8. BERPIKIR

1196 Kata
Sudah hal rutin untuk Afifah, disela waktunya yang sibuk. Ia selalu makan siang bersama Indriyani untuk berbagi cerita pada sahabatnya. "Huft..." Afifah menghela nafas berat seolah ada yang menganggu pikirannya. "Mikirkan siapa,?" Tegur Indri. "Kamu tuh enggak pintar menyembunyikan suatu sama aku, Fah." Percuma saja pastinya sudah bisa Afifah tebak, jika dengan mudah Indri bisa menyimpulkan raut wajahnya. "Aku heran kenapa, bayangan masalalu itu akhir-akhir ini datang. Bahkan tadi aku histeris." "Ya... Mungkin kamu sepenuhnya melupakan kenangan buruk itu." Afifah memgerdik bahunya. " Ya itu memang benar." Afifah berkata dengan tegas. "Kamu tau barra mengusulkan untuk kemana??" "Kemana memangnya?" Saat ini Indri masih makan sementara Afifah sudah lebih dulu selesai. "Psikeater." Indri terkekeh dengan mengulum makan yang dimulutnya, ia tak percaya Barra berpikir sejauh itu. "Aku pikir saat ini tidak melawak sampai membuatmu tersenyum seperti itu." Sungut Afifah. "Ohh.. maaf. Menurutku tidak salah dicoba." "Tapi aku tidak gila, In." "Memangnya hanya orang Gila yang ke psikeater. Fifah, kamu mengalami trauma berat jadi wajar saja Barra memintamu ke psikeater. Setidaknya coba sekali dulu." Gerutu Indri. Afifah masih saja berpikir panjang, ia tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Lagi pula sebelum menikah.. dirinya merasa baik-baik saja. Tapi entah kenapa tiba-tiba ia kembali merasakan sakit itu. Ada guncangan yang seperti meronggoti hatinya setiap detik, Afifah juga tak mengerti apa itu. "Fah, sebaiknya kamu coba deh." Indri berusaha menyakinkan Afifah, kali ini dia setuju pada ide barra yang menurutnya untuk kebaikan sahabatnya. "Kalau kamu takut aku bisa temani." Afifah menggeleng. Bukannya sombong, dia selalu yakin bisa melakukan sendiri. Sudah banyak hal yang pernah dilaluinya. "Tidak perlu aku bisa sendiri." Afifah menjeda untuk mengambil nafas sejenak. "Aku akan ke kantor Barra setelah ini. Lagi pula aku sudah free tidak ada sidang." "Ya sudah kalau begitu. Semoga sukses." *** Afifah kini sudah berada di kantor Barra, semua mata melihatnya. Tentu saja.. ini pertama kali dia mengunjungi kantor Barra. Semua karyawan pasti sudah tau jika Afifah adalah istri Barra, sekretaris Barra bahkan tidak berani melarangnya untuk masuk. "Menganggu." Barra tertegun melihat istrinya yang tiba-tiba datang menghampirinya. "Ka--" "Kamu..!! Dengan siapa?" Ujar Barra menghentikan kerjaan dengan cepat. "Tidak papa... Lanjutkan saja pekerjaanmu." Afifah mendarat di kursi hadapan barra. "Sibuk.?" "Kamu belum menjawab pertanyaanku." "Aku sendiri. Tadi Naik taxi." "Kenapa tidak menelpon pulang lebih awal. Aku kan bisa menjemput." Afifah sedikit penasaran dengan bisnis Barra. Ia selama ini tidak tau sama sekali tentang usaha suaminya. "Sejak kapan perusahaan ini berdiri." "Sudah cukup lama." Lirih Barra. "Aku diminta papa untuk ke Brunei saat masih kuliah dan meneruskan kuliah disini sambil merintis perusahaan papa. Dan belajar membuka perusahaan sendiri." "Berarti kamu cukup cerdas hingga bisa memimpin perusahaan ini. Kata ayahku, ini perusahaanmu sendiri." "Ya itu benar." Afifah cukup kagum dengan kerja keras Barra. Barra memang kiat dengan pekerjaan, makanya dengan usia yang masih sangat muda ia berhasil memiliki perusahaan dan sekarang ingin membuka cabang di Indonesia. "Aku mau ke psikeater." Celetuk Afifah. Barra memandang Afifah, ia tak percaya jika akhirnya Afifah setuju. Sungguh Barra bahagia mendengarkan hal itu. "Benarkah?" "Ya... Kamu mau aku berubah pikiran." "Jangan!! Besok aku akan mengatur jadwal psikeaternya." Ujar Barra menyungging senyumnya. Sedikit meneguhkan hatinya, Afifah terkesan memperhatikan Barra yang sedang bekerja. Ia masih menunggu Barra selesai bekerja. "Fifah, kamu sudah makan." Barra berkata tanpa menatap muka Afifah. Ia masih tertunduk mengerjakan proyek yang harus diselesaikan Hari ini. Afifah tidak menjawab, ia masih termangu dalam angannya. Sadar... Jika Afifah tidak mendengar, Barra mendekat. "Fifah." Lirih Barra. Afifah sadar dari lamunannya, ia terjengkit ketika melihat Barra terlalu dekat dengan wajahnya. "Barra..!!" Sentak Afifah. "Maaf, Fifah.. Aku tidak bermaksud." Barra dengan cepat mundur menjauh. "Aku tadi bertanya tapi kamu tidak menjawab makanya aku mendekat." Barra menjelaskan agar Afifah sama sekali tidak salah paham padanya. Muka fifah memerah seperti kepiting yang baru dipanggang. Ada getaran berbeda ia rasakan saat hembusan nafas barra berhembus diwajahnya. "Tidak." "Maksudku tidak papa." Fifah mengulas senyum tipisnya. Fifah dengan cepat menepis semua gejolak didadanya yang belum terlampau jauh, menurutnya perasaan apa pun itu ia tidak menginginkannya. Fifah memang terlalu takut terluka. "Bar, apa pekerjaanmu masih sangat lama. Aku lapar sekali, bisa kita makan keluar sebentar." "Tadinya aku ingin mengajakmu makan juga." Barra menggeleng kepalanya sambil tersenyum. "Kita makan dekat sini saja ya." "Tidak masalah." Sahut fifah bangkit dari duduknya. Kedua suami dan istri ini makan bersama, tidak ada pembicaraan yang penting. Mereka hanya makan saja, setelah menyantap makanan Barra dan Fifah kembali ke kantor. Fifah kembali menunggu Barra dengan kebosanannya, padahal hari sudah mulai gelap, tapi Barra masih saja bekerja tanpa henti. Karena sangat bosan, ia memutuskan untuk membaca beberapa majalah tentang bisnis yang ada di kantor Barra. "Fifah, kamu bosan." "Sudah tau masih nanya lagi." Ketus Fifah. "Apa kamu akan terus bekerja. Aku capek." Barra menghempaskan nafas kasar. 'Mulai lagi ocehannya' Barra berdecak dalam hatinya. "Tunggu sebentar lagi ya." "No." Afifah membesarkan matanya menantang. "Aku benar-benar bosan. Karyawan kamu saja sudah pulang." Lanjut gerutu Fifah. "Ya Tuhan.. Fifah!! Aku hanya minta menunggu sebentar." "Bodoh amat!! Pokoknya aku mau pulang." Bentak Fifah dengan tangannya melipat didada. Barra hanya bisa mengerjapkan matanya sejenak dengan menghempaskan nafas bosan, ia sangat terpaksa harus menuruti keinginan Fifah. "Ya sudah kalau gitu kita pulang. Puas kamu!!" "Puas banget. Seharusnya daritadi." Ricau Afifah menegakkan kepalanya. Ah.. Betapa bodohnya Barra, ia seperti bucin dihadapan Afifah. Ia tidak bisa melawan Afifah. Walau kadang dia benar, tetap saja ia mengalah. "Sudah.. Ayo pergi. Jangan cerocos terus." Ucap Barra berlalu berjalan lebih dulu. Afifah tercenggang, dengan cepat Fifah menyusul Barra lalu menimpuk pundak suami. "Kamu tau enggak sini gelap. Kenapa tinggalkan aku." "Takut." "Yaiyalah.. takut. Kalau ada yang culik gimana? Barra dengar ya kalau kamu berani tinggali aku kayak tadi. Aku pulang kerumah orang tuaku!!" Ujar Fifah seolah terdengar mengancam. Barra berbalik memandang Fifah di belakangnya. "Ya sudah sini." Barra hendak meraih tangan Fifah. "Eh... Kamu mau apa??" "Katanya enggak mau ditinggal. Ayo sini aku gandeng." Ucap Barra dengan lembut seraya mengulur tangannya. "Tenang aja.. aku enggak ambil kesempatan. Cepatan gelap nih." Fifah tetap saja tidak mau bergandeng, sebenarnya ia gengsi. Bukan tidak mau.. "Enggak mau ah... Aku bukan anak kecil digandeng segala." Gerutu Fifah berjalan mendahului Barra. "Fifah..!! Tunggu.. kamu jangan terlalu cepat, nanti kamu ja--" Belum saja Barra menyelesaikan kata-katanya, Fifah sudah lebih dulu jatuh tergelincir. "Aaaawhhhhh....!!" Ringis Fifah. "Aku kan sudah bilang... Jangan terlalu cepat, lantainya licin jam segini. Baru dibersihkan ob." Barra membantu Afifah untuk berdiri. "Kamu kenapa enggak bilang daritadi." Sergah Fifah pada suaminya. "Astagfirullah.. kan aku sudah mau bilang tadi." Sungut Barra yang mulai kesal. "Kamu tidak bisa ya satu saja berhenti marah-marah!!" Gusar Barra. Fifah menjadi cembrut mukanya karena penuturan Barra."Aaawhhh.." Fifah meringis, ia baru sadar kakinya keseleo. "Sakit." "Kenapa?" Khawatir Barra. "Kaki kamu sakit. Kamu bisa jalan." "Enggak tau." "Aku gendong mau." Tawar Barra dengan tulus. Fifah mengangguk ragu, ia mengendong fifah hingga kedalam mobil, Fifah bisa sedekat ini dengan Barra.. ia merasa sangat gugup memeluk Barra dari belakang. "Aku berat enggak." "Banget." "Barra..!!" Bentak Fifah. "Bercanda." Barra berharap waktu tidak cepat berlalu, ia ingin bisa selalu seperti ini hanya berdua dengan Fifah. Selama menjadi suami, mungkin Barra belum pernah sedekat ini. Hatinya seperti melambung dengan perasaan bahagia, tanpa Fifah sadari Barra diam-diam menyungging senyum tipis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN