Ranum menunggu Agasta menjemputnya, ia tampak kesal. Karena salah satu teman Agasta menghampirinya, bahkan mengklaim dirinya w************n, tidak punya harga diri.
Apa maksudnya coba?
Gue nggak pernah niat nyakitin siapapun!
Tapi kalau ada yang nilai gue murah, sumpah gue ngerasa terhina.
"Lo masih kesal kejadian tadi?" komentar Alya yang duduk disampingnya. Ranum memang gila, tapi dia tak semurahan itu.
"Ya keterlaluan banget sih Putri itu, memang dia punya hak apa sih marah sama lo." Ucap Lala tak terima ada yang menghina sahabatnya. "Sumpah rasanya mau gue cakar mulutnya, gak ada akhlaknya." Ucapnya lagi.
Ranum menghentakkan kakinya berulang kali, ia merasa Putri seperti itu karena dia teman Nilam. Makanya dia sampai rela menghampirinya demi untuk menghinanya depan semua orang. "Gue sakit hati banget. Darimana dia bilang gue murahan, harusnya dia ngaca juga, apa dia lebih baik dari gua." Gusar Ranum.
"Tapi, Num. Kenapa sih lo gila banget sampai ngelakuin hal ini." Ucap Alya polos membuat Ranum bingung. Dia menatap intens Alya seolah sahabatnya itu tahu penyebabnya.
"Lakukan apa maksud lo?" tanya Ranum heran.
"Coba deh lo lihat video viral yang baru tersebar di media sosial, ini benaran lo?" Seketika Ranum merampas benda pipih yang Alya genggam.
Ranum tak percaya ini benaran dirinya dengan seorang pria yang dia pastikan ini video lama, tapi Ranum sendiri lupa kejadiannya kapan. Dan sepertinya saat itu dia masih belum mengenal Agasta. "Astaga.. Kenapa video ini tersebar, sumpah gua nggak tau apapun."
"Tapi itu benaran lo?" tanya Lala berusaha menyelidik. Ranum mengangguk, dia tahu pasti semua orang mencemohnya.
Ketika itu dia bersama saudara kembar laki-lakinya yang sekarang berada di Australia, video yang terjadi karena pesta perpisahan saudaranya, dan cowok yang merangkul Ranum di suatu bar itu, kebetulan sahabat saudaranya, dia mabuk. Ranum berusaha menjaganya agar tidak melakukan hal yang aneh. Dan yang membuat dirinya heran, kejadian ini sudah lama, lalu kenapa baru sekarang videonya tersebar dan siapa yang mengambil videonya.
"Iya, itu memang gua. Tapi sumpah gua nggak ngelakuin apapun, disana juga ada saudara gua." Lala dan Alya percaya. Karena dia sangat mengenal Ranum dari kecil, walaupun Ranum grasak-grusuk tapi dia bisa menjaga dirinya, hingga tak berbuat hal bodoh.
"Lo jangan sedih, pokoknya gua dan Lala akan selalu ada buat lo. Sekarang yang harus lo pikirkan, apa Agasta percaya?"
Brengsek.. Agasta pasti pemikiran sama seperti temannya. Dan sekarang hubungan gua dan dia, skakmat gue. Sumpah gue nggak mau kehilangan Agasta.
***
Ranum menghela napas panjang, ketika memasuki mobil Agasta, seperti biasa pria itu pembawaannya kalem dan cool. Dia bahkan masih bisa tersenyum padanya, dengan setengah sikap cueknya. "Udah daritadi nunggu." Lirih Ranum ragu. Agasta bahkan tidak menunjukan reaksi apapun, dia tetap bersikap santai tanpa ada beban.
"Enggak juga." Jawab Agasta singkat, padat, dan jelas. Ranum masih terlihat tegang, meski Agasta tak menunjukan reaksinya. Ia menduga jika Agasta belum melihat videonya, secara Agasta tidak terlalu memperdulikan ponsel, untuk membalas chatnya, hanya sekali-kali.
"Kamu udah lihat videonya belum." Akhirnya Ranum sendiri membuka topik masalahnya. Agasta seperti biasa fokus menyetir tanpa menghiraukan Ranum.
Ranum mengerucut bibirnya tak dapat jawaban dari Agasta. Padahal dia panik memikirkan hal bodoh ini. "Agas, gua ngomong sama lo. Dengar nggak sih!" ucap Ranum lagi, kali ini suaranya terdengar kesal.
"Dengar, Ranum. Aku lagi nyetir, bentar lagi sampai." Ranum baru sadar jika ini bukan jalan rumahnya, melainkan apartement Agasta.
Ranum semakin gusar sendiri, ia berpikir jika memang Agasta akan memarahinya setelah ini, itu kenapa Agasta bukan mengantarnya pulang, malah membawanya ke apartementnya. "Kok apartment kamu?" ucap herannya. Agasta tak menggubris, ia memasuki wilayah apartement, ia hendak memarkirkan mobil.
Ranum berjalan di belakang Agasta, tidak seantusias biasa menempel Agasta, ia menjaga jarak membuat Agasta sendiri bingung dengan perubahan Ranum, padahal wanita itu selalu heboh dan cerewet, namun dia menjadi bisu seolah ada yang menyumbat mulutnya. "Kamu tunggu sini, aku mau ambil buku di kamar." Ucap Agasta enteng. Ranum duduk di depan TV ruang tengah, kebetulan Irfan lagi tidak di tempat juga, jadi mereka hanya berdua.
"Gas, aku mau ngomong sama kamu. Ini serius." Ranum berkata saat Agasta sudah muncul duduk disampingnya dengan buku tebal yang hendak ia baca.
"Hmmm... Ngomong aja." Jawab Agasta tak terbebani.
Ihh... Agasta ini peka atau nggak sih sama gua, ini jantung gua mau copot takut dia marah.
"Kamu udah lihat video itu belum." Agasta tak menunjukan reaksi, ia bahkan tidak melirik Ranum sedikitpun.
"Udah." Benaran jantungan Ranum, dia bahkan berpikir Agasta belum lihat sama sekali, tapi nyatanya diluar dugaan.
"Terus." Agasta menutup bukunya sejenak, lalu menatap Ranum yang tidak baik-baik saja.
"Terus apa?" Ranum tergangga, ia tak percaya tanggapan Agasta biasa saja. Seolah video itu bukan masalah untuknya, bahkan karena video sialan itu, hampir anak kampus memberi predikat wanita murah. Sementara Agasta yang jelas kekasihnya, seperti tidak ada masalah. Ini dia yang terlalu berlebihan, atau Agasta yang memang tak perduli dengannya.
"Nggak marah gitu." Agasta mengeryit dahinya.
"Marah untuk hal sepele ini." Ucap Agasta bebas.
Astaga.. Ini manusia hatinya terbuat dari apa. Sebagai pacar harus ada rasa cemburu, tapi malah santai. Gue nggak habis pikir. Kadang gue pikir Agasta gak cinta, seperti gue yang cinta mati sama dia.
Agasta memang sudah melihat video yang dimaksud Ranum, namun dia bukan tipe orang yang suka menyudutkan kesalahan seseorang. Itu juga dia dapat video, tentu bukan dari sosial media. Teman-temannya mengirimi video itu, dan Agasta dengan santai tidak menanggapi dengan serius.
Ranum menggigit bibirnya bingung, sebenarnya ada untungnya, dia tak perlu repot memohon Agasta percaya, tapi hatinya trenyuh dengan kenyataan Agasta tak seperduli itu padanya. "Aku tau bagi kamu ini bukan hal penting. Tapi, aku akan tetap jelaskan semuanya." Ranum menjeda kalimatnya menghela napas berat. "Itu nama Genta, dia temannya saudara kembar aku yang ada di Australia. Waktu itu kebetulan Genta mabuk, aku cuma jagain dia. Sumpah aku nggak ngapa-ngapain. Kamu nggak anggap aku murahan seperti yang lainnya, kan." Lanjutnya lagi.
Agasta tersenyum hangat, menunjukan dia baik-baik saja. "Kamu nggak perlu dengar omongan orang lain. Yang tau gimananya kamu itu, hanya diri kamu sendiri. Jadi untuk apa kamu tanggapi hal yang malah merugikan diri sendiri." Komentar Agasta membuat Ranum tercenggang, ini mungkin pertama kalinya Agasta berkomentar sepanjang ini, biasa singkat dan Ranum kesal sendiri. Agasta memang selalu bisa bijaksana setiap menanggapi masalah, tidak heran dia selalu mendapat gelar perfect boy sepanjang masa.
Tanpa basa-basi Ranum justru memeluknya, harga diri Ranum sudah biasa jatuh, jika berhadapan dengan Agasta. "Keren banget sih pacar aku." Goda Ranum yang terdengar klasik. Agasta melepaskan pelukan itu sembari menggeleng, tingkah Ranum kumat lagi, padahal tadinya wanita itu seperti anak ayam yang belum dapat jatah makan.
"Hmmm.. " Agasta kembali membuka buku tebalnya. Ranum bangkit, sekarang dia mulai merasa lapar sambil memegang perutnya. "Kenapa lagi?" sadar Ranum gelisah.
"Perut aku lapar, kamu ada mie instan nggak, atau apa kek. Aku ke dapur ya." Tanpa menunggu persetujuan Agasta, ia sudah menuju dapur.
Ranum membongkar isi kulkas, tidak ada stock apapun. Bahkan telur saja tidak ada. Sungguh seperti anak kost, lalu ia mencari pada kitchen kabinet, alhasil hanya satu pop mie yang dia dapat. "Daripada gue lapar, lumayan buat ganjal perut." Ucapnya sendiri.
Sebelum ia menuang air panas, Agasta datang dengan dua bungkus mie ayam membuat mata Ranum berbinar. "Makan nih." Suruh Agasta menyodorkan mie ayam yang sudah menjadi menu favorit wanita itu.
"Kapan belinya?" Agasta menarik Ranum kembali ke ruang depan TV. "Ih.. Agas, kapan kamu beli? jawab dong." Bawel Ranum.
"Aku pesan, tempat mie ayam dekat sini. Daripada kamu nggak kenyang cuma makan pop mie." Kalau soal ini sejujurnya Ranum tidak bisa mengelak, Agasta paling pengertian, dia selalu tepat waktu.
Walaupun hal sederhana ini, itu sudah bisa membuat Ranum melayang terbang. Dia bisa jadi bego, jika depan Agasta. "Makasih ya sayang. Selamat makan." Meski kurangnya Agasta tidak bisa romantis seperti pria lain, tapi itu yang membuatnya jadi istimewa.
Sehabis makan Agasta fokus dengan belajarnya, sedangkan Ranum memainkan ponselnya tak jelas. Ia mulai bosan sendiri, sontak berbaring dipangkuan Agasta. "Gas, kamu nggak capek belajar terus, udah kayak robot." Komentar Ranum yang sudah sering Agasta dengar.
"Aku harus dapat nilai tertinggi." Ranum memajukan bibirnya, sambil menatap ketampanan Agasta tersembunyi dibalik buku. Wanita itu berdecak kagum seketika.
"Kamu itu udah pintar, kan. Untuk apa juga nyiksa otak sendiri, demi nilai yang kamu bisa gapai juga." Agasta tau Ranum bertingkah seperti ini karena khawatir, dia terlalu memaksa diri.
"Kamu sendiri punya keinginan gak?"
"Yah.. Punyalah, sayang."
"Apa?" Ranum memutar bola matanya.
"Aku ingin bertemu saudaraku, tapi dia di Australia, tapi Mamah dan Papah nggak ijinin, karena mereka bilang aku akan repotin nantinya. Terus satu-satu cara aku harus tetap jadi anak baik, kalau liburan baru deh diajak kesana." Ucap Ranum sejujurnya.
"Jadi anak baik nggak mudah, kan. Harus tetap berusaha juga, bukan." Ranum sontak duduk, ia serius mendengarkan ucapan Agasta kali ini. "Sama seperti yang aku lakukan berusaha. Jadi intinya kamu berusaha jadi anak yang baik, biar bisa ketemu saudara kamu. Sementara aku berusaha belajar demi mendapatkan nilai tertinggi."
Sejauh ini, Ranum bangga memiliki Agasta, dia baik, pintar, dewasa, dan satu yang pasti dia milik Ranum. Dan siapapun berani memandang, bahkan hanya sekedar melirik, Ranum nggak pikir panjang untuk membasmi wanita darimanapun itu. Kalau menyangkut masalah Agasta, Ranum bisa menjadi iblis tak bertanduk.