10. PSIKEATER

1308 Kata
Saat ini Fifah dan Barra berada di dalam mobil perjalanan ingin menemui istri dokter Nuar, seorang psikeater yang banyak menangani kasus seperti Fifah. Barra merasa tubuhnya sedikit tidak enak. Ia memegangi tengkuk lehernya. Tapi ia tetap berusaha fokus menyentir dan untungnya tidak jauh lagi. "Bar, kamu kenapa?" Tanya Fifah yang sadar Barra mengalami kegelisahan. "Kamu tidak papa kan. Atau ingin kita pulang." "Tidak!! Aku tidak papa. Hanya merasa tidak enak badan. Sebentar lagi sampai." Barra tentu saja menolak, dengan susah payah membujuk Fifah ingin pergi, mana mungkin dia sia-siakan. "Yakin!! Kita bisa pergi besok kalau kamu tidak enak badan. Mukamu pucat." Ujar Fifah menatap Barra. Barra menggeleng mantap, tak selang waktu beberapa menit mereka sampai tempat tujuannya. "Ayo turun.," Ucap Barra yang mendadak merasa meriang. Untungnya tidak perlu mengantri karena Barra sudah menelpon istri Dokter Nuar yang bernama Tika, mengatur janji. Barra menunggu diluar sedangkan Fifah masuk kedalam sendiri. Fifah tidak ingin ditemani kedalam, tepatnya ia tidak ingin Barra mengetahui detail masalalunya. "Sudah berapa lama kamu kejadian tersebut." Tanya dokter Tika. "Saya tidak ingat beberapa lamanya, mungkin enam atau tujuh tahun yang lalu." "Hubungan kamu dan Barra baik." "Ya begitulah." "Begitulah bagaimana. Apa kalian pernah melakukan hubungan suami istri." Afifah menggeleng, "Tidak! Barra tidak pernah menyentuh saya. Mungkin dia merasa jijik harus menyentuh perempuan yang sudah ternoda." Terdengar suara Fifah sedikit sendu, ada rasa yang kecewa. "Saya mengenal Barra dari kecil, dia bukan pria seperti itu. Mungkin dia takut kamu belum siap." Fifah bersender disofa yang disetiap agar lebih rileks untuk bercerita masalah yang pernah dihadapnya. "Fifah, kamu harus lawan rasa takut itu, coba kamu lebih dekat dengan suamimu, mungkin Barra bisa membuatmu bisa melupakan bayangan pria itu." "Maksud dokter. Saya tidak mengerti." "Lakukan hubungan lebih erat bersama Barra, hubungan suami istri misalnya." Fifah cukup terkesiap, membayangkannya saja tidak pernah. Dia dan Barra. Oh no... Fifah mengerjapkan matanya sesekali. 'Aku dan Barra. Bagaimana aku melakukannya. Barra saja tidak pernah meminta.' Fifah menjerit dalam hatinya. "Jangan khawatir kamu pasti bisa." Kata-kata itu keluar dari dokter Tika membuat Fifah mendadak merona. "Saya rasa cukup hari ini." "Sus, tolong panggil Barra masuk. Istrinya sudah selesai konsultasi." Lanjut Dokter Tika pada suster. Atas permintaan dokter Tika, Barra pun masuk keruangannya. I masuk dengan tubuh yang memerah dan sedikit panas, mukanya pasti sudah sangat pucat. "Barra!!" Dokter Tika berkata dengan suara khawatir. "Loh kamu kenapa. Duduk sini, coba lihat." Fifah bangkit melihat muka Barra tampak mengeluarkan bercak merah yang terasa gatal. "Kok tiba-tiba kamu seperti ini. Perasaan tadi pagi bangun tidur enggak." Khawatir Fifah merengkuh wajah Barra. Dokter Fifah menghempas nafas berat dengan beberapa kali menggeleng. "Kamu pasti makan cumi ya!!" 