Banyak orang mengatakan cinta itu rumit. Dan kali ini Agasta setuju dengan definisi cinta rumit karena dia akan mengalami sekembalinya Rangga. Ia tak ingin memungkirinya.
Ranum saat itu masih tertidur, Agasta menatap wanita itu dengan hangat. "Gas, lo kenapa? Coba cerita sama teman lo ini." Ucap Irfan gamblang yang tiba-tiba duduk antara Lala dan Alya membuat keduanya memukulinya.
"Irfan! Pergi lo." Sembur Lala kesal.
"Lo kayak gak ada tempat duduk lain aja." Sekarang giliran Alya menggerutu.
Irfan dengan muka santai ia tak memperdulikan ocehan dua gadis cantik sampingnya. "Diam lo ah! Kan memang gak ada tempat duduk selain disini." Ucap Irfan membela dirinya.
"Gas, lo punya teman gini amat sih?" komentar Lala yang dari awal bertemu sangat bengis dengannya.
Sedangkan Agasta hanya mendelik kearah tiga orang itu, tidak penting baginya dengan ocehan mereka. Sekarang Agasta hanya berharap jika Ranum akan mempertahankannya tanpa harus terpengaruh dengan orang lain termasuk Rangga.
"Agasta kenapa? Kok diam?" Alya penasaran dengan sikap Agasta, padahal sebelumnya pria itu tidak sedingin ini.
"Bukannya dari dulu dia suka diam." Sambung Lala enteng membuat Irfan terkekeh.
"Eh.. Kalian berdua itu sok tahu tentang Agasta. Dia gitu pasti ada masalah, cuma masalahnya Agasta itu orangnya tertutup, sama gue aja jarang-jarang cerita." Komentar Irfan.
Apapun pendapat ketiga orang ini tidak membuatnya marah, ia ingin sekali jujur pada Ranum tentang masa lalu dirinya. Akan tetapi ia takut Ranum justru akan meninggalkannya.
Semua orang boleh membencinya, tapi jangan Ranum. Sejak ada Ranum, ia merasa hidupnya berbeda. Ada suatu yang membuatnya semangat setiap kali melihat senyum Ranum, candaannya, apalagi Ranum seringkali menggodanya.
"Gas, lo.."
"Kalian bertiga bisa diam gak!" bentak Agasta membuat Lala dan Alya terjenggit. Sementara Irfan sudah biasa, hampir setiap hari Agasta membentaknya hanya karena dirinya menganggu.
"Gas.. Egh.. Gue kayaknya pulang dulu. Udah ada lo kan disi..sini." Lala sampai terbata-bata, jantungnya seakan mau lepas karena takut.
Alya sendiri menelan liur daripada dia harus bersama Irfan, bisa jadi bodoh sendiri dia. "Gue kayaknya pulang juga ya." Ucap Alya yang menunjukkan cengirannya.
Kedua gadis itu berjalan cepat keluar ruangan Ranum. Alya sudah pernah melihat Agasta marah, namun tidak pernah mendapatkan kemarahan Agasta langsung. Ternyata sangat menyeramkan.
Sisi lain Lala masih ketakutan, kakinya saja gemeteran. "Astaga.. Gue benaran takut liat Agasta. Itu dia kesurupan atau apa? Gua belum pernah melihat dia marah." Alya menguncang tubuh Lala agar sadar dalam takutnya.
"Sadar lo! Lo pikir Agasta malaikat gak bisa marah. Maklumin aja mungkin dia capek dari Jerman terus harus jaga Ranum. Yah.. Kita malah ribut, wajarkan dia marah." Lala setuju dengan pendapat Alya.
"Lo benar, Al. So.. Kita pulang sekarang?" Alya mengangguk. "Tapi.. Apa Agasta pernah marah gitu sama Ranum? Ranum betah juga ya." Alya mendengus mendengar kalimat Lala yang polos.
"Udah ah jangan ngegosip teman sendiri. Lagian selama ini Ranum fine aja kan, kecuali sikap cuek Agasta." Sontak membuat kedua tertawa.
Irfan mencoba bicara lagi dengan Agasta, namun pria itu tetap bungkam tapa kata-kata apapun. Untuk saat ini dia hanya ingin menemani Ranum, karena dia sendiri tidak tau sampai kapan waktunya berhenti bersama Ranum.
"Fan, lo balik aja. Udah ada gue disini." Sebenarnya bukan Ranum yang Irfan khawatirkan, melainkan Agasta. Ia takut jika Agasta kembali bertemu Gusti, dan amarahnya memuncak apapun bisa terjadi.
"Yakin? Gue sini aja ya." Kalimat Irfan sukses membuat Agasta menatapnya tajam. "Oke.. Gue balik, gak usah gitu juga mandangnya Gas." Tambah Irfan.
"Yaudah buruan sana balik." Irfan melangkah keluar dengan kesal.
***
Setelah pulangnya Irfan, Ranum terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum lebar melihat Agasta masih setia menunggunya. Tak pernah menduga Agasta begitu setia menunggu hingga malam tiba, bahkan rela belum pulang apartement hanya untuk menunggunya.
"Makasih ya masih disini nungguin aku." Ucap Ranum lembut. Agasta tersenyum, tak mungkin juga ia membiarkan Ranum sendiri.
"Udah kewajiban aku nungguin. Kata dokter gak ada yang terlalu serius, kepala kamu juga udah ditangani dengan baik, cuma kamu masih tetap banyak istirahat. Jangan bandel." Ranum mengulum senyum mendengar Agasta begitu cerewet.
"Yah.. Padahal aku penginnya disini biar dijagain kamu terus." Agasta terkekeh singkat.
Sebenarnya keinginan Ranum sama persis dengan dirinya. Dia masih ingin terus dan terus bersama Ranum. "Aku masih bisa jaga tapi gak 24 jam."
"Aku boleh gak minta sesuatu?" Agasta menyatukan kedua alisnya, lalu ia mengangguk kepalanya respon kalimat Ranum. "Aku mau kamu peluk." tambahnya dengan suara manja.
Agasta tanpa berkomentar langsung memeluk Ranum. Tidak seperti biasa pria itu akan protes lebih dulu, namun sekarang malah menuruti permintaan Ranum. Agasta justru takut ini pelukan terakhir mereka.
"Gas, kamu kok peluknya erat banget." Jujur Ranum malah heran dengan sikap Agasta yang tidak biasa seperti ini.
"Tadi kamu kan yang minta peluk." Ranum melepaskan pelukan mereka sembari menyengir.
"Iya sih.. Tapi kamu itu aneh tau. Ini karena aku sakit atau sejak kamu pulang dari Jerman. Sumpah kamu tuh kayak bukan Agasta." Pria itu baru sadar dirinya hampir tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Parahnya dia ingin sekali mengatakan jika dia sangat mencintai Ranum.
"Perasaan kamu aja. Kamu itu kan lagi sakit, aku gak mau kita berdebat. Hemm.. Kamu butuh sesuatu gak?" Ranum menggeleng. Cukup adanya Agasta telah bisa membuatnya bahagia. "Num, ada yang ingin aku tanyain." Sebenarnya Agasta ragu tapi daripada dia penasaran sendiri. Ranum duduk dibantui Agasta.
"Egh.. Kamu mau tanya apa?" Agasta mengambil napas panjang. Ia menatap Ranum dapat penuh arti membuat Ranum semakin bingung dengan sikap kekasihnya itu.
"Soal Rangga?" Ranum tersenyum kecil, dia benar-benar merasakan ada yang aneh karena ini pertama kalinya Agasta menanyakan soal Rangga padanya.
"Kenapa Rangga? Kamu kok tumben nanyain Rangga?" Agasta menunjukan reaksi biasa saja.
"Aku bolehkan tau soal saudara kamu."
"Tentu saja sayang."
"Rangga itu dulu sekolah dimana?" tanya Agasta.
"Di Jakarta. Dia itu frustasi karena cewek makanya mau aja kuliah Australia atas saran papa, lucukan." Ungkapan polos Ranum membuat detak jantung Agasta seakan berhenti.
"Cewek? Pacarnya?"
"Yaiyalah sayang pacarnya, katanya sih kalau cewek itu selingkuh dengan sahabat tuh cewek. Aku gak tau juga sih, tapi yang pasti Rangga galau banget gara-gara cewek itu, aku sendiri gak pernah dikenali ceweknya. Rangga itu misterius tau nggak?" muka Agasta sejenak berubah menjadi sedih. "Kamu kenapa?" Ranum sadar perubahan wajah Agasta.
"Gak. Aku kasian aja dengar tentang Rangga. Gimana kalau selama ini dia salah paham?" Ranum seolah Agasta mengetahui sesuatu.
"Ehm.. Kamu kenal sama Rangga?"
Astaga.. Tanpa Agasta sadari ia sudah bereksi mencurigakan. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menghembuskan pelan.
"Enggak. Kenal darimana juga? Kamu kan tau aku sekolah dulu di Bandung." Ranum memutar bola matanya berpikir.
"Benar juga. Mana mungkin kamu kenal Rangga, ya kan." Agasta lega Ranum percaya, kalau sampai curiga bisa jadi Ranum langsung menanyakan tentang dirinya pada Rangga.
"Kamu mau buah gak? Aku kupasin ya." Rasanya bibir Ranum kering karena tersenyum tanpa henti. "Jangan senyum terus tapi jawab mau apa nggak?"
