"Aku masih mencintai kamu" kata-kata itu tergiang telinga Barra. Hati terasa sesak mendengarnya. Dengan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, dia melinangkan air mata. Inilah salah satu alasan Barra takut mengungkapkan perasaannya. Dirinya terlalu takut kehilangan setelah berusaha merasa memiliki. Mungkin rasanya tidak sakit jika Fifah tidak pernah memberikan harapan padanya. Walau dia tahu Fifah belum sama sekali mengatakan pada mencintai dirinya. "Apa aku yang salah menafsirkan perasaan kamu selama ini." Ujar Barra dengan pikirannya yang kacau sendiri. "Fifah kenapa sejak awal kita bertemu tapi dengan perasaan kamu yang selalu bersama dia." Sakit.. hanya sakit yang Barra rasakan. Dia sekarang berada di apartemen Aika. Karena hanya Aika yang selalu menjadi pendengar yang baik dis

