Bab 5

1026 Kata
Ranum membanting ponselnya kesal, rasanya ia butuh ke ke kutub utara agar hatinya bisa mendingin setelah melihat foto Agasta dan Nilam. Apalagi barusan mendapat telpon dari Agasta membuatnya semakin marah dengan pria itu, tepatnya ia cemburu. Kenapa sama gue Agasta gak bisa sedekat itu? Kenapa dekat Nilam dia beda banget? Decak Ranum dalam hatinya. Tubuh wanita itu sudah bercucuran keringat, lalu Ranum pergi dari tempat itu, ia hendak pulang ke rumahnya. Ranum ingin sekali menangis namun ia tak mau mengeluarkan air matanya karena merasakan dapat pengkhianatan, padahal Ranum sama sekali belum mendengar penjelasan Agasta. Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Ranum masih membayangkan foto Agasta bersama Nilam, apalagi ketika Alya dan Lala mengkritiknya seolah Agasta memang tidak pernah mencintainya. Ranum yang selalu berusaha menjadi pacar yang baik untuk Agasta, namun sampai hari ini hubungannya ini seperti tidak ada arahnya, terlihat bodoh dan konyol. Namun sesampainya Ranum di depan rumahnya, ia tak menyangka sudah ada Agasta dengan muka tak bersahabat berada depan rumahnya. "Aa--agaa..agasta." Ucap Ranum terbata-bata saat keluar dari mobilnya. Tatapan Agasta ketika itu sangatlah tajam membuat Ranum ketakutan, akan tetapi ia mencoba tenang tanpa menunjukan kekalutan di wajahnya. "Mau apa?" lontar Ranum lagi dengan nada ketus. Agasta berdecak jengkel dengan sikap kekanakan Ranum, bahkan ia tak tahu kenapa Ranum mendadak marah dengannya tanpa sebab. "Mau apa? Kamu tanya mau apa, hah?" ujar Agasta dengan suara baritonnya, untungnya kedua orang tua Ranum sepertinya sudah tidur hingga tak perlu mendengar keributan mereka. Agasta memang seharian mencari Ranum setelah wanita itu mengirim pesan padanya, tambah lagi saat bicara ditelpon Ranum justru mematikan telponnya sepihak. Dari di kampus sampai tempat yang biasa Ranum kunjungi, bahkan ia pergi ke rumah Alya dan Lala memastikan baik-baik saja. Pria itu lebih khawatir dengan keselamatan Ranum yang tengah emosinya tak stabil. Ranum mengernyit membawa wajah polosnya. "Udahlah aku capek mau istirahat, lebih kamu pulang sana." Usir wanita itu secara halus. Agasta berusaha menahan amarahnya sudah diatas kepalanya. "Sini." Agasta menarik tangan Ranum sedikit menjauh dari rumah kekasihnya itu. Ranum sendiri sudah bergidik ngeri dengan Agasta, walaupun pacaran cukup lama ia sama sekali tak bisa menebak sikap Agasta. "Agas, lepaskan!!" pekik Ranum tak membuat Agasta menggubrisnya. "Agasta!!" pria itu memberikan Ranum tatapan intens membuatnya susah menelan air liur. "Lihat ini! Apa maksud chat kamu ini?" Agasta menunjukkan pesan yang Ranum kirim. Wanita itu terdiam, seakan mendadak kemarahan tercekat sesaat. Sial!! Umpat wanita itu membatin sendiri. "Yah.. Kamu pikir sendiri ajah, selama ini kamu gak cinta sama aku kan. Terus aku chat gitu, kamu malah marah, kamu jalan sama Nilam kayak gak bersalah gitu. Jijik aku lihatnya." Akhirnya Ranum bisa melontarkan kemarahannya. Agasta menghempaskan napas kasarnya, ia tak mungkin memarahi Ranum yang lagi meledak-ledak. "Ranum, aku lagi gak mau ribut. Kamu maunya apa sekarang?" Ranum terdiam, ia merunduk tak berani menatap muka Agasta yang datar. Tidak seperti yang Ranum harapkan, Agasta sama sekali tidak menjelaskan bahkan menyakinkannya jika pria itu mencintainya. "Gak tau! Aku mau pulang aja." Ucap Ranum sambil melangkahkan kakinya. "Ya udah.. Pulang." Ranum tergangga, rasanya hatinya remuk mendapatkan sikap Agasta yang tak perduli perasaannya. Agasta mengenggam tangan Ranum sambil berjalan mengantar wanita itu menuju rumahnya dengan berjalan kaki. "Udah sampai. Kamu masuk, aku juga harus pulang." Ranum menghentakkan kakinya masuk dalam rumahnya. "Agasta!" laki-laki itu menoleh kembali kearah Ranum yang sudah berada depan pintu. "Aku benci sama kamu!" kemudian Ranum masuk rumahnya dengan membanting pintu membuat Agasta menggeleng kepalanya melihat tingkah wanita tersebut. *** Dengan hati yang berat Agasta pulang ke apartement. Mukanya tampak murung membuat sahabatnya Irfan heran. "Gas, kenapa lo?" tanpa menjawab Agasta menyelonong masuk menuju kamarnya. Namun Irfan sangat mengenal karakter Agasta, ia menyusul Agasta. "Lo kenapa? Berantem dengan Ranum?" Agasta membanting tubuhnya di ranjang dengan sebelah lengannya menutupi kedua matanya. "Gue lagi malas cerita sama lo. Mulut lo gak bisa dijaga, ntar gue cerita bakalan sampai ke Ranum." Irfan terkekeh mendengar gerutuan Agasta. "Apaan sih lo? Gitu aja ngambek, gue cerita sama Ranum biar lo berdua makin mengenal satu sama lain. Ranum itu gak akan ngerti kalau lo gak bilang, sampai kapan lo diam, coba sekali aja lo cerita masalah hidup lo dengan dia." Agasta berpikir itu hal tak mungkin, ia tak ingin melibatkan masalalunya dengan Ranum yang tulus mencintainya. "Lo jangan sok tahu tentang hidup gue." Irfan mendarat duduk ujung ranjang tidur Agasta, lalu menggeplak lengan pria itu. "Brensek lo!" Agasta terjenggit kaget. "Gue kenal bukan baru kemarin, semua tentang seorang Agasta gue tahu. Gue bisa aja bilang sama Ranum tentang kenapa lo pengin banget lanjut kuliah di Jerman." Ucap Irfan sambil tersenyum licik membuat Agasta sontak duduk menarik kerah baju sahabatnya. "Kalau lo berani lakukan itu, lo tahu kan berhadapan dengan siapa, hem?" nada suara menggelegar terdengar mengancam sembari menatap sengit Irfan. Namun Irfan sama sekali tidak takut dengan ancaman yang diberikan Agasta. "Sekarang gue tantang lo, kalau dalam sebulan lo gak cerita tentang diri lo sama Ranum. Gue bakal rebut Ranum dari lo, gimana?" "Sampah lo!" Irfan tahu dari sikap Agasta, pria itu sangat mencintai Ranum, hanya seolah ada dindingel menghalanginya. "Kenapa lo gak berani, kan." Agasta menatap malas pria itu. "Dengar ya.. Ranum bukan barang taruhan, jadi gue gak takut sama taruhan murahan lo itu. Gue gak akan termakan dengan kalimat bodoh lo itu." Irfan tertawa remeh. "Ck.. Jadi lo masih mempertahankan kebenaran." Ucap Irfan. "Dengar ya gue kasih tau sama lo. Kalau sampai Ranum tau dari orang lain, dia akan marah besar dan lo bisa kehilangan Ranum selamanya." Lanjut Irfan sambil menepuk bahu Agasta, lalu pergi. Agasta terdiam. Pria itu tak bisa menepis jika yang Irfan katakan itu adalah kebenaran. Dimana dia bisa kehilangan Ranum selamanya, jika masalalunya terdengar dari orang lain bukan dirinya. "Gas, ingat pesan gue!" tiba-tiba Irfan kembali memasuki kamarnya membuat Agasta mendengus sebal. "Pergi gak lo dari kamar gue." Irfan menyengir, ia senang sekali Menjahili Agasta. "Gue mau keluar, lo mau titip apa gitu atau titip sama dengan Ranum. Siapa tau gue niat ke rumahnya." Mata Agasta melebar sembari bangkit dari ranjangnya hendak memberikan pelajaran pada Irfan, namun sahabatnya sudah berburu lari dari hadapannya. Agasta menghela napas berat sambil mengacak wajahnya frustasi. Ia tak tau lagi harus bagaimana, satu sisi ia mencintai Ranum tapi sisi lain dia harus menepati janjinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN