4. PARFUM

1028 Kata
Bisa dibayangkan bagaimana gugupnya Afifah saat ini. Apalagi ini benar-benar kamar malam pertama yang sudah di tense bunga mawar di atas ranjangnya. Afifah menelan saliva kasarnya melihat pemandangan seperti ini. Ia perlahan mengerjapkan matanya sambil berucap dalam hati 'Aku bisa.. Aku bisa.. Aku bisa..' "Afifah, kamu kenapa." Tanya Barra heran memasuki kamar hotelnya. "Aku mau bersih-bersih dulu. Aku gerah." Ujar suaminya yang tampak lelah. "Hah?? Bersih-bersih." "Iya memangnya kenapa. Aku panas dan letih. Ada yang salah." Timpal Barra membuka jasnya membuat Afifah berbalik tak ingin berbalik. Barra terkekeh dengan drama Afifah. "Aku belum berbuka baju. Kenapa kamu sudah ketakutan.," Bisik Barra membuat Afifah sangat malu. Ah.. sial. Afifah benar-benar malu. Bodohnya ia tidak bersikap normal sama sekali. Seharus ia sadar dirinya sudah menjadi seorang istri. Bars kini sudah mandi dan baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang basah secucuran air masih menetes di tubuh gagahnya. "Tidak gerah." "Hah." Afifah sangat gugup ia menjadi salah tingkah bingung harus melakukan apa. "Aku memperhatikan dari tadi kamu sering melamun.. Apa sudah menjadi hobby." Barra mengambil pakaian tidurnya, ia hanya mengenakan training dan kaos untuk tidur. "Mandi sana, aku saja gerah melihat pakaianmu." Cibirnya membuat Afifah cepat beranjak. Afifah masih merasa berdebar jantungnya ketika melihat Barra tanpa baju menunjukkan d**a yang bidang, tubuhnya bergemetar hebat. Tidak.. ia merasa baru pertama kali melihat hal itu. Rasa bodoh, ia pernah diperkosa tapi tidak bisa melihat bentuk tubuh dan wajah orang yang memperkosanya. Sangat mustahil.. tapi Afifah sangat mengenal wangi tubuh pria yang pernah memperkosanya. Afifah merasa gelisah ia enggan untuk keluar kamar mandi, apalagi sekarang tidak memakai jilbab. Ia takut, ia belum siap harus melakukan hubungan suami istri. Sedari tadi Afifah hanya mondar-mandir bicara sendiri. "Astaga bagaimana ini. Bagaimana kalau dia meminta haknya. Dan aku belum siap." "Ayolah Afifah kamu bisa., Aku memang sangat takut, ah... Bayangan sentuhan pria b***t itu pasti akan menghantuiku." Ia menghembuskan nafas dalam, ia menguatkan diri melawan rasa takut dihatinya. Pelan-pelan ia berjalan keluar kamar mandi, ketika ia membuka pintu, Afifah memandang Barra suaminya yang sudah tertidur lelap tanpa menunggunya. "Alhamdulillah. Ternyata dia sudah tidur." Ada perasa syukur karena ia tidak perlu terbebani rasa takut membara dihatinya. Dia bisa melakukan kesalahan tapi berusaha untuk tenang. *** Afifah terbangun subuh hari, ia sudah tidak melihat Barra di ranjangnya, bahkan dikamar. "Dimana. Barra?" Ucapnya bicara sendiri. Dengan cepat Afifah beranjak, ia menyadari jika sudah pukul 05.15. sebelum matahari terbit, ia segera bergegas mengambil wudhu, untungnya dia tidak pernah lupa untuk membawa mukenahnuya. Terdengar suara decitan pintu ketika Afifah sholat subuh, ia tetap melakukan sholat dengan khusuk. "Assalamualaikum." Afifah telah mengakhiri sholatnya, tidak lupa ia berdzikir lebih dahulu sebelum berdoa. "Kamu darimana." Langsung kalimat itu meluncur dari Afifah yang sambil melipat mukenahnya. "Mushola hotel, tadi aku ingin membangunkanmu tapi tidak enak." Ujar Barra yang membongkar bawah selimut seolah menjadi barang. "Kamu cari apa" "Ponselku. Liat tidak." "Yang disaku kemejamu itu apa?* "Astaga!! Ceroboh sekali aku." Barra menepuk jidatnya merasa melakukan kesalahan, ia memang selalu saja sembarang. Hingga lupa dimana letak barang yang selalu digunakannya. Keduanya pun malah sibuk memainkan ponsel masing-masing, ada kecanggungan diantara kedua, Afifah tidak tau harus mulai membicarakan apa pada suaminya. "Bar" "Af" Mereka pun saling tertawa kecil, lantaran bersamaan saling memanggil. "Kamu duluan." Tawar Barra. "Kamu aja." "First ladies." Seru Barra. "Oh... Baiklah. Kamu---" Lidahnya seakan tertahan hanya mengatakan hal tidak begitu penting. "Kamu mau sarapan apa?" "Hmmm aku cukup roti saja." " Okey. Aku akan pesan." Baru saja pria itu beranjak satu langkah dirinya justru kakinya tersanduk karpet. Membuat Afifah terkejut karena Barra menindih Afifah diranjang. Dadanya seakan teremas, ada suatu yang bergetar didirinya. Kedua meradu tatapan, Wangi tubuh Barra membuat Afifah sontak mengingat seorang yang telah memperkosanya. I Kontan Afifah meremas seprei bagian bawah, menimbulkan tetesan air matanya, Barra menyadari langsung bangkit, "Ada apa,, Af." "Parfum kamu.. Parfum yang kamu gunakan." Afifah menjadi histeris ketakutan. "Menjauh... Menjauh dariku!!" d**a Afifah menggebu dengan matanya yang memerah. "Afifah, apa yang terjadi.." Khawatir Barra, ia sendiri tak berani mendekat takut jika Afifah semakin berteriak. "Fifah!! Jangan membuatku takut." Barra mengacak rambutnya frustasi. "Afifah, tenang." "Pergi!! Pergi!!" Afifah menjerit dengan menutup telinganya di pojokan ranjang. "PERGI!!" Raungnya kembali. Barra menatap Afifah dengan rasa menghiba, ia tak ingin membuat Afifah semaikin mengamuk, pria itu pergi keluar kamarnya. "Aku keluar!!" Lelaki itu tentu tidak protes sama sekali, ia menunggu istrinya tenang diluar kamarnya. Matanya mendelik... Ia menatap dibalik pintu tersebut. Hatinya teriris, ada duri yang seakan menancap direluh hatinya paling dalam. 'Afifah... Apa yang terjadi. Ada apa dengan parfumku. Kenapa Afifah histeris. Hatiku ikut hancur melihatmu seperti itu.' Jerit Barra dalam hatinya. Sudah lima belas menit, tiga puluh menit dan satu jam Barra menunggu diluar kamar, matahari sudah mulai menerik. Hati pria itu gelisah. Barra ragu masuk kekamarnya, ia tak berani untuk melekat pada Afifah yang mengamuk sejadi pada dirinya. Barra duduk bersender didepan pintu kamar dengan menekuk lututnya seraya menenggelamkan wajahnya. "Barra." Lirih Afifah membuka pintunya. "Masuklah. Jangan diluar." Barra berburu bangkit memasuki kamarnya, ia menatap pilu pada Afifah, "Maaf." Satu kata itu terdengar jelas ditelinga Afifah. "Kamu...." Barra enggan untuk melanjutkan kata-katanya. 'Apa dia sudah tidak papa." "Aku tidak papa." "Syukurlah.. Kamu butuh suatu." "Iya, tolong ganti parfum kamu dengan bau lain. Parfummu mengingatkan kenangan burukku." Pinta Afifah lembut. 'Parfum... apa Afifah mengenali parfumku. Ah.. ini salahku. Bagaimana jika Afifah mengetahui segalanya' Pikir Barra. "Baik, nanti kita singgah ke minimarket sebelum pulang kerumah baru kita." Kata Barra. "Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak papa, aku tidak suka dikasiani." Sergah Afifah. "Yakin." Afifah mengangguk tegas, ia seseka menghempas nafasnya kasar. "Jangan khawatir aku hanya sedikit trauma. Jadi jangan berlebihan." Gumamnya seraya menyapukan lotion body ketubuhya. Ia melirik Barra dari cermin dihadapannya. "Kamu nyesal nikah sama perempuan yang sudah tidak suci." Ucap Afifah dengan senyum menggetir. "Apa kamu katakan, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu it---" Hampir lagi Barra mengatakan jika dirinya yang melakukan itu.. "Aku menjadi pesimis tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu.."Gumam Afifah duduk di depan meja rias, yang di pandang punggungnya oleh Barra. "Ssstttss... Jangan. Cukup jangan katakan itu. Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawabku." Barra mendekat duduk meraih tangan Afifah, pria itu berlekuk pada istrinya sebelum berkata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN