Semua orang berbeda pendapat tentang pasangan masing-masing, termasuk mempertahankan hubungannya. Begitu pula Ranum, dia tak bisa lepaskan Agasta bagaimanapun cara pria satu memperlakukan baik atau buruk. Ranum seakan sudah dibutakan dengan cintanya sendiri.
Malam hari telah tiba, Ranum sudah bersiap dengan dress mininya untuk pergi bersama Agasta. Tapi jam sekarang ini Agasta belum juga datang. "Agasta mana sih?" rungutnya sendiri sambil mengintip dari jendela kamarnya.
Dewi ibu dari Ranum masuk kamar sambil memegang ponselnya. Ia memberikan ponselnya pada Ranum karena putranya Rangga ingin bicara dengan adik kembarnya. "Eh.. Bego ngapain muka lo tekuk gitu. Udah jelek tambah jelek." Cela Rangga dari seberang. Ranum berdecak sambil membesarkan matanya kesal.
"Biarin! Emang urusan lo apa? Hah? Bawel lo!!" ucap Ranum galak membuat Rangga tertawa geli melihat tingkah lucu Ranum. Ia merasa sejak ia pergi Ranum sama sekali tidak berubah.
"Gue tebak ya. Pasti cowok lo yang cuek itu bikin adik gue bete. Apa perlu gue kesana kasih beberapa pelajaran dengan cowok itu, siapa namanya hem.. Agas." Kalau saja Rangga ada dihadapannya ia akan mencakar wajah saudaranya. Untungnya Rangga berada di Australia.
"Puas lo ngeledekin gue. Awas aja lo balik, gue gak terima lo disini." Rangga masih saja tidak ada habisnya menertawakan Ranum.
"Haha.. Itu rumah gue juga. Eh.. Cewek bucin lo terlalu dramatis, udah berapa kali sih gue bilang jangan cinta mati sama cowok, kalau lo tau kebusukan laki-laki yang lo anggap perfect itu, ntar lo bisa patah hati. Gue ingatin gue gak mau repot."
"Daripada lo gak pernah bisa move-on dari mantan gak jelas." Balas Ranum santai membuat Rangga terdiam sejenak seperti jantung tertusuk saat adiknya itu menyebut nama wanita itu.
"Sekali lagi sebut nama dia, gue datangin lo!" ancam Rangga lalu mematikan ponselnya sepihak.
Ranum menggigit bibir bawahnya seketika, ia merasa bersalah karena kalimat sudah menyakiti hati saudaranya. Harusnya Ranum bisa tahan dengan kekesalannya sendiri.
Kemudian ia keluar dari kamarnya untuk mengembalikan ponsel Dewi. "Ma.. Mama.." Teriak Ranum mencari Dewi.
Langkah Ranum terhenti saat melihat ruang tamu ternyata sudah ada Agasta dengan kemeja levis tampak membuatnya tampan dan elegant.
"Ranum, udah bicara sama saudaramu. Ini Agas udah nungguin kamu daritadi." Ucap Dewi. Ranum menjadi malu, apalagi depan Dewi. "Ya sudah mama tinggal dulu." Dewi memang tipe ibu yang pengertian, ia tidak pernah ikut campur masalah percintaan anaknya, termasuk Ranum dan Rangga.
"Kamu udah lama nunggu?" lontar Ranum pada Agasta.
"Hemm.. Enggak juga. Kamu udah siap, kita pergi sekarang aja. Ntar pulang kemalaman lagi, aku gak enak sama mama kamu."
Mungkin inilah salah satu yang membuat Ranum sangat mencintai Agasta. Ia memiliki sopan santun, apalagi setiap saat ayahnya keluar kota Agasta pasti tidak membiarkannya pulang malam karena memikirkan Dewi.
"Hemm.. Iya.. Iya.. Aku pamit sama mama dulu ya." Ujar Ranum yang ternyata ia melihat Dewi sudah tertidur dalam kamarnya. Dia tak enak membangunkan Dewi, ia hanya menitip pesan pada bibi Lani asisten rumah tangga rumahnya.
Ranum kembali menghampiri Agasta. "Mama udah tidur, kita langsung pergi aja. Aku udah bilang kak Cici kok." Agasta mengangguk setuju.
Sekarang kedua sepasang kekasih ini sudah berada dalam mobil menuju salah satu mall di Jakarta. Agasta sesekali melirik Ranum dari kaca spionnya, ia merasa Ranum tampak sangat terlihat cantik malam ini. Tapi seperti biasa Agasta enggan untuk memuji perempuan itu.
"Jadi kita nonton dulu apa makan dulu?" tanya Agasta sambil menyetir mobilnya. Ranum melirik Agasta berpikir.
"Hem... Bagaimana kita nonton dulu? Pulangnya baru makan." Gumam Ranum santai. Agasta tak berkomentar ia lebih fokus menyetir mobil. "Kamu tumben banget ada waktu kita berduaan gini." Lanjut Ranum penasaran kenapa mendadak Agasta berubah, tak seperti biasanya.
Apa mungkin kepala Agasta terbentur?
Pikir apa lo Ranum. Ya sudahlah harusnya lo nikmati aja.
"Aku punya waktu salah, gak salah. Kamu sebenarnya mau aku gimana?" timpal Agasta mengeluarkan suara baritonnya. Ranum tersenyum kemudian ia melingkari tangannya di lengan gagah Agasta.
"Ya.. Aku masih gak percaya kalau yang disamping aku ini kamu. Kamu itu biasanya lebih pentingkan belajar daripada aku. Kadang aku iri sama buku-buku kamu, karena lebih kamu nomor satu 'kan dari aku." Agasta terkekeh. Ranum memang paling mengeluarkan kalimat recehnya, hingga Agasta hanya dapat tertawa geli kelakuan Ranum. Agasta tak pernah membayangkan jika dia kehilangan Ranum, dan mungkin suatu hari itu akan terjadi, meski dirinya sendiri tak ingin. "Kamu kok ketawa ada yang lucu." Ucap Ranum lagi ketus.
"Kamunya yang lucu. Masih aja suka gombalin aku, kamu pikir aku kenyang makan gombalan kamu itu." Ranum mengerucutkan bibirnya tak terima.
"Idih.. Gitu amat sih kamu." Protes Ranum menengadahkan kepalanya kesal.
Ranum mulai terguncang emosinya, padahal baru beberapa saat ia seakan tersanjung, tapi detik itu juga Agasta meremukkannya.
Dasar laki-laki nggak pekaan!!
"Ranum, udah deh. Jangan bawel terus, aku lagi nyetir nih."
"Biarin! Salah kamu sendiri. Kamu tuh sebenarnya cinta nggak sih sama aku." Pertanyaan yang selalu menghantui Agasta dan hingga saat ini ia selalu rasa bersalah karena belum pernah menjawabnya.
"Ranum kalau kamu masih bawel aku turunkan nih." Ranum tergangga tak percaya.
"Kamu berani turunkan di jalanan. Kalau aku kenapa-napa kamu gak khawatir gitu."
Ah.. Rasa Agasta ingin membenturkan kepala Ranum. Mana mungkin dia akan menurunkan Ranum di jalan, apalagi Ranum salah satu wanita berarti dalam hidupnya selain ibunya sendiri.
"Kamu jangan emosi Ranum. Aku gak mungkin lakukan itu." Kilah Agasta. Ranum tak paham dengan pemikiran Agasta, apalagi sampai menduga-duga.
"Barusan kamu bilang gitu. Lupa?"
"Astaga.. Ranum, aku cuma ngancam doang. Gak mungkin aku lakukan itu benaran. Kamu pikir aku cowok apaan sampai turunkan pacar sendiri tengah jalan." Ranum malah tersenyum. Ia tak menyangka Agasta bisa khawatir juga dengan dirinya.
"Ini benaran kamu kan. Aku makin sayang deh sama kamu."
"Heran deh mood kamu cepat sekali balik." Agasta hanya dapat menggeleng dengan sikap Ranum. "Hem.. Tadi kamu telponan dengan saudara kamu."
"Iya.. Lain kali aku kenali sama Rangga ya. Aku yakin kalian berdua bisa berteman baik. Rangga orangnya baik banget walaupun menyebalin tapi dia humble banget."
Entah kenapa nama itu mengingat satu kejadian yang buruk bagi Agasta. Dan sampai hari ini ia tetap tak bisa melupakan kejadian itu.
***
Akhirnya Agasta dan Ranum sampai mall juga. Ranum menunggu Agasta yang tengah membeli tiket dan popcorn. Rasanya Ranum ingin waktu berhenti tetap disini agar ia selalu berada samping Agasta.
"Gusti." Mata Ranum membulat melihat Gusti, tapi heran muka pria itu bonyok seperti habis berantem.
Daripada dia harus dapat masalah, dan acaranya rusak. Ia lebih menghampiri Agasta mengantri. "Loh kok kesini?" tanya Agasta merasakan ada meremas kemeja. Siapa lagi orangnya kalau bukan Ranum.
"Aku bosan nunggu sendiri." Alasan Ranum.
Karena mungkin hanya itu alasan yang masuk akal. Dan untungnya pasti Agasta akan percaya padanya. Tapi entahlah..
"Masa?" Agasta mengkerutkan keningnya. Ia tampak tak percaya semakin membuat Ranum gelisah.
"Kamu gak percaya."
"Percaya."
Beberapa menit kemudian, kedua pasangan ini sudah duduk dalam teater bioskop. Dan buruknya Agasta salah pesan film, harusnya mereka menonton film romantis, Agasta justru memesan tiket film action.
Ranum sendiri sudah mengedumel, dia mana suka film genre action. Menyeramkan.
"Aku kan bilangnya film romantis yang hits itu, kamu ngapain malah pesan tiket film action. Kamu tau kan aku gak suka." Omel Ranum dengan suara pelan. Jika ia berteriak bisa-bisa seisi dalam tempat itu melempari wajahnya popcorn.
"Banyak protesnya nonton aja. Sesekali kamu harus nonton film ginian, jadi kalau ada yang berusaha nyakiti kamu, bisa jaga diri."
"Kan ada kamu selalu jagain aku, ngapain juga aku malah jaga diri aku sendiri."
"Kalau justru aku yang nyakitin kamu gimana?" lontaran Agasta malah mengundang kikihan kecil dari Ranum. Pria sebaik dan sepolos Agasta tak mungkin bisa melukai dirinya. Ranum percaya Agasta tidak akan membiarkan dirinya terluka, meski sampai detik ini dia tak tahu perasaan Agasta apa sama dengan dirinya. Ranum tak perduli, baginya Agasta laki-laki hebat setelah ayahnya dan Rangga.
"Gak mungkin. Aku tahu kamu memang cuek, dingin kayak kulkas. Tapi pasti yang satu kamu gak akan biarkan aku sampai kenapa-napa ya kan." Agasta terdiam.
Pria itu berpikir sebegitu percayanya Ranum dengan dirinya. Padahal Ranum tidak mengenal dirinya dengan baik. Andai Ranum tahu dirinya yang sebenarnya. Dia yakin detik itu juga Ranum pasti akan meninggalkannya.
Kamu nggak tau sebrensek apa orang dihadapan kamu ini.
Membatin Agasta.
"Jangan terlalu percaya sama aku. Karena aku yakin suatu hari kamu bisa kecewa sama aku." Ranum menyatukan alisnya heran. Penuturan Agasta seolah kebenaran. Akan tetepi ia tetap percaya Agasta tidak mungkin sampai melukainya, apalagi membiarkan ada goresan pada dirinya.
Ranum tak bisa berhenti memikirkan kata-kata Agasta. Padahal film telah mulai, tapi Ranum malah termangu. Entah bagaimana kalimat Agasta justru membuatnya takut menjadi nyata. Sedangkan Agasta serius menonton film action tersebut.
Selama film berlangsung Ranum tidak terlalu fokus, ia malah mengenggam erat tangan Agasta seakan ketakutannya. "Ranum, kamu kenapa?" Ranum hanya menggeleng mendengar pertanyaan Agasta.
Hingga film berakhir, Ranum tidak berhenti melepaskan tangan Agasta. "Kamu kenapa sih?" lagi-lagi Ranum hanya menggelengkan kepalanya membuat Agasta sedikit khawatir. "Kalau gak ada apa-apa, kenapa daritadi diam?" bibir Ranum seakan terkatup dengan rasa takut di dadanya. Maklum saja wanita ini paling tidak bisa harus kehilangan Agasta, ia rela harga dirinya jatuh demi Agasta, tak perduli bagaimana tanggapan orang nanti.
Agasta melangkah keluar dari bioskop bersama Ranum. Dan ternyata Gusti berada teater yang sama dengan mereka. Detik itu juga Agasta berpikir diamnya Ranum disebabkan oleh Gusti.
"Agas, kita pulang yuk." Padahal rencannya mereka hendak makan setelah ini, tapi melihat sikap aneh Ranum. Dia tak dapat menolak keinginan Ranum.
"Kamu gak lapar." Ranum menggeleng.
Sikap Ranum seperti ini malah membuat Agasta semakin menyadari ada sesuatu mereka berdua. Apalagi saat ia menghajar Gusti membabi buta, mantan dari Ranum itu tidak mengatakan apapun yang terjadi antara mereka.
"Kita pulang aja." Kata Ranum pelan.
Ranum tidak bisa tenang, rasanya ada yang akan hilang. Seperti suatu menohok hatinya.
"Baiklah." Ucap Agasta singkat.
Tidak ada yang bisa menebak isi hati Ranum maupun Agasta. Keduanya seolah memiliki rahasia masing-masing. Ada masa lalu yang sulit Ranum dan Agasta ungkapkan. Terlebih saling takut kehilangan. Apalagi Ranum sangat mencintai Agasta, bahkan sangat dalam.