9. MASAKAN AFIFAH

1024 Kata
Kaki Fifah masih terasa sakit, dengan hati yang tulus. Barra memijitkan istrinya, awalnya fifah menolak, namun Barra memaksa karena tidak ingin semakin parah. "Kamu punya bakat jadi tukang pijit." Ujar polos Fifah dengan kikihan kecilnya. "Enak juga pijitan kamu." "Ya dulu aku bekerja di pijit plus." "Yang benar!!" Fifah kontan menarik kakinya menjauh, dengan matanya melotot kearah Barra. Barra dengan cepat kembali merengkuh kaki Fifah. "Astaga...!! Fifah, kamu percaya." Barra menjeda ucapannya sejenak. "Aku hanya bercanda. Mana mungkin ganteng gini jadi tukang pijit." Gerutu Barra menggeleng dengan kelakuan Fifah istrinya. "Memang ada yang bilang kamu ganteng." Bibir Fifah mengerucut seraya matanya memicing. "Coba aku lihat." Fifah meraih pipi tirus Barra mengelusnya dengan pelan. "Banyak yang bilang terutama orangtuaku." Barra menepis pelan jemari lembut yang terasa dipipinya. "Biasanya seorang istri selalu bilang suaminya paling ganteng." "Idih... Percaya diri sekali kamu." Umpat Fifah membuat Barra gemas pada istrinya.. "Kenapa melihatku seperti itu." Fifah berkata setengah merajuk. Barra memilih diam dan lebih fokus memijit kaki Fifah, sesekali ia melirik Fifah yang bersender dengan majalah ditangannya. Pria itu termangu, Dulu, dia melakukan kebodohan. Dia hanya lelaki yang hanya bisa dari jauh memperhatikan Fifah dengan seragam putih abu-abu. Sementara dia selalu menguntit Afifah, memastikan perempuan dicintai pulang dengan selamat. Tapi justru dirinya yang menghancurkan hidup wanita itu, memperkosa Fifah adalah keputusan bodoh. Karena keputusan orang tuanya memindahkan Barra ke Brunei membuat dia kalap nekad menyentuh Fifah yang masih sangat belia. Betapa takdir mempermainkannya, ia tak sanggup menyentuh istrinya sendiri, karena rasa bersalah dan dosa pada Fifah, penyesalanya mungkin terlambat. Entah cara apa dia bisa menebus rasa berdosanya. Bagaimana mudahnya ia memasuki kejantanan pada Fifah yang masih perawan. Dan lebih menyakitkan itu adalah Hari ulang tahun Fifah. Suara lembut Fifah membuyarkan pikiran Barra tentang masalalu pahit yang ia pendam selama ini. Barra menghempaskan nafas berat, kembali menetralkan dirinya sendiri mendongakan pandangan pada Fifah. "Apa yang kamu pikirkan." Fifah berlirih sendu pada Barra, ia tiba-tba melow melihat muka Barra seperti memiliki beban di pundaknya. "Lupakan kakiku, aku sudah mulai membaik, duduklah kemari." Fifah menepuk ranjang disamping , tempat biasa terbaring. Barra mengangguk mantap melekat pada Fifah. "Kamu yakin sudah membaik." "Tidak menjawab pertanyaanku." Fifah berbaring menyamping menghadap begitu pula sebaliknya. "Barra!! Jawab aku." "Tentangmu... Masalalumu.. Apa kamu sudah memaafkan pria b***t itu." Dengan menyusun kata-kata... barra memberanikan diri bertanya hal sensitif itu. "Apa yang membuatmu tertarik dengan hal ini." Fifah berkomentar dengan menatap Barra. "Masalaluku tidak ada yang indah. Lupakan!!" "Fah!!" Barra mencoba merengkuh tubuh Fifah, tapi ia enggan karena merasa sangat tidak pantas. "Sudahlah, Bar. Cukup semuanya.." Gumam Fifah merintih tangisnya. "Boleh aku tidur dipelukanmu." Barra mengangguk, dia bisa merasakan luka yang telah ditumbuhinya pada Fifah, rasa sakit yang masih terbekas. "Aku tidak akan pernah memaafkan pria yang menghancurkan hidupku sampai kapan pun." Deg!! Kata-kata itu sangat mengiris hati Barra, bisa kah ia menebusnya hanya karena menikahi Fifah. Mustahil.. sangat mustahil, rasa sakit Fifah belum sembuh, masih sangat mengores hatinya. Fifah tidak tau sejak kapan ia merasa nyaman dipelukan Barra, ia bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan masalalu yang menghantuinya. "Maafkan aku." Ucap pelan Barra namun dapat mendengarnya, Fifah tidak mengerti, ia lebih memilih mengabaikannya. *** Subuh harinya, Barra sudah lebih dulu bangun. Seperti biasa mandi dan sholat subuh sudah menjadi hal rutin untuk suami Fifah itu. Sementara fifah karena sedang datang bulan, ia lebih memilih menyiapkan sarapan. Apalagi ia sudah memutuskan untuk cuti beberapa hari. "Loh.. non, sedang apa?" "Buat nasi goreng cumi untuk sarapan Barra." Ujar Fifah menyiapkan pengoreng, nasi, sayur, dan beberapa cumi segar dari kulkas. "Non Fifah enggak kerja." "Enggak, bi. Saya cuti beberapa hari mau berobat." "Syukur... Padahal Tuan Arya dari dulu minta non kepsikeater, non Fifah selalu saja menolak." Memang Arya Ayah dari Fifah selalu meminta untuk ke psikeater, namun dengan tegas Fifah selalu menolak dengan alasan dia masih bisa menanganinya. "Mau Bibi bantu apa, non." "Tidak usah, Bi. Fifah mau masakan spesial untuk Barra." Fifah memulai memasak dengan semangat, ia sudah mengiris cumi kecil-kecil, agar terasa lebih nikmat saat dikunyah. Fifah memang jarang memasak tapi ia sangat pandai mengenai soal dapur. "Harum sekali masakannya." Barra baru saja turun, dengan kain sarung yang masih terbelit dipinggangnya. "Tumben kamu masak." "Kenapa tidak boleh? Anggap saja ucapan terima kasih karena tadi malam sudah memijitkanku." Afifah berucap seraya menyiyipi nasi goreng buatannya siapa tau ada yang kurang dengan bumbunya. "Lihat kakiku sudah tidak sakit." "Kamu enggak kerja. Kok belum berganti pakaian." Lanjut Fifah. "Kerja tapi siangan, aku mau temani kamu." "Oh.. so sweet baik sekali suamiku." Ucapnya setengah menggoda. "Apa sudah lapar." "Tentu saja lapar. Mencium aromanya saja menggoda perutku yang berkriuk." Ujar Barra perlahan membuat Fifah yang sedang menyiapkan dua piring nasi goreng terkekeh geli. Fifah menghampiri Barra yang sudah diatas meja makan, memberikan nasi goreng pada Barra, dengan berburu ia langsung menyantap makanannya. Tentu saja Barra senang, ia bisa merasakan masakan istrinya sendiri. Apalagi masakan Fifah sangat lezat. "Bar, pelan-pelan nanti tersedak loh!!" "Ini enak banget, Fah. Aku baru tau kamu bisa masak." Barra berkata dengan mengulum makanan dimulutnya. "Hemmm.. jadi kamu remehin aku. Gini-gini aku bisa masak tau." Sungut Afifah memelas. "Enggak gitu.. kamu kan enggak pernah masak sih. Tiap hari kek masakin aku." "Enak aja..!! Memangnya aku enggak kerja." Fifah mendesah lirih pada Barra. Barra benar-benar merasa beruntung, pagi ini mendapatkan istri begitu hangat, walau hanya sepiring nasib goreng sudah membuat Barra bahagia. Ia tersanjung dengan apa yang Fifah lakukan. Setelah usai sarapan, Fifah membereskan bekas makanannya. Ia meminta Barra untuk bersiap karena sudah jam 07.45, mereka harus ke psikeater yang kebetulan sekali istri dokter Nuar. "Bar, Sana siap-siap." Pinta Fifah cepat. "Atau kamu pergi menggunakan sarung itu." "Asal kamu enggak malu aja." Jawab Barra santai dengan senyumnya. Senyum Barra bisa mengetirkan d**a Fifah secara mendadak, ia berpikir tidak mungkin jatuh cinta pada Barra. Ia tidak percaya dengan cinta semenjak seorang pernah meninggalkannya karena kejadian naas itu. 'Tidak mungkin aku jatuh cinta, cinta itu hanya bisa menyakitkan. Aku sudah berjanji tidak akan jatuh cinta dengan siapapun' Dilihat Barra dengan kaos casual dan celana jeans turun dari tangga menghampirinya. Barra terlihat santai seperti itu, tidak lupa jaket kulit menutupi tubuhnya. 'Astaga kenapa tampan sekali.' puji Fifah dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN