Ranum tersadar dari tidurnya, ketika mendengar alarm berbunyi. Dia benar-benar sudah terlambat, apalagi hari ini dia ada kelas pagi. Sungguh sial hidup Ranum!!
Ranum berdecak berkali-kali, bahkan nama kebun binatang ia sebutkan.
"Anjing... Gua telat!!
Kenapa juga gua bergadang demi nonton oppa kesayangan gua. Kampret!!"
Namun saat keluar kamar Ranum terpelongo sesaat, mimpi apa dia semalam, pangeran kuda putihnya menjemput, seingat Ranum, ia tidak meminta jemput.
"Udah maki-maki sendirinya." Sindir Agasta. Ranum memasang muka bodohnya, sebelum pergi dia berpamit dengan ibunya yang kebetulan ada di rumah.
"Mah, Ranum pergi dulu ya." Ranum menyalami tangan Dewi, dia hanya bisa terkekeh setiap melihat tingkah konyol Ranum. Selalu ada saja.
Setelah berpamitan Ranum pergi menggandeng Agasta, lalu memasuki mobil laki-laki itu. Ranum menghirum parfum mobil Agasta, seperti biasa aroma segar nan lembut. Bahkan Ranum sudah hapal sejenis parfum yang Agasta gunakan. Dari awal pacaran sampai detik ini, pria itu setia menggunakan California Car Scents.
Perfect boy.
Julukan itu selalu pantas bagi Ranum untuk Agasta. Dia yakin kebanyakan iri, ketika melihat dia bersama Agasta. Apalagi Nilam wanita yang selalu Ranum cemburui.
"Kamu tumben jemput aku." Komentar Ranum enteng sambil membenahi rambutnya tergerai indah. Walaupun Agasta tak pernah mengomentari penampilannya, apalagi memujinya, itu udah pasti hanya dalam mimpi.
"Mau." Ranum mendengus bosan, ia selalu mendapatkan jawaban irit. Kadang dia berpikir pacaran dengan Agasta, harus menelan batinnya sendiri.
"Mau doang." Sebal Ranum. "Waktu aku minta jemput, kamunya yang malah nggak bisa." Agasta tak merespon, ia sudah biasa mendengar ocehan Ranum yang tak penting. "Ish.. Kebiasaan deh kamu kalau diajak ngomong ngebatu sendiri." Agasta hanya berdecak yang matanya sambil fokus dengan setir.
"Itu kamu udah tahu, kan. Ngapain masih ngoceh." Ranum mengelus dadanya, dia memilih diam daripada banyak akan menimbulkan pertengkaran.
Ranum memainkan ponselnya, melihat beberapa chat dari grup tiga serangkai yang beranggota, Ranum, Alya dan Lala. Sebenarnya tidak terlalu penting membuat grup tapi sungguh dua sahabatnya sering menghibah didalam sana.
Tiga Serangkai
Lala
Ranum, lo nggak lupa kita ada kelas pagi. Dandan lo jangan dilama-lamain. Secantik apapun lo, cowok lo tetap kaku.
Alya
Palingan dia masih mimpiin Agasta yang romantis, kasian banget Ranum harus melihat Agasta romantis dalam mimpi doang
Lala
Jangan gitu dong, Al. Ntar Ranum ngamuk.
Alya
Gua bicara fakta! jangan-jangan Agasta tuh suka sama Nilam, tapi nggak dapat jadi Ranum deh pelampisannya.
"Biad..." Ranum tak melanjutkan kalimat kasar yang akan ia lontarkan, seketika ia melirik Agasta yang fokus dengan setiran. Dia merasa lega, Agasta sama sekali tidak mendengarkannya.
"Mulut kamu itu kebiasaan, mau aku jahit."
Sial! gua pikir dia nggak dengar, kalau udah soal ginian, peka banget dia.
Ranum merutuki dalam hatinya, ia menghela napas beratnya. "Apaan sih, gas. Emangnya aku mau ngomong apa coba." Agasta mendelik malas, ia pintar dalam segala hal, termasuk soal ini.
"Kamu pikir aku bodoh, sampai nggak tahu apa yang mau kamu omongin." Hardik Agasta membuat Ranum terdiam. Ranum memang bisa menjadi orang terbodoh, jika mendapatkan kemarahan Agasta, nyalinya langsung menciut. Dirinya terlalu takut kehilangan Agasta, apalagi sampai Agasta memutuskan hubungan mereka.
"Aku gak bilang kamu bodoh, jelas kamu pintar nilai ip kamu dari semester awal sampai sekarang tinggi." Ranum memang pandai menyelamatkan dirinya sendiri, dan untungnya lagi dia udah sampai. "Gak terasa udah sampai. Aku duluan ya, pacar. Ada kuliah pagi." Agasta menggeleng kepalanya perlahan memandangi Ranum yang berburu seperti dikejar anjing.
***
Sebenarnya hari ini Agasta tidak ada kuliah, dia sengaja menjemput Ranum, agar bisa mendengar ocehan wanita itu. Dia bahkan menjemput sebelum Ranum bangun dari tidurnya. Ranum itu baik, selalu sabar dengan sikap kaku dan cueknya. Pacaran mereka bisa dilihat sangat tidak sehat, dimana pasangan lain sering menghabiskan waktu bersama, sedangkan Agasta selalu sibuk sendiri membuat Ranum lebih sering berpergian sendiri.
Laki-laki itu setelah mengantar Ranum, ia kembali ke apartementnya. Seperti biasa Irfan membawa salah satu perempuan koleksinya, sampai kadang Agasta bingung yang mana pacar Irfan. "Nggak kuliah lo?" sambar Irfan yang menyadari kehadiran Agasta. Pria yang memiliki wajah blesteran itu, menggeleng dengan kelakuan sahabatnya yang sangat minus.
"Gua nggak ada kelas hari ini." Ucap Agasta santai. Irfan melirik jam dinding, lalu menatap heran Agasta, tak biasanya Agasta pergi sepagi ini.
"Darimana lo sepagi ini? jogging, hah?" tebak Irfan asal.
"Antar Ranum ke kampus." Irfan hampir tak percaya, ia tertawa kecil sambil memegang dahi Agasta, ia memastikan apakah Agasta sehat. "Ck.. Apaan lo?" Agasta menepis tangan Irfan.
"Lo nggak biasanya jemput Ranum, biasa juga lo biarin Ranum pergi sendiri." Agasta menoyor kepala Irfan yang terlalu banyak bicara.
"Bacot lo! urus aja pacar lo." Ucap Agasta sarkas, lalu pergi menuju kamarnya, ia kembali belajar.
Bagi Agasta hidup harus memiliki tujuan. Dia memiliki mimpi yang ingin dia gapai. Obsesi Agasta bukan Ranum, namun nomor satu dalam hidupnya belajar. Hanya menunggu setengah tahun lagi.
Satu hal yang Agasta tak mengerti sampai sekarang, kenapa dia menginginkan Ranum. Kenapa dia menerima Ranum waktu itu, dan kenapa pula dia melanggar komitmennya dulu.
Ya. . Benar! Agasta dulu pernah berkomitmen tidak akan ada wanita dalam hidupnya. Pacaran akan hanya membuang waktunya. Namun ia menjilat komitmen yang dia buat sendiri.
"Pagi-pagi udah ngelamun lo."
Entah darimana setan jantan ini, tiba-tiba memasuki kamarnya membuat Agasta membuyarkan segala lamunannya.
"Kalau masuk kamar orang, ketuk pintu dulu." Komentar Agasta. Irfan memicingkan matanya, perasaan daritadi dia sudah mengetuk pintu berulang kali, memang dasar Agasta aja nggak dengar.
"Eh.. Kampret! gua udah ngetuk pintu kamar lo. Makanya jangan melamun, tuli lo sekarang, kan." Cecar Irfan sudah biasa. Agasta tak terlalu menanggapinya.
"Ngapain lo ke kamar gua?" tanya Agasta. Irfan sampai lupa tujuannya.
"Gua pinjam laptop lo, laptop gua error, cuma bentar doang." Meski sering bermain perempuan, tapi Irfan tidak pernah lupa dengan tugas kuliahnya. Nilainya juga cukup baik di kampus.
"Jangan lama, gua mau ngerjain tugas."
"Sekali-kali nyenangin pacar itu nggak rugi." Gumam Irfan lalu pergi.
Walau Agasta tak pernah cerita, tapi Irfan selalu tahu yang dia pikirkan. Padahal jelas-jelas Agasta ini tertutup dengan siapa saja. Menurutnya diam lebih baik, daripada mengeluarkan argumentasi yang bisa jadi tidak tepat.
Ting
Ranum
Gas, kamu jemput, kan..
Me
Iya.. Jangan pergi sebelum aku jemput..
Ranum
Oke sayang..
Kadang Agasta bingung menempati perasaannya sendiri. Dia tahu Ranum sangat mencintainya, tapi lain sisi, dia tidak bisa seperti pasangan lain yang bisa mengajak pacarnya jalan-jalan. Dia hanya bisa melakukan hal kecil, katakanlah mereka pacaran, namun tak bisa selalu bersama. Banyak orang yang ingin dia pisah dengan Ranum, Agasta tau jika kedua sahabat Ranum itu selalu ingin mereka berpisah. Laki-laki itu paham, ini juga salahnya, kalau saja dia lebih bisa meluangkan waktu untuk Ranum.