Bab 9

1715 Kata
Ketakutan Ranum semakin menjadi saat ia telah beranjak di rumahnya sendiri. Selama ini orang selalu menganggap Ranum wanita yang kuat, ceria, tak pernah takut apapun. Tapi hanya dengan kalimat sederhana dapat mematahkan semua itu. Ranum takut hal yang sama terjadi pada dirinya dan Gusti. Harusnya dia akui Gusti tidak sepenuhnya bersalah, tapi Rangga memaksanya meninggalkan pria itu karena perbuatan Gusti yang berteman dekat dengan salah satu teman pacarnya Rangga. Meski begitu Ranum hanya menurut bahkan sampai saat ini ia masih rasa bersalah, itu mengapa seolah berpura benci bukan kesalahan Gusti tapi kesalahan dirinya sendiri. Jika hal terjadi bersama Agasta, mungkin dia tak bisa dengan mudah menjalin hubungan bersama orang lain lagi. Karena Ranum sadar Rangga sangat protektif sebagai saudara. Entahlah.. Tapi kenyataan itu terjadi. Dia sedikit bersyukur karena Rangga tidak di Indonesia. "Ranum.. Kamu baru pulang sayang." Ranum mengusap air matanya yang sudah tertinggal sejak dia pulang. Ia bangkit dari ranjang menghampiri Dewi yang masih di ambang pintu kamarnya. "Sudah daritadi kok, ma. Mama bukannya udah tidur kok bangun." Ujar Ranum tak ingin menampakan kesedihannya. "Papa kamu baru pulang, kata papa mobil Agasta diluar. Mama kira kalian baru pulang." Ranum terkejut mendengar ucapan Dewi, bahkan ia pikir Agasta sudah pulang ke apartmentnya. Kemudian Ranum pergi melihat dari jendela kamarnya. Ia terseguk melihat Agasta masih di depan rumahnya. Padahal Ranum pikir Agasta tidak seperduli itu padanya dirinya. "Mama benarkan Agasta ada di luar. Sepertinya kalian sedang bertengkar." Gumam Dewi polos membuat Ranum tertunduk. "Mama tau kamu seperti sedang memikirkan suatu. Coba deh cerita sama mama ada apa?" Ranum terisak menuju ranjangnya, ia sangat takut dengan semua yang pernah terjadi. "Dewi mulai duduk tepi ranjang Ranum sambil menopang kepala putrinya. " Kamu bisa nuangkan kesedihan sama mama. Mama janji gak akan bilang Rangga." Lanjut Dewi yang sudah tahu sekali watak Rangga. "Hiks.. Ma." Dewi tersenyum tipis melihat Ranum semakin terisak. "Kamu itu jangan sembunyikan kesedihan dengan tawa, kamu berusaha membuat orang bahagia tapi hati kamu terluka." Rasanya jantung Ranum teremas, ia tak pernah duga jika Dewi sangat mengetahui dirinya. "Mama hiks.. Tadi Agasta mengatakan suatu mungkin dia akan mengecewakan Ranum, ma." Dewi terkikih kecil. "Itu artinya Agasta tidak percaya diri dengan hubungan kalian. Dan kamu sebagai pacar Agasta harus yakinkan dia bahwa semua hubungan itu harus dilandaskan kepercayaan termasuk tentang ini. Jangan sampai kejadian Gusti terjadi pada Agasta juga. Itu kenapa ayah kamu mengirim Rangga ke Australia agar tidak posesif sama saudaranya ini. Kita semua tau Rangga pernah terluka, tapi bukan berarti Rangga berhak atas masalah pribadi kamu. Sayang, kamu butuh privasi. Ya.. Kesalahan Rangga juga memang kita tidak mengenali pacarnya dengan kita semua." Memang benar rasanya benar sekali jika sudah meluapkan semua kerikil di hatinya. Dengan kasar Ranum mengusap air matanya, lalu ia duduk memeluk Dewi. "Makasih ya, ma. Mama memang ibu terbaik di dunia ini." Dewi menyetil telinga Ranum, bisa-bisa nya putrinya malah menggombalinya. "Ih.. Sakit, ma." "Daripada kamu ngerayu mama lebih baik kamu temui Agasta sana." Ranum menyengir. "Hehe.. Mama boleh." "Ya boleh. Sana gih.." Tanpa menunggu lama lagi Ranum langsung beranjak menemui Agasta. Dewi sampai menggelengkan kepala heran. "Ranum.. Ranum.. Gak pernah berubah sama sekali, moodnya itu loh gampang naiknya." Ucap Dewi setelah Ranum bergegas lari tergesa-gesa. *** Sementara Agasta memang sengaja menunggu Ranum, ia gelisah melihat Ranum mendadak hilang keceriaannya. Kalau benar memang ini penyebabnya Gusti, Agasta pastikan tidak akan memberi ampun pada mantan Ranum itu. Bruk.. Agasta terperanjat mendapati Ranum tiba-tiba di mobilnya. Bisa-bisanya wanita itu menghampirinnya. "Kamu ngapain?" ucap Agasta yang tercenggang. "Kamu sendiri ngapain kesini?" balas Ranum sukses membuat Agasta memijit pelipisnya. Agasta menghela napasnya sejenak, ia berusaha tenang tanpa menunjukkan ekspresi khawatir pada Ranum. "Aku cuma.. " "Cuma khawatir sama aku 'kan." Sambar Ranum dengan muka meledek. Apalagi senyumnya yang tampak puas melihat Agasta tak bisa mengelak. "Jangan kepedean kamu! Aku disini cuma masih ada urusan." Kilah Agasta justru membuat Ranum tertawa geli. Sudah ketahuan masih juga mengelak. Heran udah kepergok masih aja mau ngelak! "Urusan apa?" "A.. Aku rasa besok mau jemput kamu, jadi aku mau telpon kamu takutnya gak diangkat." Alasan Agasta. Ranum menggeleng kepalanya sambil tersenyum, pasalnya alasan Agasta itu masuk akal padahal biasa juga kalau mau jemput tanpa bilang dulu. "Masa sih?" ucap Ranum genit sambil menyandarkan kepalanya di d**a Agasta. Ah.. Kelakuan Ranum tentu membuat jantung Agasta tak bisa berdetak dengan baik. Kali ini gemuruh jantung Agasta bahkan mungkin bisa Ranum dengar. "Kamu deg-degan ya." Agasta menelan air liurnya kasar. "Iya kamu degdegan. Kenapa? Karena dekat aku ya?" tambah Ranum sumringah. "Apaan sih? Enggak kok. Perasaan kamu aja." "Perasaan aku gimana? Aku dengar jelas jantung kamu kok, kamu tuh kalau memang cinta banget sama aku bilang. Jangan gengsi sama pacar sendiri." Ya Tuhan.. Agasta tak dapat berkata lagi dengan sikap Ranum. Ia tak bisa mengungkapkan jika semua yang Ranum katakan benar. Memang benar Agasta gengsi, tapi ada satu hal lain yang tidak bisa ia utamakan, mengingat tujuan dalam hidupnya saat bukan Ranum. "Aku belum makan makanya deg-degan. Bukan karena dekat kamu, tiap hari juga kita dekatan untuk apa deg-degan." Ranum mencebik seolah menepis semua alasan Agasta. Ranum menyipitkan matanya curiga. "Aku gak percaya." "Udah ah turun kamu, aku mau pulang." Hanya dengan mengusir Ranum agar kekasihnya tidak terus menerus menggodanya. Lama-lama Agasta tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. "Tunggu dulu. Aku mau kita bicara, ada yang aku bicarakan ini serius." Agasta langsung menatap Ranum intens, tidak biasanya Ranum ingin bicara serius dengan dirinya. "Bicara apa lagi sih, Ranum?" "Makanya tunggu dulu." Agasta mendengus. "Oke. Sekarang bilang mau bicara apa?" Ranum bingung sendiri harus mulai darimana. Tapi kali ini harus mengatakan apapun untuk mempertahankan Agasta, hingga tidak ada perpisahan antara mereka. "Ranum cepat mau bicara apa?" lontar Agasta lagi yang tak sabar. Ranum menghempaskan napas panjang, kakinya seakan gemetaran sendiri. "Kamu tau kan kalau aku cinta banget sama kamu." "Hemm.." Agasta memang menyebalkan, lagi serius begini masih bisa membuat Ranum rasa ingin memukuli kepalanya. "Jangan dipotong dulu ya. Aku lagi serius nih." "Fine." "Sebenarnya aku tadi takut banget makanya aku minta langsung minta pulang." "Takut kenapa?" "Ish.. Agasta! Kan aku bilang jangan potong dulu." Marah Ranum. Agasta keceplosan, ia tak sabar ingin tahu yang membuat mood Ranum mendadak berubah saat mereka di bioskop. "Iya maaf. Terusin." "Sebenarnya kata-kata kamu bikin aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu tinggalin aku, aku takut suatu hari kamu kecewainku. Aku cinta sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu. Hiks.. Apalagi aku udah usaha buat yang terbaik selama ini buat hubungan kita. Mana ada sih cewek yang mau dianggurin, cuma aku. Cuma aku, Gas." Agasta dapat melihat ketulusan dari mata Ranum, ini akan semakin berat untuknya suatu hari meninggalkan Ranum. "Hiks.. Gas, aku cuma kamu janji apapun yang terjadi kita gak akan pisah. Apapun keadaannya, termasuk Rangga." "Rangga?" Ranum mengangguk. Ia memang tidak banyak menceritakan tentang Rangga pada Agasta. Menurut Ranum belum saatnya, lagi pula mereka belum saling bertemu. Justru Ranum takut jika Rangga tidak bisa menyukai Agasta atau buruk di mata Rangga. Dan sebaliknya mungkin. "Maksud kamu Rangga saudaramu. Kenapa dengan Rangga?" ucap Agasta lagi memastikan. "Rangga itu sangat posesif. Semua hidup aku dia atur, dan beruntungnya papa kirim dia di Australia. Aku takut kalau Rangga tidak bisa terima kamu, dan minta aku tinggalin kamu. Dari dulu aku selalu gak bisa nolak permintaan Agasta." Kali ini Ranum berusaha membuka isi dalam hati. Agasta tak menyangka Ranum bisa mendeskripsikan perasaannya begitu dalam. Seperti bukan Ranum saja. "Kamu itu harus memiliki kualitas diri sendiri. Kamu harus bisa menolak dengan suatu yang tidak kamu sukai. Masalah nanti aku kecewakan kamu atau tidak, itu masalah nanti. Karena kita gak tau kan, apa yang akan terjadi. Cukup semua jalani saja." Ranum lega sekali dapat bicara hal ini pada Agasta. Kemudian Ranum sontak memeluk Agasta. "Makasih ya, Gas. Selama ini udah jadi pacar yang baik, dan sabar dengan kebawelan aku." Dengan sikap Ranum seperti ini, Agasta semakin rasa bersalah. Bagaimana jika Ranum tahu tentang tujuannya? "Sekarang kamu jangan nangis lagi ya, ntar papa dan mama kamu kirain aku ngapain kamu lagi." Ranum tertawa kecil sambil mengusap air matanya. "Biarin. Siapa tahu cepat dinikahin kamu?" kalimat Ranum sontak membuat Agasta tertawa geli. Sebelumnya Ranum jarang sekali melihat Agasta tertawa seperti sekarang saat berdua dengannya. Mungkinn bisa dihitung dengan jari, Agasta biasanya bawaan serius melulu. "Udah ah.. Kamu masuk sana, aku mau pulang." Ranum menggeleng, ia justru menarik lengan Agasta dengan manja. Kapan lagi coba bisa berduaan begini dengan Agasta? Meski hanya berada dalam mobil berduaan. Itu tidak masalah bagi Ranum. Yang terpenting bisa seperti sekarang dia sudah nyaman. Tidak seperti pasangan lain, Ranum tidak ingin lagi banyak protes selama tidak ada yang menganggu hubungannya dan Agasta. "Aku masih mau berduaan sama kamu." Ranum tetap tak perduli. Ia masih mengeleyot manja pada Agasta. "Ranum!" suara Agasta terdengar menekan. "Apa sih, Gas. Salah gitu aku mau berduaan sama kamu." Agasta berdecak kesal. Tapi ia tak bisa marah melihat tingkah Ranum, malah tampak ia senang karena sikap Ranum. "Besok bisa ketemu lagi. Aku juga jemput kamu." Ranum sedikit menjauh dengan wajah jengkel. "Kenapa harus sesingkat ini? Aku masih kangen sama kamu." Respon Ranum. Entah darimana datangnya sikap manja Ranum. Apalagi malam semakin larut membuat Agasta tak nyaman harus berlama-lamaan hanya berdua Ranum di mobil. Terutama dengan sekitar rumah Ranum. Agasta tak ingin tetangga Ranum menganggap negatif tentang cewek itu. "Ranum, aku gak enak sama orang tua kamu. Ini udah malam loh." Reaksi Ranum tentunya tidak setuju, bahkan sampai pagi juga Ranum rela jika harus bersama Agasta. Well, Agasta memang berbeda dia sopan, baik, menghargai wanita, bahkan selama pacaran mereka belum pernah ciuman. Ya palingan juga kening. Itu pun Ranum yang menyambar seperti kilat. Semua sikap Agasta tidak bisa ada yang menebak, sisi lain dia cuek. Tidak suka clubbing seperti temannya sih Irfan. Agasta hanya tahu belajar dan belajar. Mungkin kalau tidak belajar kiamat dunianya. Selama ini Ranum belum pernah mendengar hal buruk tentang Agasta, mungkin kalau dia selingkuh Agasta juga tidak pernah tau saking sibuk dengan bukunya. "Oke.. Oke.. Kamu pulang hati-hati ya sayang. Kabari aku kalau udah sampai jangan bikin aku bimbang." Gerutu Ranum pasalnya tahu kebiasaan Agasta tak pernah mengabarinya kalau bukan dia yang telpon atau chat duluan. "Iya. Udah sana masuk." Ranum masuk sambil tersenyum dengan tangan melambai kearah mobil Agasta. Ranum berdecak kagum kepada lelaki itu tidak ada yang bisa membuatnya sempurna selain Agasta meski hanya sesingkat, karena memiliki pacar secuek Agasta sudah pilihannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN