Untuk tujuan kerumah mertuanya cukup jauh, ia harus menempuh jarak kurang lebih satu jam dari rumahnya. Barra kini sudah berdiri didepan rumah mertuanya, ia menatap pintu yang siap ia menekan belnya.
Jujur saja ia ragu, jika ada yang membukakan pintu dengan waktu yang sudah sangat malam, namun nasib baik berpihak padanya.
"Barra." Lirih Arya Ayah dari Fifah. "Tidak bisa tidur tanpa istri." Goda sang mertuanya.
"Ayah... Maaf menganggu."
"Ayo masuk dulu." Ajak Arya pada Barra. "Bagaimana hubungan kalian, Bar. Apa Fifah menyusahkanmu."
"Tidak Ayah.. sesekali kami sering berdebat kecil saja. Apa Barra bisa bertemu Fifah." Gumam Barra dengan tak sabar.
"Masuk saja langsung ke kamarnya sana."
Barra pun dengan segera menaik tangga satu persatu menuju ke kamar Fifah yang terletak dilantai atas. "Semoga saja perempuan itu tidak lagi marah padaku." Gumam Barra dengan rasa cemas didadanya.
Sebelum memasuki kamar Fifah, Barra menghembuskan nafas panjang. 'Bismillah' Ucap Barra dalam hati.
Fifah menelungkupkan tubuhnya diranjang, ia menutupi wajahnya dengan bantal. Rasa kesal menghinggap dihatinya. Ia merasa sebal, jengkel, marah semua campur aduk.
Fifah mendengar decitan pintu, ia tidak berusaha melihat siapa yang datang, Fifah berpikir itu adiknya, Hanya gadis itu yang biasa menghantuinya saat dirinya belum menikah.
"Azizah!! Mau apa." Ketus Fifah tanpa melihat siapa yang datang. "Kamu pergi sana dari kamar aku."
Barra mendekat menaik ranjang duduk disisi samping Fifah. "Maaf." Lirih Barra membuat Fifah terkejut kontan ia bangkit lalu duduk menatap Barra.
"Barra!!" Fifah berkata dengan tekanan. "Kok kamu kesini. Ngapain."
"Bujuk istri aku yang lagi marah." Barra berkata Jujur dan tidak sedang merayu Fifah. "Maafin aku ya.. Tadi aku lagi enggak enak badan, kamu malah buat aku kesal."
"Jadi kamu jauh-jauh kesini hanya untuk mengatakan ini." Wanita itu memeluk bantal mengamati wajah Barra dengan serius.
"Kalau kamu marah... Ya sudah aku pulang aja." Barra berharap jika menahan kepergiannya, ia tak sanggup lagi harus menyetir lagi dalam perjalanan lumayan jauh.
"Eh... Jangan!! Aku udah maafin. Tidur sini aja." Fifah menyambar tangan Barra dengan cepat ketika pria itu sudah mulai bangkit.
"Ah akhirnya." Barra berdesah lirih seraya membantingkan tubuhnya keranjang.
"Jangan senang dulu. Sebagai hukuman kamu harus nemani aku besok belanja sayuran untuk dirumah."
"Okey. Tenanglah aku akan melakukan semua itu." Barra perlahan menutup matanya, lelaki itu sangat mengantuk dan lelah.
Fifah memandang Barra yang sudah terlelap disamping, terbesit ingatan dengan perkataan dokter Tika yang memintanya melawan traumanya. Fifah harus melakukan hubungan suami istri. Tapi bagaimana dia melakukannya jika Barra tidak pernah menyentuh dirinya.
***
Fifah dan Barra kini sudah disuatu pasar tradisional market kianggeh di Brunei. Untung saja tidak seperti pasar tradisional Indonesia, disini sangat bersih tidak perlu becek-becekan.
"Fah, kamu mau beli apa?" Tanya Barra mengekori Fifah dari belakang.
"Sayur, daging, ikan, udang, dan ayam. Aku ingin membeli itu semua." Sahut Fifah yang memilih sayur segar. "Kamu suka makan sayur apa."
"Sayur lodeh." Jawab Barra santai memegang keranjang belanjaan Fifah.
"Sederhana sekali sayuran yang kamu sukai, kalau ikan kamu suka diapain."
"Asam pedas. Aku bisa nambah sampai dua kali." Gumam Barra. "Kenapa kamu nanya kesukaanku."
"Memangnya enggak boleh, ntar kita digoda lagi sama dokter Tika karena enggak tau apa kesukaan kamu." Gerutu Fifah memasuki beberapa sayur.
"Jadi kamu mau jadi istri yang baik." Ucap Barra setengah menggoda namun tidak dibalas Fifah, ia memilih untuk kebagian ikan.
Afifah membeli ikan sebanyak empat kilo, entah kapan dirinya sempat memasak, ia juga membeli ayam. "Fah... Kamu yakin belanja sebanyak ini." Tanya Barra memastikan sebelum membayarnya.
"Kenapa kamu takut uangmu habis."
"Bukan gitu. Maksudku memangnya untuk apa sebanyak ini."
"Dimakanlah Barra. Ish.. Pokoknya kamu cepat bayar habis itu kita pulang."
"Aduh bau amis deh mobil aku. Pantes aja kamu tinggali mobil disana, ternyata ini alasannya."
"Diam kamu..!!" Umpat Fifah yang sedang di kasir.
Perdebatan sudah menjadi makanan pokok untuk mereka berdua, ada saja yang mereka ributkan dari masalah kecil menjadi besar.
Tidak seperti suami istri yang baru menikah, mereka lebih pantas disebut perdebatan sepasang kekasih yang saling cemburu, sepanjang jalan menuju parkiran Fifah dan Barra terus berdebat.
"Fifah, bantuin aku kek. Bawain satu kantong ini." Barra sudah merasa pegal sepanjang jalan memegang beberapa plastik belanjaan.
"Ish... Enggak mau..!! Kamu kan suami, sudah seharusnya membawa belanjaan."
"Tapi istri harus mengerti juga dong kalau suaminya kesakitan." Balas Barra, dan syukurnya hampir sampai, ia memasuki semua plastik dibekasi mobil.
Nafas Barra tersenggal, ia sungguh merasa lelah. Belum saja lelahnya hilang Fifah suara merutuki dirinya.
"Barra!!" Pekik Fifah yang sudah menunggu didalam mobil. "Barra kamu lama, cepat."
"Kamu tu enggak bisa sabar ya." Baru saja Barry masuk kedalam mobilnya. "Aku kan lagi nyusun belanjaan kamu.," Barra mengacak rambutnya kesal.
Barra memedam kekesalannya dalam hati, ia tak habis pikir Fifah bisa kadang baik, kadang membuatnya jengkel. Perempuan ini benar-benar tidak bisa di tebak.
Ia masih sibuk dengan pikiran sambil tangannya memegang setir mobil, tidak ada pembicaraan antara Fifah dan Barra. Fifah justru dengan memainkan ponsel, terlihat dia sedang chat dengan seorang.
Fifah sebenarnya memikirkan bagaimana dia mencoba agar lebih dekat dengan Barra agar traumanya hilang sedikit demi sedikit.
Me
In, aku harus gimana?
Indriyani
Astaga!! Masa itu aku juga ajari.
Me
Ya gimana aku belum pernah. Pernah juga waktu di perkosa dulu.
Indriyani
Ciuman bibir dulu!! Kalau enggak tau caranya lihat di youtube deh, atau nonton film korea.
Mata Fifah membulat ketika Indri sahabatnya menyarankan mencium bibir Barra. 'Bagaimana caranya, yang benar saja Indri memberi saran.' batin Fifah.
Fifah sekali menatap Barra yang tidak bicara sama sekali dengan dirinya, sungguh Fifah tidak tau cara ciuman yang benar, masa ia dia duluan yang menyosor Barra.
Akhirnya keduanya kini sampai ke istana minimalis mereka. Fifah tanpa bicara masuk, sementara Barra menuruni barang dibantu oleh Bi Kus.
"Ada apa dengan non Fifah, den." Tanya Bi Kus yang mengambil beberapa plastik di bekasi.
"Enggak tau, Bi. Lagi dapat kali. Dari tadi aneh." Jawab Barra asal bunyi. "Oh ya, Bi. Bisa tolong mobilkan ember dan sabun pencuci mobil, Saya mau bersihkan bekasi saya bau amis."
Direnggang waktu Barra masih sibuk, Fifah melakukan saran Indri untuk menonton youtoube, Fifah mengetik ciuman dilayar pencarian.
Ia merasa sedikit jijik belajar hal sensitif seperti ini. Kini Fifah menonton video itu dengan serius. Matanya sampai tidak berkedip sama sekali.
Fifah lupa menutup pintu kamarnya, hingga ketika Barra masuk membuat Fifah terkejut.
"Kamu lagi nonton apa?" Suara itu menggelegar di telinga Fifah membuat dirinya terjungkit hingga ponselnya terlempar, untung terbanting di ranjangnya.
"Barra!! Kamu tu kebiasaan buat aku terkejut."
"Nonton apa? Kok kaget gitu."
Fifah dengan cepat mengambil ponselnya lalu mematikan ponselnya agar tidak ketahuan Barra. "Ih... Kamu mau tau ajah." Ketus Fifah.
"Tingkah kamu dari di mobil itu aneh wajar aja aku nanya."
"Kamu ngapain disini."
"Ini kan kamar aku juga, aku mau mandi."
"Kamu kan udah Mandi tadi dirumah Ayah."
"Aku bau amis."
***