Ranum seperti mimpi mendapati Agasta mengajak ke sebuah caffe tak jauh dari kampus. Tempat ini menjadi sejarah untuk Ranum karena ia pertama kali bertemu Agasta disini.
"Ngapain berdiri situ ajah?" Ranum bergegas duduk dihadapan Agasta ketika itu.
"Kita kok kesini?" Agasta tak cara bersikap manis untuk Ranum bercerita bagaimana kekasihnya itu bisa mengenal Gusti.
"Kamu gak suka?" Ranum menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil matanya tak berhenti menatap Agasta.
Mana mungkin juga Ranum tidak menyukai tempat ini, apalagi jika hanya berdua dengan Agasta. Entahlah rasa sangat bahagia sekali. "Enggak biasanya kamu ajak aku. Terus kamu gak kuliah?"
Agasta menghela napas panjang, karena kejadiannya bersama Gusti. Ia untuk pertama kali melewati kelas pentingnya. Apalagi saat itu ia yakin Alya melihatnya dan untung Alya belum sempat menceritakan apapun pada Ranum. "Udah." Jawab pria itu seadanya. "Hem.. Kamu kenal sama Gusti?" mata Ranum melotot seketika ternyata yang ia pikir Agasta tidak melihatnya, semua itu salah.
"Ka..kamu lihat a..aku ngobrol dengan Gusti." Ucap Ranum terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tampak dari wajah Ranum gelisah, dia bingung harus jujur atau tidak. Selama ini Ranum memang tidak pernah menceritakan masalalunya dengan Agasta. Bukannya tidak percaya, Ranum hanya tak mau memgingat kenangan buruk.
"Ya.. Darimana kamu kenal Gusti? Aku baru tahu kalian saling kenal." Ranum sempat terdiam sesaat. "Kalau kamu gak mau jawab nggak masalah." Karena jika Agasta tak mendapat kejujuran dari Ranum, dia akan cari tahu sendiri dan tentunya itu akan sadis, bisa jadi Gusti akan jadi korban.
"Sebenarnya.." Ranum masih ragu tapi bagaimana ia berpikir Agasta sekarang kekasihnya, harusnya ia jujur sejak awal tentang Gusti.
"Sebenarnya apa?" ucap Agasta tak sabar.
Agasta takjub karena Ranum menutupi sesuatu darinya. Seolah melindungi Gusti, tapi pasti ada hubungan antara mereka. Pastinya semua itu sangat menganggu Agasta. Seperti kekasih lainnya tidak akan terima, wanitanya bicara pria lain. Itu juga akan menganggu Agasta, meski saat ini tak bisa mengungkap isi hatinya saat ini.
"Gusti itu teman lama." Entah kenapa sampai saat ini Ranum enggan sekali untuk mengatakan kebenaran, walau begitu ia tahu mungkin akan menjadi boomerang dalam hubungannya kelak.
"Yakin?" Agasta memastikan.
Ranum mengangguk seakan tidak ada keraguan tersirat dari wajahnya. "Iya.. Kamu gak percaya?" ucap wanita itu enteng.
"Percaya kok. Lagian apapun yang kamu lakukan, aku gak pernah ragu." Ranum memutar bola matanya kesal.
Yaelah.. Tentu saja Agasta percaya, Ranum berpikir sekalipun laki-laki itu belum pernah cemburu. Masalah video viral tersebar saja, Agasta tak perduli. Apalagi masalah sekecil ini.
Ck.. Apa yang gue harap. Huh.. Agasta cemburu gitu! Enggak akan pernah terjadi.. Bego banget sih lo Ranum.
Cerca Ranum merenggut sendiri dalam hatinya.
"Terus.. Kita mau ngapain disini?" tanya Ranum dengan menyelidik.
"Makanlah. Kamu pikir berenang." Ranum geram dengan Agasta yang tak ada romantis sama sekali. Pertama membuatnya melayang, lalu dijatuhkan. Memang dia harus lebih waras karena terlalu mencintai pria kaku, tidak ada humoris, apalagi romantis seperti oppa di film korea.
Mood Ranum berubah seketika saat melihat Nilam juga berada tempat yang sama. Wanita ini seolah melihat jelmaan setan berupa Nilam. "Kamu ngajak Nilam juga kesini." Tuduh Ranum tanpa beban membuat Agasta yang tadinya fokus pada bukunya, lalu beralih dengan memandangi sekitar Nilam berdiri mencari tempat duduk.
"Enggak." Ucap Agasta singkat. Namun masih membuat perempuan itu mendelik curiga.
"Jangan bohong!" Agasta menggeleng, pasalnya ia sangat paham sikap Ranum yang cemburuan berlebihan terhadap Nilam, seakan tanduk Ranum keluar begitu saja.
"Kamu gak percaya." Ranum menggeleng tegas, ia tak perduli dengan yang Agasta pikirkan saat ini. "Nilam." Dengan santainya Agasta memanggil Nilam sambil melambaikan tangannya. Darah Ranum detik itu juga semakin mendidih.
"Kamu ngapain manggil dia. Jadi benar kamu ngajak dia kesini juga." Agasta mendengus. Harus ia akui Ranum memang suka konyol kalau cemburu, seperti orang kebakaran jenggot. Tapi sayang sekali Ranum tidak memiliki jenggot.
Nilam menghampiri Agasta, kebetulan sekali Nilam hanya sendiri. Dan dengan santai duduk samping Agasta semakin membuat Ranum panas hatinya. "Agasta, eh.. Ada Ranum juga." Bibir Ranum langsung mengerucut kesal.
"Apa badan sebesar ini masih tidak terlihat, aku bukan makhluk halus." Ucap Ranum pelan. Walaupun dia yakin Agasta maupun Nilam pasti mendengarnya.
"Maaf aku seperti menganggu kalian ya." Ranum tersenyum tipis, ia berpikir Nilam sadar diri dan berniat pergi dari hadapannya.
"Enggak kok Nilam. Gabung sini aja, daripada kamu duduk sendiri." Ranum membuka mulutnya lebar, ia tersentak. Rasanya napas Ranum tercekat kerikil besar.
"Hemm.. Tapi Ranum gak papa?" tanya Nilam yang tak enak pada Ranum. Terlihat jelas Ranum tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.
Ranum memasang senyum palsunya. Ia benci dengan Nilam, namun tak bisa berbuat apapun karena Nilam teman sekelas Agasta. "Agasta gak keberatan. Ya.. aku juga nggak." Ucapnya bohong.
"Kamu gak perlu khawatir Ranum ini selalu baik sama siapa saja." Ujar Agasta seakan dengan nada menyindirnya. Ingin sekali Ranum memukuli Agasta berulang kali. "Iya kan Ranum." Wanita itu mengangguk pasrah.
"Ah iya, tidak masalah sama sekali. Hem.. Nilam kamu belum pesan makanan, ini menunya." Ujar Ranum sambil menyodorkan menu pada Nilam.
Sedangkan Agasta ingin sekali tertawa melihat kecemburuan Ranum. Tak tahu mengapa ia senang sekali melihat muka Ranum yang marah, namun tetap bersikap baik.
"Kalian berdua udah daritadi. Oh ya, Gas kamu kok gak masuk kelas." Mendengar penuturan Nilam, seketika membuat Ranum sontak terdiam. Padahal jelas Agasta mengatakan dia sudah kuliah.
Lalu..
Apa ini Agasta nggak masuk kuliah? Sangat mustahil, tapi nyatanya seperti itu. Ini gue udah kayak mimpi dengar ginian.
"Bukannya kamu bilang tadi kuliah?" Ranum mengeluarkan suaranya dengan perasaan yang sangat penasaran. Agasta dalam terdiam, ia terpojok. Akan tetapi Agasta masih bisa bersikap tenang.
"Aku cuma nggak mau bikin kamu khawatir." Ucap Agasta menatap Ranum intens membuat jantung wanita itu mendadak bergemuruh kencang, seakan mau lepas dari organ tubuhnya.
Nilam merasa bersalah, sepertinya dia berada antara dua orang yang salah. Apalagi karena dirinya Ranum mengeluarkan suara kesalnya. "Maaf aku nggak maksud buat kalian berdebat. Aku pikir Ranum kamu tahu kalau Agasta gak kuliah." Ranum masih berada mode jantung yang tidak aman, ia mencoba mengontrol dirinya sendiri.
"Bukan salah kamu, Nilam." Kata Agasta, ia bersikap netral tak ingin menyalahkan Nilam, walau dia harus cari alasan yang tepat untuk menjelaskan secara singkat dengan Ranum. "Ini urusan aku dan Ranum." Lanjutnya lagi.
"Kalau begitu lebih baik aku pergi, daripada disini. Sekali lagi maaf." Lalu Nilam pergi karena ia sungguh tak nyaman berada dengan sepasang kekasih ini.
***
Setelah kepergian Nilam yang tidak penting. Ranum menatap Agasta penuh intimidasi, ia berulang kali memukuli lengan Agasta, bahkan sekarang ia justru duduk samping Agasta dengan muka yang sangat jengkel.
"Sekarang kamu bisa jelaskan sama aku?" Agasta melirik Ranum sekilas. Dia bersikap datar tanpa muka bersalah.
"Jelaskan apa?" Ranum melebarkan bola matanya tak percaya.
Ya.. Harusnya ia dari awal tahu sikap Agasta. Mana mungkin kekasihnya yang menyebalkan perduli dengan kalimatnya, bahkan dia marah sekalipun. Apalagi mereka baru berbaikan, masa iya Ranum harus bertengkar lagi.
"Kenapa gak kuliah?" nada suara Ranum menjadi lembut membuat Agasta merasa geli sendiri. "Ih.. Agas! Aku serius nih." Sungut Ranum melihat Agasta malah tersenyum.
"Memang kapan aku bercanda, hah?" Ranum geram sendiri. Beberapa kali ia menghentakkan kakinya.
"Dasar menyebalkan!! Kamu itu selalu begitu, setiap masalah selalu seperti sekarang, tidak menjawab." Omel gadis itu. Agasta menghela napas panjang sambil memijat pelipis sekilas.
"Aku harus apa, Ranum? Kamu jangan bertingkah anak kecil. Aku gak kuliah karena.." Agasta tidak mungkin mengatakan sejujurnya. "Karena mata kuliahnya ulang, minggu lalu berapa anak tidak masuk." Alasan yang tidak masuk akal.
Ranum masih ragu, ia tak percaya dengan alasan Agasta. Dia yakin bukan itu alasannya. Tapi karena tak ingin berlarut bertengkar dengan Agasta, ia memutuskan untuk percaya saja.
"Jadi begitu?" Agasta mengangguk santai.
Walaupun dengan semua kata-kata Agasta, tidak membuat Ranum sepenuhnya percaya. Lalu Ranum sekarang menyenderkan kepalanya manja pada pundak Agasta. Ranum tidak mungkin menghilangkan kesempatan berduaan dengan Agasta. Apalagi jarang sekali Agasta yang mengajak.
"Kamu hari ini ada rencana kemana?" lontar Agasta. Ranum terheran tidak biasanya Agasta aktif bertanya seperti sekarang ini.
Aneh bukan!
Kadang Ranum heran sendiri dengan Agasta. Dari semua yang ada pada diri laki-laki ini, tidak ada yang terkesan baik. Tapi kenapa dia begitu mencintai Agasta bahkan cinta mati. Di dunia ini tidak ada yang paling indah bagi Ranum selain memiliki kekasih seperti Agasta. Setampan apapun laki-laki lain, ia akan tetap memilih Agasta. "Kenapa? Kamu mau temani aku."
Sebenarnya lebih tepat Agasta ingin mencari tahu tentang Gusti. "Bukan begitu, hari ini kebetulan aku nggak sibuk. Kamu mau kemana biar aku temani."
Astaga.. Ranum mendongak kepala, kemudian ia memukuli wajahnya berulang kali. Dia seperti mimpi. Apa mungkin dia salah dengar?
Oh.. God. Ini samping gue benaran Agasta kan. Agasta cowok gue, tapi..
Ah sudahlah.
"Kamu benaran mau temani aku." Ucap Ranum memastikan sembari memasang wajah sumringah. Agasta mendelik serius.
"Iya.. Kebetulan aku ada waktu dan gak sibuk." Ranum sontak memeluk Agasta penuh riang.
Mana mungkin Ranum menghilangkan kesempatan ini, walaupun tidak ada acara kemanapun. Dia akan menjadi ada acara. Begitulah Ranum semaunya.
"Hari ini aku mau nonton bioskop. Kamu mau temani aku." Seru Ranum.
"Mau. Nanti malam aku jemput kamu." Ucap Agasta tanpa ragu. Mendengar kalimat Agasta, Ranum seperti melayang di langit. Ia berharap Agasta tidak menghempaskannya.
"Janji ya jemput. Pokok kalau kamu gak jadi jemput, aku yang akan jemput kamu." Ranum mulai mengeluarkan keegoisannya.
"Hemm.. Jangan bawel aku pasti jemput." Balas Agasta sambil mendengus dengan tingkah kekanakan Ranum yang tak mencari alasan dengan penolakan.
Agasta membuka email dari sahabatnya luar negeri, ia tersenyum membaca pesan itu dan ada beberapa foto yang dikirim.
Melihat pancaran senyum lebar Agasta membuat Ranum merasa ada sesuatu menarik di ponsel kekasihnya. "Kamu lagi lihat apa?" ucap Ranum penasaran sambil melirik ponsel Agasta.
Agasta dengan berburu menutup layar ponselnya agar Ranum tidak melihat. Ia tidak ingin Ranum tahu apapun tentang beberapa alasan membuatnya sering tak punya waktu untuknya. "Hem.. Enggak ini coba habis baca grup kelas. Kuliah kamu gimana?" ucap Agasta mengalihkan topik.
Ranum memajukan bibirnya cemberut, baru saja moodnya sangat baik berubah kembali buruk. Lihat saja kalau Agasta membatalkan janjinya, ia tidak segan mendatangi kekasihnya lebih dari setan kentayangan.
***