Tidak ada ada yang tau bagaimana isi hati Agasta termasuk Ranum sekalipun. Dunia Agasta terlalu sulit dimengerti, pada akhirnya semua mata menganggap dia sosok yang sempurna, padahal dibalik sosok sempurna banyak tersimpan rahasia yang tidak ada siapapun mengetahui, sikap tertutup Agasta menjadikan sosok terdiam.
Dulu Agasta berpikir kesalahan masalalu bisa diperbaiki, ia pernah membuat nyawa seseorang hilang karena seorang wanita bernama Athala, dalam hidup Agasta tak pernah sebodoh itu, sampai lari dari kenyataan tentang dirinya. Ia sendiri seperti tidur mengenal dirinya sendiri. Jika waktu bisa diputar Agasta akan menjelaskan kepada Rangga yang merupakan seseorang membencinya, jika dia sama sekali tak berniat untuk membunuh sahabatnya, ia hanya ingin memberikan pelajaran.
Ranum dia selalu kagum dengan Agasta yang bisa membuatnya seakan hidup di dunia misteri. Saking senang berada di dekat Agasta, Ranum sampai lupa waktu, malam sudah terlalu larut. Dia sudah duduk di mobil Agasta, dan dengan santai ia meletakkan dagunya pada sisi pundak Agasta yang menyetir seolah memang memancing nafsu pria itu yang sampai detik ini menciumnya.
"Ranum, kamu jangan gini, aku lagi nyetir nih." Komentar Agasta. Ranum bukannya menjauh dia justru memainkan rambut tipit tak terlihat di dagu Agasta.
"Ih.. Agas, nyetir aja. Aku mau tetap dekat sama kamu." Ucap Ranum dengan nada manja. "Gas, jangan tinggalin aku ya. Aku sayang banget sama kamu." Tambah wanita itu berkata dengan jujur.
"Hmmm." Seperti biasa respon Agasta menyebalkan bagi Ranum, tidak ada romantis sama sekali. Ranum berdecak kesal sembari menjauh dari pundak Agasta.
"Ish.. Kamu nggak romantis banget sih, gas. Aku belum pernah dengar kamu bilang sayang sama aku." Oceh Ranum seperti biasa, bagi Agasta kalau ada Ranum tidak perlu ada musik di mobilnya, karena sudah ada musik alami bagi Ranum.
"Itu nggak terlalu penting, Ranum. Kalau kamu mau ngomel, ngomel aja. Tapi jangan ngangguin aku nyetir, ntar bukan ke rumah kamu malah rumah sakit." Protes Agasta, namun suaranya tetap santai seperti biasa. Kadang Ranum sendiri bingung, dia pacaran dengan Agasta sudah lama, belum pernah melihat Agasta ngamuk seperti dirinya biasa, pria itu tetap bawaannya tenang, kesal sekalipun dengan Ranum.
"Kalau ke rumah sakit sama kamu, kenapa nggak." Gumam Ranum asal membuat Agasta menggeleng tak percaya dengan tingkah kekasihnya itu.
Karena bosan Ranum membongkar isi laci mobil Agasta, ternyata diam-diam Agasta menyimpan fotonya dalam mobil. "Wah, Agasta. Kamu berani menyimpan foto perempuan didalam mobil." Agasta tak bergeming, lantaran dia tau itu foto Ranum.
Waktu itu Ranum memaksanya menemaninya cuci foto, laki-laki itu terpaksa setuju. Bahkan wanita itu memberikan fotonya, padahal dia sendiri menyimpannya. Agasta tentu tak pernah memindahkan kemanapun. "Ciye.. Masih simpan foto aku."
"Kan kamu yang simpan disitu." Balas Agasta malah membuat Ranum cemberut. Tadinya dia berharap kalimat romantis yang mampu melayangkan dirinya keluar dari mulut Agasta.
"Ya aku tau!" ucap Ranum galak. Agasta yang sudah biasa menghadapi Ranum merajuk, ia tak terlalu ambil pusing, pria itu tetap fokus menyetir yang sebentar lagi akan sampai.
Mobil Agasta telah sampai tepat depan rumah Ranum, Laki-laki itu melirik jam tangannya menunjukan sudah setengah dua belas malam, Agasta tak biasanya ikut turun, ia turun karena merasa telah mengantar Ranum selarut ini. "Kamu kok turun." Ucap Ranum heran.
"Aku mau minta maaf sama orang tua kamu, karena telah bawa pulang kamu jam segini." Ranum yang tadinya kesal prihal dalam mobil, senyumnya mendadak mengembang.
Hanya hal kecil ini saja sudah mampu membuat hatinya porak poranda, rasanya Ranum butuh oksigen. "Gemes deh sama kamu, pacar." Ranum mencubit pipi Agasta. Laki-laki itu disiksa seperti apapun dengan Ranum tidak bergeming, kecuali Ranum sudah melewati batas, tentu dia akan marah.
Sayangnya saat Ranum memasuki rumah, kedua orang tuanya sudah tidur, karena baru pulang dari luar kota. "Aku langsung pulang ya." Pamit Agasta. Ranum menarik tangan Agasta, wanita itu dengan agresifnya mendekat, lalu mencium pipi Agasta.
"Ranum!" Ucap Agasta yang kesal dengan sikap Ranum. "Kamu nggak boleh gitu, kita belum nikah. Aku udah sering bilang itu, kan." Protes Agasta tanpa meninggikan suaranya, walaupun kesal ia tak pernah membentak Ranum, apalagu sampai meneriakinya.
"Cuma pipi doang." Ranum tetap membela dirinya, ia tak mau kalah. Walau Ranum tau dia tak pernah menang melawan Agasta yang emosinya tidak selabil dirinya.
"Ini yang pertama dan terakhir kali." Ranum menghela napas berat, kalau semua pria ingin mendapatkan ciuman dari kekasihnya tapi tidak untuk Agasta, dia selalu menolak berbuat hal yang melanggar norma agama. Dia bukan tipe sok suci, karena orang tua Agasta selalu mengajarkan untuk menghormati wanita, itu artinya dia akan menghormati ibunye sendiri.
***
Semua kampus tahu Agasta milik Ranum, siapapun yang berani mendekati Agasta akan berhadapan dengan Ranum. Berbeda dengan Agasta yang tampak cuek, meski ada cowok lain menggodanya sekalipun.
Hari ini Ranum kerajinan, padahal dia tidak ada jadwal mata kuliah, tapi dia malah sekarang berada di kampus. Malahan yang membuat Ranum heran, gossip video tentang seakan pupus ditelan bumi. Tidak ada satu orangpun menghina, padahal kemarin dia dianggap murahan dan tak bermoral. "La, semua orang kenapa sih?" tanya Ranum heran pada sahabatnya yang tengah makan disampingnya. Ranum memeng berada di kantin menemani Lala yang merengek kelaparan.
"Kenapa apanya?" Lala menoleh dengan mulutnya yang masih penuh makanan. Ranum sudah tak heran kelakuan Lala itu.
"Lihat deh mereka kayak lupa gitu dengan masalah video gue, padahal kemarin gue dikatain kayak sampah." Lala juga baru sadar, lalu melihat sekelilingnya seolah mereka lupa ingatan. Dia saja masih ingat.
"Asli sumpah kenapa mereka ya. Gua rasa masalah video itu udah kelar deh, videonya tiba-tiba hilang dari sosial media." Ranum langsung mengambil ponselnya memastikan, ternyata benar videonya udah hilang gitu saja. Tentu Ranum tidak perlu repot hadapi orang sekitarnya yang menyebalkan.
"Lo benar, La. Udah nggak ada video gue, kok bisa ya."
"Lo gak sadar, bukannya dari tadi malam videonya tiba-tiba hilang." Ranum menggeleng dengan tampangnya yang polos.
"Enggak, gue lagi di apartement Agasta terus gue ketiduran deh." Ucap Ranum seadanya. Lala mengusap keringat ditepian bibir setelah selesai makan bakso super pedas.
"Agasta lagi, gue heran sama lo, kayak nggak ada cowok lain lagi. Apa sih yang lo lihat dari Agasta?" Lala selalu sensitif setiap Ranum menyebut nama Agasta, ia bisa lihat hampir tiap hari Ranum marah-marah sendiri karena Agasta.
"Agasta itu perfect dan gue cinta sama dia. Lo nggak akan bisa lihat betapa spesialnya Agasta, ini gue bukan bicarakan soal ketampanan Agasta ya." Lala mendengus kesal, sampai mulutnya pegal juga tidak akan membuat mata Ranum terbuka atau niat mencari laki-laki lain selain Agasta.
"Sinting lo!" cecar Lala.
Ranum memainkan ponselnya, ia melihat snapgram miliknya, dan salah satu story teman kelas Agasta. Wajah Ranum berubah menjadi kesal. Bagaimana tidak, Ranum melihat foto Agasta yang berdekatan dengan Nilam, wanita itu langsung menggebrak meja membuat Lala disampingnya terjenggit.
"Sial lo! jantungan gue nih." Protes Lala sambil mengelus dadanya. "Kenapa lagi lo? hidup lo kalau nggak ngeselin nggak bisa apa." Lanjutnya bersungut.
Ranum yang mendidih hatinya, rasa sudah berada di ubun-ubun. Dia ingin sekali mencekik Nilam kalau saja mereka satu fakultas.
Temannya kemarin bilang gue murahan, sekarang dia sendiri murahan dekat sama cowok gue.
Hingga Ranum merutuk dalam hatinya, lalu ia dengan santai mengambil ponselnya mengetik sesuatu, amarahnya meledak sendiri. Kalau soal Agasta tidak akan bisa menandingi kemarahan Ranum, walaupun memang Ranum terkadang kekanak-kanakan, tidak dewasa. Dan beruntung dia mendapatkan pasangan yang cukup dewasa, hingga bisa saling melengkapi.
Me
Enak banget kamu foto dengan cewek murahan, kamu nggak. ada harga diri nempel sama dia!!
Send...
Ranum mengirim pesan itu pada Agasta, tanpa pertimbangan, tanpa pikir panjang. Otak dan hati sudah kerasukan setan, beberapa kali Ranum menghentakan kakinya.
Melihat gelagat Ranum, Lala sudah paham yang terjadi, bahkan sudah terbiasa. Yang membuatnya risih, pasti setelah ini Ranum cerocos nggak jelas. "Anjing tuh perempuan, berani banget nempel dengan cowok gue." Lala mendengus jengkel, belum sampai lima menit asumsinya telah terjadi. "Lihat deh, La. Sial nggak tuh, pengen gua cakar mukanya." Lanjut Ranum ngedumel.
Ranum kembali melihat ponselnya yang belum ada balasan dari Agasta. Ia semakin geram dengan Agasta, Ranum memutuskan untuk pulang. Wanita itu juga merasa tidak ada kelas untuknya hari ini. Ia masuk mobil, lalu mengambil ponselnya kembali.
Me
Gua benci sama lo! jijik banget lo, sama gue aja nggak mau dekat-dekat. Lah sih Nilam anjing lo malah nempek, lo anggap apa gua. Sial banget punya pacar kayak lo.
Ranum memang seringkali tak bisa mengontrol emosinya, ketika marah, dia selalu melontarkan kalimat kasar, sadar atau tidak itu yang selain dia lakukan.
Wanita itu bukannya langsung pulang, ia melampiskan amarahnya suatu tempat yang tidak ada satu orang yang ketahui, kecuali saudara kembarnya. Ranum pergi ke markas saudaranya, ia memukuli samsak membayangkan wajah Nilam dan Agasta.
"Agasta b******k! berani banget giniin gua. Nilam lebih cantik dari gua apa, kenapa dia lebih enjoy sama Nilam daripada gua." Oceh Ranum sendiri sambil memukuli samsak dihadapannya. Untungnya saudaranya tidak berada di tempat, hingga ia bebas kemari tanpa siapapun. "Bangsat..... " Jerit Ranum yang pasti tidak akan ada yang mendengar.
Tiba-tiba suaranya ponsel berbunyi, ia menghentikan aksinya, lalu melirik handphone yang berdering. Lalu Ranum menyasap keringatnya yang menetes berkali-kali.
Ranum mengambil ponselnya, matanya membesar melihat layar handphonenya yang tertera nama Agasta, napas Ranum masih terengah-engah. Ia mengatur napasnya lebih tenang sebelum mengangkat telpon dari Agasta yang sudah pasti akan memarahinya. "Ha.. "
"Kamu dimana? aku mau kita bicara." Belum juga Ranum menyelesaikan kalimatnya, Agasta sudah menyambar dari seberang sana.
"Lo nggak perlu tau gua dimana. Urusin aja sih Nilam itu, gua kasih tau ya, gua benci sama lo."
"Ranum, sekali lagi aku tanya kamu dimana?" Ranum menelan ludahnya dengan sudah payah, ia tahu suara Agasta menunjukan kemarahannya.
"Gue udah bilang bukan urusan lo!" Ranum dengan tidak sopan langsung menutup telpon sepihak, dia bisa membayangkan kemarahan Agasta, pria itu akan menampangkan ketegasan di wajahnya.