Setelah mengantar Fifah mengambil mobil istrinya, Barra memutuskan langsung ke kantor karena ada beberapa urusan penting yang tidak bisa di tinggalkannya.
Fifah memang tidak pandai hal bercinta, apalagi di ranjang. Ia berniat meminjam beberapa video miliki suami Indri. Karena Indri menyaran untuk menonton agar menimbulkan gairah.
"In, yakin nih akan berhasil." Ujar Fifah ragu. Kini Fifah sedang berada dirumah Indri sore hari.
"Tenang aja, 85 persen pasti berhasil. Dan jangan lupa lingerie hadiah pernikahan yang ku berikan."
"Apa itu tidak terlalu seksi."
"Pokok pakai aja, ingat lawan rasa takut, rasanya nikmat kok." Seru Indri asal dengan tawa kecilnya.
'Nikmat katanya. Mudah sekali sih Indri bilang seperti itu.' pikir Fifah.
Hari semakin gelap Fifah sudah berada dirumahnya, ia menunggu Barra yang belum juga kembali. Ini pertama kalinya Fifah memakai lingerie yang sangat seksi, bahannya tipis menerawang tubuh elok Fifah.
Hatinya bimbang menunggu kehadiran Barra yang tak kunjung datang, ia sudah menyiapkan dvd tapi seperti harapan Afifah, "Dimana Barra. Kenapa belum pulang juga, ini sudah malam." Gerutu Fifah gusar, sesekali ia mengintip jendela tapi tidak ada tanda kehadiran mobil Barra.
Fifah terus melirik jam dinding yang berada diruang tamunya, waktu bahkan sudah pukul 02.00 am, ini sudah tengah malam. Fifah merasa lelah, menunggu Barra tak kunjung juga datang, ia memutuskan untuk menunggu dikamar, namun ternyata dirinya sudah terlelap di sofa kamarnya.
***
Barra Hari ini bertemu dengan salah satu rekan kerjanya, perusahaan cabang di Indonesia sedang memiliki masalah, membuat dirinya kebingungan.
"Pak james, berikan saya waktu." Pinta Barra pada Pak james yang merasa dirugikan, karena Pak James telah menolongnya dan menanam saham di Indonesia 35 persen.
"Barra. Jangan buat Saya kecewa..!! Anda sangat tau jika Saya percaya dengan anda." Ujar Pak James dengan nada keras seolah perkataannya adalah peringatan.
Akibat kecerobohan jarang mengawasi pembangunan di cabang Indonesia, membuat Barra di ambang kerugian besar, ia harus bekerja keras untuk memulihkan keadaan.
Ia bekerja hingga lupa waktu, dia lihat jam yang melingkari di pergelangan tangannya. "Astaga!! Sudah jam 3 subuh. Aku bahkan tidak mengabari Afifah." Barra segera beranjak memberaskan beberapa berkas yang ingin di bawanya pulang.
Barra termangu ketika menyetir mobilnya, pikirannya bercabang. Ia berpikir bagaimana menjelaskan pada Afifah tentang dirinya ingin segera ke Indonesia.
Mobil Barra melaju dengan kecepatan tinggi, jalanan sangat sepi. Tidak ada deruhan kendaraan berlalu lalang dijalan aspal tersebut.
Kini pria itu sudah berada didalam rumahnya, ia melihat Fifah di atas sofa kamarnya tertidur pulas dengan pakaian yang sangat terbuka.
Barra pria normal, ia menelan salivanya saat melihat pemandangan yang tak biasa, sepertinya membuat tubuh pria itu bergidik. "Astagfirullah."
Ia hanya bisa beristigfar sambil mengelus dadanya, Barra berusaha menahan nafsu yang akan membara didadanya.
"Fifah.." Lirih Barra membangunkan istrinya.
"Hemmmm." Fifah mengeliat tubuhnya, ia mindahkan posisinya yang nyaris terjatuh, untung saja Barra cepat merengkuh Fifah. Namun sepertinya Fifah terbangun, matanya kontan melotot pada Barra. "Barra!! Kamu.." Sentak Fifah menelan air liurnya dengan kasar.
"Maaf, aku membangunkanmu." Ujar Barra menolong Fifah berdiri. "Tadi kamu hampir jatuh."
"Tidak papa. Kamu kok baru pulang." Ujar Fifah membukakan dasi tersimpul di leher Barra. Ia tidak ingin menundanya Lagi, ia berusaha melakukan sesuai dengan instruksi film yang sempat di tonton. 'Ya Allah ini sudah benarkan, setelah ini aq harus membuka bajunya.' batin Fifah berdenyut d**a turun mulai membuka bajunya membuat jantung barra terpacu cepat.
Dan desiran darah yang seakan terpacu cepat, tangan Fifah bergegar. Tidak.. dia tidak takut, melainkan gugup. "Bar, mau mencoba lagi."
"Kamu yakin."
"Tentu." Fifah tidak melanjutkan kata-katanya yang tertahan di tenggorokannya. 'Kalau tidak bagaimana aku bisa sembuh dan mencoba membuka hati untukmu.' lanjut Fifah dalam hatinya.
Sebenarnya Barra sangatlah lelah namun sepertinya ia tidak munafik, dia menginginkannya. "Kalau begitu biar naluri lelakiku yang melakukannya." Barra menepis tangan Fifah yang sudah setengah membuka kemeja Barra.
Fifah mengeryit bingung dengan kata-kata 'naluri lelaki' seakan Barra tau apa yang harus di lakukannya. Tapi Fifah berusaha tetap tenang padahal jantungnya begitu kencang seakan meledak, tubuhnya seakan tersengat aliran listrik yang dasyat.
"Sebaiknya di ranjang." Ujar Barra menggendong tubuh Fifah yang tak berani menatap Barra. "Tatap aku, fah."
"Kenapa?"
""Dengan itu kamu bisa merasakan suatu tanpa mengingat traumamu."
"Baiklah. Jantung berdetak kencang, Bar."
Barra meletakkan Fifah mereka saling menatap satu sama lain, Fifah berharap kali ini dia bisa melawan rasa takutnya. "Bar, aku boleh mengatakan suatu."
"Boleh." Jawab Barra terpesona kecantikan Fifah. "Apa."
"Aku belum mencintaimu. Aku melakukan ini karena ingin melawan rasa trauma... Tapi, aku ingin Kita saling belajar saling mencintai." Fifah berkata dengan matanya tidak lepas dengan pandangan Barra yang semakin mendekat wajahnya.
Deg!!! Jantung Fifah semakin tidak karuan ketika Barra sudah memulai mencium bibir lembut Fifah, kontan Fifah mengalungkan tangannya di leher Barra.
Barra justru semakin merengkuh tubuh Fifah agar menempel padanya.
Ciuman yang berhasil Fifah lawan membuat Barra menurunkan bibirnya ke leher Fifah, membuat getaran lebih hebat. Ada rasa nikmat, Fifah sontak meremas rambut Barra. 'Apa ini yang dimaksud Barra naluri lelaki, dia sepertinya sudah berpengalaman dari film itu.' Ricau Fifah dalam hati.
"Aku boleh buka ini." Barra menunjuk kearah gunung ranum milik Fifah, istrinya hanya bisa mengangguk.
Barra dengan cepat membuka kaitan bra milik Fifah. Pria itu juga sudah membuka bajunya membuat dia setengah telanjang. Berbeda dengan Fifah yang sudah tidak menutupi tubuhnya kecuali celana dalamnya.
Fifah menahan desahan demi desahan yang seakan ingin terkeluar dari mulutnya. Barra mengulum p******a Fifah, dan satu tangan lagi meremasnya.
Kejantanan Barra sudah menegang tinggi siap untuk dimasukkan, namun disaat keduanya sudah telanjang, polos tanpa apapun justru terlintas kembali bayangan masalalu kejinya.
Barra bisa melihat ada air mata yang terderai, ia tak ingin egois, ia menghentikan untuk bercinta. "Fah, kamu belum siap. Kita lakukan nanti saja."
"Lanjutkan, Bar."
"Tapi--"
"Lanjutkan."
Barra pun melanjutkan dan menahan rasa sakit Fifah, ia memasukkan tombak besar di sanggar Fifah.
"Aaawhhh.." Teriak Fifah semakin terisak ketika Barra memasukkan miliknya ke milik Fifah. Bayangan itu, teriakan, ringisan yang sama.
Barra semakin tidak tega melihat Fifah melawan traumanya, dengan pergerakan cepat kilat, ia mengeluarkan benihnya didalam kehangatan milih Fifah.
"Maafkan aku." Barra mengecup kening Fifah lalu perlahan melepaskan kejantanannya.
"Hiks...!! Bukan salahmu. Aku harus melawannya." Fifah menutupi tubuhnya dengan selimut, begitu juga dengan Barra mereka terdampar kelelahan.
"Kamu jera?"
"Tidak!! Aku mau lakukan lagi hingga hanya bayanganmu bukan sih b***t itu." Timpal Fifah.
***