'Hah.. cumi. Kenapa dengan cumi?!?' Batin Fifah dengan muka sedikit tidak enak. "Apaan sih tante. Aku mana mungkin makan cumi, kan alergi." Ujar Barra sambil menggaruk wajahnya membuatnya sangat risih. "Cumi ya!!! Kamu alergi." Fifah berucap lirih. "Iya. Aku alergi dari kecil." "Maaf." Gumam Fifah menggigit bibir bawahnya. "Kenapa minta maaf." "Nasi goreng yang kamu bilang enak tadi pagi Heemm.." Fifah merunduk dengan rasa bersalah. " Ada cuminya." "Astaga.... Fifah, kamu kenapa enggak bilang." Gerutu Barra. "Tau gitu aku enggak---" Barra menghentikan perkataannya, takut Fifah merasa kecewa. "Ya Ampun kok istri sampai enggak tau sih. Makanya semakin dikepit dong." Seru Dokter Tika setengah menggoda kedua pasang suami istri ini. "Tante!!" Ucap Barra dengan menekan sedikit suaranya. "Kenapa? Suami istri itu harus saling menjaga, bukan itu aja. Harus saling membutuhkan dalam hal ranjang misalnya." Dokter Tika tiada henti menggoda mereka, hingga membuat Fifah malu, mukanya sudah seperti kepiting rebus. 'Ya Allah dokter Tika ini ceplos sekali.' Barra tertegun, ia berusaha memalingkan wajahnya agar tidak terlihat salah tingkah. Barra melangkah melewati Fifah. "Ayo pulang. Sudah selesai kan." "Bar, jangan lupa beli obatmu." Ucap Barra sebelum mereka menghilang dari ruangannya. *** Fifah membuka pintu mobil ketika sudah sampai halaman rumahnya, Saat diperjalanan pulang Fifah lah yang menyetir mobil. Sementara Barra malah tertidur. "Bar, Barra!! Bangun sudah sampai." Fifah membangunkan Barra yang terlelap. "Barra, cepat bangun." Fifah merasa sebal karena Barra tidak juga bangun. Entah dapat ide darimana, rasa djahil menghinggap diotaknya. Ia melekat kan bibirnya di telinga Barra. "Barra..!!" Pekik Fifah membuat Barra terkejut. "Astagfirullah!! Fifah kamu tidak bisa membangunkanku pelan-pelan." "Sudah.. tapi tidak bangun." Ucap Fifah menatap sebal. "Bisa berjalan sendiri tidak?" "Bisa." Barra mendesah lirih membuat Fifah tidak yakin. "Aku bantu saja sini." Gerutu Fifah merangkul Barra hingga masuk kedalam rumah mereka, barra tidak melepaskan matanya menatap Fifah. 'Cantik' batin Barra. Tidak disadari lelaki itu jika Fifah mengetahui dia menatapnya. Fifah membaringkan Barra di ranjang besar mereka. "Kenapa melihatku seperti itu." Ketus Fifah. Barra melotot, ia menelan saliva dengan kasar. "Hah?!? Aku tidak memandangmu." Sanggah Barra. "Bohong..!! Sudah jelas tertangkap melihatku masih membantah." "Sudahlah... Sana buatkan aku sop atau apa. Aku lapar!!" 'Astaga dia memperlakukanku seperti istri yang penurut, kalau saja bukan aku yang membuatnya sakit. Aku tidak akan mau disuruhnya' pikir Fifah dengan hentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Barra. Fifah pergi kedapur menyiapkan sop untuk Barra, dengan muka sebal dan sedikit menyerocos pada Barra yang tidak ada dihadapannya. "Seenaknya saja dia!! Apaan itu, dia meminta sop seakan aku ini pembantunya saja. Kenapa tidak minta Bibi saja? Kenapa aku?!?" Seakan tidak ada habisnya, Fifah terus saja menggerutu sendiri. "Awas saja kalau dia sembuh... Aku akan membalas kelakuannya." "Barra kau membuatku kesal." Ucapnya sendiri sambil mengaduk-aduk sop yang telah dibuatnya. Setelah memastikan sop dimasak siap disajikan, ia kembali ke kamar dengan dengusan jengkel pada Barra yang terbaring dengan selimut menutupi tubuhnya. Fifah meletakkan sop diatas meja samping ranjang dengan hentakkan suara keras membuat pria terkejut, baru saja dirinya ingin memejamkan mata, sudah dibuat jantungan oleh istrinya sendiri. "Astagfirullah.. Fifah!! Hari ini kamu tu hobby buat aku istigfar ya." Sungut Barra terduduk dengan balutan yang tebal. "Habis kamu, aku buatin sop malah tidur." Gerutu Fifah sebal. "Sudah sin!! Mana sopnya biar aku makan, bisa darah tinggi aku hadapi kamu 24 jam." Cerca Barra kesal. "Sudah sakit!! Dibuat marah pula!!" Ucap pelan namun bisa didengar Fifah dengan jelas. "Biarkan aku suapin!!" Ternyata Fifah melunak ketika Barra bicara sendiri. "Aaaaaaa" "Tidak perlu!! Sini... Aku bisa sendiri. Kamu ngapain kek sana. Jangan ganggu aku." Fifah merasa nyesek melihat sikap Barra menyebalkan dengan segera ia keluar dari kamarnya menutup pintu dengan sangat keras. BRAK!! Barra mengelus dadanya, sambil menarik nafas dalam. Dirinya tidak mau terlalu memikirkan sikap Fifah, ia memilih menyantap sop dari Fifah lalu meminum obatnya dan kemungkinan tidur. *** Malamnya saat tubuh Barra mulai sedikit membaik, ia mencari Fifah yang sepertinya masih marah. Ia turun mencari istrinya, ia keruang televisi, lalu ruang tamu, dapur dan seluruh ruangan tidak sama sekali menemukan istrinya. "Fifah..!!" Panggil Barra. "Fifah!!" Tidak ada jawaban sama sekali dari Fifah, bahkan rumahnya terlihat tidak berpenghuni. "Fifah!!" Kali ini suara Barra meninggi. "Fifah, jangan bercanda ya enggak lucu nih." Karena khawatir Barra memutuskan untuk membangunkan Bi Kus, sebenarnya sangat tidak enak. Apalagi ini sudah pukul 11.00pm Dengan perlahan Barra mengetuk pintu kamar Bi Kus. "Den Barra, ada apa?" Ujar bi Kus mengeluarkan kepalanya saja dari pintu. "Maaf, bi. Saya menganggu. Tau tidak Fifah kemana." "Loh... Non Fifah enggak bilang ke aden." Barra menggeleng mantap. "Tidak." "Kan Non Fifah kerumah Pak Arya katanya kangen ingin tidur sana." Barra tersentak, Astaga ini mengejutkan. Fifah justru kerumah orangnya. Sudah pasti karena sikap Barra, perempuan itu tanpa pikir panjang lebih dahulu main pergi saja. "Ya Tuhan... Ya sudah. Terima kasih, bi." Lelaki itu mengambil ponsel untuk menelpon Fifah terus menerus namun tidak ada jawaban, ia memutuskan mengirim pesan. Me Fah! Kok kamu enggak bilang mau kerumah Bunda, Ayah. Ajak aku kek. Istriku Ngapain!! Aku hanya selalu membuatmu marah, kamu juga enggak mau diganggu. Me Tapi enggak harus tidur sana juga. Istriku BODOH AMAT!! Barra mendengus kesal, ia memutuskan untuk menyusul Fifah nokerumah mertuanya, di tengah malam begini. Dengan cepat mengambil kunci mobil lalu menghembus pergi. Tidak perduli dengan keadaannya yang baru saja membaik, ia tetap akan pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN