3. THE WEDDING

1040 Kata
Afifah terlihat tegang diwajah. Hari ini ia akan menikah dengan seorang pria atas dasar keinginan kedua orang tuanya. Afifah bercermin terlihat pantulan wajah cantiknya disana. Gaun putih panjang terbalut ditubuhnya yang ramping, dengan hijab berwarna yang sama putih. Wanita itu terlihat begitu menawan. "Kak, cantik banget." Puji Azizah. Pernikahan yang sakral segera akan dilaksanakan sebuah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin, Brunei. Jantung Afifah berdegup kencang ketika rombongan Barra datang, wanita itu hanya melihat calon suaminya dari kejauhan. Ia melihat pria itu tampak gagah membuat jantungnya semakin berirama tak karuan. Barra sudah bersiap melakukan prosesi ijab kabul yang sakral disaksi banyak tamu. "SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA AFIFAH TALITA BINTI ARYA SATRIA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI." Terdengar suara lantang Barra melantunkan merdu ijab kabul itu dengan satu nafasnya. Afifah merasa tak bisa mengatur nafasnya yang berada disebuah ruangan, ia hanya mendengar suara Barra yang telah mengikat dirinya menjadi istri. "BAGAIMANA SAKSI SAH." Tanya penghulu pada beberapa saksi tersebut. "SAH." Jawab para saksi. "Alhamdulillah." Ucap para tamu yang berada di dalam masjid. Kini Barra telah sah menjadi suami Afifah. Ia merasa perasaan aneh, sulit untuk Afifah jelaskan. "Suami, boleh langsung jemput calon istrinya." Ucap penghulu. Barra bangkit dari duduk, ia melangkahkan kakinya mengikuti Azizah yang menunjukan dimana keberadaan Afifah. Barra terpelongok melihat kecantik Afifah pada saat itu. Barra merekah senyum lebarnya, terpancar kebahagiaan diraut muka tampannya. Ia mengulurkan tangan pada istrinya. Istri itulah sebutan yang pantas untuk Afifah. Semua mata tertuju pada kecantikan Afifah. "Wah.. cantik sekali Afifah." "Cocok cantik dan ganteng." Kira-kira seperti itulah pujian dari para tamu pada kedua mempelai ini. Afifah dan Barra duduk kembali dihadapan penghulu. Setelah duduk rapih penghulu memimpin doa pernikahan, lalu tanda tangan pada buku pernikahan kedua orang tersebut. Usai membaca doa nikah, kini waktunya mempelai laki-laki menyerahkan mahar pada pempelai wanita. Lalu nukar cincin dan nasihat pernikahan yang dilaksana salah satu ustad di Brunei. Kini kedua orang ini telah sah menjadi sepasang suami istri. Acara akad nikah telah usai, mereka tinggal menggelar resepsi pernikahan mereka pada sore harinya disebuah gedung pernikahan. KEDIAMANA ARYA SATRIA 01.00. PM. Afifah telah berada dikamarnya sejenak wanita Itu terduduk merebahkan tubuhnya "Afifah." Panggil Barra. Afifah menoleh kearah Barra yang berada di kamar miliknya. Aneh itulah yang dirasakan Afifah, harus berada dengan seorang pria dalam satu kamar. Kedua orang tersebut merasa canggung. "Ya." Jawab singkat Afifah. "Aku mau numpang kamar mandi." "Disana pakai aja." Afifah nampak grogi ia memilih pergi keluar kamarnya. Wanita pergi keluar tamu yang sudah terdapat keluarga besarnya. "Loh.. pengantin kok keluar kamar." Tanya bunda Nita dengan senyumnya. "Itu, Bun. Panas dikamar. Gerah banget." Elak Afifah. "Loh.. kan ada AC kamar kamu." Kata Arya. Tak lama kemudian seorang tamu tak diduga datang membuat kebahagiaan pada Afifah. "Assalamualaikum." "Wa'alaikum salam." Ucap kompak mereka semua. "Milly.." Pekik Afifah riang. Milly berlari kecil memeluk Afifah yang telah berganti pakaian pengantin yang berbeda. "Tega banget sih kamu, Kenapa enggak undang aku. Untung aja Azizah telpon aku. Jadi aku bisa pergi kesini." Ngedumel Milly pada sahabatnya itu. "Ya.. Maaf. Kamu kan di Jakarta." "Tapi aku kan pasti datang Fifah. Oh.. ya suami kamu mana." Seru Milly pada Afifah. Tak lama kemudian Barra turun dari kamar Afifah dengan gaya elegantnya. Pria tampan itu mengenakan jas hitam. Penampilannya sangat gagah. "Itu mas Barra." Ujar Azizah menunjuk pada kedua wanita ini. Milly melihat perawakan Barra, ia mengeryit dahinya. Wanita terbelalakan matanya, seolah melihat setan didepannya. "Mil, ini suamiku namanya...." "Barra." Ucap Milly dengan lirih. Oh... Tuhan. Milly tak percaya bisa melihat pria ini menikah dengan Afifah, lantaran Milly tahu jika Barra selalu menguntit Afifah ketika masih di Jakarta. Tapi.. Sama seperti yang lain, semenjak kejadian buruk menimpa nasib Afifah hampir semua orang meninggalkannya bahkan para sahabat menggucilnya. "Mil, kamu kenal sama Barra." Seru Afifah menatap milly yang termangu memandang Barra. "Milly." Afifah menggoyang tubuh Milly membuat sahabatnya membuyar lamunannya. "Eh.. Maaf." Milly menyengir menunjukkan deretan gigi putihnya. "Dia suami kamu. Aku enggak nyangka Barra bisa jadi suami kamu." Milly berkata lagi. "Maksud kamu." Afifah mengeryit bingung. "Apa kabar, Mil." Sapa Barra dengan ramah. "Tu kan kalian berdua saling kenal." Gerutu Afifah. "Ya.. kami memang saling kenal. Kampus aku dulu dekat dengan sekolah kamu." Ujar Barra. Sejujurnya Barra takut Milly mengatakan segalanya. Jika dia pria yang pernah jatuh hati pada Afifah sampai mrmbuntutinya. "Sudah ngobrolnya. Kita harus pergi kegedung pernikahan. Ayah dan papa kalian sudah berangkat lebih dahulu." Oceh Mama Riana. Mereka semua pun berangkat kegedung pernikahan mereka digelar. "Afifah, gandeng dong suaminya. Kan udah halal." Nita meraih tangan putrinya ke lengan Barra. Para tamu memperhatikan kedua mempelai memasuki ruangan tersebut. Kedua orang ini bergandeng menaiki pelaminan. Resepsi pernikahan yang megah bernuansa putih. Mereka duduk bersanding disinggasana mereka. Terpancar wajah cerah pada mereka. Afifah masih tak menyangka Barra bisa menerima kekurangannya. Tidak Afifah...!!! Tapi Barralah pelakunya, dia pria yang telah merenggut kesucian Afifah. Para undangan mengucap selamat terus menerus hingga acara usai. "Akhirnya." Lirih Barra duduk bersender kursi pelaminan. Sesekali Afifah melirik Barra yang mengerjapkan matanya karena lelah. "Barra." "Hmm." Afifah tetap menatap Barra, terasa aneh. Tentu saja, sekarang pria disampingnya telah resmi menjadi suaminya. "Ada apa, Afifah." Barra dengan berani meraih genggam tangan Afifah. Sedangkan sang wanita merasa pergerakkan jantungnya terpacu lebih cepat dari biasa. Padahal ia tidak memiliki perasaan pada Barra. Namun merasa segatan listrik menghantamnya sesaat. "Tidak jadi." Afifah menggeleng tegas. "Lalu." Barra melekatkan muka pada Afifah membuat sang istrinya menjadi salah tingkah. "Barra, jangan seperti ini. Aku merasa aneh." Ujar fifah menolak tubuh Barra perlahan. Barra pun mundur dengan rasa kecewanya. Mungkin Afifah belum bisa menerimanya sebagai suaminya. Pria itu memalingkan wajahnya. "Pengantin baru ini ada hadiah untuk kalian." Dirga menghampiri kedua orang ini yang masih duduk dipelaminan. "Hadiah apa, pa." Tanya Barra. "Ini kunci mobil. Kalian menginap dihotel, semuanya sudah diurus kalian tinggal menginap aja." Terang Dirga. Sepertinya Dirga paham maunya Barra. Pria itu ingin berduaan dengan istrinya. Apalagi ini malam pertama mereka. Berbeda Afifah merasa takut dengan malam pertamanya tapi adalah hal Barra, mungkin Afifah tidak bisa apa-apa. Wanita itu hanya bisa pasrah. Malam sudah semakin larut, kini waktu tak terasa sudah menunjukkan waktu 10.00 pm. Barra dan Afifah bersiap untuk pergi menuju hotel tempat mereka menginap. Perlahan Afifah menghembus nafas panjang. Ia mungkin harus melawan rasa takutnya itu demi menjalani hidupnya sebagai seorang istri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN