12. CIUMAN

1077 Kata
Malam harinya setelah makan malam berdua dirumah, Fifah meminta Barra menonton televisi. Ia hanya berdua, Bi Kus juga di minta Fifah kerumah orang tuanya beberapa hari selama dia cuti. "Fah, aku ngantuk banget. Ayo kita ke kamar aja." Rungut Barra pada Fifah. "Enggak mau ah." Ujar Fifah yang duduk disamping barra. "Kamu mau nanton apaan sih." Barra merasa menonton hanya membuang waktu saja. "Fifah.. beneran aku udah ngantuk banget." Fifah memandang Barra sesekali, jantung berdegup kencang. Belum saja ia melakukan apapun rasanya sudah gemetaran. 'Ya Allah bagaimana cara aku menciumnya. Bibir pula, apa setelah di cium aku ditampar, atau lebih dari itu. Ah aku takut sekali.' batin Fifah dengan matanya terpejam. "Fifah, besok kita harus kembali bertemu dokter Tika lagi. Ayolah Kita ke kamar." Gerutu Barra yang sudah bangkit dari duduknya, namun dengan sangat cepat Fifah menyambar tangan Barra, merengkuh pria itu hingga terjatuh kembali di sofa. Posisi Barra membuat mereka semakin dekat, kedua mata Barra dan Fifah beradu, bibir mereka tanpa terduga saling bertemu. 'Ini gimana Cara mulainya, ini sudah sangat dekat, tadi film yang ku tonton. Sang pria memegang tengkuk leher kekasihnya, tapi aku wanita.' Gusar hati Fifah, ia menelan salivanya dengan kasar. 'Tidak salahnya di praktekkan, Ya Allah selamatkan aku.' Disaat Barra mulai menyadari kedekatan mereka, ia ingin menjauh, namun saat itu juga Fifah memegang tengkuk lelaki itu, lalu melumat lembut bibir Afifah. Tentu saja itu membuat Barra terkejut, ia membulatkan matanya seakan seperti mimpi. Jantungnya terpacu cepat, seluruh tubuhnya merasakan suatu yang hebat. 'Ya Allah.. Ada apa dengan Afifah, kenapa dia menciumku, apa yang harus kulakukan membalasnya, apa dia sudah siap.' Awalnya Barra enggan untuk membalas ciuman Fifah yang lembut, padahal ini dia belajar dari menonton film. Tapi karena semakin nikmat Barra pun merengkuh pinggul Fifak agar semakin lekat pada dirinya, ia menyesap lembut balasan ciuman Afifah. Barra membuat Fifah semakin melambung tinggi, pria itu mengusap lembut punggung Fifah, sementara fifah sudah terbuai dialamnya sendiri dengan memejamkan matanya. Saat semua serasa semakin nikmat, bayangan gelap itu menyelimuti Fifah, ia mengingat terasa kehangatan yang sama tentang pria b***t yang merenggut kebahagiaannya, bagaimana pria itu melakukan yang sama, melumat lembut bibir Fifah. 'Ya Allah jangan sekarang... Jangan sekarang... Kenapa bayangin kembali.' Fifah berusaha melawan semua itu, namun rasa sia-sia, hatinya semakin tersiksa, semakin remuk. Kontan dirinya mendorong tubuh Barra, tanpa sadar air mata pun keluar membasahi pipinya. "Fifah!!" Barra tersentak, ia mengamati Fifah dengan muka yang memucat seakan seseorang akan mencengkramnya. d**a Fifah terhengap-hengap. Fifah berlari kekamarnya tanpa kata apapun yang keluar dari mulutnya, ia merasa takut, ia menutup pintu kamarnya bahkan menguncinya. Barra sangat khawatir, ia pergi menyusul istrinya, mengetuk pintu entah berapa kali, tapi tidak pernah dibukakan Afifah sama sekali. Fifah sudah menutupi dirinya dengan selubung selimut dikamarnya, rasa takutnya terlupa hingga Fifah tertidur karena meminum obat penenang. *** Ternyata semua itu tak semudah dibayangi Afifah, ia sulit melawan apa yang mudah jika seorang istri lain yang berada diposisinya. Ia berpikir kenapa dia harus membuat keruntuhan ini sendiri. Ia memandangi tempat tidur disamping yang kosong tidak ada Barra disana. "Dimana Barra?" Fifah berkata sambil mengusap bantal yang biasa digunakan Barra untuk tidur. Fifah beranjak dari ranjangnya, ia memasuki kamar mandi, menggosok gigi dan cuci muka sebelum mencari keberadaan Barra. Apalagi ini sudah subuh, adzan subuh juga sudah bergumandang. Ia turun tangga satu persatu, ia melihat sosok yang tertidur di sofa ruang depan televisi. Tanpa bantal dan selimut, Fifah menjadi sangat tidak tega. "Apa dia tidur disana sepanjang malam. Egois sekali aku." Ucap Fifah pelan. Fifah menghampiri Barra, ia berjongkok memandangi suaminya, ia merasa sangat bersalah dengan kejadian tadi malam. "Barra!! Sudah subuh kamu tidak sholat." Fifah memggoyang tubuh Barra. Sebenarnya Barra tidak bisa tidur, dari tadi malam. Ia terus memikirkan keadaan Fifah sejak perihal ciuman berlangsung. Ketika dia juga baru beberapa jam dapat tertidur. "Fifah.. kamu sudah bangun." Tanya Barra lega melihat Fifah yang sudah lebih tenang. "Kamu sudah tidak papa." Barra menduduki tubuhnya yang terbaring. "Kamu enggak subuh, udah adzan loh." "Iya.. aku mandi dulu." Sahut Barra pergi meninggalkan Fifah. Barra tidak berusaha membahas kejadian tadi malam ia tidak ingin Fifah terluka hatinya. Selagi Barra sedang sholat, Fifah menyiapkan sarapan ringan untuk Barra. Ia membuat spaghetti campur udang. Setelah selesai memasak Fifah sendiri bersiap untuk kembali bertemu dengan dokter Tika. Ia sudah muak dengan perasaan traumanya, ia bertekad untuk sembuh demi Barra, demi menjalani tugasnya sebagai istri, dan yang pasti demi rumah tanggannya yang masih seumur jagung. Fifah dengan pergi sendiri Tanpa Barra, ia memilih Naik taxi, dia juga telah memberikan pesan lewat note yang ditulisnya dekat sarapan yang sudah disiapkan untuk Barra suaminya. Barra tertidur berapa jam, ia tak menyadari jika Fifah sudah pergi dari tadi, dilihat jam dinding kamarnya sudah pukul 10.00 am. Dengan cepat ia beranjak mencari Afifah, karena suaminya tau jika istrinya harus konsultasi kembali pagi ini, "Fifah." Panggil Barra dengan perutnya sangat lapar. "Dimana Fifah, tidak mungkin dia kabur lagi." Barra melihat meja makan ada sebuah piring yang tertutup oleh tissue dan kertas kecil dan pulpen diatasnya. Note Bar, aku pergi untuk konsultasi.. Aku naik taxi, pulang aku langsung ambil mobil rumah Ayah. Ini aku buatkan spaghetti untuk kamu, semoga kamu suka. Dan... Maaf ya kejadian tadi malam itu diluar dugaan.. Nanti kita bisa coba lagi, mungkin kita lupa baca bismillah saat ciuman, hehe. Bye.. Afifah ^_^ Barra membaca note tersebut tanpa sadar senyumnya melebar, ia tak menyangka jika Afifah melakukan itu. Barra sungguh tersanjung. Ia membuka sarapannya, seperti tidak pernah makan saja, dengan sangat cepat barra menyantapnya. Sementara Fifah sudah sampai di ruangan dokter Tika, ia bicara tanpa ragu lagi, ia memberitahu segalanya tentang dirinya dan Barra. "Dok, tadi malam saya mencoba berciuman tapi gagal, bayangan itu terbesit membuat saya takut." "Awal yang baik, jika kamu mau mencoba. Perlu tahap, ingat kata saya lawan, walau menyakitkan lawan jangan menghentikannya." "Untuk sementara kamu harus tetap minum obat penenang saat ingin tidur." Ujar Dokter Tika. "Kamu pergi sama Barra." "Tidak, Dok. Saya sendiri, sekalian mau mampir kerumah orang tua saya." "Tapi sepertinya suami kamu menyusul. Lihat dia masuk." Dengan menyengir Barra masuk ke ruangan dokter Tika, muka masih tampak bahagia. "Belum selesai ya." "Menganggu." Sindir Dokter Tika dengan candaannya. "Sudah kok, iya kak dok." Sambung Fifah memandang Barra yang berjalan menghampirinya. "Kenapa kesini." "Memangnya kenapa?" "Kamu sendiri... Kenapa tidak bangunkan aku!!" Sergah Barra namun nadanya masih terkontrol, ia rasa tidak perlu berdebat. Lagi pula saat ini ia sedang berbahagia. "Hemm.... It itu aku hanya tidak tega." Ucap Jujur Fifah didepan Barra. "Kamu keluar dulu gih, aku masih konsultasi." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN