Seminggu Afifah di tinggal Barra ke Jakarta, Dirinya merasa ada kosong tidak ada Barra yang kadang bisa membuatnya kesal dan tertawa. Untungnya hari ini suaminya itu kembali pulang, Fifah memutuskan untuk menjemputnya Barra sebagai kejutan, tapi ternyata hatinya mendidih ketika melihat Barra bermesraan dengan perempuan lain. Dia perempuan yang sama ketika di lihat direstoran saat itu.
"Apaaan ini, dia brrsama wanita lain, akrab lagi. Nyebelin!!" Gerutu Fifah sendiri dari kejauhan. Dari kejauhan Fifah mengamuk sendiri tidak jelas. "Awas aja, Barra. Aku akan memarahnya."
Dengan langkah berburu Fifah menghampiri Barra yang sedang tertawa kecil pada perempuan itu semakin membuat hatinya remuk seakan di potong-potong. "Barra!!" Panggil Fifah dengn suara yang keras seraya kakinya menghentak menatap sinis pada Barra.
Barra dan Wanita itu terpelongo menatap menoleh kearah Fifah seakan ingin memarahinya. "Fifah." Lirih Barra. "Kok kamu yang jemput,aku kan meminta supir papaku jemput."
"Memangnya kenapa kalau aku yang jemput." Sahut Fifah ketus. 'Supaya kamu bisa berdua sama dia.' Tambahnya dalam hati.
"Oh.. Tidak masalah. Oya kenalkan ini Aika."
Afifah mengulurkan tangannya yang menerbitkan muka tidak sukanya pada Aika. "Fifah!! Istri Barra." Fifah berkata dengan tekanan seakan mengisyaratkan Barra hanya miliknya.
Aika adalah putri Dokter Nuar dan Tika, Barra sudah mengenal Aika sejak kecil, bahkan ia sudah menganggap Aika sebagai adiknya sendiri.
Barra tau betul Fifah tidak biasa seperti ini, Entah setan apa yang telah merasuki dirinya kali ini. Ia berpikir Afifah sedang dalam keadaan tidak baik. "Fifah, apa yang terjadi?"
Fifah mengkerut, "Apa yang kamu maksud."
"Bar, sudahlah, dia sedang cemburu."Bisik Aika pada Barra semakin membuat Fifah sebal pada perempuan.
"Ssttt, jangan ngaco. Mana mungkin, tau sendiri dia enggak cinta sama aku." Ujar Barra pelan pada Aika.
"Mau bukti?" Tantang Aika. "Jangan lupa aku psikolog, aku tau sekali kemarahan yang di tunjukkan Fifah saat ini.
Jujur saja Barra sangat ragu, mana mungkin Fifah cemburu. Selama ini Fifah tidak pernah mencintainya, namun hati kecil menginginkan hal itu. "Caranya."
Aika tersenyum seraya kedua alis mengangkat. "Lihat aja."
'Ini kok aku ngerasa jadi obat nyamuk mereka ya.' Rasanya batin Fifah seakan ingin berteriak semaunya. "Apa kalian sudah bisik-bisiknya." Sergah Fifah memanyun bibirnya.
"Ayo pulang!! Gerah tau." Gerutu Fifah seraya mengibas tangannya
"Bar, aku kerumah kamu ya." Sambar Aika.
Fifah melotot mendengar penuturan Aika tersebut. 'Mau ngapain dia ikut kerumah.' gusar batin Fifah.
"Dia mau ikut kita? No!!" Geram Fifah memalingkan wajahnya seraya tangannya melipat didada.
"Barra.. Ayolah, aku kan belum pernah kerumah baru kamu." Aika seolah sengaja bermanja pada Barra dengan melingkari tangannya di lengan Barra sembari kepalanya bersender dipundak pria itu.
Hati Fifah serasa berapi-api. 'Apaan ini!! Aku enggak terima.'
"Barra!! Aku enggak mau ya dia kerumah kita." Bentak Fifah tak perduli dengan orang disekitar mereka.
"Barra, istri kamu galak. Kayak singa kelaparan." Gemulai Aika.
"Lepaskan tangan Barra!! DIA SUAMI AKU." Kali ini Fifah seperti sudah marah pada Aika.
Barra menggaruk kepalanya pada tingkah kedua orang ini, "Lebih baik kita pulang. Malu banyak dilihat banyak orang. Ayo." Barra menarik kedua perempuan tersebut.
Saat diparkiran yang seharusnya Fifah duduk di depan samping Barra namun sudah disambar oleh Aika, membuatnya terpaksa duduk di belakang kursi mobil.
"Fah, kamu enggak papa duduk di belakang." Tanya Barra tak enak.
"Enggak!!" Singkat Fifah dengan ketus.
Barra menghela nafas berat, ia fokus menyetir mobilnya. Dengan pikiran pada dua orang ini seakan beradu. Barra berharap dugaan sahabatnya Aika benar.
Fifah saat ini duduk termangu kesal, ia merasa sangat tidak suka pada Aika, ada rasa tidak rela jika ada yang dekat pada Barra suaminya. Perasaan apa...!! Fifah sendiri belum bisa mengerti. Itu cinta atau hanya rasa sesaat yang di punyanya.
Tak butuh waktu terlalu lama mereka sampai di kediaman Barra dan Fifah. Tak bicara apalagi, Fifah langsung keluar dari mobil, memasuki rumahnya.
"Astaga!! Gara-gara kamu nih, Ai."
"Bagus dong!! Nanti dia bisa mengaku perasaannya sendiri."
"Ya... Udahlah. Masuk yuk! Ntar Fifah mikir kita macam-macam lagi."
Barra memasuki rumahnya dengan matanya mencari Fifah, tapi sepertinya Fifah sedikit tidak perdulikan Barra ia memilih tiduran di kamar, ada rasa mencengkram hatinya. 'Perasaan apa ini, apa aku udah.. Ah tidak mungkin.'
"Fah.. Kamu kok malah tiduran, itu Aika dibawah loh, tolong temani sebentar." Pinta Barra.
"Aku enggak mau. Dia kan selingkuhan kamu." Fifah berkata dengan apa yang dipikirkannya. "Kamu ajah yang urus dia sana."
Barra tersenyum tipis, 'Selingkuhan' Mana mungkin dia melakukan itu, seandai Fifah tau jika dirinya mencintai Fifah sudah sejak lama. "Aku tidak pernah selingkuh."
"Oh.. Kamu yakin?!? Tapi sepertinya tidak seperti itu." Desah Fifah kesal.
"Astagfirullah.. Fifah yang benar saja kamu ini, ayo keluar!! Aku tunggu loh." Barra menimpali dengan tegas.
'Idih.. Dia pikir aku siapa bisa diperintah seenak dengkulnya' Batin Fifah.
Saat Fifah yang terpaksa turun keruangan tamu menemui Barra dan Aika, terlihat mesra di mata Fifah, dia merasa tidak tahan. Rasa dadanya meledak terserang bom. Muka cembrut ia pertontonkan pada Barra dan Aika.
'Tidak.. Tidak.. Tidak.. Aku akan mengusirnya. Enak saja dia bisa bersender dengan suamiku'
"BARRA!! PINTA WANITA INI PERGI" Teriak Fifah pergi menghampiri kedua orang itu.
"Fifah!! Rendahkan suaramu." Ujar Barra dengan penekanan.
"APA!! RENDAHKAN KATAMU, AKU BILANG SURUH DIA PERGI."
Aika bukannya pergi dia seakan menantang Fifah yang greget padanya, "Aku tidak akan pergi.. Karena apaaa, Aku mencintai Barra."
Afifah melebar mulutnya, hatinya seakan tertancap duri paling tajam. Dadanya sudah memggebu ingin membasmi Aika.
"Aika!!" Gusar Barra bangkit dari duduknya.
"Diamlah Barra, kita tidak usah lagi berpura didepan istrimu. Dia kan tidak pernah mencintaimu." Aika tiada henti menguras emosi Fifah yang sudah meledak.
"JAGA UCAPANMU!! BARRA SUAMIKU, JANGAN BERMIMPI UNTUK MENCINTAINYA."
"Kenapa? Kau sendiri tidak mencintainya bukan."
"KATA SIAPA? HAH?!?AKU MENCINTAINYA."
Deg..!!
Kata-kata itu meredahkan amarahnya, ia tersentak. Entah bagaimana bisa bibirnya mengeluarkan kata yang tidak pernah ia pikirkan. Apa selama ini dirinya sudah mencintai Barra, hanya tidak menyadarinya. Lalu sejak kapan??
Kenapa dia tidak menyadarinya, ia memang gelisah dan merasa rindu semenjak Barra pergi meninggalkannya ke jakarta. Makanya disaat tahu Barra kembali, ia memutuskan untuk menjemput Barra dan meminta supir mertuanya tidak perlu menjemput.
Barra tak kalah terkejut, ia tak menyangka Fifah mencintainya. Selama ini Barra pikir jika mustahil Fifah mencintainya. "Kamu mencintaiku?? Apa itu benar Afifah." Tanya Barra ingin melekat pada Fifah, namun istrinya dengan berburu beranjak pergi dari hadapan mereka.
"Kenapa aku bisa mengatakan itu pada Barra, bagaimana mungkin."
Fifah tidak ingin membenarkan ucapannya sendiri, karena dia tidak ingin perasaan Barra hancur ketika harus membalas cintanya. Fifah tahu selama ini Barra tulus tapi hatinya sakit dengan masalalu, dimana yudha mencampakkannya. Rasa takutnya jika Barra melakukan hal yang sama.
"Fifah.. Fifah.. Fifah.. Kenapa begitu bodoh." Fifah bergumam sendiri seraya memukul jidatnya berulang kali.
Hatinya terguncang kaku, jiwanya terperosot. Apa yang bisa dilakukan Fifah jika cinta tubuh begitu saja, jika perasaan itu tidak bisa terhenti.
***
Barra masih terduduk setelah kepergian Aika. Ternyata naluri Aika benar, lalu kini apa yang harus dilakukannya. Melupakannya.. Ataukah mempertanyakan pada Fifah. Barra sesekali melirik kearah atas kamar Fifah dari ruangan tengah rumahnya.
Barra bangkit, ia bergegas kekamar Fifah, langkahnya perlahan ragu. Ada rasa takut membara dihatinya, jika kenyataannya benar Fifah mencintainya. Apakah Fifah bisa menerima dia orang yang telah memperkosanya. Apa bisakah Fifah memaafkan dirinya yang hina itu.
Mendadak Barra menghantam kebodohannya lalu kembali turun, ia pergi kegudang rumahnya. Dimana tidak ada yang mengetahui Barra banyak menyimpan kenangan penyesalan di dalam sana. Hati menyusut hancur melihat suatu yang membuat air matanya berlinang.
"Fah, rasanya takut jika kamu mengetahui segalanya. Aku tak sanggup kehilangan kamu." Ucap Barra yang terduduk di lantai gudang memegang foto gadis yang tampak 17 tahun.
Ya.. Itu foto Afifah saat masih gadis, Barra dulu sering kali diam-diam mengambil foto Afifah dari kejauhan.Difoto tersebur Afifah memakai seragam sekolah dengan senyum melebar, bahkan keluguannya masih terlihat jelas saat itu.
Penyesalan.. Hanya penyesalan yang menyiksa Barra. Menurutnya ia ingin benar-benar mengetahui jika Fifah sudah yakin mencintainya.