"Ya maulah sayangku. Hemm.. Kamu baik banget deh, makin cinta akunya." Agasta berdecak kecil sembari mengambil satu buah apel untuk Ranum.
"Kak Cici kok belum balik lagi ya." Ranum baru teringat daritadi Cici belum juga kembali.
"Oh ya untung kamu ingatin, coba aku telpon deh." Ranum mengambil ponsel di nakas.
Belum wanita itu mencari nomor Cici dari kontaknya. Ponselnya justru sudah berbunyi. Mata Ranum membulat pasalnya itu telpon dari Rangga. "Rangga." Agasta terkejut hingga tangan teriris pisau.
"Auh.."
"Oh God.. Agasta, kamu hati-hati dong. Tangan kamu berdarah. Obat dulu sana gih." Pinta Ranum khawatir. Agasta menggeleng sambil mengisap jari untuk menghentikan darahnya yang keluar.
"Luka kecil. Siapa telpon kamu?"
"Ah iya.. Rangga nih. Aku angkat ya." Agasta mengangguk setuju.
Kebetulan Rangga saat itu melakukan video call. Agasta tak mengeluarkan suara apapun, ia hanya menyiapkan buah untuk Ranum.
"Halo.. Ngapain lo telpon gue?" ketus Ranum mengangkat telpon saudaranya.
"Yaelah lo galak amat sama gue. Lagi dimana lo?" Ranum mengigit bibir bawahnya, dia sungguh lupa Rangga hapal semua latar setiap rumah mereka, walaupun sudah beberapa tahun tidak kembali ingatan saudaranya itu tak pernah rusak.
"Bukan urusan lo!" Ranum tak ingin Rangga tau jika dia lagi di rumah sakit. Bisa gawat, dia akan mengadu pada kedua orang tua mereka. Ranum tak ingin membuat orang tuanya khawatir.
"Rumah cowok lo ya. Jangan macam-macam lo, ingat saudara lo bisa bunuh dia kalau sampai nyentuh adik gue." Agasta tertegun, dia mengenal betul suara itu. Tak mungkin pernah Agasta lupa suara Rangga.
"Cowok gue itu baik banget, dia nggak akan macam-macam gue. Gak usah berlebihan lo. Dasar jomblo!" Umpat Ranum membuat Rangga sekilas tertawa dari layar ponselnya.
Agasta memberikan buah yang telah dipotongnya, dia tak ingin bersuara atau Rangga melihatnya, hingga ia memilih keluar dari ruangan tersebut.
Ranum merengkuh tangan Agasta. "Mau kemana?" tanya Ranum tanpa suara namun Agasta mengerti dengan pertanyaan Ranum. Agasta hanya mengelus perutnya agar Ranum mengira dia lapar.
Kemudian Agasta keluar, ia menuju kantin. Ingin meredam otaknya yang lagi tidak bisa berpikir dengan baik. Mungkin Agasta terlalu pengecut karena sama sekali tidak berani menghadapi Rangga, tepatnya ia takut Rangga akan memisahkannya bersama Ranum.
Setelah Agasta keluar Ranum masih telponan dengan Rangga. "Agas ya? Kenalin dong sama gue." Bibir Ranum mengerucut.
"Ogah! Emang lo siapa?"
"Mulai belagu lo ya, lupa gue ini abang kesayangan lo. Gak bisa lanjut hubungan lo, kalau gak ada restu gue." Rasanya Ranum ingin mematikan ponselnya, tapi ia juga kangen bertengkar dengan Rangga.
"Malas banget minta restu lo!" Rangga tertawa bahak, tampaknya ia puas membuat Ranum marah.
"Kalau cuma telpon gue buat cela doang. Gak usah telpon, malas gue. Ketawa lo garing tau gak?" bukannya berhenti mengejek Rangga semakin tak bisa menahan ketawanya. "Rangga!!!" pekik Ranum kesal.
"Bawel lo! Ya udah gue minta maaf ya." Kata Rangga.
"Iseng amat lo."
"Eh.. Gue baru sadar kepala lo kenapa?" mata Ranum membesar, dia sungguh lupa dengan perban di kepalanya. Bodoh sekali dia.
"Hehe.." Ranum menyengir kecil. "Ini tadi gue main game sama Agas. Gue kalah jadi dapat perban gini." Bohong Ranum berharap Rangga sama sekali tak curiga.
"Oh.. Kirain kepala lo luka." Komentar Rangga. "Udah ya. Gue mau temani mama belanja." Panggilan telpon terputus. Ranum menghela napas panjang.
"Akhirnya. Untungnya Rangga bego percaya sama gue. Gimana gak diselingkuhin, gue bohong aja percaya." Ucap Ranum sendiri sambil terkekeh.
***