tidak dengan cara ini. Sungguh ini sangat membebankan Agasta, jika Rangga kembali mengetahui semuanya akan berakhir. Ranum bisa jadi membencinya. Gue belum siap kehilangan Ranum. Apa yang harus gue lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN