Bab 6

1617 Kata
Esok harinya setelah berpikir panjang semalaman, Ranum terpaksa menurunkan egonya. Ia terlalu takut untuk kehilangan Agasta. Ranum bahkan datang lebih awal dari biasa agar bisa bertemu Agasta. Agasta tengah membahas tugas bersama temannya di kelasnya. Saat itu juga ada Nilam duduk sampingnya. "Ehmm.." Suara deheman terdengar jelas di telinga Agasta membuatnya menengadahkan kepalanya. Wajah Ranum sangat kesal, namun ia memasang senyum terkesan baik-baik saja. "Aku ganggu kalian?" Nilam melihat Ranum langsung sedikit menjauh dari Agasta. "Eh.. Ranum. Duduk sini." Sapa Nilam ramah membuat wanita itu muak, apalagi setiap melihat wajah Nilam rasanya ia ingin mencengkramnya. "Gak usah. Aku cuma mau pinjam Agasta, boleh kan?" Agasta mengeryit melihat tingkah wanita bawel depannya ini tidak semarah malam tadi. Entah sekarang apalagi akan ia cecar untuknya. "Boleh kok. Dia kan pacar kamu." Kata Putri salah satu teman Agasta. Laki-laki itu langsung bangkit dari duduk, ia merengkuh tangan Ranum jauh dari hadapan teman-temannya. Ranum memang tak bisa jauh dari Agasta, apalagi sampai kehilangan pria satu ini. Ia terlalu bucin dengan kekasihnya yang sedingin kulkas, dan menampilkan muka datarnya. Ia mengikuti langkah kaki Agasta, meski ia masih tak terima foto Agasta dengan pria lain, tapi lagi-lagi ia harus mengalah demi cintanya mungkin bisa dibilang ia terobsesi dengan Agasta. "Sekarang kamu mau bicara apa?" nada suara Agasta terdengar sangat dingin membuat Ranum menghela napas berat. "Soal semalam kamu marah ya?" Agasta menatap wanita itu dingin, padahal dia sebenarnya ia setengah mati semalaman bahkan tidak bisa tidur memikirkan Ranum yang marah karena dirinya dan Nilam. "Menurut kamu aja, gimana?" tanya balik laki-laki yang berbadan tinggi dari Ranum. Ranum harus kembali mengalah seperti biasanya setiap bertengkar, karena rasa takutnya kehilangan pria ini, ia rela membiarkan harga dirinya jatuh depan Agasta. "Maaf." Gumamnya dengan satu kata itu dengan mukanya tertunduk seolah menyesal. Agasta sama sekali tidak marah dengan sikap Ranum yang cemburu denga Nilam, tapi ia tak terima jika kekasihnya menganggap dirinya memiliki hubungan dengan Nilam tanpa tau yang sebenarnya terjadi. "Sekarang kamu udah sadar?" tanpa menatap Ranum, Agasta justru mendapati kesempatan untuk memarahi wanita cantik satu ini. Ranum mengangguk pelan, lalu memagut tangan Agasta berharap kekasihnya mau memaafkannya. "Kamu tau kan Ranum, aku gak suka kamu bicara kasar. Tambah lagi kamu emosi mengirimi pesan kemarin. Asal kamu tau aku dan Nilam tidak memiliki hubungan apapun. Kemarin aku, Nilam dan teman yang lain pergi ke toko buku, ada tugas yang harus aku dan yang lain kerjakan. Seharusnya kamu cari tahu dulu, jangan berasumsi sendiri." Ranum memajukan bibirnya, sungguh ia jadi merasa bersalah. Padahal tadinya ia minta maaf karena tak ingin Agasta memutuskan hubungan dengannya. Tapi mendengar penjelasan Agasta, ia malah jadi bersalah. "Maaf.. Maaf.. Kamu jangan marah dong, aku udah cemburu sama Nilam. Aku memang keterlaluan, aku mohon maafin ya." Agasta mendelik sekilas pada Ranum. Ada sorotan mata yang terpintas tak tega melihat wanita itu memohon dengannya. "Jangan ulangi lagi." Ranum menyunggikan senyum lebarnya. Ia kontan memeluk Agasta, tak perduli dengan banyak orang memperhatikan mereka. "Ranum, jangan gini malu." Bukan melepaskan, ia justru mempererat pelukannya. "Gak perduli. Kamu kan pacar aku, mereka semua juga tahu." Agasta mengerjapkan matanya sejenak, Ranum memang ajaib itu mengapa dia selalu merasa kekasihnya selalu bisa membuatnya bahagia, meski dirinya sendiri tak bisa membuat Ranum bahagia, bahkan tak bisa menjadi Ranum inginkan. "Ranum.. Udah ah, mendingan kamu balik ke fakultasmu sana. Aku bentar lagi ada kelas." Ranum melepaskan pelukannya lalu menggeleng. Ia masih ingin berduaan dengan Agasta. "Aku masih mau disini sama kamu." Ucap Ranum manja. Agasta tak habis pikir dengan sikap manja Ranum yang berlebihan. Padahal Ranum sangat tau kalau bagi Agasta kuliahnya nomor satu dan dirinya nomor sekian. "Ranum, kamu tau 'kan kuliah aku penting banget. Dan aku harus bisa gapai mimpi itu bagaimanapun caranya." Lagi dan lagi Ranum bukan bagian yang penting. "Ya.. Ya.. Aku sih mana pernah nomor satu bagi kamu, selalu dan selalu gak pernah utama." Respon Ranum yang mulai protes. Agasta malas harus berdebat dengan Ranum masalah yang tidak cukup penting untuknya. Ranum tergangga melihat Agasta yang meninggalkannya begitu saja, sontak membuatnya menghentakkan kakinya kesal. Dasar batu!! Ini sumpah pacar gue nyebelin banget. Rasanya sekeras apapun ia bermanja dengan Agasta, pria itu tak perduli dirinya. Ranum memang kadang sangat bodoh, karena pasti ia tahu cinta seperti bertepuk sebelah kanan dan mungkin Agasta hanya terpaksa memiliki hubungan dengannya. "Ranum.. Ranum.. Lo juga sih bego cinta mati sama cowok gitu." Ranum berdecak sendiri. Saat Ranum hendak kembali fakultasnya, ia tanpa sengaja bertemu Gusti mantan kekasihnya saat sekolah dulu. Argh.. Ranum ingin segera melarikan diri namun Gusti melihatnya lebih dulu. "Ranum.." Tegur Gusti. Ranum celingukan memastikan apakah ada Agasta melihatnya. "Kamu ngapain disini?" "Bukan urusan kamu!" ketus Ranum. Dia masih ingat bagaimana Gusti mengkhianatinya, untungnya saudara kembarnya Rangga mengingatkan jika Gusti bukan laki-laki yang baik. Dan takdir malah mempertemukannya dengan Agasta yang dingin, akan tetapi dia telah cinta mati dengan pria itu, mungkin tidak ada yang bisa merubah itu. "Ranum, aku rasa kita harus bicara." Ranum memasang wajah sinis. Ia tak suka harus berurusan dengan Gusti, hanya membuang waktunya saja. "Bicara yang tidak penting. Aku gak ada waktu!!" Gusti tau Ranum memang sudah memiliki Agasta, tapi ia yakin Agasta tidak pernah tahu jika dirinya dan Ranum pernah berpacaran. Apalagi yang ia tahu Agasta sangat pintar. "Kamu masih membenciku. Harusnya Rangga tidak ikut campur masalah kita." Cecar pria itu membuat Ranum tak terima. Bagaimana tidak Rangga itu saudaranya, dan selama ini Rangga selalu melindunginya, walaupun usia mereka hanya berbeda beberapa menit. "Jangan bawa masalalu, apalagi bawa-bawa nama Rangga." Balas wanita itu sangat jengkel. Tanpa Ranum sadar Agasta melihatnya dari kejauhan. Muka Agasta menunjukkan tidak suka kepada Gusti, ia jadi penasaran bagaimana Ranum mengenal Gusti sebelumnya. *** Jika masalalu memiliki kepahitan tapi Ranum selalu menghadapinya dengan kemarahannya. Baginya Gusti hal terburuk yang ia dapatkan. Apalagi Rangga saudaranya sudah menekan jangan sampai memberikan Gusti kesempatan lagi. "Muka lo kenapa lagi tuh?" komentar Lala melirik Ranum dengan muka yang cemberut. Ranum yang sudah duduk samping Lala tengah bercermin, ia hanya menenggelamkan wajahnya. Bukan karena Gusti ia begini, tapi ia khawatir jika Agasta tahu segalanya tentang dirinya dan Gusti. Bagaimana kalau Agasta tahu? Kalau Gusti bilang dia mantan gue gimana ya? Agasta marah gak ya sama gue? Ranum berpikir Agasta akan marah tapi seketika ia merasa itu mustahil, Agasta sangat cuek. Bahkan masalah video itu ia tak mempermasalahkan seolah hal yang biasa. Mungkin juga akan sama tentang Gusti dengan dirinya. "Num, gue ngomong sama lo!" pekik Lala kesal. Ranum mendongakkan kepalanya kembali lalu menatap Lala bosan. "Apaan sih lo, la. Gue gak tuli ngapain lo teriak-teriak." "Yah.. Habis lo gue tanya. Kebanyakan bergaul dengan Agasta sih lo." Mendengar kalimat asal Lala, Ranum langsung memukul bahunya tak terima. "Tadi gue ketemu Gusti di fakultas Agasta." "What!! Seriusan lo?" Lala kaget bukan main mendengar pernyataan Ranum yang jujur. Reaksi sahabat dari Ranum itu tak terduga, pasalnya ia tahu bagaimana kisah Ranum dan Gusti sangat mengenaskan, apalagi ikut campur tangan Rangga. "Lo pikir muka gue ini lagi bercanda." "Terus Agasta tau tentang Gusti?" Ranum menggeleng perlahan. Dia sendiri merasa berbahaya bertemu dengan Gusti. Entah mengapa ia baru tau jika Gusti satu fakultas sama dengan Agasta. "Tau ah.. Pusing gue." Kesal Ranum merutuki dirinya sendiri. "By the way Alya mana?" Lala mengedikkan bahunya tak tahu. "Gak biasanya Alya belum datang?" lanjut Ranum heran yang melihat kursi Alya masih kosong. Tiba-tiba dengan napas terengah Alya datang, lalu menatap kearah Ranum seolah mengisyaratkan sesuatu. "Darimana lo? Kok baru datang?" tanya Lala usai merapihkan rambut ikalnya. Alya masih menatap Ranum membuat wanita itu menelisik penampilannya. Ia pikir ada yang salah dengan dirinya. "Gu.. Gue.. Tadi liat.." Alya seperti ragu mengungkapkan yang ia lihat beberapa waktu lalu. Apalagi melihat Ranum, ia tak percaya yang baru lihat seolah melihat malaikat menjadi iblis yang tengah mengamuk. "Liat apa?" ujar Ranum berburu. "Iyah... Liat apa lo, hah?" tambah Lala yang ikut penasaran. "Tadi itu A...." "Ranum." Suara laki-laki sangat familiar mendadak berdiri di depan tiga wanita cantik ini. Ranum terpelonjak melihat Agasta ada di kelasnya. "Agasta, ngapain sini?" tanya Ranum semangat. Agasta tersenyum pada wanita itu. "Kamu ada kelas?" Ranum memutar bola matanya berpikir. "Ada sih. Tapi.. Dosennya gak datang." Agasta langsung meraih tangan Ranum membuat Lala membuka lebar mulutnya seakan tak percaya yang dihadapannya ini pacar dari Ranum yang kaku. "Ikut aku." "Kemana?" "Ikut aja." Seru Agasta. "Hemm.. Gue bawa Ranum ya." Lanjut Agasta pada kedua sahabat Ranum. Lala mengangguk, ia masih terpelongo tak percaya Agasta sampai menghampiri Ranum hanya untuk mengajak sahabat pergi. Padahal biasanya Agasta tak perduli bahkan terkesan cuek. "Al, lo liat gak tuh? Agasta lagi kesurupan atau apa sih?" berbeda dengan Lala. Alya justru tersenyum, wanita ini seperti mengetahui sesuatu hanya masih ia simpan di benaknya. "Agasta gak kesurupan. Dia cinta sama Ranum, wajar dia seperti itu. Asal lo tau Agasta mencintai Ranum lebih dari dirinya, tapi hanya kita yang buta gak pernah liat itu. Bahkan Ranum sendiri gak menyadarinya." Lala mendengar pidato Alya rasanya tak percaya, lalu Lala malah menyentuh kening Alya memastikan sahabatnya baik-baik saja. "Sakit lo?" Alya menepis tangan Lala sembari mendengus kesal. "Ish.. Apaan sih lo, La?" "Tumben banget lo bilang Agasta cinta sama Ranum, biasanya juga gak pernah gini." "Lo gak akan ngerti. Tapi satu hal yang pasti kalau Ranum melepaskan Agasta dia akan menjadi perempuan paling bodoh." Lala malas menggubria kaliamat Alya yang shock bijak, ia lebih memilih memainkan ponselnya. Selama ini yang Lala tau juga Agasta itu bukan laki-laki yang romantis, apalagi bisa bucin sama Ranum itu sangat jauh baginya. Alya sebenarnya melihat Agasta mengancam Gusti, tubuhnya sampai bergetar tak percaya Agasta sebegitu takutnya kehilangan Ranum. Padahal Agasta tak tahu sama sekali jika Gusti itu mantan kekasih Ranum. Itu mengapa Alya percaya Agasta sangat mencintai Ranum, mungkin cara Agasta berbeda menunjukkan perasaannya. Tapi pasti Agasta mencintai Ranum, bahkan bisa dikatakan melebihi dari Ranum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN